Tragedi Mesir, dan Prasangka Kita


Repro WA Nahnu Duat
Menyaksamai berita-berita soal kudeta di Mesir, banyak respons kecaman dari para rekan di dalam negeri. Tidak hanya mengudeta, militer Mesir membunuhi dan menangkapi para demonstran pendukung Presiden Mursi, terutama para aktivis Ikhwanul Muslimin.

Senyampang hadirnya kecaman terhadap militer Mesir dan pendukungnya, ternyata suara berbeda hadir. Suara-suara ini mengecam jua, tapi yang dituju adalah para penyimpati pendukung Mursi di tanah air. Baik di dunia nyata dan khususnya dunia maya, mereka sinis dengan kepedulian pendukung Mursi di sini.


Sayangnya, ketidaksukaan itu bukan selalu karena alasan ideologis yang solid, melainkan lebih sebagai rutinitas di alam berpikir sebagian anak bangsa kita. Saya kadang berpikir, ini juga bentuk ideologi juga. Karena mereka meyakini kebenarannya secara absolut.

Pertama, “prioritas pada masalah dalam negeri”. Atas dasar ‘patriotisme’ dan ‘nasionalisme’, para penyinyir aksi simpatik peduli isu kemanusiaan di Mesir merasa tidak penting kasus di luar sana. Kemiskinan, ketertinggalan dunia pendidikan, dan banyak masalah dipandang lebih prioritas untuk dipikirkan.

Kedua, “toh yang jadi korban itu induknya PKS”. Saya menangkap ada upaya di ranah maya untuk menjauhkan kasus Mesir dengan memasukkan unsur PKS. Mengapa PKS? Kalau kedekatan dengan Ikhwan, memang iya. Tapi yang ingin dibangun adalah imajinasi bahwa perilaku (tersangka) korupsi oleh oknum politisi PKS inheren dengan induknya di Mesir sana.

Kebencian pada perilaku korup ke PKS, sah-sah saja selagi ada buktinya. Namun, menyinisi PKS yang memperjuangkan isu Mesir, rasanya perlu bijak untuk dipertimbangkan mengonsisteninya.

‘Kehadiran’ PKS dalam kasus-kasus peduli Mesir di tanah air, memang bernuansa membuat beberapa anasir bangsa kita berjarak. Boleh jadi karena tidak ingin dimasukkan ‘sebagaimana PKS jua’. Di sinilah kadang pemikiran analitis menyalahkan pun hadir. Lahirlah ‘isme’ ketiga.

Ketiga, “sudah memang salahnya Mursi dan partainya”. Nah, kadang ada yang denga ‘bijak’ menyalahkan kengototan Mursi berikut pendukungnya. Bila saja begini, maka mungkin tidak begini. Kalaulah begitu, maka tidak akan begini. Dan seterusnya. Untuk urusan begini, orang Indonesia jagonya. Lucunya, banyak pejabat dna pemimpin yang digandrungi media massa kita pun ikut-ikutan berbicara soal Mursi seraya ‘menasihati’ sikap yang harusnya ditempuh.

Sudah begitu, mereka juga tidak kunjung melibatkan diri dalam barisan pendukung kemanusiaan. Paling tidak cukup bersimpati atas jatuhnya korban penembakan brutal oleh aparat Mesir. Ternyata, para ‘bijak’ tadi sekadar menguliahi sikap seharusnya yang ditempuh Mursi dan pendukungnya.

Boleh jadi ada poin keempat, kelima, dan selanjutnya. Saya sengaja menyebutkan tiga yang paling mengemuka, sejauh yang saya ikuti. Pilihan kita pada salah satu di atas, atau bahkan ketiganya berhimpun, hemat saya, menandai kita sebagai apa di muka bumi ini. Retorika peduli kemanusiaan sejatinya tengah diuji di sini dan hari ini. Mereka yang nyinyir dengan suara peduli Mesir, biarlah kita tunggu andil baiknya bagi bangsa ini. []

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.