Hikmah Surat Pendek Imam

okezone.com
Tinggal di perkampungan di luar area kampus, saya amat jarang mendapati tarawih dengan bacaan surat panjang imam. Surat-surat di juz 30 sudah menjadi teman setia saya sejak malam pertama tarawih. 

Berbeda ketika saya menghadiri tarawih di kawasan sekitar kampus UGM dan UNY, atau paling tidak ke Masjid Jogokariyan. Bacaan surat (setelah al-Fatihah) imam dipanjangkan karena jamaah tarawih juga sudah siap.


Bahkan belakangan ada perkembangan positif berupa pembiasaan jamaah untuk tarawih dengan satu juz dalam satu malam. Setahu saya, Krapyak sudah mengawali ini lebih dulu sebelum Jogokariyan. Ini menjadi daya tarik bagi jamaah luar asli kampung masjid penggelar tarawih. Jamaah bisa memeriksa hafalannya dengan bacaan sang imam.

Kalaupun tidak satu juz, paling tidak bacaan imam tidak sekadar juz 30. Umumnya ini yang dilakukan di banyak masjid di sekitaran kampus UGM dan UNY. Nurul Ashri Deresan, misalnya, di luar malam tertentu yang menggelar tarawih satu juz, mereka sudah empat tahunan terakhir (dalam catatan di memori saya) membuat ibadah di malam Ramadhan secara apik dan ideal. Stok aktivis dan kesiapan jamaah, sekali lagi, amat mendukung untuk digelarnya tarawih ala Masjidil Haram—kira-kira begitu sebutan mudahnya, meminjam istilah takmir Jogokariyan.

Bagaimana dengan kita yang tinggal di perdusunan atau perkampungan yang bukan basis aktivis, kampus, ormas keislaman? Selain penceramah kultum pra-shalat tarawih sekadar kelas kampung (soal mutu dan keikhlasan, tidak berarti inferior dengan penceramah di kampus UGM), bacaan imam juga itu-itu saja. Keliling masjid di berbeda tempat akan didapati perulangan juz 30. Surat yang dibaca menyamankan jamaah yang memang belum tentu siap bila berpanjang ria bacaan suratnya. Apalagi tidak setidap hari jamaah tarawih merupakan makmum shalat fardhu.

Meskipun hanya mengulang surat-surat pendek, saya merasa tetap harus bisa meresapi setiap bacaan imam. Sebagai makmum, saya harus bisa menghayati (dan tentunya mengamalkan) bacaan ayat-ayat pendek itu. Malah menguntungkan karena saya seolah diingatkan pada hal-hal mendasar dalam berislam. Soal bertauhid, al-Ikhlas senantiasi jadi teman di tiap malam. Ingat kepedulian, ada al-Maa’un. Agar tidak bermegah-megahan dalam kekayaan, at-Takatsur jadi penggedor kealpaan saya. Dan seterusnya dari setiap surat.

Surat sudah saya hafal, tapi apa otomatis saya sudah menghayati dan mengamalkannya? Nah, ini yang kudu saya petik ketika menjadi makmum dari imam yang getol melantunkan surat pendek juz 30. Surat boleh pendek, tapi saya seolah dikoreksi untuk memperbaiki diri. Tidak perlu dengan nasihat panjang, cukup dengan ayat pendek yang mudah dipahami dan pernah saya pelajari.

Pengalaman mengoreksi diri seperti itu tentu sukar saya raih ketika berada di belakang imam yang rutin melantunkan surat panjang, yang sayangnya saya tidak paham maknanya. Bukan salah si imam, memang, dalam soal ini. Kapasitas saya untuk ditegur dengan kalam Ilahi tampaknya baru sebatas surat pendek. []

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.