Sampul Buku Lama


Buku baru itu memiliki kertas yang berbeda dari segi kepuasan batin tatkala disandingkan dengan buku serupa edisi bertahun-tahun sebelumnya. Kali ini bukan soal sampul atau olahan editingnya. Untuk urusan perbaikan suntingan teks, malah saya harus akui lebih baik yang cetakan belakangan. Tidak mutlak memang.

Lalu bagaimana dengan urusan sampul? Saya yakin pada satu kesimpulan: buku baru banyak yang parah dibandingkan edisi sebelumnya. Anda alami pengalaman berbeda, silakan berkomentar lain. Nah dalam pengalaman saya, buku-buku yang saya minati justru mendukung kesimpulan saya itu.

Buku Sherlock Holmes keluaran terbaru Gramedia malah minimalis dengan sampul putih sebagai dasar. Profil diri sang detektif sebagaimana di edis sebelumnya diganti ikon tertentu. Sangat drastis perubahannya! Dan saya tidak menyukainya. Ada serasa yang hilang penuh dari gubahan sampul baru buku itu.


Penerbit yang sama juga keluarkan seri lengkap Lima Sekawan Blyton dengan sampul baru. Cuma, sampulnya itu lho yang tidak membangkitkan selera! Bagi angkatan saya, sampul edisi jadul malah lebih bertenaga dan cerminkan watak penulisnya. Lha ya sekarang mungkin diniati mau merengkuh generasi era gadget sehinga tampilannya jadi gimana gitu. Kesan sebagai buku petualangan tereduksi menjadi buku remaja belaka.

Entah karena sadar arti kekuatan sampul lama bagi ingatan penggemar di era lalu, Gramedia justru mempertahankan kekhasan dalam Balada Si Roy. Harusnya semua tidak mesti mengikuti hukum pembaruan. Bila semua diperbarukan, pertaruhannya pada kepuasan penggemar buku itu, atau bahkan si penulis sendiri.

Saya jadi teringat ketika bertemua Pak Ahmad Tohari dalam suatu forum. Ia mengungkapkan bahwa dirinya dahulu terlibat dalam penentuan sampul. Bahkan di judul tertentu gagasan awal atau konsep sampul berasal dari dirinya. Saya yang tahu karya dimaksud sebenarnya ingin memberikan kritikan lantaran ada sedikit ganggung visual bila dikaitkan dengan teori yang pernah saya baca. Namun, saya urungkan karena penulisnya sendiri sudah begitu puas. Kalau penulisnya alami kepuasan, ini sebuah kenyataan yang tidak perlu saya recoki.

Kembali ke soal buku lama, banyak penerbit yang ingin dengan niat pembaruan dan perluasan pembaca melakukan perubahan perwajahan buku. Ada yang memuaskan penulis dan/atau pembaca, ada juga yang sebaliknya. Ada penerbit yang betul-betul mempertahankan keotentikan sampul masa silam karena pertimbangan romansa sejarah bagi penggemar judul buku tersebut.

Soal kepuasan memiliki buku lama walaupun buku dengan judul yang sama sudah ada akan saya bahas dalam postingan berikutnya. []

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.