![]() |
| absintheory.wordpress.com |
Februari identik dengan bulan cokelat.
Gara-gara keculunan orang Indonesia untuk mengikuti budaya valentin yang
aslinya tidak berakar dengan negeri ini, jadilan kapitalis memanfaatkannya.
Semua produk dikaitkan dengan valentin, semata untuk menerpa benak orang
Indonesia yang gemar hal berbau Barat. Merayakan valentin berarti memoderenkan
diri, membawa diri maju. Merayakannya juga seolah diri sudah romantis dan menyayangi sang pasangan hati.
Saya tidak hendak mengulas soal sejarah dan
kebiasaan warga kita dalam urusan valentin ini. Saya hanya ingin menuangkan
unek-unek terkait dengn cokelat yang banyak dipasarkan pada Februari ini.
Memiliki istri dan anak yang menggemari cokelat, adanya valentin kadang
melahirkan hal menjengkelkan juga. Apa pasal?
Membeli cokelat, yang mahal sekalipun, demi
memuaskan keinginan orang tercinta mudah saja saya lakukan. Godaannya justru
ketika penjual (swalayan, minimarket) membuat program yang menggiurkan. Pernah
cokelat buatan luar negeri dijual dengan program beli 3 gratis 1. Dalam
benak saya saat itu, ini langka-langka. Tidak setiap tahun ada. Satu batang
saja puluhan ribu harganya.
Masalahnya, saya tersadar, itu program demi
merayakan valentin. Masak sih saya ikut memanfaatkannya? Jual belinya sih sah,
hanya apakah berkah menumpang diam-diam (tidak mau tahu?) adanya momen
valentin.
Lain hari dan tempat penjual, ada juga yang
menggelar program serupa tapi diberlakukan sampai tanggal 14 Februari lebih.
Kalau mau berpikir simpel, perayaan valentin kan sudah berakhir. Tidak apa-apa
bila membeli program beli 3 gratis 1? Saya rgu juga. Mungkin saya meribetkan
diri. Program itu apakah ada di luar Februari? Kalau ya, mengapa saya harus
buru-buru membelinya? Sebab, promosi itu jangan-jangan masih memanfaatan
valentin. Apa boleh buat, pilihan untuk tidak memanfaatkan promosi menggiurkan
itu yang ditempuh.
Bagi saya, valentin adalah kapitalisasi
sekaligus pembusukan akal berpikir kita. Wong itu budaya orang yang akar
sejarahnya saja kelam, mengapa distorsi yang ada dirayakan dengan kegembiraan? Konyolnya
lagi, sekaligus prihatin, valentin juga berarti momen merayakan cinta; cinta
melintasi sekatan dan tabu. Lihat saja di televisi film apa yang bakal diputar
jelang dan saat 14 Februari?
Cokelat dan bunga, lagi-lagi dipilih sebagai
salah satu ‘duta’ budaya valentin. Karena tidak sepakat, perlawanan kulural
kudu saya buat, setidaknya dengan tidak ikut-ikutan mengonsumsi cokelat promosi
valentin Februari ini. Kalaupun keluarga saya mau cokelat, saya membelinya di
swalayan yang pemiliknya Muslim tidak latah valentin. []



0 komentar:
Poskan Komentar
Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.