![]() |
| www.flickriver.com |
Saya tidak habis pikir, mengapa setiap berada
di tempat publik selalu mendapati perempuan bercelana pendek ketat (hot pants). Celana yang dipandang tidak
hanya seksi bagi penggunanya, namun juga mencermintkan kemajuan, moderen, dan mengerti
perkembangan zaman. Sayang, sebagaimana biasa, warga kita hanya meniru tanpa
melihat ekses sampingnya. Tidak mau mati gaya menjadi nomor pertama, urusan
dampak belakangan saja.
Kalau menyandarkan pada dalih hak asasi dan
kebebasan berekspresi, silakan saja. Ini logika kelas menengah yang mapan.
Mereka suka-suka dengan gaya hidupnya. Egoistik pembawaannya. Nah, bagaimana
dengan peniru yang masih labil dan hanya menerima sebagian saja dari pesona
celana pendek itu? Saya tidak yakin yang hadir di benak pemandangnya adalah estetika
dan budaya tinggi. Yang ada justru birahi.
Mari jujur, mengapa seorang ayah sekalipun
tega menodai kesucian putrinya sendiri hanya karena tergiur pada kebiasaan si
anak bercelana pendek ketika tidur? Si ayah memang salah kurang ajar. Tapi,
akankah kita biarkan kebiasaan atas nama menyalahkan naluri syahwat lelaki dan
membela buta hasrat konsumsi celana pendek?
Mari bertoleransi, gunakan hot pants pada jalur yang tepat. Di
depan pasangan resmi saja, dan itu pun lebih baik ketika tidak di tengah anak-anak
tercinta. Saya sering miris melihat seorang ibu yang ‘tega’ bermini ria dengan
celana ala kadarnya, sementara sang anak tidak diberi kesempatan mengetahui
soal etika. Tidak heran ketika si putri beranjak remaja, ia meniru ibundanya.
Konyolnya ada juga sebaliknya, si anak berjilbab lucu, sementara ibunya
menjemput di sekolah dengan tanpa ragu bermini ria!
Terminal bandara sering kali jadi ajang pamer
paha yang tidak kenal situasi. Mal juga sudah jamak menjadi wahana penyaluran
gaya dungu para perempuan kita. Tidak pandang cuaca, hujan deras sekalipun
celana kebanggaannya digunakan. Betul-betul tidak kenal toleransi, termasuk
pada imunitas tubuh si pemakai pada suhu udara.
Tetangga saya malah lebih drastis lagi. Dari mereka
bisa menjadi penciri, walaupun harus berhati-hati menudingnya. Remaja yang
kemaruk berhot pants, menjadi indikasi
awal kepedulian mereka pada soal virginitas. Malu, walau ini di tanah
Yogyakarta dan di tengah kampung pula, dihempaskan. Pertana celaka. Benar saja,
tidak lama siar hamil pranikah menjadi warta yang masuk di telinga.
Saya iba pada pemakai celana peniru
selebritas, yang juga dungu bukan ajar. Katakanlah dipakai saat ke mal. Sudah di
jalan dipamer di rintik hujak, terciprati mobil di sisi saat ia dibonceng
kekasihnya, pas di mal tubuh yang harusnya ditutupi itu tergores lagi. Ya, demi
mode, sekali lagi, semua dikerjakan meski nalar dan hati awalnya menolak keras.
Saya berpikir, dalam kacamata agama saya, itu si pelopor dan
pembudaya hot pants dosanya bukan
kepalang akibat banyaknya salah guna rancangan fashion bikinannya. Sudah adat
dilabrak, agama pun dibuang di keranjang baju. Belum lagi dari segi kesehatan,
apakah terjami aman dan nyaman. Dari sisi keamanan? Jangan tanya dan jangan
salahkan tindak ekses bagi pemakai. Mode, duh mode.[]



4 komentar:
Betul pak, setuju sekali. Itu mengganggu pemandangan
saya saja yg perempuan risih melihatnya dan segera alihkan pandangan, bahkan jika bisa nunduk sekalian..
masya Allah generasi masa kini, terbawa teknologi dan akhirnya lepas kendali
setujuu ..
bangett :)
setuju mas.
Poskan Komentar
Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.