Menjaga Selera Ustad

en.republika.co.id

Guru mengaji istri saya tidak pernah ragu menyantap makanan yang biasa kami sajikan ketika acara pekanan di rumah kami. Lain ketika giliran menyediakan penganan itu dari teman istri saya. Begitupun kala beliau dipersilakan membawa kotak untuk dibawa pulang, pasti dibawanya. Lain ketika jadwal menyediakan kotak itu dari teman istri saya.

Yang kami sajikan sebenarnya biasa-biasa saja. Sesekali agak istimewa semata untuk mendapatkan ridha Allah karena acara mulia dan menghormati pemberi ilmu. Penganan yang disediakan teman istri saya juga tidak kalah harganya. Entah kenapa kala ditawarkan selalu ada alasan untuk tidak dibawa.


Belakangan kami tahu, ustad itu termasuk yang selektif dalam memakan. Beliau hanya mau mengonsumsi bagi diri dan keluarganya makanan yang sudah jelas kehalalannya. Label MUI parameternya. Di antara peserta majelis pengajian tempat istri saya aktif, istri saya—alhamdulillah—termasuk yang sudah paham soal ini. Meskipun cuma bisa menyediakan donat lokal, kami menghadirkan yang sudah dilabeli halal MUI.

Dalam kadar tertentu, Pak Ustad itu seperti memercayai apa saja yang kami sediakan. Tampaknya dia paham selera di keluarga saya bahwa yang dikonsumsi tidak asal klaim halal. Entah dari mana beliau tahu.

Bagi saya, kepercayaan beliau merupakan sebuah pertaruhan. Ada kredibilitas yang disematkan kepada saya dan istri untuk tidak sembarangan menyediakan asupan yang bisa memengaruhi jalannya majelis ilmu. Apalagi yang dibahas soal tafsir Qur`an. Karena ilmu yang dibawakannya butuh kesucian makanan, boleh jadi Pak Ustad itu tidak mau gegabah dengan makanan yang ada.

Sejauh ini, sekalipun kadang mendadak diberi tahu istri saya, sebisa mungkin saya harus memenuhi penganan di majelis ilmu itu. Menghormati tamu dan guru ilmu sudah sebuah adab bagi saya untuk bisa ditiru anak-anak saya kelak. []

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.