Menggapai Rezeki Buku


Postingan ini lebih tepat sebagai catatan berkesan selama 12 bulan pada 2012. Per Juni 2012 saya mengakhiri karier sebagai kepala redaksi di kelompok penerbit Pro-U Media Yogyakarta.  Enam tahun membersamai, sejak dari membuat sistem hingga mengader penulis dan editor, rasanya tepat kehadiran buah hati kedua sebagai momentum untuk berpisah. Walau belum sempat menyaksikan gedung baru milik sendiri dari Pro-U, saya harus memilih tantangan baru. Di rumah, ketika saya harus banyak bermain dengan anak-anak, saya pun bisa berkarya menjadi editor dan sekian plus lainnya.

Dari puluhan buku yang saya rancang dan poles sekeluar dari Pro-U, beberapa di antaranya memberikan hasil tidak disangka. Memang tidak seperti di kantor lama yang parameternya adalah hasil penjualan, di dunia baru saya keberhasilan diukur dari segi yang lain. Ada buku yang menghimpun gagasan para aktivis muda Indonesia dengan tajuk Belajar Merawat Indonesia, dipesan khusus oleh Perpustakaan Kongres Amerika Serikat. Buku ini tidak ditawarkan kepada mereka, tetapi pihak Kedubes AS yang meminta kepada Dompet Dhuafa selaku penyandang dana bagi para aktivis itu. Di luar itu, buku ini juga jadi pembicaraan di kalangan intelektual kampus negeri utama di Jawa.


Sama halnya bungah saya ketika lembaga yang sama jauh-jauh hari meminta buku Menyulut Jiwa di Kampung Hatta, meski buku ini belum selesai cetak! Saya dan teman-teman Makmal Pendidikan (jejaring Dompet Dhuafa) selaku yang mengerjakan buku ini tidak pernah berkoar-koar ke Kedubes AS, eh mereka meminta dikirimi bukunya. Besar kemungkinan, salah satu kicauan teman kami di media sosial ‘dipantau’ telik sandi mereka. Adanya frase ‘menyulut jiwa’ seolah mengundang penasaran pihak Amerika, terlebih ketika itu lagi hangat-hangatnya penangkapan terduga teroris di Sumatera. (Padahal, buku ini berisikan soal menggugah semangat guru di Sumatera Barat agar meningkatkan kapasitas dirinya).

Setiap buku, saya percaya, punya takdir rezekinya masing-masing. Memaksakan bisa tidak menggembirakan hasilnya. Masih dari klien Dompet Dhuafa, Toga di Tepi Jendela awalnya hadir diiringi dengan pesimisme karena di bawah kesuksesan Belajar Merawat Indonesia. Buku yang berisikan soal perjuangan pelajar yang merindukan masuk kampus favorit itu rupanya mencetak prestasi tersendiri.

Buku Toga dibedah gratis di sebuah stasiun swasta nasional sebanyak dua kali tanpa mengeluarkan uang sepeser pun! Padahal, saya dengar warta bahwa untuk dibedah di acara itu, pihak yang ingin bukunya diulas harus membayar setidaknya 70 juta rupiah. Prestasi gemilang pula ketika buku itu diluncurkan. Kreativitas teman-teman Beastudi Indonesia (juga jejaring DD) dalam mengemas acara, mampu membuat tamu enggan beranjak pulang. A Fuadi (novelis Negeri 5 Menara) termasuk di antaranya. Linangan airmata memenuhi seisi ruangan acara kala itu, yang berikutnya disusul dengan penjualan yang menempati peringat pertama di antara buku-buku terbitan Dompet Dhuafa yang dilempar ke jaringan Gramedia.

Hari-hari awal pada 2013, rekan saya di Makmal, Rina, mengabari berita bagus. Dua buku Bangunlah Jiwanya Bangunlah Raganya, menjadi bacaan wajib jajaran Trakindo cabang Indonesia. Buku yang digarap kerja sama Makmal Pendidikan dengan Trakindo Cat itu mengulas soal sekolah cerdas literasi. Aslinya, buku ini berupa modul yang memenatkan kepala. Setidaknya di persepsi saya. Setelah diberikan kebebasan untuk diobrak-abrik, saya bersama tim mengubahnya menjadi buku bergaya visual. Tanpa diduga, pihak sponsor suka bahkan mengajak kerja sama lagi.

Catatan di atas tentu saja tidak boleh melenakan saya di tahun ini. Beberapa kekeliruan dalam penyuntingan, atau pengemasan yang kurang menerjang, perlu diperbaiki lagi. Beberapa tokoh yang setahun lalu mengajak kerja sama, dan masih tertarik untuk memercayakan saya selaku editor dan pengonsep buku, merupakan tantangan tersendiri. Maka, dalam postingan ini saya meminta doa pembaca budiman agar kerja-kerja saya dimudahkan oleh-Nya. Dan hasilnya bisa membawa manfaat bagi literasi Indonesia. []

5 komentar:

Ardika mengatakan...

Pak, saya juga seperti menemukan salah satu kepingan jiwa saya dengan lahirnya www.zonaperubahan.net, dan saya akan terus mencari kepingan yang lainnya. Terima kasih pak atas bimbingan dan motivasinya

Teguh Estro mengatakan...

sungguh pengalaman editing pak yusuf sudah kemana2 ya... terima kasih sudah dishare, berharga banget nih,

Yusuf Maulana mengatakan...

@Ardika: Teruskan itu, Dika. Blog pribadi bisa jadi sarana awalnya.

@Teguh Estro: Sama-sama Mas Teguh. Terus berkarya dan bergerak!

Sun Asih mengatakan...

Mungkin semua prestasi itu merupakan salah satu bentuk keberkahan karena memilih "kerja di rumah" demi kedekatan dg anak2.. Semoga kelak sy bisa demikian pula..

Yusuf Maulana mengatakan...

Amiin, semoga Bunda Bintang juga bisa punya banyak waktu dengan buah hati tersayang.

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.