Gundah Bersantap usai dari Semarang

http://www.klipsunmagazine.com
Sejauh dua kali terakhir bepergian ke Semarang bersama keluarga, saya menghadapi persoalan serupa: makanan halal. Penjual makanan, baik skala restoran besar ataupun warung tenda, memang banyak yang menyebutkan kata ‘halal’ (dalam huruf arab) di papan atau spanduk. Jaminan? Tentu saja tidak. Bagi saya, tempat atau produk yang sudah disertifikasi LPPOM MUI-lah yang pantas didatangi.

Memang kalau makanan kecil seperti lumpia sudah banyak yang mendapatkan label halal MUI. Nah, lain kalau urusan makanan berat. Amat tidak mudah mendapati penjual makanan yang saya kehendaki, di luar tempat makanan siap saji yang tentu saja saya keluarkan dari daftar pencarian.
Dibandingkan di Yogyakarta, keberadaan tempat kuliner halal di Semarang mengharuskan kita blusukan. Tempat di lokasi strategis tidak semudah di Kota Pelajar. Kalaupun ada yang terbilang strategis di Semarang, ya antara lain Waroeng Steak-nya Mas Jodi dari Yogya. Cuma, masak sih ke Semarang pada akhirnya makan ke tempat yang sama di kota sendiri?


Ngubek-ngubek jalanan dari Simpang Lima, Tugu Muda, Kota Tua, hingga beberapa tempat terdekat, ya susah mendapati tempat kuliner terpercaya di Semarang. Yang pemiliknya Muslim, amat banyak. Sayangnya belum bisa dipercaya sepenuhnya soal produksi dan/atau bahan yang digunakan. Mereka tentu saja melakukan itu belum tentu dengan kesengajaan. Perlu edukasi kepada mereka, memang, terlebih ketika sebuah kota ingin ramah dalam hal travelling syariah.

Beberapa tempat yang relatif aman, menurut ukuran saya tentunya, walau belum mendapatkan label halal LPPOM MUI, ada di kantong saya. Paling tidak, pemiliknya bisa diajak bertukar pikiran. Sayangnya, dalam perjalanan terakhir ke Semarang, saya kebablasan arah. Mobil yang dikendarai teman saya gagal mendapati di mana tempat tersebut. Ditambah lagi letak tempatnya yang berada di jalanan provinsi menuju Semarang, menyulitkan untuk berputar. Jadi teringat saya dengan seorang pencinta kuliner yang namanya sering muncul di layar kaca, bahwa Semarang memang kota yang sukar untuk kita dapati makanan (berat) halal. 

Singkatnya, akhirnya saya mencoba mencari-cari tempat yang—sekali lagi—aman. Lagi-lagi saya kesusahan bahkan hingga keluar Semarang. Karena Emira dan istri saya sudah mendesak untuk mengisi perut masing-masing, apa boleh buat standar diturunkan. Terpaksa ketimbang keluarga tercinta saya harus menderita.

Dipilihlah sebuah tempat yang dekat masjid di daerah Temanggung. Sebuah resto lesehan dengan pemandangan malam persawahan (tentu bisa dinikmati ketika belum malam hari). Pikir saya, ini daerah basis saudara-saudara kami dari Nahdliyin. (dekat masjid pula); jadi, amanlah. Yang paling mengesalkan saat kita lapar adalah menanti yang tidak berkepastian. Inilah yang kami alami malam itu. Apalagi malam itu ramai pengunjung.

Butuh nyaris satu jam sampai hidangan siap tersedia. Menu pecel wader kami pilih untuk menjaga soal aman kehalalan tadi. Soal enak atau tidak, ya secara kalau dalam skala 0-10 dengan 10 tertinggi, saya memberikan nilai 6,5. Masih kalah jauh dari racikan pecel Mas Zaenal, kenalan saya di Yogyakarta.

Semua berjalan lancar, dengan penuh harap semoga sajian malam itu tidak menggerogoti doa-doa kami lantaran kadar kehalalan makanannya. Sampai tiba-tiba keluar seorang ibu berumur dari bagian dapur. Ada sesuatu yang melintas di pikiran saya. Tidak enak, tapi coba saya tepiskan dan berbaik sangka. Hanya saja saat berada di mobil, istri saya merasakan hal serupa bahkan langsung menyebutkan kegundahannya.

“Resto itu dimasak oleh orang Nasrani deh,” istri saya mantap menyimpulkan.

Soal pemilik itu urusan lain, tapi ini yang memasak. Apakah masakah Ahli Kitab (dalam pengertian kami selaku Muslim) tidak boleh dimakan? Persoalannya bukan ini. Masakan mereka sejatinya dan asalnya boleh dimakan. Yang perlu dicermati adalah dalam hal kepekaan menghargai syarat yang disebut halal. Soal pecel dan wader sih itu selesai. Tapi soal bumbu, bahan lain, dan barang masak apakah terbebas dari hal haram—atau paling tidak subhat? Jangankan yang non-Muslim, penjual atau koki Muslim saja banyak yang apatis untuk urusan perut ini.

Malam itu, saya dan istri harap-harap saja semoga resto itu memilihkan bahan yang sudah berlabel halal MUI; tempat memasak juga tidak pernah digunakan campur dengan barang haram (dalam keyakinan kami). Niat baik untuk mendapatkan makanan yang menenangkan hati, apa daya yang disantap sebaliknya. 

Omong-omong, dari mana saya dan istri tahu ibu koki di dapur resto itu seorang Nasrani? Hampir lima tahun bermukim di salah satu dusun di Godean, Sleman, Yogyakarta yang penduduknya separuh Nasrani, membuat kami secara naluri dan penilaian sekilas tahu mana yang seiman dan tidak seiman. Ada ciri-ciri fisik khas pada wanita Nasrani semisal cara berbusana, penataan rambut, dan tentu saja aura muka. Semua yang ada pada si ibu itu malam itu sama persis dengan para jiran kami di dusun. []

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.