Kadar Prasangka Kita di Hari Depan

sito.org
Salah satu keberhasilan aparat kepolisian dalam wacana terorisme selama kurung satu dekade ini adalah penanaman patriotisme sempit minus kritisisme. Suara-suara publik yang menyoraki langkah beringas aparat bukannya berkurang, kendati akhir-akhir ini makin meningkat suara yang jengah lantaran aksi berlebihan aparat dalam menangani isu terorisme.

Cacian kepada terduga terorisme dan keluarganya masih akan eksis bersamaan dengan kuatnya prasangka kepada sebagian kalangan yang dipandang tidak senasionalisme mereka. Perbedaan ideologi dan memandang diri lebih baik menghasilkan suara bulat tanpa apriori membela aparat. Tidak peduli yang dilakukan aparat itu perlu dikritik atau tidak. Seolah untuk kasus dugaan terorisme kata ‘dugaan’ aksioma wajib diraibkan. 


Padahal, kita tidak pernah tahu apa sesungguhnya yang terjadi. Benarkah teror yang hadir di negara kita betul-betul teror dan teroris? Bahwa ada sebagian kelompok berpandangan keras, memang benar adanya demikian. Persoalannya, apakah mereka itu harus didekati dan diatasi dengan cara yang tepat atau malah jadi komoditas untuk proyek mengeruk dollar? Taktik aparat antiterorisme dalam mencari muka dan pengagendaan perburuan, kerap terbaca sebagai sebuah dagelan. Kalau mau sungguh-sungguh mengapa harus menantikan momen tertentu. Kala ada isu korupsi menderap korps berseragam cokelat, misalnya. Atau tatkala ada kunjungan donatur mereka dari Amerika Serikat.  Tidak berlebihan kalau pola yang terus berulang melahirkan prasangka. Jangan-jangan sebenarnya bukan teror, tapi drama teror: simulakra.

Yang ada taklain sekumpulan orang keras kepala dan keras pendirian. Hanya karena dianggap berbahaya, aparat kemudian tampak ‘memelihar’ hingga pada momen yang pas diburulah mereka dan di stigma sebagai penjahat yang lebih dahsyat ketimbang koruptor atau teroris di pulau seberang. 

Hari ini hingga sepuluh tahun ke depan mungkin kesimpulan dan kampanye propaganda yang ditebar aparat kepolisian masih ampuh. Media masih memercayai tanpa kritis analisis aparat dan kaum intelektual yang mendukungnya. Hanya saja, belajar dari pengalaman yang ada, bukan tidak menutup kemungkinan bila dua dekade ke depan, riuhnya kejadian disangka terorisme hari ini akan terkuak fakta sebenarnya. Nah di sini posisi sikap kita ke depan tidak mustahil akan bergeser.

Saya teringat dulu saat masih kecil,  begitu benci perempuan berjilbab. Maklum, kampanye yang ditancapkan di era Orde Baru lewat mesin Moertopo, Moerdani, dan CSIS menyebutkan mereka harus diawasi. Padahal, daerah saya bisa disebut kampung Muslim. Aneh, saudara seimannya endiri diprasangkai kriminal penabur racun hanya karena mendengar kampanye aparat. Pun demikian ketika isu Komando Jihad menerpa. Kalau mau jujur, mari kita buka lembaran kelam tragedi Woyla, adakah peran kaum santri nan baik-baik di baliknya? Atau, itu semata rekayasa tapi kita enggan mengakuinya kendati fakta sudah terpampang di depan mata?

Melihat dari jauh, yakni ketika jarak setelah kejadian di atas 20 tahun, mungkin fakta objektif yang terjadi akan terkuak. Paling tidak, bukan lagi didominasi oleh kesimpulan yang dianggap final menurut versi aparat. Nah, dalam konteks kebencian dan prasangka kita kepada terduga terorisme dan keluarganya, saya takut kita telanjur larut dalam agenda memperkaya diri oknum elit aparat keamanan kita, sementara kita lupa pengalaman serupa bahwa di kemudian hari besar kemungkinan fakta yang ada akan berbalik angin. Bila ini yang terjadi, sesal kita di hari tua taklagi berguna. Cerita ke anak dan cucu mungkin jalan bertobat kita kala itu. []

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.