Kitab untuk Sang Ustad (2)

Kami bersyukur, asa menghadirkan kitab Ta’liq Musnad Ahmad sebelum Iktikaf Ramadhan 1433 ini tercapai. Atas kehendak Allah, dipermudahlah tangan-tangan dari sebagian besar di antaranya sudah tidak bermukim di Yogyakarta. Bahkan, taksedikit di antara peserta Wakaf Kitab untuk Ustad adalah mahasiswa sarjana angkatan lama yang tidak sempat bersua dengan Ustad Solikhun.

Ikatan iman dan panggilan keilmuan. Dua kata kunci ini memudahkan kami untuk mengajak secara bersahaja memanfaatkan media internet. Tidak perlu pasang spanduk apalagi iklan di media cetak besar. Tidak pula dengan taklimat. Menariknya, kampus-kampus yang biasanya diisi kajian oleh Ustad Solikhun justru sepi apresiasinya. Wallahu’alam apa sebabnya. 


Awalnya kami menarget paling tidak 7-8 juta dana dari muwakif terhimpun untuk satu set Ta’liq Musnad Ahmad. Alhamdulillah, penjual kitab memberikan diskon begitu diberi tahu bahwa pembelian kami untuk diwakafkan kepada seorang ustad pencinta ilmu. Harga pun meluncur Rp 6,73 juta. Lalu uang sisa yang ada di saldo rekan kami, Adhi Fibrian ternyata terus bertambah.

Ikhtiar membujuk Ustad Solikhun untuk menyebutkan kitab apa saja yang tengah dicarinya pun kami lakukan. Saya memancing-mancing ia tengah meminati topik apa. Tanpa sengaja, ia sebutkan satu kitab: Ihtihaf Sadatul Muttaqin, karya Imam az-Zabidi. Kitab syarah Ihya Ulummuddin Imam Ghazali. Sayangnya, harga kitab 'cuma' Rp 1,2 juta. Padahal, saldo hasil urunan muwakif masih bersisa lebih.

Sembari mengantarkan kitab Ta’liq, dari obrolan santai di kediaman Ustad, akhirnya dengan dana tersisa kurang dari Rp 3 juta, disebutkanlah kitab-kitab yang masuk daftar carinya. Ada Tafsir al-Qurthubi dan juga kitab Fiqhul Islam wa Adillatuhu karya Syeikh Wahbah al-Zuhaili. Uang yang ada awalnya tidak mencukupi untuk membeli dua kitab yang terakhir ini. 

“Kita buka lagi saja gerakan ini,” jawab saya kepada Fibrian ketika dia melaporkan saldo tersisa belum cukup untuk membeli kedua kitab tadi.

Tapi tidak butuh waktu lama, Fibrian juga menginformasikan kepada saya bahwa ratusan ribu dana masuk untuk gerakan wakaf kitab ini. Tidak hanya terbeli, bahkan masih ada sisa Rp 635 ribu ketika saya menuliskan postingan ini. Total jenderal dari Rp 11,965 juta telah terbeli satu set kitab Ta’liq Musnad Ahmad, kitab az-Zabidi, Tafsir al-Qurthubi (Rp 1,5 juta), dan karya al-Zuhaili (Rp 1,9 juta).

Alhamdulillah, awalan ini bisa tercapai dengan baik. Kami akhirnya percaya, para pencinta ilmu sebetulnya masih banyak, meski untuk membaca sistematis dari sumber asli sebagaimana diteladankan oleh Ustad Solikhun amatlah langka. Terakhir, kepada saya dan Fibrian, beliau juga menyampaikan salam kepada para muwakif. Takterkecuali kepada sahabat yang baru berpartisipasi dengan doa. []

2 komentar:

Kuncoro mengatakan...

Pak Maulana, pemberian untuk Ustadz Solikhun itu statusnya wakaf atau hibah?

Yusuf Maulana mengatakan...

Statusnya wakaf sebagaimana niat dan akad saat dipublikasikan ke khalayak. Artinya, pemanfaatan sepenuhnya ada pada Ustadz. Mungkin serupa dengan hibah, sayangnya waktu itu saya lebih teringat kata 'wakaf' dan lebih menggerakkan pula. Ustadz Solikhun juga mendiamkan. Anyway, ini sebuah awal dari gerakan kepedulian.

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.