![]() |
| indofiles.org |
“Kenapa anaknya tidak diimunisasi?” Tanya ini kali sekian
dilontarkan tenaga medis, baik dokter ataupun perawat, kepada Hidayat. Ia
sebenarnya sudah mengutarakan pilihannya untuk tidak mengimunisasi kimia
anaknya. Alasan imunisasi alami tidak diindahkan oleh tenaga medis setempat. Berkali-kali
dalam posisi dipojokkan dengan pertanyaan dan gugatan, Hidayat yang tidak ingin
anaknya ditetesi zat kimiawi spontan pasrah. “Jika itu yang terbaik menurut
Dokter, silakan divaksinasi...”
Bila saya menjadi Hidayat, tentu keterpaksaan itu tidak
serta-merta menghapus rasa bersalah. Perasaan tidak mampu melindungi
orang-orang tercinta dari apa yang diyakininya tidak memberikan manfaat. Sayang,
argumentasi dia yang tidak mendalam harus dihadapkan dengan sekumpulan tenaga
medis yang seolah memaksakan opsi tanpa pilihan. Bersalin dengan Jampersal itu
artinya bersiap untuk menerima konsekuensi target-target sebagai kompensasi
digratiskan atau dimurahkan bersalin.
Tenaga medis di Sardjito mungkin hanya
pelaksana saja dari program para atasannya, yang bermuara di pemerintah. Konsekuensi
pemerintah mengikuti Millennium Development Goals (MDGs) salah satunya adalah
mengurangi angka kematian ibu dan anak. Imunisasi/vaksinasi bayi baru lahir sudah
otomatis bagian inheren dari program ini. Memilih Jampersal artinya tidak
semata ingin keringanan biaya, tapi juga harus ikut syarat yang ada. Salah satunya
soal ikhtiar mengebalkan si bayi.
Selesai? Ternyata tidak. Hidayat memang sempat bersyukur lantaran
ketika bayinya hendak divaksinasi, stok vaksin di rumah sakit itu habis. Singkatnya,
batallah vaksinasi meskipun ia diwanta-wanti untuk balik ke Sardjito di
kemudian hari demi menjalani agenda ini. Nah, ‘lolos’ dari perangkap kewajiban
diimunisasi kimiawi, Hidayat syok begitu ia diminta ikut Keluarga Berencana. Amat
jauh dari bayangannya, mengingat ia tidak pernah memiliki lintasan pikiran ikut
program pengaturan (baca: pembatasan) jumlah anak. Apalagi ia yang paham agama
plus sang istri yang berasal dari keluarga santri, tidak ragu soal makna banyak
anak dan turunnya rezeki dari Allah.
Apa boleh buat, kali kedua ia harus bersitegang dengan tenaga medis. Khususnya
sang dokter yang menjadi juru kampanye program pemerintah. IUD bersiap
diberikan pada Hidayat, sampai pengototan untuk bergeming dari mengikuti agenda
pemerintah dilakukannya. Beruntung, seorang perawat menengahi keengganan pasien
versus militansi dokter pro KB. “Sudah tidak apa-apa Dok kalau itu
keinginannya...” Saya baru tahu ada dokter bisa ditenangkan perawat hanya
karena tampak ‘gigih’ memaksa.
Prasetyo, teman saya juga, beruntung mendapati sebuah klinik yang juga
menerima klaim Jampersal tapi tidak ‘seradikal’ Sardjito. Ia yang berkomitmen
tidak memberikan vaksinasi (apalagi KB) hanya diberikan pilihan. Klinik tidak
memaksanya ikut atau diberikan ini dan itu sebagaimana dialami Hidayat.
Makan siang ala pemerintah bagi rakyat tidaklah cuma-cuma. Bantuan pemerintah
dalam persalinan rakyat sejatinya tidak perlu mengintervensi pilihan rakyat
terkait keyakinan. Mungkin ada salah soal persepsi vaksinasi dari mereka yang
menentangnya. Hanya saja, cukuplah dengan memberikan surat pertanggungjawaban
apabila di kemudian hari ada apa-apa sepenuhnya pemerintah tidak ikut campur.
Saya menyukai klinik langganan saya karena adanya prosedur ini. Klinik tidak
berhak memaksa saya, wong saya membayar mereka lebih. Klinik juga tidak perlu
takut dicap subversif lantaran tidak taat agenda penyuksesan MDGs-nya
pemerintah. Pasalnya, permintaan untuk tidak diini dan diitu dari saya. Selembar
kertas sayalah yang siap menerima risiko di kemudian hari sudah memadai. Tidak boleh
mereka mengancam. Pasien, setahu saya, berhak untuk tidak diberikan perlakuan
medis apabila itu bersifat opsional. Vaksinasi atau KB hanya tampak ‘penting’
dan ‘mendesak’ sehingga terkesan wajib. Kenyataannya? Anda bisa nilai sendiri.
Bagi saya, ikuti layanan gratis pemerintah soal medis pastinya ada
konsekuensinya. Mending dari sekarang saya ikhtiar menabung sehingga tidak
menikmati layanan cuma-cuma yang hanya kadang berselimutkan agenda memaksakan
sesuatu program.[]



11 komentar:
enakan ke bidan, lebih manusiawi memperlakukan ibu2 melahirkan. lebih ramah dan lebih bisa diajak bicara pinter :D
Jadi bingung, berarti ada udang dibalik bakwan dong
Iya,masa bidan disalah satu puskesmas didaerah saya waktu ditanya disini ada program jampersal ga? Eh dia mala nyolot.maksudnya apa?
Mengancam dapurnya Mbak Rinna. Maklum saja.
Allhamdulillah, di Surabaya tidak demikian adanya...
Saya awalnya tidak menginginkan jampersal, pakai biaya normal saja.. tapi oleh petugasnya disarankan (sedikit memaksa halus) untuk ikut jampersal... akhirnya saya mengikuti anjuran petugas tersebut...
Setelah mau pulang (pasca melahirkan), di tanyai petugas, untuk imunisasi awal (lupa imunisasi apa).. saya bilang intinya meminta maaf , tidak ikut imunisasi), ya responnya baik.. tidak ada apa2 (sempat adu argumentasi dikit, tapi saya katakan saya tidak mau anak saya di beri yang macam2,,, saya kontrak dg imunisasi bla2..)
Kemudian hari, waktu anak saya mau tindik untuk pasang anting... (1-2 blan kemudian agak lupa) di tanyakan oleh petugas lagi,, apa sudah ikut imunisasi... saya jawab dengan simple "Bu, kalau saya tidak ikut imunisasi tidak apa-apa kan?"
Petugasnya sepertinya mau membantah, tapi tidak jadi.. ya di jawab yang intinya.. tidak mengapa...
Allhamdulillah, petugas pelayanan kesehatan di Surabaya ramah-ramah.. dan baik hati...
Alhamdulillah bila tenaga medis di Surabaya seperti itu, Mas Susilo. Mungkin karena di RS yang saya sebutkan di atas masuk dalam perlakukan istimewa dari Pusat, keketatan pun diperlakukan. Bisa dicek di RS yang juga baru terakreditasi dalam posisi percontohan.
Saya hari ini merasakan,betapa pahitnya Jampersal..menginjak harkat martabatQ sebagai seorang suami di RSUD Genteng Wetan Banyuwangi,sangat tidak menghormati kita sama sekali..
Semoga jadi pembelajaran ya Mbak. Negeri ini masih kudu belajar pada Jepang yang masih lebih memanusiakan warga asing kala melahirkan di sana.
setahu saya imunisasi itu untuk mencegah penyakit si anak dikemudian hari.. ya memang dampaknya imunisasi kadang berakibat anak jadi panas rewel dll.. tapi kan untuk kebaikan anak juga.. why not?? kalau masalah KB, itu hanya opsi, kalo pasangan tidak mau KB, ya intinya merencanakan berapa tahun kemudian untuk punya anak lagi, agar kesehatan ibu bisa pulih sediakala.. ini hanya pendapat lo ya... :)
Soal imunisasi, hmmm.... masing-masing orang punya pendirian. Ada yang secara sadar menempuhnyal sebagian yang lain tidak. Masing-masing fanatik, dan ini sah-sah saja asal konsisten dan punya landasan. Kalau saya memilih untuk yang alami saja, alias tidak ada imunisasi kimiawi, insyaallah aman.
Soal KB, sayangnya ada yang memaksa untuk ikut lho. Tidak ditawarkan untuk berpikir masak-masak. Ini yang tidak pas.
kasihan ibunya juga klo habis melahirkan, 4 bulan kemudian hamil lagi....
Poskan Komentar
Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.