Transformasi Sang Profesor

gawker.com
Di sebuah seminar seputar Pancasila, profesor sejarah itu dengan enteng menegaskan perubahan pandangannya.

“Dulu saat saya di Padang, saya pendukung berdirinya negara Islam. Saat di Yogyakarta, saya menjadi penentang penerapan syariah Islam!”

Negara Islam plus syariah yang diformalkan tak lebih masa lalu lelaki Padang yang acap disapa ‘buya’. Sepulang menyentrik di Amerika, Pak Profesor ini memang dikenal luas berubah haluan; dari pendukung negara Islam (bahkan tesis masternya pun masih terasa ia mencintai agamanya dengan cara ‘radikal’) ke posisi penentang. Tapi, perubahan profesor itu sebenarnya baru tampak kasatmata saat ia memimpin sebuah organisasi massa Islam di negeri ini. 


Kian menyeruak ia menahbiskan diri (juga menerima dengan senang hati dilabeli) sebagai sosok Muslim moderat yang tak lagi memikirkan faedah negara Islam. Termasuk dalam seminar itu, yang mendudukkan dirinya bak sosok berwibawa dan berkompetensi dalam wacana ini.

Tapi siang itu ia di-skak mati oleh penjelasan teman panelis. Bukan seorang profesor, dan bahkan sarjana pun hanya teraih pada tingkat madya.

“Kalau ada perilaku orang Arab kasar, keras, kejam, mestinya harus dipisahkan dengan syariat Islam. Coba sekarang kita bandingkan d Indonesia. Apakah banyaknya tindakan korupsi itu secara langsung berarti ideologi Pancasila salah dan sesat?”

Dengan bahasa mudah, lelaki yang takmir di sebuah masjid di Kota Budaya itu menjelaskan soal syariat Islam. Soal yang tampaknya di mata si profesor dikuasainya; dan demikian pula dalam penilaian audiensi. 

“Dalam kasus Ruyati (TKI yang dibunuh), itu bukan syariat Islamnya yang salah. Bahkan dalam konsepsi Islam harusnya Ruyati itu tidak boleh dibunuh. Bukankah ia dalam posisi membela, miskin pula? Dan ia juga di Arab sana merupakan tamu. Tamu, dalam Islam, harus dihormati.”

Sang takmir bersahaja itu menegaskan bahwa tidaklah adil menilai syariat Islam dari praktik hukuman mati Ruyati di Arab Saudi. Praktik dan syariat sebenarnya (islamis) masih berjarak. Taklama kemudian ia pun menerangkan soal syariat Islam.

Entah apa maksudnya, tiba-tiba si profesor menceletuk, setelah terdiam oleh penjelasan sang takmir. “Bagus itu, perlu ditulis!”

Mungkinkah yang disampaikan teman panel  si takmir tadi murni dari komitmen untuk penegakan ajaran agamanya, ataukah sekadar etikanya mengakui bahwa pengetahuan dasar dirinya soal syariat Islam masihlah jauh dari harpan.[]

6 komentar:

triyantomekel mengatakan...

banyak yang trauma perspepsi......

Obat Maag Alami mengatakan...

Semoga saja di dalam semua yang terjadi itu terdapat hikmah yang bermanfaat. . .

Yusuf Maulana mengatakan...

Trasnformasi yang menuju kebaikan, itu yang kita harapkan.

obat penyakit stroke alami mengatakan...

akan selalu ada hikmah di setiap apa yang terjadi di dunia ini, trust me...

bayu hastomo mengatakan...

suatu sunnatullah bahwa perubahan itu mutlak, bahwa yg disayangkan perubahannya kontraproduktif, smoga bukan su'ul khotimah yang didapat

Anonim mengatakan...

bilang aja profesor itu syafii ma'arif dari muhammadiyah, tul kan.

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.