Menanti Kepedulian Syeikh soal Halal


indoplaces.com
Saya tidak menyangka, diskusi di salah satu status saya di Facebook soal makanan halal menjadi bahan pertanyaan salah satu kelompok pengajian mazhab Hanbali yangmenyebut diri Salafi. Soal kerentanan minuman air isi ulang terpolusi zat haram (antara lain dari filter berbahan tulang babi) ditanyakan seorang alim di kelompok itu pada syeikhnya.



Secara fikih, air terbebas dari najis lantaran tidak berbau, berasa, dan warnanya.  Nah, bagaimana persoalannya bila zat air itu hadir setelah melalui persentuhan dari benda haram, dalam hal ini filter berbahan tulang babi?


Dengan jujur, seorang di antara mereka mengakui pada saya. Bahwa kelompoknya memang konservatif sehingga tidak serta-merta mengikuti perkembangan. Saya sedikit terkesima dengan kejujuran si bapak berumur kepala empat ini. Saya tidak tahu maksud kata ‘konservatif’ yang dilekatkan pada kalangannya; saya hanya mengira-ngira itu terkait dengan kelambanan mengakses informasi di luar sana. Barang yang menurut kasat mata halal ternyata oleh kalangan lain diperalat sebagai komoditas murah meskipun dicampur dari bahan haram.

Tidak terpikir sebelumnya air isi ulang yang banyak digeluti pengusaha Muslim rupanya masih perlu ditanyakan. Boleh jadi, para pengusaha itu tidak tahu apa-apa, sebagaimana saya survei ke langganan saya sebelumnya. Dia tidak tahu apa filter dari tulang, dan tugas saya yang memeriksa sendiri.

Dengan perkembangan di luar sana yang meniscayakan hadirnya kalangan curang, mestinya kehati-hatian bisa diantisipasi. Kalangan pengajian di atas masih menantikan fatwa dari syeikh besarnya—entah di mana saya tidak diberi tahu. Padahal, bila saja cepat dan berjaga-jaga, sebenarnya dengan mudah putusan hukum hadir. Dalam kasus semacam ini, teman-teman di LPPOM MUI menurut saya lebih mumpuni dan berani berfatwa, betapapun secara fikih mereka ilmunya di bawah para asatidz Salafi tadi. Mengapa berani? Karena bukan tanpa ilmu tentunya. Keberanian di sini karena perlu sikap segera melindungi perut umat. Tidak bisa ditunggu-tunggu sebagaimana pilihan oknum syeikh di pengajian Salafi tadi.

Cerita dari si pengikut kajian tadi kepada saya memberikan pelajaran bahwa tak sedikit di antara umat Islam masih bertindak lamban dan kurang tanggap terhadap setiap kemungkinan masuknya zat haram. Aspek makanan dan minuman halal dilihat dari aspek fikih tidaklah memadai di saat tangan-tangan curang kian betebaran.[]

2 komentar:

obat alami untuk demam berdarah mengatakan...

memang hal sekecil ini pun jika sudah berkaitan dengan syariat harus kita informasikan bahkan kepada yang dituakan sekali pun, masa mereka tidak sama dengan kita jadi alangkah baiknya kita informasikan perkembangan zaman kepada beliau. . .

Yusuf Maulana mengatakan...

Sebagai santri, kita memang perlu ingatkan mereka. Termasuk mendorong para asatidz dan/atau syeikh melek perkembangan agar tidak mudah diakali pebisni dari luar.

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.