Susah Nikah karena Nasab Ahlul Bait

Hasanah, sebut saja nama perempuan ini, mungkin tak pernah membayangkan imbas menjadi bagian dari keturunan Nabi Muhammad, ahlul bait. Pengakuan yang sedemikian disakralkan di tengah keluarga seolah tak boleh dilanggar. Demi kemurnian garis keturunan ke jalur Sang Nabi.

Agar tersambung nasab sebagai ahlul bait, Hasanah diharuskan menikah oleh keluarganya dengan sesama ahlul bait. Tidak boleh dengan orang di luar ahlul bait. Jadi, wacananya bukan soal Islam atau bukan. Bukan pula lelaki itu saleh atau tidak. Bukan pula si calon pelamar itu berpendidikan tinggi atau ala kadarnya.

Persyaratan bagi perempuan keluarga ahlul bait adalah dia diharuskan menikah dengan sesama keturunan Nabi. Sementara bagi kaum lelakinya, diperbolehkan menikahi perempuan di luar ahlul bait. Diskriminatif? Silakan menilai sendiri, yang jelas beginilah logika patriarki digunakan oleh kalangan yang mengaku ahlul bait.

Maka, meskipun pintar dan paham bahwa pernikahan itu mestinya dilandasi oleh takwa (bukan keturunan siapa) hanya menjadi teori di Hasanah. Dia bergeming dengan aturan ketat di keluarganya. Aturan yang turun-temurun ingin dilestarikan tanpa peduli keinginan Hasanah yang sudah ingin mendapatkan pendamping. Konon, Fatimah putri Nabi pernah berpesan bahwa anak keturunannya harus menikah yang perempuan dengan sesama ahlul bait. Mitos ini yang dipegang di tengah keluarga Hasanah.

Hasanah, selain berpendidikan, juga rupawan. Tak heran lelaki pun tergerak untuk meminangnya. Sayang, yang datang kalangan biasa-biasa saja, alias bukan keturunan Nabi. Maka, sekalipun si lelaki itu saleh dan bergelar master, orangtua Hasanah mencoretnya sebagai bakal menantu. Tidak hanya orangtua, kakak-kakaknya mayoritas berpemikiran serupa. Maka, nyaris Hasanah terbelenggu dengan aturan yang bagi orang kebanyakan musykil itu.

Bagaimana kita bisa membuktikan jalur nasab seseorang itu terhubung sampai ke Nabi Muhammad? Silsilah yang dipampang di rumah habib-habib yang mengaku ahlul bait sering kali masih perlu ditelusuri keabsahannya. Sayang, yang terjadi sepertinya pemitosan mutlak bahwa mereka tergolong keturunan Nabi. Klaim-klaim yang kadang kala menjadi absurd dan irasional tatkala dikaitkan dengan perilaku keseharian mereka. Seolah menjadi keturunan Nabi pasti jaminan dapat syafaat dan surga di akhirat. Padahal, urusan syafaat dan akhirat adalah terkait ridha Allah dan praktik mengikuti syariat-Nya.

Hasanah bukannya tak ingin melawan. Sayang, kekuatannya seperti tak ada. Ia tak seperti seorang kakak perempuannya yang seperti sudah dicampakkan keluarga lantaran memberontak: menikah dengan kalangan di luar ahlul bait. Sebuah pilihan berdiam dari Hasanah yang kemudian harus diterimanya tatkala keluarganya tak peduli memandang soal kesalehan, kepintaran, atau bahkan harta benda. Pokoknya, asal ahlul bait yang lain masa bodoh.

Sebuah pilihan tanpa pilihan yang amat menyesakkan dada perempuan bernalar mana pun. Kalaulah ahlul bait itu sekumpulan manusia dengan perilaku mendekati Hasan dan Husein, aturan ketat ini tak jadi soal. Tapi bagaimana bila sang ahlul bait itu hanya lulusan SMP, kesalehan tak jelas tapi sudah digadang-gadang punya jalur nasab hingga ke Nabi? Sungguh, bila Nabi kita hadir di tengah kita, beliau akan pedih melihat pilihan perempuan untuk menikah diperosokkan oleh keluarganya dengan parameter yang merampok nama baik beliau.

Hasanah, keluarganya, dan para pengaku ahlul bait, sebenarnya secara fisik tidak tampak lagi Arab. Jauh berbeda dengan beberapa teman akrab atau kenalan saya yang jelas-jelas masih mempertahankan kearaban dan/atau keislaman ala Timur Tengah. Adapun di keluarga Hasanah di daerah Pantura Jawa, sudah secara fisik lebih dominan Indonesia (ayahnya yang mengaku ahlul bait, tak tampak sebagai lelaki Arab; sang ibu? Indonesia tulen!), partainya pun ikut Golkar dengan fanatik (bahkan karena Hasanah menjatuhkan pilihan untuk memilih sebuah partai Islam, membuatnya dibenci), namun dengan mantap memasang diri sebagai ahlul bait.

Mencintai Nabi dan keturunannya adalah sunnah. Terlebih ketika mereka menjalankan perintah-perintah Allah yang pernah dipraktikkan Nabi. Bila ada keturunan yang mengaku bernasab ke Nabi tapi perilakunya menyerupai musuh dakwah dan aturan Nabi, sungguh gelar ahlul bait hanyalah pengomoditasan belaka. Ada nilai ekonomi di balik klaim-klaim yang dipampang di ruang tamu mereka yang menyebut diri ahlul bait.

Hari ini, kita lebih butuh mencintai para keluarga Nabi yang meski tak bersilsilah ke beliau namun jelas-jelas menjadi ahli sunnah yang konsisten. Teguh memegang agama ini meski serupa menggenggam bara api di tengah cemoohan banyak orang.

Cukuplah yang dialami Hasanah, hari-hari ini usai pernikahan dengan sesama ahli bait, ia yang dulu ketat menjaga lisan,sikap, hingga busana, mulai membuka terang-terangan kepedihannya.[]

129 komentar:

fahmi achmad mengatakan...

tentang pembuktian nasab yang bersambung dengan Imam hasan maupun Husain. pemeliharaan nasab dikalangan orang Alawy (sebutan lain komunitas habaib/sayyid)telah dilakukan sejak lama. bahkan ketika kalangan ahlul bait (ahmad ibn Isa al-Muhajir) datang berpindah dari bashrah ke madinah dan terakhir menetap di hadramaut/ulaiti (yaman Selatan), penduduk lokal yaman telah menkonfirmasi kebenaran nasab dari ahmad ibn isa al-muhajir ke madinah. selanjutnya suku yang pertama kali menerima rombongan ahmad ibn isa al-muhajir dikenal dengan klan Bafadhal. Dalam budaya orang Arab tradisi menjaga Nasab (dengan penyebutan nama sampai 3 generasi) tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Alawy saja. Sehingga orang yang berusaha memalsukan galur nasabnya akan ketahuan keasliannya. ketika rombongan orang2 hadramaut datang ke Indonesia, merekapun tetap saja memegang galur nasab mereka, baik imigran dari Sayid, masyaikh, maupun qabail.

untuk penjagaan secara formal, didirikan rabithah alawiyyah dengan maktab daimi sebagai bagian penjamin dan pengelola keotentikan nasab warga alawiyyin indonesia. Lembaga ini beberapa kali mengungkap bahwa ada beberapa pihak yang mengaku sebagai habib. kasus terakhir adalah abdurahman assegaf yang beberapa kali muncul di media yang mengeluarkan statement tak berdasar dan memecah belah umat. Habib Riziq meminta secara langsung Rabithah alawiyyah memeriksa keaslian galur nasabnya. dan terbukti memang palsu.. rabithah alawiyyah mengeluarkan surat resmi yang menyatakan kepalsuan nasab dari yang bersangkutan. (saya baca di majalah sabili tahun 2011)

dari awal di keluarga saya (karena keluarga saya juga termasuk dalam qabilah Ba'alawy seperti halnya keluarga syihab, alhabsyi, aljufri, dsb)
penekanan untuk tidak mengadang-gadangkan nasab ditekankan sejak awal, buku nasab yang dikeluarkan resmi oleh maktab addaimi (semacam passport u/ orang Alawy ), tertulis "hendaknya menjadi pendorong begi anda untuk selalu tetap mengikuti kepribadian mereka, berperangai selaras akhlaq mereka, berpegang teguh dengan tuntunan serta ajaran mereka dan mengikuti jejak teladan para imam mereka, sehingga semoga anda menjadi generasi penerus yang baik dari generasi pendahulu yang luhur". tapi memang pada kenyataannya banyak yang tidak mengikuti nasihat tersebut.
tapi tak bisa digeneralisir kalau semua orang alawy tidak baik. buktinya kalau di Tarbiyah ada Ustadz Salim segaf al-Jufri dan ustadz Abu Bakar al-Habsyi. *setidaknya itu yang saya tahu habib yang ada di jama'ah tarbiyah

memang dalam masalah pernikahan sesama orang alawy sudah sejak lama menjadi polemik tidak hanya di Indonesia, tapi memang sejak di Yaman sudah bermasalah, di indonesia puncaknya mungkin dengan kejadian pecahnya Jamiatul-Khair menjadi rabithah alawiyyah dan al-irsyad al-islamiyyah.
saya memandangnya itu sebagai bagian dari sistem tradisi yang menekankan untuk memegang tradisi, baik dari orang alawy maupun masyaikh juga melakukan hal yang sama dalam masalah pernikahan. Mungkin sama halnya juga dengan pernikahan dengan orang-orang satu harokah dakwah. muncul juga penekanan untuk menikah dengan orang yang satu harokah. Wa Allahu A'lam

*numpang curcol
lebih susah lagi saya pak kalau menikah, Umy saya menekankan untuk menikah dengan Syarifah/Sayyidah tapi di sisi lain, saya juga orang Tarbiyah. dan akhwat tarbiyah yang juga syarifah/sayyidah hampir tidak ada. hehe

Yusuf Maulana mengatakan...

Saya doakan Fahmi tidak dipersulit, atau mampu mengatasi batasan-batasan kultural tersebut. (Btw, terima kasih informasinya yang cukup detail.)

fahmi achmad mengatakan...

OK pak... semoga bisa mengatasi batasan-batasan kultural yang muncul..

elfizonanwar mengatakan...

APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

Dlm Al Quran yang menyebut 'ahlulbait', rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah".

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: 'Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu 'ahlulbait' yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

3. QS. 33:33: "...Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu 'ahlulbait' dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya".

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg 'nabi' dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau 'anak tunggal' dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

3. Isteri-isteri beliau.

4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan 'nasab'-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

Bagaimana tentang pewaris tahta 'ahlul bait' dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.

Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab perempuan seterusnya.

Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta 'ahlul bait'.

Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta 'ahlul bait' yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

Anonim mengatakan...

Al Hakim meriwayatkan dari Jabir ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : "Setiap putra ibu memiliki ashabah (keluarga dari pihak ayah) yang mereka dinisbatkan kepadanya kecuali kedua putra Fatimah, Akulah wali mereka dan Aku adalah ashabah mereka".

At Thabrani meriwayatkan dari Fatimah Az Zahra ra, beliau berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : "Setiap putra ibu akan bergabung dalam nasabnya kepada ashabahnya kecuali anak-anak Fatimah, Akulah wali mereka dan Akulah ashabah mereka".

At Thabrani meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : "Semua sebab dan nasab akan terputus pada hari kiamat kecuali sebab dan nasab yang bersambung denganku".

Ketika orang2 mengejek Nabi tidak memiliki keturunan karna anak lelaki Rasulullah wafat. Maka Allah SWT berfirman : SESUNGGUHNYA ORANG2 YG MEMBENCI KAMU DIALAH YG TERPUTUS. (QS. Alkautsar).

Dan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud R.A bahwa dia mengatakan: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda di atas mimbar,
مَا بَالُ رِجَالٍ يَقُوْلُوْنَ؛ إِنَّ رَحِمَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَنْفَعُ قَوْمَهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ؟ بَلَى وَاللهِ، إِنَّ رَحِمِي مَوْصُوْلَةٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَإِنِّي أَيُّهَا النَّاسُ فَرَطٌ لَكُمْ عَلَى اْلحَوْضِ.

"Ada apa dengan orang-orang mengatakan bahwa keluarga Rasulullah SAW tidak berguna bagi kaum beliau pada hari Kiamat? Tentu, demi Allah, sesungguhnya keluargaku terjalin di dunia dan akhirat, dan sesungguhnya aku, wahai manusia, adalah yang mendahului kalian ke telaga surga."


sabda beliau SAW dalam sebuah riwayat,
لاَ أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا.
"Aku sama sekali tidak dapat menjamin kalian di hadapan Allah." Maksudnya hanya dengan diriku tanpa syafaat atau ampunan lantaran aku dan semacamnya yang dianugerahkan Allah kepadaku. Rasulullah SAW mensinyalir hal ini dalam sabda beliau di akhir hadis,
غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبِلاَلِهَا.
"Hanya saja kalian memiliki keluarga yang akan jalin hubungannya."
Maksudnya: aku akan menyambung hubungan kekeluargaan dengan jalinannya. Ini berimplikasi pada posisi yang mengkhawatirkan bagi mereka lantaran beliau menyatakan tidak dapat menjamin mereka, namun disertai sinyalemen adanya hak keluarga beliau.

hadits beliau yang diriwayatkan oleh Thabrani, Al-Hakim dan Rafi'i:
"… maka mereka itu keturunannku diciptakan (oleh Allah) dari darah dagingku dan dikaruniai pengertian serta pengetahuanku. Celakalah (neraka wail) bagi orang dari ummatku yang mendustakan keutamaan mereka dan memutuskan hubunganku dari mereka. Kepada mereka itu Allah tidak akan menurunkan syafa'atku."

dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi' dan Al-Baihaqi dalam Syu'ab Al-Iman meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :
'Barangsiapa tidak mengenal hak keturunanku dan Ansharnya, maka ia salah satu dari tiga golongan: Munafiq, atau anak haram atau anak dari hasil tidak suci, yaitu dikandung oleh ibunya dalam keadaan haidh'.

Yusuf Maulana mengatakan...

Terima kasih atas pengayaan informasi dari Elfizonanwar dan Anonim

Anonim mengatakan...

jangan terlalu bangga dengan nasab, bahwa yg pasti akhlaklah sbg tolok ukur sbrp dekat ia dgn Rasulullah

Iwan mengatakan...

sebenarnya siapapun dia keturunan ahlul bait apa tidak tergantung orangnya..namun saya juga sarankan..sebelum membuat tulisan diatas sebaiknya saudaraku juga mempelajari ilmu nasab, pelajari juga apa yang dimaksud kafaah dan sejarahnya agar lebih obyektif dalam membuat tulisan..dan jangan juga ketika kita melihat satu kasus, semua jangan digeneralisir atau dipukul rata, karena pada kenyataannya masih banyak juga ahlul bait yang menikahi anaknya dengan yang bukan ahlul bait karena ketakwaan atau kesalehannya...

Mas Brow mengatakan...

weleh-weleh.....ternyata dalam Islam ada kasta to mas.....
Kasta Alawiyyin/sayyid dan kasta akhwal/non sayyid. padahal Allah dan rasulnya tdk pernah mengajarkan tsb, lalu mengapa keturunan rasul membuat ajaran RASIS....?!
Kayak di Hindu aja ada kasta...katanya islam lalu mengapa menerapkan sistem kasta....

Yusuf Maulana mengatakan...

@Iwan: Tulisan di atas bukan untuk menggeneralisasi, tapi mengungkap satu fenomena. Silakan disaksamai lagi. Dengan senang hati, saya tunggu data soal ahlul bait yg menikahi kalangan biasa yang saleh/salehah, karena ini penting buat teladan.
@Mas Brow Bukan kasta, Mas, ini feodalisme yang diciptakan pemeluk, Bukan dari ajaran agamanya. LAgi pula tidak populer kok. Sudah cair. Insya Allah.

Anonim mengatakan...

Kebanyakan sayid2 yg telah mempunyai nasab terlalu sombong..saya adl korban dari kesombongan mrk,
saya adl seorg syarifah,saat ini saya mempunyai calon suami seorg sayid,namun belum menemukan silsilah scr lengkap shg rencana pernikahan kami tertunda. Calon saya bolak balik menemui pihak rabithah(lembaga pencatatan nasab), namun ironis, kami malah disuruh nyari sendiri (saat ini kami sudah punya 3 nama keatas),pertanyaannya bgmn mungkin kami yg tdk mempunyai ilmu dan metode pencarian silsilah malah dsuruh nyari sendiri.lalu apa gunanya ada lembaga tsb.
Alhasil 5 tahun mencari tdk membuahkan hasil, yang lebih mengecewakan lagi ketika keluarga saya datang dan meminta pendapat ttg pernikahan kami,pihak rabithah malah tdk menyarankan, sehingga membuat keluarga saya tdk merestui hub ini.
Padahal kami mempunyai surat kesaksian dari sayid2(yg telah punya silsilah,yg menganal keluarga pasangan saya) yg bersaksi bahwa keluarga pasangan saya tsb telah dikenal ke sayidan nya(bukan palsu).
Dalamn hal ini saya merasa pihak dr rabithah adalh salah satu penghalang pernikahan kami,harusnya mrk tdk boleh mengatakan calon suami saya sayid palsu, krn masalah silsilah adalah masalah yg ghoib, dimana tdk ada satupun manusia yg bisa memastikan.aplg kami didukung fakta2 dan surat2 bukti bahwa pasangan saya mmg sayid.cuman belum ketemu aja silsilahnya.
Anda2 yg ada di rabithah..kan cucu nya nabi, saya yakin nabi juga gak gitu banget, sombong dan menganggap org yg belum punya silsilah itu rendah. Saling bantu membantu aja lah, toh belum tentu juga anda masuk surga.

Yusuf Maulana mengatakan...

Semoga Allah memudahkan ikhtiar berjodoh Mbak Anonim. Dan kita doakan para sayid itu lebih melihat sunnah dengan cerdas dan matahati tajam. Bukan semata label.

capek pijat mengatakan...

Saya secara pribadi, sangat miris dan sangat berhati - hati, dengan kasus seperti ini, namun dari kasus yang saya alami, saya punya murid, Namanya Syerifa dwi Fitria, dia juga punya nenek sarifa, yang asalnya dari kalimantan, dia pernah cerita bahwa neneknya kan nikah sama orang Indonesia asli, setelah itu ibunya juga nikah dengan orang Indonesia asli. Namun dia enjoy n tidak mempermasalahkan statusnya atau, ikhlas dan menyukuri apa yang ada, demikian semoga bermanfaat bagi kita semua amin.amir mahmud sag, guru al iskam, smk Muhammadiya 1 Taman sidoarjo, jawa timur, Jln Raya Sawunggaling Jemundo 123 Taman Sda.

Yusuf Maulana mengatakan...

Semoga saja banyak 'ahlul bait' seperti ditemui Saudara Capek Pijat.

Anonim mengatakan...

mungkin semuanya tak perlu banyak mempermasalahkan msalah ini, sebab sudah jelas apa yang RASULULLAH sabdakan, syarifah itu mempunyai nazab yang mereka harus lanjutkan hingga akhir zaman, jangan sampai salah semuanya...wassalam.

Anonim mengatakan...

jangan sampai ALLAH murka wahai manusia, RASULULLAH adalah kekasih ALLAH, RASUL, skaligus NABI trakhir alam semesta, KALIAN menyakiti RASULULLAH KALIAN SAMA SAJA MENYAKITI ALLAH,...
jadi apa yang sudah diriwiyatkan RASUL kalian manusia muslim harus ikuti, jangan sampai kalian terhakimi,....

Areph mengatakan...

Permisi , mau tanya

Jadi dari semua pendapat , saya mau tanya inti nya
boleh tidak anak perempuan dari golongan arab itu menikah dengan laki-laki yang bukan dari golongan arab ?

"tolong di jawab

Yusuf Maulana mengatakan...

AMAT BOLEH, Asalakan seagama: Islam.

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaikum..
kepada saudara yusuf maulana, mengenai masalah pernikahan sekufu(satu golongan) dari kalangan bani Alawy atau lebih diknal dengan sebutan Sayyid & Syarifah, itu semua memiliki landasan hukum syar'i yang sangat jelas.
Anda berpendapat atas dasar kondisi dan situasi atau psikologi masyarakat saat ini yang berlaku. Dan itu bukanlah suatu hukum yang bisa di pakai.

Tidakkkan anda membaca Al-Qur'an bahwa diutusnya seorang Nabi hanya untuk ditaati??

Pernahkah anda membaca sebuah hadits bahwa Rasulullah SaW bersabda "Kami hanya menikahkan anak permpuan kami(syarifah)dengan anak laki-laki kami (sayyid)" ??

Apakah anda pikir keluarga baalawy ini hanya segeelintir orang saja??
apakah anda brfikir dari merek tidak ada yang mengerti hukum agama sehingga anda mengatakan ini feodalisme semata.

saya hanya memperingatkan kpada anda, berhati-hatilah dalam berpendapap wwahai saudara, karena apapun yang anda utarakan saat ini kelak akan dimintai pertanggung jawaban.
Wassalam. :)

ferngah mengatakan...

Kalau kita mencintai Rasullulah…ikutilah pesan terakhir beliau…khutbah terakhir Rasulullah di lembah Uranah, Arafat 10 H ..dan ini merupakan kutipan khutbah terakhir beliau…..

Wahai manusia, dengarkan aku dengan sungguh-sungguh,
beribadahlah kepada
ALLAH, shalatlah lima waktu dalam sehari, puasalah
dalam bulan Ramadhan, dan
berikanlah hartamu dalam bentuk zakat. Kerjakan haji
jika kamu mampu. Semua
manusia berasal dari Adam dan Hawa, seorang Arab
tidak memiliki kelebihan
diatas non-Arab, dan seorang non-Arab tidak memiliki
kelebihan diatas Arab;
juga seorang putih tidak memiliki kelebihan diatas
seorang hitam, tidak juga
seorang hitam memiliki kelebihan atas orang putih,
kecuali dalam ketakwaan
dan ibadahnya. Camkanlah bahwa setiap muslim adalah
saudara bagi setiap
muslim dan bahwa umat Islam merupakan suatu
persaudaraan.

Tidak ada yang lebih mulia antara sayyid dan non sayyid ..melainkan karena ketaqwaannya….apa lagi yg harus kita perdebatkan….yang ada sekarang bukan Ahlulbait…tetapi keturunan Ahlbait (keturunan keluarga Rasul….hanya keturunan..bukan ahlulbait..karena Ahlul bait hanya meliputi Istri2 dan Anak2 Rasulullah……

10 Kasus wanita Ahlulbayt menikah dengan non ahlulbayt

1. Ruqayyah binti Muhammad Rasulillah, menikah dengan Utsman bin Affan.
2. Ummu Kultsum binti Muhammad Rasulillah, menikah dengan Utsman bin Affan.
3. Zainab binti Muhammad Rasulillah, menikah dengan Abul ‘Ash.
4. Ummu Kultsum bin Fathimah binti Muhammad Rasulillah, menikah dengan Umar bin La-Khatthab.
5. Sukainah binti Husain bin Fathimah binti Muhammad Rasulillah, menikah dengan Zaid bin Umar bin Utsman bin Affan.
6. Fathimah binti Husain bin Fathimah binti Muhammad Rasulillah, menikah dengan Abdullah bin Amr bin Utsman bin Affan.
7. Fathimah binti Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fathimah binti Muhammad Rasulillah, menikah dengan Al-Mundzir bin Zubair bin Al-Awam.
8. Idah binti Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fathimah binti Muhammad Rasulillah, menikah dengan Nuh bin Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah.
9. Fathimah binti Hasan Al-Mutsanna bin Hasan bin Fathimah binti Muhammad Rasulillah, menikah dengan Ayyub bin Maslamah Al-Makhzumi.
10. Ummul Qasim binti Hasan Al-Mutsanna bin Hasan bin Fathimah binti Muhammad Rasulillah, menikah dengan Marwan bin Aban bin Utsman bin Affan.

inilah sebagai contoh yang di ajarkan Baginda Rasulillah SAW…..apa lagi dengan ekstrimnya mereka mengatakan..jikalau ada syarifah yang menikah dengan non sayyid maka pernikahan mereka tidaklah sah /tidak akan mendapat syafaat dari Rasulullah….sungguh ironis sekali….apakah mereka berani menjawab bahwa pernikahan yang terjadi diatas boleh dikatakan tidak sah atau atau tidak akan mendapat syafaat Rasulullah…..semoga jadi perenungan bagi kita semua…kita berpegang kepada Al Quran yang dijamin keasliannya oleh Allah SWT..sedangkan hadist2..banyak yang lemah cacat..dan juga yang palsu...hati2 dengan tipu daya setan..karena sifat angkuh, sombong, merasa derajatnya lebih tinggi lebih mulia itu adalah sifat iblis....jayalah Islam ku

Yusuf Maulana mengatakan...

Bung Anonim, ini tulisan Anda:
Tidakkkan anda membaca Al-Qur'an bahwa diutusnya seorang Nabi hanya untuk ditaati??

Pernahkah anda membaca sebuah hadits bahwa Rasulullah SaW bersabda "Kami hanya menikahkan anak permpuan kami(syarifah)dengan anak laki-laki kami (sayyid)" ??

Hadits di atas--kalau memang benar hadits dan sahih serta rajih kandungannya--tidak serta-merta melegitimasi keharusan perempuan ahlul bait menikah dengan dan harus pria ahlul bait. Betul kata Bung Anonim di bawahnya, sejarah toh membuktikan kebolehan para perempuan ahlul bait menikah dengan lelaki dengan ahlul bait,

Hari ini, saya hanya wajib menghormati Muslim taat yang mengikuti Rasulullah; bukan para pengaku keturunan beliau yang ternyata akhlaknya terkadang jauh dari panggang dengan semangat Islam.

Ali Riza Assegaff mengatakan...

Imam Syafi'i r.a mengatakan tidak boleh seorang syarifa/ sayyidah menikah dengan seorang non sayyid. Ini adalah satu bukti dimana para orang tua habaib dulu tidak semena-mena menentang perkawinan anaknya yang syarifah dengan non-sayyid. Kalau kita perhatikan juga seorang Raden atau Ningrat biasanya dijodohkan pula dengan Raden atau Ningrat lagi, hal ini untuk menjaga keturunan mereka, demikian pula halnya seorang syarifah. tks silahkan ditelaah kembali

Yusuf Maulana mengatakan...

Qaul Imam Syafi'i, bila memang beliah menandaskan ini di qaul jadidnya, lebih sebagai tuturan berhikmah dengan pesan mendalam di dalamnya. DAri segi hukum tetap saja seorang ahlul bait boleh menikah dengan kalangan di luarnya selagi satu iman. Soal sekufu diartikan seklan ahlul bait itu belum lahirkan aklamsi di antara ulama masyhur.

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaikum wr wb,

memang benar pendapat dan tulisan tsb, karena sy sendiri mengalami hal yang serupa,, dan mungkin jauh dari nalar..ini kisah nyata sy, dan sy berharap semoga pengalaman ini tidak dialami oleh yang lainnya..

Saya dipisahkan secara paksa oleh calon suami saya yang memang keturunan ahlul bait..calon sy tsb bahkan sudah melamar ke orang tua sy pada bulan Ramadhan.
Sebelumnya pihak dari keluarga calon suami sy tsb menerima sy dengan baik, adik2nya pun dekat dengan sy.

sy dipisahkan karena sy di fitnah oleh keluarga calon suami sy dari pihak ibunya, yaitu pamannya.

Dia memfitnah bahwa saya memiliki Jin di mata saya, dan calon suami sy tsb konon di fitnah telah dirasuki oleh Jin yang ada di mata sy.

Bahkan Calon suami sy tsb di usir oleh ibunya apabila dia masih meneruskan ingin menikah dengan sy.

Bahkan Kue Kering sy tidak mau disentuh oleh umi nya.
Keluarga besar sy adalah keluarga baik2, ayah saya adalah ketua masjid di daerah rumah sy..

memang pada saat memutuskan untuk menikah dengan calon suami sy, dia pernah berkata, "di keluarga ku yang menikah dengan orang pribumi hanya 2 orang saja, dan mereka pun selalu terus dibicarakan oleh pihak keluarga..semoga kita bisa melaluinya seperti yang lain.. kamu yang sabar"

walaupun fitnah tsb sangat tidak benar, sy tidak pernah mencela orang yang menfitnah sy,
Sy panjatkan doa setiap waktu setiap detik setiap malam kepada Allah SWT agar diberikan jalan terbaik menurut Allah,

justru Allah sangat sayang thd sy,Allah mungkin takut sy jauh lebih terluka apabila menikah dan bergaul dengan keluarganya..

Justru sy yang mengarahkan kepada calon suami sy untuk mengikuti apa kata orangtuanya terutama Umi nya, mengalah jauh lebih baik..

Allah itu baik..dia memberikan jalan,,Wanita yang baik pasti dengan Lelaki yang baik..Lelaki baik pasti dengan Wanita yang baik..

dan belum tentu apa yang menurut kita baik adalah yang benar-benar terbaik menurut Allah..

Memiliki Agama yang baik tapi tidak disertai dengan akhlak yang baik pun, hasilnya akan jauh dari harapan.

Semoga berguna bagi yang membacanya,
Wassalamualaikum wr wb..

Anonim mengatakan...

bung reza..jika memang benar Imam syafeei pernah mengeluarkan fatwa bahwa dilarang seorang non sayyid menikahi syarifah..berarti fatwa beliau itu menjadi bumerang bagi beliau sendiri..karena sejarah mencatat bahwa ayah dari Imam Syafii bukan seorang sayyid (non sayyid) sedangkan ibunya seorang syarifah...kalau saya rasa Imam Syafii tidak pernah mengeluarkan fatwa tersebut...berita itu dibuat hanya untuk kepentingan golongan tertentu.....

haris mengatakan...

Intinya masalah ahlulbait dan kafaahnya, jgn terlalu di jadikan permasalahan yg besar, karna kita sebagai manusia muslim berpegangan alquran dan hadist, apa yg diwajibkan dijalankan, yg sunah di kerjakan, terdapat larangan baik yg kuat maupun yg lemah dituruti, sebagai mana yg diajarkan nabi itu adalah hal yg wajib kita imani, bukan tuk diperdebatkan, atau di perbanyak pertanyakan, yg ujungnya akan membuat kebencian kita sesama muslim, jadi jika terdapat dialquran tentang masalah perkawinan antara sayid dan syarifah/ahlulbait, patut kita meng imaninya, jagan mencari kenapa tidak boleh... kenapa begini, kenapa begitu.. dan mengadu adukan ayat ayat sudah ada di alquran dan hadist, jgn sampai keingin tauan kita atau kelewat pintarnya kita mejadi cambuk diakhirat nanti, dan ingat susahnya kita di dunia tentang permasalahan perkawinan ataupun masalh kehidupan, belum tentu diakhirat kita akan mengalami kesusahan pula, karna dunia akan menjadi bumerang untuk kita yg sok pintar. Allah maha adil, banyak doa dan kerjakan yg telah di wajibkan, serta jangan disusahkan masalah harta kehidupan sekaligus pernikahan, faham semua, smoga Allah mengijabah doa kita semua amin ya rabbal alamin.

muhammad assegaff mengatakan...

Ditulisan disebutkan mencintai Nabi SAW. dan Ahlul baitnya (sekaligus keturunannya) adalah sunnah. Ini salah besar dan sangat menyesatkan, karena cinta Kepada Nabi dan Ahlul Bait ini wajib, karena dalam Alqur,an disebutkan :" Katakanlah aku (Muhammad) tidak minta upah apapun dari kalian atas seruanku selain kasih sayang dalam kekeluargaan".(QS Asy-Sura23).Soal perkawinan Syarifah dengan non Sayyid menurut para salaf kita harus sekufu (sepadan), kalau tidak kawin sama Sayyid berarti anak kita terputus keturunannya dengan Rasul. Tidak ada celaka yang lebih besar daripada putus dengan Rasul. Kita lihat seorang darah biru harus kawin dengan darah biru juga untuk kelanggengan keturunan.

Abdurrahman Baraqbah mengatakan...

Hanya orang-orang arif billah wa rasuluhu yang tahu urusan ahlu bait...
Hanya orang-orang yang tembus syahadat tauhid dan syahadat risalah sajalah yang tahu apa itu ahlu bait nabi s.a.w..
Maka, sangat sulit untuk bicara di forum ini yang nota bene beragam-ragam sudut pandng 'keislamannya'.
Untuk para ahlu bait, ana harap antum-antum semua jangan buang energi membahas masalah 'intern keluarga'.

Anonim mengatakan...

Assalamu Alaikum,
Bahwa yg mengklaim diri sebagai habib adalah kelompok orang2 persia dari daerah pegunungan Harran di Iraq (dekat perbatasan Iraq-Iran) yg terkenal gemar mempelajari Kitab2 agama samawi. Kemudian ada yg hijrah ke Hadramaut (Yaman Selatan) dgn mengklaim diri sebagai keturunan sayyidina Husen bin Ali bin Abi Thalib RadhiAllahu anhu (walaupun tanpa bukti yg kuat, sbb katanya mereka sendiri yg membuktikan tanpa disaksikan oleh orang2 Hadramaut) agar bisa diterima oleh orang2 Hadramaut. Dgn membuat manuver2/issue2 Ahmad bin Isa AlMuhajir (ya jelas muhajir sbb mereka orang2 yg hijrah).
Ternyata mereka diterima di Hadramaut dgn alasan demi keamanan mereka, pertamanya di-ijinkan tinggal di Tarim, Lama2 berkembang biak menjadi banyak. Berhubung mereka bukan orang arab, maka mereka tidak punya nama marga. Kemudian mereka membuat marga sediri yaitu Ba'Alwi, dan dari marga Ba'Alwi berkembang dan menyebar menjadi Bin Sekh Abubakar, Al-Attas, AsSegaff, BaSyeiban, AlHamid dan lain2 menjadi 114 Marga.

Dari rasa takut ketahuan kedoknya, bahwa mereka adalah keturunan Ahlul-Bait palsu, maka mereka :

Rajin membuat catatan silsilah2 mereka sendiri yg di-kait2-kan pada Sayyidina Husein Bin Ali Bin Abu Thalib RadhiAllahu-anhu tanpa disaksikan oleh orang lain.(maksudnya untuk mencari legitimasi).

Banyak juga yg bekerja sama dgn jin untuk mendapatkan kelebihan/kehebatan se-olah2 mereka mendapat karomah, agar dianggap WaliAllah.

Dalam berpropanganda, mereka selalu bekerja sama saling dukung mendukung dalam pemberian bumbu2 issue yg selalu mereka ciptakan agar menuver2 tsb enak didengar. Sbb mayoritas dari mereka adalah ahli kalam (pandai bersilat-lidah).

Kemudian sebagian dari marga2 Ba'alwi tsb ada yg hijrah mengikuti pedagang2 Hadramaut ke negara2 yg pengetahuan Islamnya masih lemah, spt India, Malaisia, Indonesia, dsb.
Dgn mengklaim diri sebagai Ahlul Bait (keluarga RosulAllah) dgn bukti2 yg mereka buat sendiri (spt kakek2 mereka sewaktu datang ke Hadramaut)agar mendapat lahan penghormatan dari penduduk setempat dan sampai sekarang masih dilanjutkan oleh cucu2 mereka.....

Menurut pengamatan ane :

1. Ahlul Bait(keturunan dan nenek moyang RosulAllah), tidak akan ada satupun diantaranya yg berbuat maksiat.(coba dipelajari mulai dari Nabi Ibrahim Alaihi Salam).

2. Jika para habib atau Ba'alwi benar mempunyai bukti2 yg kongkrit bahwa mereka adalah keturunan Sayyidina Husein Bin Ali Bin Abu Thalib RodhiAllahu-anhu :

Kenapa mereka tidak berani mengklaim diri sebagai Ahlul Bait di Mekkah yg nota bene tempat asal-usul Ahlul Bait ??? Kok malahan dendam/memusuhi para Ulama' Mekkah/Madinah malah sampai memfitnah sbg aliran Wahabi, padahal aliran Wahabi adalah ajaran sesat Abd.Wahab bin Abd.Rahman Rustum di Marokko yg ber-abad2 sebelum ada Ulama Besar Saudi yg bernama Mohammad bin Abd.Wahab (=Pemberantas syirik dan bid'ah)

Kenapa mereka gemar membuat ritual2 yg tidak di-ajarkan oleh RosulAllah ? Se-olah2 ajaran RosulAllah tidak komplit, dgn dalih cinta RosulAllah ?

3. Sewaktu pecah perang Irak-Iran 1990, kenapa semua para habib atau Ba'alwi berpihak pada Iran yg jelas2 Syi'ah dan selalu mengkhinati Ahlul Bait ?
Ini membuktikan bahwa nenek moyang mereka adalah orang2 persia yg berada di Harran-Iraq.


Wahai para habib atau para Ba'alwi, katakanlah yg haq adalah haq, katakanlah yg bathil adalah bathil. Sebab tanggung jawab pada Allah sangat berat.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري

“Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum.
Pak yusuf saya mau tanya,saat ini saya sdang dekat dgn yg katanya disebut sbgai ahlul bait sprti crta diatas,sdangkan saya hnyalah wanita biasa..
Lalu saya hrus bgaimana pak,apakah trus mlanjutkan hubngan atau saya mundur krna saya bukan dr kturunan syarifah..

Anonim mengatakan...

di jaman sekarang tidak ada lagi ahlul bait..ahlul bait hanya sebatas orang rumah Rasulullah....inilah hikmah kenapa Rasulullah anak laki2nya tidak diberikan umur panjang oleh ALLah SWT...kalau tidak..mungkin akan lebih seru lagi perdebatan tentang siapa penerus tahta ahlul bait...

Yusuf Maulana mengatakan...

Buat Anti Anonima, Wa'alaykumsalam, kalau lelaki yang mengaku dari keluarga Sayyid biasanya tidak dipersusah. Lain kalau sebaliknya.

Nia Nurul mengatakan...

Asslamu'alaikum :)
saya mau nanya,,
saya mengakui mempunyai hubungan sama ahlul bait syayid, tapi saya sendiri bukan seorang syarifah. Apakah ada larangannya jika ahwal dan syayid tidak boleh menikah ?

Makasih :)

Anonim mengatakan...

assalamualaikum

saya sendiri juga termasuk yg anda sekalian bilang keturunan sayyid. disini saya juga sedikit bingung dan miris dengan masalah ini.. jujur saya sedang menjalin hubungan dengan salah seorang wanita yg bukan berasal dari golongan yg sama (atau yg biasa di sebut org pribumi).
saya sangat serius dengan hubungan ini dan rencana saya ingin saya perkenalkan calon saya ini kepada keluarga. insyaallah umi dan aba bisa setuju dengan keputusan ini. tapi tekanan dari lingkungan keluarga besar saya yang begitu luar biasa membuat niat saya goyah.

saya memilih wanita ini bukan karena apa-apa tapi lebih karena akhlak nya, sopan santunnya, dia juga memahami ilmu agama, dan juga seorang guru ngaji bagi anak-anak di kampungnya.

tapi mengapa mereka (keluarga besar) mencibir habis habisan agar jangan sampai saya menikah dengan org pribumi apapun alasannya. saya rasa ini tidak lah adil..

saya rasa Allah tidak melarang untuk menikah dengan siapapun, asalkan seiman dan baik akhlak nya (asal usul keluarga nya juga)

pengalaman melihat saudara yg mencoba menikah dengan org pribumi membuat saya tambah miris.. hampir setiap hari dipermasalahkan (gosip)yg katanya salah pilih lah, terpaksa lah, pingin cari harta lah. memang benar meraka org pribumi akan dikucilkan, agar merasa bersalah dan tertekan sehingga pada akhirnya hubungan mereka kandas / berpisah / cerai.

sewaktu saya ingin serius dengan wanita ini, saya datang kepada Allah minta petunjuk, saya sholat istikhorah beberapa minggu dan alhamdulillah Allah insyaallah mengizinkan saya dengan nya. tetapi apakah keluarga besar saya tetap akan berusaha melarang saya? padahal saya sendiri sudah meminta petunjuk kepada Yang Maha Pencipta untuk masalah ini?

demikian sekelumit cerita saya.. saya hanya ingin meminta saran dari saudara-saudara sekalian

wassalamualaikum

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum
Pak yusuf,kalaulah memang tidak dipersulit,kenapa dia belum bisa mngenalkan saya ke keluarganya,dia selalu menyuruh saya untuk sabar..
Tidak ada kan larangannya menikahi wanita diluar ahlul bait..

Yusuf Maulana mengatakan...

Wa'alaykumsalam, Mbak, mungkin si ikhwan itu ingin mengondisikan keluarganya. Doakan saja perjuangannya. Soal larangan, tidak ada kok nashnya, meskipun di komentar salah satu blogger di atas ada yang menyandarkan dengan dalil atau ucapan alim tertentu.

Saran saya (karena saya berinteraksi juga dengan kalangan Arab), beri dia tenggat waktu; ini untuk menunjukkan seberapa serius dia mencintai Anda, Mbak. Boleh jadi, keluarganya memegang kuat soal klaim Ahlul Bait ini.

Dan kalau si ikhwan jantan serta berani menerapkan Sunnah, harusnya memang dia sudah melakukan itu. Entah kalau di pikirannya ada skenario lain; skenario yang tentu bukan muslihat.

Siti Aminah mengatakan...

Assalamu'alaikum,
Mohon penjelasan maksud syayid dan syarifah.
Nuwun.

Yusuf Maulana mengatakan...

Wa'alaykumsalam, Mbak Siti Aminah. Mudahnya, setiap kalangan yang mengaku memiliki garis keturunan dengan Nabi Muhammad, bila laki-laki disebut seorang sayyid; kalau perempuan disebutnya sayyidah. Soal validitas, biarlah Allah yang mengetahuinya.

Anonim mengatakan...

Assalammualaikum, Pak Yusuf Maulana

Saya punya sedikit cerita,
begini pak, saya seorang wanita dari golongan arab dan saya sudah dekat dengan seseorang laki-laki 7 tahun lamanya, Saya dan laki2 tersebut sudah serius ingin berumah tangga, tetapi terkendala dari pihak saya sebagai wanita arab yang notabennya tidak boleh menikah dengan orang lain(pribumi).
Sebenarnya laki2 itu dengan keluarganya sudah dari tahun2 yang lalu ingin datang kerumah dan meminang saya, tetapi saya menahannya karena kondisi keluarga saya yang berfikiran bahwa tidak boleh menikah dengan orang non-arab, alasannya karena agamanya kurang, mau manfaatin saya karena materi keluarga saya yg lebih tinggi, melihat kondisi fisik tubuh.
apalagi mendengar perkataan2 kakak saya dan saudara2 saya yang selalu mencibir kaum pribumi, bukannya saya berpihak oleh kaum pribumi namun saya tidak suka dengan berfikiran seperti itu.

Insyaallah, 2 tahun kedepan laki2 itu akan bertekad datang unutk meminang saya beserta keluarganya.katanya "Api jangan dibalas dengan Api, itu ga akan selesai".walapun keluarga saya akan mencibir atau menganggap tidak sejajar. ia akan bersabar dan menerima keluarga saya yang seperti itu.

Sebenarnya saya malu sbg wanita arab yang notabennya seperti ini, dan seharusnya mereka(arab)n yg lebih tau dan mengerti mengenai agamanya bahwa didunia ini kita sama tidak ada perbedaan ras,tahta,kasta.

Pak maulana, saya meminta saran apa yang harus saya lakukan apabila keluarga saya mulaiberfikiran seperti hal tersebut??

Anonim mengatakan...

INI ADALAH UPAYA SYAITAN YANG MAU MEMUTUSKAN GARIS KETURUNAN RASULULLAH

Anonim mengatakan...

Assalammualaikum semuanya,

untuk masalah ahlul bait banyak pihak yang pro dan contra, pada intinya semua itu untuk meneruskan garis keturuna yang ada..,sama halnya dengan dengan orang sumatera dimana anak mengikuti marga dari ayahnya..., dan di jawa sendiri biasanya ningrat itu harus menikah dengan ningrat juga atau darah biru...
Jadi tidak perlu untuk diributkan dan diperdebatkan karena masing-masing suku atau daerah memiliki tradisinya masing-masing.

Wassalamu'alaikum..

Anonim mengatakan...

Agama mana sih yg bener2 g ada rasis? Jadi bingung

Anonim mengatakan...

aslkum..
mohon maaf, mohon ampun kepada allah SWT jika saya salah dalam mengucapkan kata.
.
saya hanya ingin bertanya dikarenakan ilmu saya didalam agama sangatlah rendah, baik itu kepada Ustad ataupun kepada Ahlul bait yg ada di FORUM ini.
1. kalau saya tidak salah didalam Al-quran ad disebutkan bahwa Allah itu memandang semua mahkluknya SEDERAJAT, yg membedakan hanya amal ibadahnya dan allah menciptakan manusia itu berpasang2an, terus kenapa seorang ahlul bait harus Bersikukuh mempertahankan Pendapatnya tentang pernikahan itu, ?
2. mana yg Lebih UTAMA Firman ALLAH yg ada di Al-quran, atau Hadist.
3. ada kawan saya mengatkan apakah dgan menikah sesama ahlul bait maka kebahagian, didunia dan diakhirat dapat terjamin !!! sedangkan kawan saya telah merasakan Rasanya Kedua orang Tua Terpisah dari dia Kecil dan dia merasa kurang mendapatkan kebahagian yg Utuh dalam sebuah keluarga...
.
mohon maaf, jika ada salah kata.. karena saya hanyalah manusia yg rendah dan dangkal akan ilmu.
.
wsalam

Anonim mengatakan...

kalau itu sebuah tradisi ya sah2 saja tapi jangan dikait kaitkan dengan agama..karena Islam tidak mengenal kasta...jika memang benar orang islam diluar sayyid dilarang menikahi syarifah kenapa tidak dipertegas saja..dan dimasukan dalam pelajaran agama Islam di sekolah...agar semua tau bahwa Islam memang menganut kasta..yaitu kasta non sayyid dan kasta sayyid..yang ane heran masalah kafaah antara sayyid dan non sayyid hanya banyak diamalkan oleh para pendatang dari hadralmaut(yg katanya keturunan Ahlulbait) yg berasal dari hadralmaut...sedangkan para syarif yg berasal dari mekah tidak sepanatik mereka...yang nota bene lebih dekat dengan sejarah Ahlul bait..tanya kenapa ???

cacadlatoz mengatakan...

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki & seorang perempuan & menjadikan kamu berbangsa-bangsa & bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yg paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yg paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

qs alhujuraat ayat 13

Yusuf Maulana mengatakan...

Pernikahan dengan ahlul bait boleh, lintas ahlul bait itu juga boleh. Memaksakan diri harus dengan syarat ahlul bait dan sampai menzalimi orang yang hendak menikah, serta sampai membuat masyarakat mewajibkan sesuatu yang mungkin jatuhnya sekadar 'sunnah', ini patut direnungi. Beginikah Rasulullah memperketat pernikahan 'hanya' demi sebuah penjagaan garis keturunan?

Anonim mengatakan...

saya sangat setuju sekali dg bapak yusuf maulana...

Anonim mengatakan...

Pada dasarnya ayat-ayat Alquran yang menyebutkan keutamaan dan kemuliaan ahlul bait secara umum merupakan dalil yang mendasari pelaksanaan kafa’ah dalam perkawinan syarifah. Begitu pula dengan ayat yang terdapat dalam alquran surat al-An’am ayat 87, berbunyi :

ومن أبآئهم وذرّيّتهم وإخوانهم …

‘(dan kami lebihkan pula derajat) sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka …’

Ayat di atas jelas memberitahukan bahwa antara keturunan para nabi, (khususnya keturunan nabi Muhammad saw), dengan keturunan lainnya terdapat perbedaan derajat keutamaan dan kemuliaan, hal ini didasari oleh sabda Rasulullah saw yang ditulis dalam kitab Yanabbi’ al-Mawwadah :

نحن اهل البيت لا يقاس بنا

‘Kami Ahlul Bait tidaklah bisa dibandingkan dengan siapapun‘.

Imam Ali bin Abi Thalib dalam kitab Nahj al-Balaghoh berkata, ‘Tiada seorang pun dari umat ini dapat dibandingkan dengan keluarga Muhammad saw’. Imam Ali mengatakan bahwa tiada orang di dunia ini yang setaraf (sekufu’) dengan mereka, tiada pula orang yang dapat dianggap sama dengan mereka dalam hal kemuliaan.

Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Abbas bin Abdul Mutthalib, ketika Rasulullah ditanya tentang kemuliaan silsilah mereka, beliau menjawab :

ان الله خلق الخلق فجعلني في خيرهم من خيرهم قرنا ثم تخير القبائل فجعلني من خير قبيلة ثم تخير البيوت فجعلني من خيربيوتهم فأنا خيرهم نفسا و خيرهم بيتا

‘Allah menciptakan manusia dan telah menciptakan diriku yang berasal dari jenis kelompok manusia terbaik pada waktu yang terbaik. Kemudian Allah menciptakan kabilah-kabilah terbaik, dan menjadikan diriku dari kabilah yang terbaik. Lalu Allah menciptakan keluarga-keluarga terbaik dan menjadikan diriku dari keluarga yang paling baik. Akulah orang yang terbaik di kalangan mereka, baik dari segi pribadi maupun dari segi silsilah‘.

Anonim mengatakan...

Baihaqi, Abu Nu’aim dan Tabrani meriwayatkan dari Aisyah, Disebutkan bahwa Jibril as pernah berkata :

قال لى جبريل : قلبت مشارق الارض ومغاربها فلم أجد رجلا افضل من محمد وقلبت مشارق الارض ومغاربها فلم أجد بنى أب أفضل من بني هلشم

‘Jibril berkata kepadaku : Aku membolak balikkan bumi, antara Timur dan Barat, tetapi aku tidak menemukan seseorang yang lebih utama daripada Muhammad saw dan akupun tidak melihat keturunan yang lebih utama daripada keturunan Bani Hasyim’.

Dalam Alquran disebutkan bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Sebagai contoh para sahabat nabi, mereka adalah orang-orang yang mulia walaupun mereka bukan dari kalangan ahlul bait. Memang benar, bahwa mereka semuanya sama-sama bertaqwa, taat dan setia kepada Allah dan Rasul-Nya. Persamaan keutamaan itu disebabkan oleh amal kebajikannya masing-masing. Akan tetapi ada keutamaan yang tidak mungkin dimiliki oleh para sahabat nabi yang bukan ahlul bait. Sebab para anggota ahlul bait secara kodrati dan menurut fitrahnya telah mempunyai keutamaan karena hubungan darah dan keturunan dengan manusia pilihan Allah yaitu nabi Muhammad saw. Hubungan biologis itu merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal dan tidak mungkin dapat diimbangi oleh orang lain. Lebih-lebih lagi setelah turunnya firman Allah swt dalam surah Al-Ahzab ayat 33 yang berbunyi :

إنّما يريد الله ليذهب عنكم الرّجس اهل البيت ويطهّركم تطهيرا

‘Sesungguhnya Allah swt bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlu al-bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya‘.

Di samping itu Rasulullah saw telah menegaskan dalam sabdanya :

ياأيهاالناس إن الفضل والشرف والمنزلة والولاية لرسول الله وذريته فلا تذ هبن الأباطيل

‘Hai manusia bahwasanya keutamaan, kemuliaan, kedudukan dan kepemimpinan ada pada

Rasulullah Rasulullah dan keturunannya. Janganlah kalian diseret oleh kebatilan’.

Walaupun para ahlil bait Rasulullah menurut dzatnya telah mempunyai keutamaan, namun Rasulullah tetap memberi dorongan kepada mereka supaya memperbesar ketaqwaan kepada Allah swt, jangan sampai mereka mengandalkan begitu saja hubungannya dengan beliau. Karena hubungan suci dan mulia itu saja tanpa disertai amal saleh tidak akan membawa mereka kepada martabat yang setinggi-tingginya di sisi Allah.

Dengan keutamaan dzatiyah dan keutamaan amaliyah, para ahlul bait dan keturunan rasul memiliki keutamaan ganda, keutamaan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Keutamaan ganda itulah (khususnya keutamaan dzatiyah) yang mendasari pelaksanaan kafa’ah di kalangan keturunan Rasullulah.

Anonim mengatakan...

Dengan keutamaan dzatiyah dan keutamaan amaliyah, para ahlul bait dan keturunan rasul memiliki keutamaan ganda, keutamaan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Keutamaan ganda itulah (khususnya keutamaan dzatiyah) yang mendasari pelaksanaan kafa’ah di kalangan keturunan Rasullulah.

Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai kafa’ah syarifah, marilah kita perhatikan hadits yang menceritakan tentang adanya kafa’ah di kalangan wanita Arab. Telah diceritakan dalam kitab Syarah al-Wasith bahwa Umar bin Khattab akan menikahkan anak perempuannya kepada Salman al-Farisi, kemudian berita tersebut sampai kepada Amr bin Ash, dan beliau berkata kepada Salman : Saya lebih setara (sekufu’) dari pada engkau. Maka Salman berkata : Bergembiralah engkau. Dan selanjutnya dengan sikap tawadhu’ Salman berkata : Demi Allah, saya tidak akan menikah dengan dia selamanya.

Ketika Salman al-Farisi hendak sholat bersama Jarir, salah satu sahabatnya yang berasal dari bangsa Arab, Salman dipersilahkan menjadi imam sholat, kemudian Salman al-Farisi berkata : ‘Tidak ! engkaulah yang harus menjadi imam. Wahai bangsa Arab, sesungguhnya kami tidak boleh mengimami kamu dalam sholat dan tidak boleh menikahi wanita-wanita kamu. Sesungguhnya Allah swt telah memelihara kamu atas kami disebabkan kemuliaan Muhammad saw yang telah diciptakan dari kalangan kamu’. Dalam riwayat lain dari Salman al-Farisi :

نهانا رسول الله أن نتقدم أمامكم أو ننكح نساءكم

‘Sesungguhnya Rasulullah telah melarang kami untuk memimpin (mengimami) kamu atau menikahi wanita-wanita kamu.”

Dari hadits tersebut jelaslah bahwa di kalangan wanita Arab telah ada kafa’ah nasab dalam perkawinan. Hal tersebut dibuktikan oleh penolakan Salman al-Farisi yang berasal dari Persi (Ajam) ketika hendak dinikahkan dengan wanita Arab. Jika dalam pernikahan wanita Arab dengan lelaki non Arab saja telah ada kafa’ah, apalagi halnya dengan kafa’ah dalam pernikahan antara syarifah dimana mereka adalah wanita Arab yang mempunyai kemuliaan dan keutamaan. Kemuliaan dan keutamaan yang didapatkan tersebut dikarenakan mereka adalah keturunan Rasulullah saw.

Sedangkan hadits Rasulullah yang memberikan dasar pelaksanaan kafa’ah syarifah adalah hadits tentang peristiwa pernikahan Siti Fathimah dengan Ali bin Abi Thalib, sebagaimana kita telah ketahui bahwa mereka berdua adalah manusia suci yang telah dinikahkan Rasulullah saw berdasarkan wahyu Allah swt . Dalam kitab Makarim al-Akhlaq terdapat hadits yang berbunyi :

إنما انا بشر مثلكم أتزوّج فيكم وأزوّجكم إلا فاطمة فإن تزويجها نزل من السّماء , ونظر رسول الله إلى أولاد علي وجعفر فقال بناتنا لبنينا وبنونا لبناتنا

‘Sesungguhnya aku hanya seorang manusia biasa yang kawin dengan kalian dan mengawinkan anak-anakku kepada kalian, kecuali perkawinan anakku Fathimah. Sesungguhnya perkawinan Fathimah adalah perintah yang diturunkan dari langit (telah ditentukan oleh Allah swt). Kemudian Rasulullah memandang kepada anak-anak Ali dan anak-anak Ja’far, dan beliau berkata : Anak-anak perempuan kami hanya menikah dengan anak-anak laki kami, dan anak-anak laki kami hanya menikah dengan anak-anak perempuan kami’.

Anonim mengatakan...

Menurut hadits di atas dapat kita ketahui bahwa : Anak-anak perempuan kami (syarifah) menikah dengan anak-anak laki kami (sayid/syarif), begitu pula sebaliknya anak-anak laki kami (sayid/syarif) menikah dengan anak-anak perempuan kami (syarifah). Berdasarkan hadits ini jelaslah bahwa pelaksanaan kafa’ah yang dilakukan oleh para keluarga Alawiyin didasari oleh perbuatan rasul, yang dicontohkannya dalam menikahkan anak puterinya Fathimah dengan Ali bin Abi Thalib. Hal itu pula yang mendasari para keluarga Alawiyin menjaga anak puterinya untuk tetap menikah dengan laki-laki yang sekufu sampai saat ini.

Di zaman Syekh Umar Muhdhar bin Abdurahman al-Saqqaf, oleh para keluarga Alawiyin beliau diangkat menjadi ‘Naqib al-Alawiyin’ yang salah satu tugas khususnya adalah menjaga agar keluarga Alawiyin menikahkan putrinya dengan lelaki yang sekufu’. Mustahil jika ulama Alawiyin seperti Muhammad bin Ali al-Faqih al-Muqaddam, Syekh Abdurahman al-Saqqaf, Syekh Umar Muhdhar, Syekh Abu Bakar Sakran, Syekh Abdullah Alaydrus, Syekh Ali bin Abi Bakar Sakran dan lainnya, melaksanakan pernikahan yang sekufu’ antara syarifah dengan sayid hanya berdasarkan dan mengutamakan adat semata-mata dengan meninggalkan ajaran datuknya Rasulullah saw sebagai uswatun hasanah bagi umat, padahal mereka bukan saja mengetahui hal-hal yang zhohir tapi juga mengetahui hal-hal bathin yang didapat karena kedekatan mereka dengan Allah swt.

Para ulama Alawiyin mempunyai sifat talazum (tidak menyimpang) dari alquran dan seruannya, mereka tidak akan berpisah meninggalkan alquran sampai hari kiamat sebagaimana hadits menyebutkan mereka sebagai padanan alquran, dan mereka juga sebagai bahtera penyelamat serta sebagai pintu pengampunan. Rasulullah mensifatkan mereka ibarat bingkai yang menyatukan umat ini. Berpegang pada mereka dan berjalan di atas jalan mereka adalah jaminan keselamatan dan tidak adanya perpecahan serta perselisihan, sebagaimana hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas :

النجوم أمان لأهل السماء وأهل بيتي أمان لأهل العرض

‘Bintang-bintang adalah sebagai pengaman bagi penduduk bumi dari tenggelam (di lautan) dan ahlil baitku sebagai pengaman bagi penduduk bumi (dari perselisihan)‘.

Anonim mengatakan...

Tidaklah alquran memperkenalkan mereka kepada umat, melainkan agar umat itu memahami kedudukan mereka (dalam Islam) serta agar umat mengikuti dan menjadikan mereka rujukan dalam memahami syariah, mengambil hukum-hukumnya dari mereka. Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam syairnya menulis :

Ahlul Bait Musthofa, mereka adalah orang-orang suci

Mereka pemberi keamanan di muka bumi

Mereka ibarat bintang-bintang yang bercahaya

Demikianlah sunnatullah yang telah ditentukan

Mereka ibarat bahtera penyelamat

dari segala topan (bahaya) yang menyusahkan

Maka menyelamatkan dirilah kepadanya

Dan berpegang teguhlah kepada Allah swt

serta memohon pertolongan-Nya

Wahai Tuhanku, jadikanlah kami orang yang berguna atas berkah mereka

Tunjukkanlah kepada kami kebaikan dengan kehormatan mereka

Cabutlah nyawa kami di atas jalan mereka

Dan selamatkanlah kami dari berbagai macam fitnah.

Kepada siapapun yang mempunyai pikiran bahwa ulama Alawiyin yang melaksanakan pernikahan antara syarifah dengan sayid berdasarkan adat semata-mata, dianjurkan untuk beristighfar dan mengkaji kembali mengapa para ulama Alawiyin mewajibkan pernikahan tersebut, hal itu bertujuan agar kemuliaan dan keutamaan mereka sebagai keturunan Rasulullah saw yang telah ditetapkan dalam alquran dan hadits Nabi saw, tetap berada pada diri mereka. Sebaliknya, jika telah terjadi pernikahan antara syarifah dengan lelaki yang bukan sayid, maka anak keturunan selanjutnya adalah bukan sayid, hal itu disebabkan karena anak mengikuti garis ayahnya, akibatnya keutamaan serta kemuliaan yang khusus dikarunia oleh Allah swt untuk ahlul bait dan keturunannya tidak dapat disandang oleh anak cucu keturunan seorang syarifah yang menikah dengan lelaki yang bukan sayid.

Anonim mengatakan...

jadi ini untuk ustadz yusuf maulana tolong baca kiriman saya,supaya tau kedudukan kita yg bukan ahlul bait

Yusuf Maulana mengatakan...

Kalaupun ihwal pernikahan antar ahlul bait itu sunnah, baiklah kita sepakati benar adanya. Nah, yang kemudian jadi pertanyaan adalah: apakah pernikahan seorang ahlul bait dengan kalangan Muslim di luarnya adalah menjadi tidak sah? Menjadi tidak sah atu malah lebih diutamakan dengan kalangan ahlul bait? Ini yang perlu direnungkan. Kita belum masukkan soal derajat ketakwaan dulu, melainkan ke syarat pernikahan.

Kalau memang ahlul bait nikah dengan sesama kalangannya, apakah ketika tidak menuruti ini berarti jatuh haram, makrum, atau sekadar mubah? Ingat, asumsi di atas adalah sunnah. Kalau tidak, berarti pernikahan antara ahlul bait itu WAJIB. BIla demikian, biarlah kalau puak Tuan memercayai ini, saya memilih untuk tidak, dan kita boleh berbeda pendapat bukan?

Anonim mengatakan...

mohon dibaca dari awal sampai akhir
http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=5&func=view&id=9488&catid=9

ismaail fahmil mengatakan...

assalamualikum,wm wbk, kpd yg terhormat adik anomi,islam itu indah dan mudah sesuwaik al qur,an karim & hadis sahih,kebanyakan hadis anda dari shy,ah,,alloh memberi lebih dari ahlul bait,,betul,,tapi dia harus sesuwai al qur,an. & sunnah,jangan terlalu melihan nasab tapi lihat lah iman kita,sama dgn, misalnya mas yg baik dari arab,tapi haru di teliti kadarnya,,,,gitu,,banyak hadis sahih yg menentang tentan membedakan suku dan bangsa,kita islam cukup itu yg jadi bangsa kita al qur,an jadi suku kita sunah jadi tradisi kita,

Anonim mengatakan...

WALI RASULULLAH HANYALAH YANG BERIMAN DIKALANGAN KAUM MUSLIMIN (YANG MEMPUNYAI NASAB JAUH / DEKAT DENGAN RASULULLAH)

إِنَّ أَهْلَ بَيْتِي هَؤُلاَءِ يَرَوْنَ أَنَّهُمْ أَوْلَى النَّاسِ بِي وَلَيْسَ كَذَلِكَ، إِنَّ أَوْلِيَائِي مِنْكُمُ الْمُتَّقُوْنَ مَنْ كَانُوْا وَحَيْثُ كَانُوْا

"Sesungguhnya AHLUL BAIT, mereka memandang bahwasanya mereka adalah orang yang paling dekat denganku, dan (sebetulnya) perkaranya tidak demikian, sesungguhnya para WALI-WALIKU dari kalian adalah ORANG-ORANG YANG BERTAKWA, SIAPAPUN MEREKA DAN DIMANAPUN MEREKA"

(HR Ath-Thobroni 20/120 dan Ibnu Hibbaan dalam shohihnya no 647. Al-Haitsaimy dalam Majma' Az-Zawaid (10/400) berkata : Isnadnya Jayyid (baik), demikian juga Syu'aib Al-Arnauuth berkata : Isnadnya Kuat)

Dan semua ini didukung oleh sebuah hadits yang terdapat di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari 'Amr bin Al-'Aash bahwasanya beliau mendengar Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda :

إِنَّ آلَ أَبِي فُلاَنٍ لَيْسُوْا لِي بِأَوْلِيَاءِ وَإِنَّمَا وَلِيِّي اللهُ وَصَالِحُو الْمُؤْمِنِيْنَ

"Sesungguhnya keluarga ayahku –ya'ni si fulan- BUKANLAH para waliku, dan HANYALAH para waliku adalah Alloh, dan ORANG-ORANG MUKMIN YANG SHOLIH" (HR Al-Bukhari no 5990 dan Muslim no 215)

Alloh juga berfirman: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Alloh ialah orang yang paling BERTAKWA di antara kalian." (Al-Hujurat: 13)

===========================

Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi'i (rahimahullah) mengomentari hadits di atas:

ومعناه إِنما وليي من كان صالحا وإِن بَعُدَ نَسَبُه مِنِّي وليس وليي من كان غير صالح وان كان نسبه قريبا

"Dan maknanya adalah : Yang menjadi Waliku hanyalah orang yang sholih meskipun NASABNYA JAUH DARIKU, dan TIDAKLAH TERMASUK WALIKU YANG TIDAK SHOLIH MESKIPUN NASABNYA DEKAT." (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 3/87)

Anonim mengatakan...

jadi jelas toh yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling bertagwa bukan karena nazab keturunan..karen islam tidak memperbolehkan KKN....hehhe..ada2 saja tingkah polah manusia....

fahmi job mengatakan...

bagi anonim yng mencantumkan hadits tolong dishare juga dong riwayat siapa. keshohihan diperlukan di sini.

semakin shohih. semakin afdhol.
saya suka cara pandang Yusuf Maulana.

barokallaahu fiik.

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaikum wr wb,

islam makin beragam saja ya, Syi’ah, Sufi, Ahmadiyah, Khawarij, Mu’tazilah, dll

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.[QS. Al-Hujurat (49) : 13]


يا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ ؟ قَالَ : أَتْقَاهُمْ "

“Wahai Rasulullah, Siapakah manusia termulia ? maka Rasulullah menjawab : “Yang paling bertaqwa” .

(HR. Bukhori dalam kitab ahadits al-anbiya’ dan Muslim dalam kitan Al-Fadha’il)

Ilham Permana mengatakan...

miris nasibku sebagai seorang ahwal.. Ujian yg Allah berikan ttg cinta yang fana.. Adakah yang salah saat Allah menghembuskan cinta ke relung hati hati kami, untuk merangkai kehidupan sebagai sebuah ibadah.. Namun kecintaannya pada Allah tak membuat kami bertindak jauh. Dia sangat cinta pada Allah, dia sangat cinta pada orang tuanya dan kami yakin kami kan di pertemukan di surgaNya ;)

azzam muttaqin mengatakan...

Subhanallah...
Begitu Indah Islam ini saudaraku, tidak ada yang salah diantara pendapat2 itu, hanya kemudia menjadi wajar kita berbeda dalam menafsirkannya. Perbedaan itu telah ada dan menjadi baik jika untuk tujuan yang baik. Itupun yang Rasulullah ajarkan kepada kita.
Anda semua adalah orang2 yang begitu cerdas dalam menyikapa sesuatu hal. ini adalah khazanah dari sebuah kebermaknaan, dan untuk penulis, terimakasih atas infonya. Ini menjadi referensi yang sangat berguna bagi saya "seorang biasa dan kecil" untuk menjejaki hubungan yang halal dengan seorang "Syarifah".
Kuhormati keutamaan Rasulullah dan keturunannya, kuselami dan kucoba laksanakan esensi ajarannya, dan semoga itu juga yang mereka lakukan wahai keturunannya.

Taufik Rahman mengatakan...

Mecintai ahlul bait adalah kewajiban umat islam namun yang terjadi saat ini adalah kultus individu yang kelewatan terhadap ahlul bait. Sehingga terkadang seorang ahlul bait di sambut bagaikan dewa dalam mitologi yunani kuno dan yang disambutpun berusaha memanfaatkannya demi tercapainya tujuan. Padahal iman dan taqwa berdasarkan Alquran dan Hadist Yang Shihih harusnya menjadi acuan.

Anonim mengatakan...

nimbrung ya...

gini,,ane bingung nih lembaga tuk menentukan jalur nasab itu kok kayany masih kuno ya???...jaman skrg kan dah ada tes dna nih, knp ga diteliti aj dna Nabi Muhammad yg ada sampelny berupa kuku,gigi,rambut dll yg ada di mesium Tohkapi....jd kan ntar enak tuh''ane yakin banget,klo DNA Nabi Muhammad pasti punya ciri khusus,maka jg pasti ada sama keturunan Beliau

klo ane sih berpendapat'''boleh nikah sama yg diluar habaib"" karena dirukun n syarat sah nikah,ga ada tuh istilah habaib

hee..maaf y

Anonim mengatakan...

ni yg bikin postingan ngomong aje pengen nikahin syarifah gitu, tikahin aje nt makan sendiri setelah nt mati nanti, ada lagi yg maen kait kaitkan mengartikan sendiri alkur'an, di kait pake kail neraka baru nyaho lo, so nafsirin kalamullah. ku anfusakum wa ahlikum nar....

yang jelas yg pada ikut ngedebat di sini ngomong aje pada sange sama syarifah, arab noh banyak knapa mesti syarifah kan sama2 arab. bikin dosa aje lo pade... inget mati, jangan bawa2 nabi tau kalamullah... bertobat lah kalian wahai penipu dan pendosa

Anonim mengatakan...

satu lagi,, ada yang bilang mencintai nabi dan ahlul bait itu adalah sunnah, yg ngomong gitu nt solat pas tahiyyat jangan baca solawat sama nabi dan keluarganya... allah menciptakan bumi ini lantaran nabi... pada so tau kalian semuah, anak buah zionissss yahudi liberal

valerie alay mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
valerie alay mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Anonim mengatakan...

dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi' dan Al-Baihaqi dalam Syu'ab Al-Iman meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :
'Barangsiapa tidak mengenal hak keturunanku dan Ansharnya, maka ia salah satu dari tiga golongan: Munafiq, atau anak haram atau anak dari hasil tidak suci, yaitu dikandung oleh ibunya dalam keadaan haidh'.

Anonim mengatakan...

dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi' dan Al-Baihaqi dalam Syu'ab Al-Iman meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :
'Barangsiapa tidak mengenal hak keturunanku dan Ansharnya, maka ia salah satu dari tiga golongan: Munafiq, atau anak haram atau anak dari hasil tidak suci, yaitu dikandung oleh ibunya dalam keadaan haidh'.

rifqibachsin mengatakan...

saya adalah seorang sayyid , Assegaf. mengenai artikel diatas, masalah ahlul bait, ditinjau dari sejarah adalah 4 keluarga penjaga ka'bah. al manaf, bani umayyah, bani abbassiyah dan satu lagi saya lupa namanya., namuun yg disebutkan dalam artikel ini, mungkin lebih kepada ahlul kisa. yaitu Ali, Hasan, Husein, dan Fatimah yang berada dalam satu selimut dengan Rasulullah.

apakah boleh atau tidaknya seorang Syarifah menikah dengan non Sayyid? saya jawab boleh. namun ada beberapa kerugian bagi Syarifah, pertama, anak ygt dilahirkannya tidak semudah dirinya bertawasul, kedua jelas tidak berhak meneruskan garis nasab, terakhir lebih sulit dalam mempelajari kemakrifatan.

hanya sebagai informasi, kemakrifatan adalah ilmu yg diajarkan Rasulullah kepada para sahabat terdekatnya, dan kita sama-sama tahu bahwa yang paling dekat dengan Rasulullah adalah Ali. beliau lah gerbang ilmu.

rifqibachsin mengatakan...

alafu ana khilaf nambahin 1 lagi.
kalo emang anda benar memegang teguh ajaran Rasulullah, maka tidak akan pernah anda memperdebatkan bahkan mendramatisir masalah ini.
sebab seorang gadis, adalah milik Ayahnya,jadi memang menikah dengan siapapun, adalah atas wewenang dari Ayahnya.

sepertinya sudah jelas. karena saya sendiri pun tidak ingin anak saya kelak menikah dengan seseorang yang nasab nya tidak jelas,. meskipun itu bukan hal yg utama. namun termasuk dalam satu kesatuan yang tidak bisa dipilah dalam memilih calon menantu.

jerie barond mengatakan...

ikut nimbrung nie gan ....
ada keterangannya gag suatu saat bakal muncul imam mahdi dari keturunan rasululllah ....
tp yg mo saya tanyakan , yg paling lebih mendekati kebenaran imam mahdi itu dari keturunan rasulullah yg mempunyai marga apa ... sebagai contoh ...bin yahya, assegaft , alaydrus, alawi, aljindan , allathas, shahab...dlll...
mohon konfirmasinya...?

Anonim mengatakan...

Kalau mereka membanggakan diri sebagai anak nabi/rasul, maka bukankah kita semua dinilai oleh ALLAH SWT dari amal, bukan garis keturunan/suku/clan. Islam tidak mengenal dosa warisan, juga tidak mengenal "pahala" warisan.

nb; Lagian klo cuma ngaku keturunan nabi, apa bedanya ama kita semua, toh kita juga keturunan nabi Adam A.S :)

Anonim mengatakan...

Kita membaca salawat terputus jika tidak membaca salawat kepada keluarga nabi..kita punya hak dalam menikahkan anak kita,begitu juga nabi..mari kita cintai beliau,kita hormati hak2nya,kita cintai keluarganya..toh tidak rugi,,tidak keluar uang lg..hanya cinta,hormati keluarga beliau apa susahnya..insya Allah dapat syafaat,dibanding salah2in hadis nabi tentang keutamaan pernikahan sekufu antar mereka...dosa kita...astagfirullah....

Anonim mengatakan...

Kalau orang di lihat kemuliaannya dari siapa yg paling bertaqwa,,siapa yg paling bertaqwa?Nabi Muhammad SAW,,siapa keluarga yg paling bertaqwa?keluarga beliau..wajar tidak orang bertaqwa cari orang bertaqwa?siapa yg paling tahu cara shalat nabi?keluarganya...

Anonim mengatakan...

asslm, sulitnya menikah dg syarifah atau sayyid sbnrnya tdk usah terlalu di persoalkan...ok lah buat sharing maupun diskusi tdk ada apa2 ,krn utk lahir menjadi anak atau bkn dari sayyid /keturunan nabi saaw jg bkn pilihan kita...semua itu jg atas kehendak Allah swt. eksklusifnya kalangan habaib utk menjaga nasabnya itu jg krn ada dasar dan kita hrs hormati itu. mrk jg tdk ingin putus tali nasabnya utk mendapatkan syafaat Rasulullah saaw dan keluarganya. tp kita yang org pribumi/non sayyid jg akan dpt syafaat rasulullah asal kita bertaqwa kpd allah swt dan bermahabba kpd rasulullah saaw dan keluarganya.krn hakekat org yg bertaqwa pasti cinta kpd rasul dan keluarganya, apakah dg menikahi sayrifah otomatis mendapat syafaat?blm tentu...tp kalo bertaqwa kpd allah swt dan mencintai rasulullah saaw dan keluarganya insya allah pasti mendapat syafaat.meskipun menikah dg syarifah atau tdk.krn menjaga nasab itu hak prerogatif mrk walau terkesan eksklusif ...kita tdk usah pusing2, krn naluri manusia itu pasti bersuku2 atau bergolongan yg sama, kalopun ada yg menikah antar suku,agama,bahkan negara itu sebagian kecil pengecualian

Anonim mengatakan...

terima ksh salam ukhuwah

Anonim mengatakan...

terima ksh salam ukhuwah

Hamba Allah mengatakan...

السلام عليكم ورحمة الل


Yth, USTAD Yusuf Maulana
dan Saudaraku sekalian :)


Bismillah...

Perihal sulitnya menikah dg wanita keturunan Arab, terlepas apakah beliau seorang "Syarifah" atau "Non Syarifah" hingga bermuara kepada kemuliaan "Ahlul Bait", adalah pengalaman
nyata yang saya alami dan rasakan saat ini.

Izinkan saya berbagi pengalaman, dan Insya allah dg pengalaman ini dapat menjadi pembelajaran terkhusus bagi saya pribadi dan hikmah bagi kita semua.

Bermulai dari soal derajat kemuliaan seseorang atau golongan, perihal niat tulus di dalam hati, satu nya kata dan perbuatan, hingga manfaat sebesar-besarnya bagi sekalian alam, tentulah seberapa haq nilai dan dampaknya tidak ada yang mengetahui sebenar-benarnya, kecuali atas sepengetahuan Allah SWT.

Jujur saja, sungguh sakit sekali, bahkan saya merasa hina dan rendah sekali, ketika saudara kita sesama muslim, bagian dari lingkungan dan keseharian kita, yang hidup berdampingan bersama kita selama ini, kemudian 'menutup mata' dan dapat mengatakan orang yang bukan keturunan Arab adalah dengan istilah orang "Awam", dan kalau merujuk dalam pemahaman kamus besar bahasa indonesia, arti orang "Awam" adalah biasa, tidak istimewa, bukan ahli, bahkan bodoh, apakah anda yang mendengarnya tidak merasa sakit, coba balikkan saja !!!

(kata-kata orang "Awam" tersebut, terlontar dari salah satu saudara perempuan ("syarifah") yang ingin saya nikahi dan kemudian sampai langsung kepada saya.)

Di kota tempat saya tinggal, memang ada perkampungan khusus bagi saudara-saudari kita ini, entah karena alasan apa, namun ada juga sebagian sudah banyak yang ber akulturasi, dan sebagian lagi masih memilih untuk bertempat tinggal, beribadah dalam kelompok dan "ruang-ruang" khusus yang mereka buat sendiri.

Selama kurang lebih 1 tahun ini, saya mengenal seorang wanita berketurunan Arab, dan kami berdua awalnya bersahabat saja, namun seiring waktu berjalan, kami berdua merasa memiliki kecocokan satu sama lainnya, baik itu perihal menjalankan bisnis dan hobby yang sama, intinya pada satu titik kami saling tertarik satu sama lain.

Saya pun meyakini bahwa pemahaman mengenai akhlak, kedalaman ilmu agama, tentu sudah tidak meragukan lagi bagi saya pribadi melihat sosok wanita ini, inilah yang membuat saya tertarik kepadanya, hingga pada akhirnya kami pun memutuskan berniat untuk menikah dan saya pun ingin bermaksud datang dan melamar wanita yg saya cintai ini.

Sejak awal pertemuan kami, saya sudah menyampaikan keinginan utk segera melangsungkan pernikahan, namun calon istri saya ini tidak menyarankan saya dulu untuk datang kerumah dan bersilaturahmi, dia mengatakan bahwa sangat sulit untuk menghadirkan keadaan tersebut. Keluarga nya akan menolak keluarga kami mentah-mentah, karena saya bukanlah seorang "Sayyid" !!!.

Inti nya takut-takut nanti timbul ribut saja.

Hal ini pada awal nya dapat saya terima pelan-pelan dengan bersabar, tetapi lambat laun saya pun jadi berfikir, sampai dimana ujung dari hubungan ini.

[cont'd]

Hamba Allah mengatakan...

[cont'd]

Setiap kali saya singgung soal pernikahan, dia selalu menangis, menahan kebingungan dalam dilema untuk sekedar memutuskan masa depan nya sendiri.

Keinginan untuk menikah adalah siksa batin yang hari demi hari harus dihadapinya, setiap saya menyinggung persoalan ini, dia selalu menangis!.

Pertentangan dari keluarga besar, orang tua dan lingkungan ("jamaah") selalu menjadi bayangan ketakutan nya saat ini, setiap saya bertanya, apa langkah kita selanjutnya, dia hanya bisa menangis dan berkeluh kesah, dan pada ujung pembicaraan terpaksa saya putuskan tidak akan menyinggung persoalan itu lagi.

Adapun konsekuensi yang harus dihadapi ketika menikah dengan orang pribumi/orang awam adalah berupa ancaman, harus keluar dari silisilah keluarga, hidup akan tidak tenang, menjadi bahan perbicangan, bahkan dikucilkan untuk tidak masuk kedalam lingkungan itu lagi.

Intinya putus tali persaudaraan, putus hubungan silaturahmi !!!

Lantas sebagai calon pria yang ingin melamar dengan baik-baik, apakah saya sanggup melihat wanita yang saya cintai memilih untuk meninggalkan keluarga (orang tua, kakak, adik, saudara) yang sudah puluhan tahun bersama-sama ?

Dimana penghargaan kita untuk saling hormat menghormati, kalau nyata nya seperti ini ?

Sedemikian beratkah sangsi dan hukuman yang saudara-saudara (ahlul bait) lakukan ?

dan apakah ini yang diwariskan oleh Rasulullah ?

Entah demi ego, motif atau keinginan tertentu yang kemudian memaksakan untuk mengatakan:

"Bahwa kami dari golongan tertentu lebih tinggi derajat nya dari pada anda (pribumi) / non Sayyid".

Cobalah kita semua bertanya dari hati kecil kita sekalian, benarkah dan universal kah prinsip ini ?

Tidak ada maksud dan kehendak bagi Allah swt menciptakan kita semua beragam suku dan rupa, kecuali untuk saling melengkapi dan menghidupi satu sama lainnya.

Kasarnya kita semua makan, mencari nafkah dan tumbuh bersama-sama di negeri ini, saling membutuhkan satu sama lain nya !!!

Mudah saja, dan maaf kalau kita mau hitung-hitungan seperti itu, perpecahan mungkin takkan terelakkan, sudah lama kita pecah perang saudara dan sudah lama bagi yang non pribumi kami paksakan untuk hengkang dan kembali ke daerah asalnya.

Sebuah "penerimaan manis" bukan kah telah kita sama-sama rasakan berpuluh-puluh tahun dibelakang,

Bagaimana sejarah membentuk kita sesama muslim, utk kemudian membuat kita saling menerima satu sama lain.

Apa selama ini kita berpura-pura ???

Tapi tidak seperti itu saudara ku, jangan memaksakan sesuatu seolah-olah anda berdiri di atas puncak kebenaran, seolah-olah kami yang pribumi bergantung hidup dan berhutang keyakinan kepada anda (keturunan Arab) sekalian.

Karena keilmuan yang hakiki adalah hal yang ghoib, pasti bersumber dari dan tentu berasal dan berujung kepada Allah SWT.

Maaf kalau saya berbicara kurang berkenan, tapi tidak ada api kalau tidak ada asap. Niat saya hanya ingin menyempurnakan separuh dien, Niat ini baik, bahkan kalau anda sekalian mampu melihat gambaran besarnya, sekelumit hal-hal seperti ini terkadang menjadi salah satu bagian pemicu tidak adanya persatuan dan distrust sesama kita saudara muslim.

[cont'd]

Hamba Allah mengatakan...

Saya bicara seperti ini bukan atas ketidaksetaraan saya sebagai orang non Arab, melainkan mencoba meluruskan paham-paham yang sebetulnya saya yakini salah, saya yakini juga anda saudara-saudara ku keturunan Arab ada sebagian mengakuinya, namun karena ketidakberanian atas gelombang besar kucilan tersebut, maka saudaraku sekalian memilih untuk berdiam diri saja.

Kita hidup di alam keterbukaan saat ini, tidak ada yang menjamin bahwa syurga dan kemuliaan sudah ditakwilkan untuk golongan tertentu, semua sudah bisa melihat "perilaku dunia" saat ini, tidak ada satu kemuliaan mutlak, kecuali baginda besar Muhammad Rasulullah SAW. bahkan salah-salah kita menyombongkan diri dan, mengkultuskan seseorang dan terjerumus kedalam golongan orang-orang yang "Munafik".

atau lebih jauh lagi semua ini hanya berdasar pada motif ekonomi saja !!!

Terlepas dari semua pemahaman pragmatis yang terjadi, kami berdua adalah korban dari pengalaman ini, dan saya yakin masih banyak saudara-saudara diluar yang masih berjuang untuk sulitnya melaksanakan niat ini.

Hingga tulisan ini disampaikan, kami berdua hanya mempunyai pilihan apakah kami harus terus bertahan dan bersabar, atau mengikhlaskan untuk saling melepaskan satu sama lainnya...

Dalam perenungan saya mencari jawaban, saya mengalami kejadian cukup membuat diri pribadi saya tenang dan mempunyai pegangan, mengenai benar atau tidaknya tanggung jawab kodrat yang dibebankan oleh seorang syarifah, (terlepas apakah memang benar garis keturunan Rasulullah itu masih berlaku dan ada saat ini).

Suatu hari ketika saya sudah lelah dengan hubungan ini, saya menyempatkan Ashar dan beristirahat pada salah satu masjid sentral/besar di kota saya, terkadang sesampai pada ba'da Isya
saya pulang, karena di masjid ini setiap hari diadakan kultum dan bedah hadits.

Pada suatu hari selesai sholat, saya mencoba mencari jawaban dalam tafsir Alqur'an mengenai perihal ini, entah ada apa pada hari itu, saya yakin Allah SWT menunjukkan kuasanya kepada saya pada saat itu, saya merasa sangat yakin akan menemukan jawaban, yakin sekali... dan ketika selesai Ashar di hati ini terus menerus seperti ada yang berbisik...

" "Bacalah surah Al-kautsar, bacalah surah Al-kautsar, bacalah surah Al-kautsar"...

Terus menerus begitu berulang-ulang... padahal demi Allah saya belum pernah sekalipun membaca tafsir dari surah ini.

dan ketika saya membaca dan memahami dalam-dalam pada setiap ayat dalam surah yang sangat pendek itu, saya pun menemukan jawaban yang sangat dalam kebenarannya... dan jawaban itulah yang menjadi pegangan saya, membuat saya terus bersabar, terus berusaha berjuang melangsungkan niat ini dan bersiap ikhlas saja...

Ayat pertama saya baca, ayat kedua saya baca, dan pada ayat ketiga saya menemukan jawabannya,

Subhanallah, saya pun merinding seketika dan tak kuasa menahan tangis... meyakini bahwa dalam rumah Allah yang suci tersebut, Allah SWT berbicara kepada Saya...

Ayat terakhir pada Surah Al-Kautsar berbunyi:

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu (Muhammad), ia adalah yang "terputus" (dari rahmat Allah). [QS: Al Kautsar : 1-3]

الله أعلم بالصواب
Allaahu a'lam bis-shawaab

Wassalam :)

Anonim mengatakan...

udzkurkum fi ahlal baity.....3 perhatikan keluargaku 3 hati2menghuykumi beliau siapa kita ini taw betul tentang syir kluarga beliau jangan pertaruhkan aherat kita ita butuh safaatbeliau kelak....mohon direnungkan3

Anonim mengatakan...

maaaf buat renungan dan bisa dicek dengan benar kedudukan hadist2berikut ini biar kita hati2ini masalah kehormatan nabi kita bukan para syarifah atae sayyidnya karna gelar mereka bukan merekan dapat dari mencari tapi amanat dari rasulnya jadi kita ummatnya jangan dibuat gampangan sayangi diri kita dan keluarga kiata......
diriwayatkan oleh Thabrani, Al-Hakim dan Rafi’i :

فإنهم عترتي, خلقوا من طينتي ورزقوا فهمي و علمي, فويل للمكذّبين بفضلهم من أمتي القاطعين منهم صلتي لا أنزلهم الله شفاعتي

‘… maka mereka itu keturunanku diciptakan (oleh Allah) dari darah dagingku dan dikaruniai pengertian serta pengetahuannku. Celakalah (neraka wail) bagi orang dari ummatku yang mendustakan keutamaan mereka dan memutuskan hubunganku dari mereka. Kepada mereka itu Allah tidak akan menurunkan syafa’atku.’

Rasulullah bersabda :

كلّ نسب وصهر ينقطع يوم القيامة إلا نسبي و صهري

‘Semua hubungan nasab dan shihr (kerabat sebab hubungan perkawinan) akan terputus pada hari kiamat kecuali nasab dan shihr-ku‘

Para ulama seperti Abu Hanifah, Imam Ahmad dan Imam Syafii dalam masalah kafa’ah sependapat dengan pendapat khalifah Umar bin Khattab yang mengatakan :

لأمنعن فزوج ذوات الأحساب إلا من الأكفاء

‘Aku melarang wanita-wanita dari keturunan mulia (syarifah) menikah dengan lelaki yang tidak setaraf dengannya’.

dalil yang mendasari pelaksanaan kafa’ah dalam perkawinan syarifah. Begitu pula dengan ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an surah al-An’am ayat 87, berbunyi :
ومن أبآئهم وذرّيّتهم وإخوانهم …

(dan kami lebihkan pula derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka …’

sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wa Sallam yang ditulis dalam kitab Yanabbi’ al-Mawwadah :

نحن اهل البيت لا يقاس بنا

‘Kami Ahlul Bait (Keturunan Rasulullah) tidaklah bisa dibandingkan dengan siapapun‘.

Imam At-Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Sayyidina Abbas bin Abdul Mutthalib, ketika Rasulullah ditanya tentang kemuliaan silsilah mereka, beliau menjawab :

ان الله خلق الخلق فجعلني في خيرهم من خيرهم قرنا ثم تخير القبائل فجعلني من خير قبيلة ثم تخير البيوت فجعلني من خيربيوتهم فأنا خيرهم نفسا و خيرهم بيتا

‘Allah menciptakan manusia dan telah menciptakan diriku yang berasal dari jenis kelompok manusia terbaik pada waktu yang terbaik. Kemudian Allah menciptakan kabilah-kabilah terbaik, dan menjadikan diriku dari kabilah yang terbaik. Lalu Allah menciptakan keluarga-keluarga terbaik dan menjadikan diriku dari keluarga yang paling baik. Akulah orang yang terbaik di kalangan mereka, baik dari segi pribadi maupun dari segi silsilah‘.



قال لى جبريل : قلبت مشارق الارض ومغاربها فلم أجد رجلا افضل من محمد وقلبت مشارق الارض ومغاربها فلم أجد بنى أب أفضل من بني هلشم

‘Jibril berkata kepadaku : Aku membolak balikkan bumi, antara Timur dan Barat, tetapi aku tidak menemukan seseorang yang lebih utama daripada Muhammad saw dan akupun tidak melihat keturunan yang lebih utama daripada keturunan Bani Hasyim’

Anonim mengatakan...


إنّما يريد الله ليذهب عنكم الرّجس اهل البيت ويطهّركم تطهيرا
Sesungguhnya Allah swt bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlu al-bait dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya

Di samping itu Rasulullah saw telah menegaskan dalam sabdanya :

ياأيهاالناس إن الفضل والشرف والمنزلة والولاية لرسول الله وذريته فلا تذ هبن الأباطيل

‘Hai manusia bahwasanya keutamaan, kemuliaan, kedudukan dan kepemimpinan ada pada
Rasulullah Rasulullah dan keturunannya. Janganlah kalian diseret oleh kebatilan’.

Dalam riwayat lain dari Salman al-Farisi :

نهانا رسول الله أن نتقدم أمامكم أو ننكح نساءكم

‘Sesungguhnya Rasulullah telah melarang kami untuk memimpin (mengimami) kamu atau menikahi wanita-wanita kamu.”


Anonim mengatakan...

إنما انا بشر مثلكم أتزوّج فيكم وأزوّجكم إلا فاطمة فإن تزويجها نزل من السّماء , ونظر رسول الله إلى أولاد علي وجعفر فقال بناتنا لبنينا وبنونا لبناتنا
Sesungguhnya aku hanya seorang manusia biasa yang kawin dengan kalian dan mengawinkan anak-anakku kepada kalian, kecuali perkawinan anakku Fathimah. Sesungguhnya perkawinan Fathimah adalah perintah yang diturunkan dari langit (telah ditentukan oleh Allah swt). Kemudian Rasulullah memandang kepada anak-anak Ali dan anak-anak Ja’far, dan beliau berkata : Anak-anak perempuan kami hanya menikah dengan anak-anak laki kami, dan anak-anak laki kami hanya menikah dengan anak-anak perempuan kami’.

النجوم أمان لأهل السماء وأهل بيتي أمان لأهل العرض

‘Bintang-bintang adalah sebagai pengaman bagi penduduk bumi dari tenggelam (di lautan) dan ahlil baitku sebagai pengaman bagi penduduk bumi (dari perselisihan)‘.

Anonim mengatakan...

Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam syairnya menulis :

Ahlul Bait Musthofa, mereka adalah orang-orang suci
Mereka pemberi keamanan di muka bumi
Mereka ibarat bintang-bintang yang bercahaya
Demikianlah sunnatullah yang telah ditentukan

Mereka ibarat bahtera penyelamat
dari segala topan (bahaya) yang menyusahkan
Maka menyelamatkan dirilah kepadanya
Dan berpegang teguhlah kepada Allah swt
serta memohon pertolongan-Nya

Wahai Tuhanku, jadikanlah kami orang yang berguna atas berkah mereka
Tunjukkanlah kepada kami kebaikan dengan kehormatan mereka
Cabutlah nyawa kami di atas jalan mereka
Dan selamatkanlah kami dari berbagai macam fitnah.

Anonim mengatakan...

Hadits Rasulullah Saw, yang berbunyi:

كُلُّ وَلَدِ أَدَمَ فَإِنَّ عُصْبَتُهُمْ لِأَبِيْهِمْ مَا خَلاَ وَلَدَ فَاطِمَةَ فَإِنِّيْ أَنَا أَبُوْهُمْ وَعُصْبَتُهُمْ

“Semua anak Adam bernasab kepada orang tuanya laki-laki (ayahnya) kecuali anak-anak Fathimah. Akulah ayah mereka, dan akulah yang menurunkan mereka.”

Hadits tersebut dapat di jumpai di beberapa Kitab, seperti:
1. Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Bab “Fadhail Ahlu Bait”
2. Imam Ahmad bin Hanbal dalam Mustadrak Ash-Shahihain.
3. Imam As-Suyuthi, dalam Ad-Durru Al-Mantsuur
4. Kitab Kanzul ‘Ummal
5. Imam At-Turmudzi, dalam Kitab Sunan At-Turmudzi
6. Imam Thabrani, dalam Tafsir At-Tabrani
7. Imam An-Nasa’i, dalam Kitab Khashaish An-Nasa’i
8. Tarikh Baghdad
9. Kitab Al-Isti’ab
10. Kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah
11. Imam Abu Dawud, Dalam Musnad Abu Dawud
12. Kitab Asad Al-Ghabah
13. Syaikh Muhammad Abduh, Dalam Kitab Tafsir Al-Manar
14. HMH.Al-Hamid Al-Husaini, dalam buku Keagungan Rasulullah & Keutamaan Ahlul Bait, halaman 23-24 

Anonim mengatakan...

Rasulullah saw bersabda :

… وهم عِتْرَتِي , خُلِقُوا مِنْ طِيْنَتِي , فَوَيْلٌ لِلْمُكَذِّبِيْنَ بِفَضْلِهِمْ , من احبهم احبه الله

ومن أبغضهم أبغضه الله

“… Mereka adalah keturunanku dan diciptakan dari tanahku. Celakalah dari ummatku yang mendustakan keutamaan mereka. Siapa yang mencintai mereka maka Allah akan mencintainya, siapa yang membenci mereka maka Allah akan membencinya

ألا و من ابغض آل محمد جاء يوم القيامة مكتوبا بين عينيه : آئس من رحمة الله

Sungguh siapa yang membenci keluarga Muhammad saw, maka ia akan dibangkitkan di hari kiamat dengan tulisan di antara kedua matanya : ‘orang ini telah terputus dari rahmat Allah swt

Anonim mengatakan...

Rasulullah saw bersabda :

من أبغضنا أهل البيت فهو منافق

Siapa orang yang membenci kami ahlu bait adalah termasuk golongan munafiq Rasulullah saw bersabda :

لا يحبنا أهل البيت الا مؤمن تقي , ولا يبغضنا الا منافق شقي

Tidak ada yang mencintai kami ahlu bait kecuali orang yang beriman dan bertaqwa, dan tidak ada yang membenci kami kecuali orang munafik dan durhaka

Rasulullah saw bersabda :

من أبغض عترتي فهو ملعون و منافق خاسر

Siapa yang membenci keturunanku, ia termasuk orang yang dilaknat dan munafik yang merugi

Rasulullah saw bersabda :

ألا ومن مات على بغض آل محمد مات كافرا , ألا ومن مات على بغض آل محمد

لم يشمّ رائحة الجنّة

Sungguh siapa yang mati dalam keadaan membenci keluarga Muhammad saw, maka ia mati dalam keadaan kafir. Sungguh siapa yang mati dalam keadaan membenci keluarga Muhammad saw, maka ia tidak akan mencium harumnya surga.[6]

يّها الناس , من أبغضنا اهل البيت حشره الله يوم القيامة يهوديا. يارسول الله , وإن صام

وصلّى ؟ قال : وإن صام و صلّى

Wahai manusia, siapa saja yang membenci kami ahlu bait, maka Allah swt akan mengumpulkannya di hari kiamat dalam golongan orang-orang Yahudi. Jabir berkata: Ya Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang berpuasa dan mengerjakan shalat. Rasul menjawab : Walaupun mereka berpuasa dan mengerjakan shalat

Anonim mengatakan...

Rasulullah saw bersabda :

إشتدّ غضب الله على من آذاني في عترتي

Allah swt sangat murka kepada orang yang menggangguku melalui keturunanku

Rasulullah saw bersabda :

إنّ الله تعالى يبغض الآكل فوق شبعه , والغافل عن طاعة ربه , والتارك سنّة نبيه , والمخفر ذمّته , والمبغض عترة نبيه , والمؤذي جيرانه .

‘Sesungguhnya Allah swt membenci orang yang makan di atas batas kekenyangannya, orang yang lali dari melaksanakan ketaatan kepada Tuhannya, orang yang mencampakkan sunnah nabinya, orang yang menremehkan tanggungjawabnya, orang yang membenci ithroh (keturunan) nabinya dan mengganggu tetangganya

Rasulullah saw bersabda :

حرّمت الجنة على من ظلم اهل بيتي و آذاني في عترتي

Surga diharamkan bagi siapa saja yang menzhalimi ahlu baitku dan menyakiti aku melalui keturunanku

Rasulullah saw bersabda :

الويل لظالمي اهل بيتي , عذابهم مع المنافقين في الدرك الأسفل من النار

Celakalah siapa saja yang menzhalimi ahlu baitku, mereka akan diadzab bersama orang-orang munafiq di dasar neraka.[19]

Anonim mengatakan...

coba antum baca rujukan 2 ulamak salaf buat bahan renungan karna para ulamak salaf lebih dekat kedudukanya kepada allah dan fatwanya bisa dipertanggungjawabkan bukan kaya kita yang merasa lebih taw n malah lebih taw n berani menghukumi daripada mereka

[1] Kanz al-Ummal (12/98)

[2] Faraid al-Simthin (2/256)

[3] Al-Dur al-Mansur (7/349), Fadhail al-Sahabah (2/661)

[4] Dzakhair al-Uqba : 218, al-Showaiq al-Muhriqah : 230.

[5] Jami’ al-Akhbar : 214.

[6] Al-Kasyaf (3/403)

[7] Al-Mu’jam al-Ausath (4/212)

[8] Al-Mustadrak ‘Ala Shahihain (3/162), al-Dur al-Mansur (7/349)

[9] Al-Mustadrak ‘Ala Shahihain (4/392), Majma’ al-Zawaid (7/580)

[10] Al-Mu’jam al-Kabir (11/142), al-Mustadrak ‘Ala Shahihain (3/161)

[11] Al-Mu’jam al-Kabir (3/81)

[12] Ihya al-Mait al-Suyuthi : 53

[13] Dzakhoir al-Uqba : 39

[14] Yanabi’ al-Mawaddah (2/378)

[15] Kanz al-Ummal (12/103)

[16] Ihya al-Mait : 53

[17] Dzakhoir al-Uqba : 20

[18] Tafsir al-Qurthubi (16/22)

[19] Yanabi’ al-Mawaddah (2/326)

Anonim mengatakan...

Kepada siapapun yang mempunyai pikiran bahwa ulama Alawiyin yang melaksanakan pernikahan antara syarifah dengan sayid berdasarkan adat semata-mata, dianjurkan untuk beristighfar dan mengkaji kembali mengapa para ulama Alawiyin mewajibkan pernikahan tersebut, hal itu bertujuan agar kemuliaan dan keutamaan mereka sebagai keturunan Rasulullah saw yang telah ditetapkan dalam alquran dan hadits Nabi saw, tetap berada pada diri mereka. Sebaliknya, jika telah terjadi pernikahan antara syarifah dengan lelaki yang bukan sayid, maka anak keturunan selanjutnya adalah bukan sayid, hal itu disebabkan karena anak mengikuti garis ayahnya, akibatnya keutamaan serta kemuliaan yang khusus dikarunia oleh Allah swt untuk ahlul bait dan keturunannya tidak dapat disandang oleh anak cucu keturunan seorang syarifah yang menikah dengan lelaki yang bukan sayid.

Rooney mengatakan...

asslm wrwb,ikhwan sekalian ijinkan sy sharing mohon maaf jk ada kekeliruan . mengenai surat al ahzab 33"bahwa Allah swt hendak mensucikan kalian wahai ahlul bait sesuci sucinya"...yang di maksud ahlulbait disini adalah keturunan Rasulullah saaw melalui pernikahan sayyidah fatimah dg Amirul Mukminin Ali bin abuthalib.yaitu yang di sebut 12 imam sampai akhir jaman ,ke 12 imam tsb adalah imam Ali,imam Hasan,imam Husein,imam Zainal abidin bin husein(imam assajad),imam muhammad bakir,imam Ja'far assidiq,imam Musa al kadim,imam Ali Ridho,imam Muhammad Jawad,imam Ali Hadi Naki,imam Hasan al askhari,trs terakir Imam Mahdi. mereka inilah penerus risalah Rasulullah saaw dan derajat taqwa dan ke ilmuannya melebihi nabi(jgn salah tafsir dulu maksudnya nabi itu bkn nabi Muhammad saaw lho ya?(krn kita semua sepakat Nabi Muhammad saaw adl.Manusia plg mulia di sisi Allah swt.,mksdnya itu nabi2 sblm nabi muhammad saaw) itu krn beratnya tugas para imam di akhir jamanyg sangat kompleks.dan utk keturunan Rasulullah yang lain mrk sama dgn kita tdk luput dari dosa,itu sesuai riwayat nabi ibrahim yang mengajukan permintaan kpd Allah swt mengenai keutamaan keturunannya,yang akhirnya di kabulkan oleh Allah swt tp tdk bagi hamba2ku yang dholim (kata Allah swt). jadi kalo ada yang beranggapan semua keturunan Rasulullah saaw di seluruh penjuru dunia baik itu sayyid/syarifah atau habib/habibah atau sadat atau mirza (anak dari ibu sarifah dg bpk non sayyid)itu suci atau dijamin kesuciannya dari dosa itu krg tepat,tapi walau bgmanapun kita sbg umatnya Rasulullah saaw ttp harus menghormati mrk dg niat krn Allah swt ,krn Allah sangat2 mencintai Rasulullah saaw melebihi makhluk apapun,di katakan firman Allah:Aku tdk akan menciptakan bumi dan seluruh alam semesta ini,kecuali krn kecintaanku kpd Muhammad saaw.dan tidak lupa niat krn sungkan (istilah org jawa)kpd Rasulullah saaw(sallallahu alai wa ali wassalam),pengertian wa ali disini bkn imam Ali saja tp wa ali=keturunannya rasul trmsk 12 imam td),krn rasulullah sangat mencintai umatnya,spt yang kita ketahui sblm menunggalnya rasul...beliau menyebut ...ummati,ummati,ummati.jadi hakekatnya Dunia dan seluruh isinya ini di ciptakan Allah swt utk Rasulullah (org terkasih),berarti hakekatnya apakah kita semua ini berhutang sama beliau? iya benar....tp Rasulullah sendiri tdk meminta upah sedikitpun kpd kita...kecuali kita di minta utk menghormati,patuh kpd Ahlul bait beliau (12 0mam).ini yang dimksd ber wilayah atau istilahnya berbaiat...maka bersalawatlah kalian tp jgn salawat buntung,bersalawatlah dengan lengkap "Allahuma solli allah muhammad wa ali muhammad",krn pada saat kita meninggal nnt pasti di tanya malaikat maut,pertama siapa tuhanmu?siapa nabimu?apa agamu?mana kiblatmu? siapa imammu?...nah disini yg di maksud imam bkn al quran (spt pengertian talqin pd umumnya)yg dimaksud imam di sini ya 12 imam td mulai imam Ali sampai imam mahdi,krn merekalah org2 terpilih yang keilmuannya setara dgn al quran pasca meninggalnya Rasulullah.tp bkn berarti mrk nabi krn tdk ada nabi setelah nabi Muhammad saaw.jadi kesimpulannya kalo kita mau menghormati Rasulullah ya wajib menghormati ahlul baitnya tp tdk berlaku bagi yang dholim. Ayatullah imam khomeini aja (beliau sayyid) memperbolehkan putrinya menikah dgn org non sayyid itu krn beliau melihat dari sisi TAQWAnya.tapi itu semua jangan di sama ratakan dgn keadaan kita semua,hrs di lihat kasus per kasus krn itu hak mereka sbg orang tua utk memilih dan menikahkan putri2nya....apakah anda sekalian (yg di istilahkan org awam)pantas apa tidak menikah dg syarifah...itu semua tergantung usaha kalian sendiri dan takdir Allah swt....salam ukhuwah wasslm

Anonim mengatakan...

hehhe...,,,,akhirnya muncul orang syah di blog ini...bung Rooney kalau dilihat dari komentar anda..bisa dipastikan anda seorang sy'ah...sudah jelas pandangan anda tidak dapat saya terima karena saya seorang suni....

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum,,, sya mau nanya gan,,, seandainya orng tua dari pihak dari syarifah setuju menikah nya dgn non sayyid,,, berdosa ga orang tua dari syarifah gan,,,
tolong ya gan jawaban nya,, soal nya sya bukan sayyid,,

Anonim mengatakan...

Sekarang saya balik bertanya, ratusan tahun yang lalu para pendahulu kalian datang ke negara ini, dan mendakwahkan ISLAM kepada bangsa kami,

BANGSA KALIAN yang mengajarkan pada kami bahwa ISLAM bukanlah agama yang membeda-bedakan manusia berdasarkan RAS, SUKU, GOLONGAN, atau GARIS KETURUNAN.

BANGSA KALIAN yang mengajarkan bahwa ISLAM adalah agama yang menganggap semua manusia SAMA dan SEDERAJAT.

BANGSA KALIAN yang mengajarkan bahwa semua umat ISLAM bersaudara. Yang paling penting dari suatu pernikahan adalah sesama ISLAM dengan akhlak yang ISLAMI.

Tapi selanjutnya apa ????

Kalian memperkenalkan sistem kasta, bahwa Sayyid itu adalah orang2 yg lebih tinggi derajatnya dan hanya dari kalangan kalian saja.

Kalian memanggil kami 'Ahwal'. Dulu sebutan itu artinya 'saudara' tapi sekarang justru sebutan itu identik dengan 'pribumi' yang artinya konotasinya 'bangsa yang lebih rendah' atau 'bangsa budak' yang tidak pantas disejajarkan dengan kalian.

Kami yang harus menghormati dan memuliakan para Sayyid.

Tidak pantas seorang lelaki 'Ahwal' berpasangan dengan wanita dari keturunan kalian walaupun sama-sama Islam, walaupun hidupnya berkecukupan, walaupun akhlaknya baik dan mampu menjadi suami yg bertanggung-jawab.

Seperti inikah ISLAM yg dulu kalian ajarkan pada kami ????

INGAT ini baik2 :
Kalian hidup di negara ini sebagai IMIGRAN, YA ! IMIGRAN yang mencari nafkah di negerinya para 'Ahwal' dan di sekeliling kalian ada 200 Juta orang Ahwal.

Jadi saya boleh saya ulang kembali,

1. Derajat 200 Juta orang itu kalian anggap lebih rendah dari kalian.
2. Kalian ingin 200 Juta orang 'Ahwal' SETUJU untuk menganggap kalian lebih mulia dan memuliakan kalian.
3. Kalian mengharamkan wanita dari kalangan kalian untuk menikah dengan pria dari kalangan 'Pribumi' karena dianggap tidak sederajat karena faktor garis keturunan ???? Walaupun kalian punya anak laki2 yg tetap bisa meneruskan garis keturunan ?
4. Kalian hidup, tinggal, dan mencari nafkah di negara ini tapi kalian memandang rendah orang2 pribumi ??????

Saya mengenal sebuah etnis yang melakukan hal-hal yg mirip dengan di atas, dan ... Tahun 1998 mereka mendapat pelajaran berharga dari kaum pribumi yang dulu mereka sebut 'Tiko', bahwa semua manusia sama dan sederajat. Saling membutuhkan, saling menghormati.

Apa yang saya baca disini benar-benar membuat saya kaget tentang agama saya sendiri.

Tolong sembunyikan semua yang ada tertulis disini !
Kalau SEMUA orang Indonesia tahu bahwa mereka dipandang rendah, bahwa mereka didiskriminasikan, bahwa mereka disuruh untuk memuliakan segelintir orang, dan dianggap seperti 'pelayan' di NEGERI MEREKA SENDIRI, saya khawatir "pelajaran" yang sama akan diberikan kaum 'Ahwal' pada kaum 'Jemaah'.

dan mungkin kami tidak akan melihat kalian sama seperti dulu,
seperti kami pernah menghormati orang pertama dari bangsa kalian yang datang kesini dan memperkenalkan Islam, agama yg memandang semua manusia sama dan sederajat.

Anonim mengatakan...

Udah lah mas ... Nggak penting kok,
Mereka mau merasa diri mereka lebih mulia atau apa lah yg penting kan kita nggak rugi apapun. Secara moril / materiil kita nggak rugi sedikitpun.

Lagian nggak mungkin orang Arab berani memaksa orang pribumi untuk merendahkan derajat pribumi dan memuliakan derajat keturunan Arab. Untuk memaksa orang pribumi mencium tangan orang Arab pun orang Arab nggak ada yang berani ! Coba aja begitu, urusannya kepala putus nanti ! Wkwkwkwk

rooney mengatakan...

salam...buat saudara anonim, kita kalo melihat suatu kebenaran jgnlah melihat siapa yg menyampaikan kebenaran tsb,tp lihatlah isinya? benar apa tidak...tdk peduli syiah-sunni ?jangan berprasangka jelek dulu..hehe menurut pendapat umum syiah artinya pengikut maksudnya mungkin pengikut Ali padahal sebenarnya kalo mengikuti Ali ya pasti mengikuti nabi (Nabi dan ahlulbait/keluarganya) berarti hakekatnya syiah ya ahlussunnah....yaitu org" yang ahli mengikuti sunah nabi, dan menurut anda siapa yang lebih tahu ilmunya utk mengikuti sunnah2 nabi dalam hal ini pribadi2 mulia ,pribadi2 suci yang belum pernah kafir selama hidupnya spt sayyidina Ali,sayyidah Fatimah,sayyidina Hasan wal Husein?...di banding orang lain orang lain? krn sejarah jelas menerangkan di peristiwa Ghadir kum bahwa Rasulullah menunjuk Ali sbg maula kalian sesudahku ,sampai sampai para sahabat yang berjumlah banyak mengucapkan selamat,tp selang bbrp bln menjelang dan setelah wafatnya beliau Rasulullah saw ...semua jadi berubah( peristiwa saqifah/hari kamis).penunjukkan Rasulullah di peristiwa Khadir kum di langgar , persis spt pelanggaran pada peristiwa perang uhud.

- utk pertanyaan dosakah orang tua alawiyin mengijinkan putrinya menikah dengan org non sayyid /ahwal ?.. tdk dosa asal seiman,se aqidah,bertaqwa,alim dll. tp tetap keputusan tergantung orang tua...dan itupun kecil kemungkinan krn itu hak prerogatif mrk.
sebenarnya tidak semua orang keturunan arab itu gol.sayyid ada yang istilahnya masayeh atau mirza dll itu bisa dilihat dari belakang nama fam nya,(family),dan mereka gol.sayyid tidak maksum(suci dari dosa) krn yang maksum hanya Rasulullah dan ahlul bait (sayiidah fatimah dan 12 imam keturunannya)

Anonim mengatakan...

Mas jelasin lagi dong yg Masayeh, Mirza itu apa ?
Apakah sama sprti yg Sayyid dlm hal perjodohan ?
Contoh marga org2 Masayeh & Mirza itu yg sprti apa ?
Orang awam nih jd penasaran tntang budaya tradisi ktrunan Arab, hehe ...

Rooney mengatakan...

sy juga awam,ya tahunya dari teman" yang sayyid...mnrt teman sy gol.sayyid di indonesia itu rata" buyut nya dulu dari Hadramaut Yaman..katanya 9 wali songo (penyebar agama islam d pesisir jawa) rata" para sayyid kecuali sunan kalijogo(jawa) dan para wali tsb bermadhab syiah/ahlul bait atau sunni imam syafi'i.krn madhab syafii dan syiah hampir ada kesamaan(tahlil,salawat,tabarruk,qunut,sodakoh,dll kecuali beda imammiyah)...kemudian mrk bertaqiyah(menyembunyikan keyakinan krn ada ancaman jiwa)shg ada yg sunni...ceritanya dulu jamannya bani umaiyah tdk ada yang boleh mengikuti ajaran sayyidinah Ali dan keturunannya sampai " kalo ada yng menamakan anaknya dg nama Ali lgsg dibunuh ...yang paling mengerikan peristiwa di padang Karbala di mana cucu kesayangan Rasulullah "sayyidinah Husein di penggal kepalanya oleh si laknatullah Simir bin jauzan atas suruhan ibnu ziyad (gubernur kuffah)semua itu atas perintah Yazid bin Muawiyah krn sayyidinah Husein tdk mau berbaiat kpd Yazid bin muawiayah yang terkenal dholim dan kejam, perlu diketahui bhw sayyidinah Husein beserta keluarganya yg sebagian wanita dan anak" di bantai dalam keadaan haus dan lapar,mereka para pembantai benar" dibutakan oleh nafsu kekuasaan ,pdhal mrk tahu bhw sayyidinah Husein adalh cucu kesayangan Rasulullah ,di masa kecilnya slalu di ciumi Rasul, yang wajahnya mirip dg wajah Rasul,dlm riwayat beliau dijuluki pemuka pemuda di surga bersama sayidina Hasan, riwayat hadits Rasul mengatakan: Husein dari aku,sebaliknya Aku dari Husein.barangsiapa yang membencinya berarti membenci aku barang siapa membenci rasulullah berarti sama dg membenci Allah swt.Tindakan sayyidina tdk lain hanya menjaga syariat Agama islam yang dibawakan datuknya (rasulullah) tp knp oleh sejarah islam peristiwa karbala atau asyura ini selalu di sembunyikan dan ditutupi dan sampai" undangan baiat penduduk kuffah atas kepemimpinan sayyidina Husein tdkjadi terlaksana krn takut kpd laknatullah Yazid bin muawaiyah yang dituduhkan pengikut/org syiah sbg penduduk kuffah dan Abdullah bin Saba' sbg karangan sungguh ironis sbg pemutarbalikkan fakta .
btw mengenai gol.sayyid bisa diketahui dan ada yayasan yang menaunginya detailnya sy krg faham yg jls fam nya bnyk sekali spt: Al Habsy,Al hadad,al laydrus,Barakbah,Assegaf,Bafaqih,al baroom,al Mughdor dll , kalo sayyid tahu nama leluhurnya sampai 5 tingkat diatasnya dan ada semacam buku pedoman shg keturunan sampai Rasulullah saw ,dan itulah keajaiban dan mmg ketentuan dan janji Allah swt ,al Hadits Rasul mengatakan bhw semua keturunan bani Adam akan putus nasabnya kecuali dari keturunanku sampai yaumil kiamat.sejak revolusi islam di iran yg di pimpin Ayatullah imam Khomeini lah ajaran madhab ahlulbait yang semula taqiyah mulai menyebar sedikit demi sedikit di seluruh penjuru dunia tak terkecuali di indonesia shg terkesan aneh dan gak biasa...krn keduluan masuknya madab imam syafi'i(NU) dan disusul faham wahabi spt:Muhammadiyah,Al irsyad, LDII,(dari kerajaan arab saudi) yang bnyk org beranggap tempatnya Mekah dan Madinah pasti madhabnya plg benar, kalo masayeh sy krg tahu cuma katanya tdk punya buku pedoman garis keturunan sayyid ,spt baasroof,baswedan,al katri dll sy krg paham .

Anonim mengatakan...

Lho ? Jadi tambah bingung nih saya, jadi islam itu ada macam2 aliran, dan kepercayaan orang2 hadramaut tentang ahlul bait itu tidak diakui oleh kerajaan Saudi begitu ? Mohon maaf kalo salah,

Anonim mengatakan...

Fakta Sejarah Peluruh Kultus Nasab.

Sahabat Anas bin Malik mengisahkan:
Suatu hari ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dengan berkata: Wahai Rasulullah dimanakah posisi ayahku di akhirat? Beliau menjawab: Ayahmu ada di neraka.
Ketika lelaki itu berpaling, kembali Rasulullah bersabda: Sejatinya ayahku dan ayahmu sama-sama berada di neraka". (ABu Dawud dan lainnya)

Setelah mengetahui hadits ini, masih adakah alasan untuk silau terhadap keturunan atau nasab yang tidak diiringi oleh amal sholeh? Demikianlah dahulu ditegaskan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
Dan barang siapa yang amalannya tidak menjadikan derajatnya menjadi tinggi (mulia) niscaya nasabnya juga tidak dapat mengangkat derajatnya. (Muslim)

Rooney mengatakan...

sia-sia sy menjelaskan panjanglebar disini tentang keutamaan Ahlulbait dan para sayyid pdhal kita hanya disuruh menghormati saja,tdk ubahnya hormat antara murid dengan guru,krn biar bgmanapun leluhur para sayyid berjasa mengenalkan agama islam ,yg muaranya kita sangat sangat berterima kasih kpd baginda Rasulullah Muhammad SAAW ,dlm hal ini tolong dibedakan rasa terimaksih kita kpd Allah swt,kpd Rasulullah,Kpd kel. Rasul,kpd sahabat" yg setia kpd rasul,kpd keturunan" rasul,kpd tabi'in",kpd ulama,kpd para sayyid,dll,semua itu diletakkan pd porsinya msg"..... ya sdh mmg benar Hidayah mmg dari semua Allah, tp hukum sebab akibat itu pasti berlaku,dan semua tergantung dari amalan2 kita,baik dhohir maupun batin

Anonim mengatakan...

maksudnya begini bung rooney ...jangan terlalu silau, takjub dgn nasab...karena kita merasa lebih mulia lebih maksum.sehingga kita melupakan amal2 Sholeh..Dan barang siapa yang amalannya tidak menjadikan derajatnya menjadi tinggi (mulia) niscaya nasabnya juga tidak dapat mengangkat derajatnya. (Muslim)..dan tidak ada larangan Ahlul bait menikah dg non Ahlul bait..karena sejarah telah membuktikan bahwa pernikahan Ahlulbait dangan non Ahlul bait diperbolehkan....

tan nagari mengatakan...

Sudahlah saudaraku sekalian... ini zaman.,full fitnah.,fitnah paling bahaya justru datang dari dalam.. saya awam soal agama.. saya ga berani berdalil.. argumentasi umumnya seperti ini, barangkali..
1. Apakah PENTING menjaga silsilah?
Penting..! Ga perlulah diuraikan panjang lebar yak..
2. Dalam lingkup sosial baik secara kelembagaan atau hubungan2 personal., dalam konteks kemanusiaan & persamaan derajat.,apakah BOLEH membuat perbedaan.,lalu membatasi aksesibilitas status sosial.,baik berdasarkan gender, alasan ras, kasta, dan lain sebagainya?
Jawabanny ya Ga Boleh... karna kita semua manusia, tentunya kan.. makanya., di zaman sekarang ini ga ada hukum legal, yang melarang berbagai pembatasan tadi.. betul kan ya..
Oke.,Lanjut.,
Sebaliknya., tetap argumentatif kok..
Bolehkah kita menetapkan satu peraturan yang melarang suatu kaum atau kelompok mempertahankan "tradisi" mempertahankan kemurnian garis keturunannya?
Jawabannya tentu TIDAK BOLEH juga kan...

tan nagari mengatakan...

Lebih fokus..
TERLEPAS dari perdebatan dalil mengenai sah atau tidaknya garis keturunan dari ayah atau ibu.,tetaplah garis keturunan itu ada..
Betul donk.. apakah kita ga akan mengakui kalau anak perempuan kita sebagai anak atau cucu kita? Apakah kita sebagai laki2 ga mengakui ibu kita atau ga menghormati saudara2 dari ibu kita..
Bagaimanapun juga "Garis liniernya".,toh tetap sah dan diakui bahwa, si anu itu anaknya atau cucunya atau cicitnya si anu..
Betul lagi donk..
Maka dengan demikian apa pentingnya meributkan bahwa "kaum anu" itu sah atau tidak ngeklaim diri mereka sebagai krturunan Baginda Nabi Besar Muhammad Salallaahu 'Alaihi wassalaam..
Sampai di sini., masih tercerna secara logis donk.. Islam itu teramat rasional dan logis., ada yang menolak?
:-)

tan nagari mengatakan...

Tapi yang jadi masalah..,catatan silsilahnya para habaib itu meragukan dan belum tentu otentik..
Oke.., mau otentik atau ga., sekali lagi ngapain diurusin., kalau memang berpegang bahwa keturunan Rasulullaah Muhammd SAW itu ga ada atau derajatnya ga punya kekhususan.. hayoo.,buat apaan diusilin?
Lho..,ini demi kepentingan ummat.,supaya mereka ga di tipu daya dengan motif2 tersembunyi dari para habaib itu..
Oke.,Kalau gitu buktikan secara otentik dan bertanggungjawab kalau silsilah yg disusun turun temurun itu adalah rekasaya semata.. buktiin., terus laporin ke polisi.. jangan cyma bilang.,silsilah tersusun yg ada di Rabitah Alawiyah itu belum tentu benar..
Betul dong.. orang yang menuduh yg harus bawa bukti..

tan nagari mengatakan...

Trus tiba2 bahasan dipaksakan lagi.,dengan kalimat gosip "kalau mereka memang keturunan Rasul harusnya merekalah yang paling anu atau anu.."
Jawabannya., sesuai dengan argumentasi yang biasa dipakai., urusan iman dan taqwa ya itu urusan individu masing2.. Allah memberikan petunjuk ga pandang dia anaknya siapa.. betul begitu kan ya?
timbul lagi kalimat gosip lainnya "kadang2 perilaku mereja bahkan memalukan agama atau lebih hina dari yg bukan keturunan Rasul."
Jawabannya ya sekali lagi., urusan iman dan taqwa urusan individu., Allah yang menyatakan siapa2 yang dikehendaki-Nya yang dapat petunjuk atau ga dapat petunjuk.. betul donk..
Atau., apakah perbuatan dosa yang dilakukan oleh orang yang bukan keturunan Rasulullaah., tidak memalukan agama?
Kalau tetap memalukan., ya apa bedanya donk..
Betul ga saudaraku sekalian?

tan nagari mengatakan...

Gas lagi dikit.,
Ada juga kalimat lain yg masih sinis kasak kusuk cari pembenaran.,:
"Trus kenapa ada perbedaan sikap sebagian masyrakat terhadap para habib.,?"
Sederhana kawan.,:
Dalam satu lingkungan.,katakanlah lingkup RT.,Sikap kita terhadap seseorang yang bukan kawan akrab dari orangtua kita pastinya berbeda dengan seseorang yg merupakan sahabat akrab orangtua kita.. kita cenderung akan lebih bersikap sopan dan menjaga tatakrama ketika berhadapan dgn seseorang yg menjadi sobat karib dari orangtua kita.. hal ini bisa dikatakan berlaku umum di belahan dunia manapun...
Bukan karna alasan dari sobat karib orangtua kita itu.,tapi lebih karena bentuk dari rasa cinta.,segan.,dan hormat pada orangtua.,sehingga kita juga menghormati sobat karibnya..
Analogi ini tentu akan lebih tepat lagi menggambarkan penghormatan masyrakat terhadap para habib.. bukan karna habibnya.,tapi lebih karna bentuk rasa cinta dan hormat kepada Baginda Nabi Besar Muhammad S A W.,termasuk juga rasa syukur kepada Allah S W T.,karna melalui Rasul-Nya kita mengenal Islam...
Mudah kan memahaminya..? Mudah kalau pakai logika..Tak tertolak..
Tapi kalau pakai hati yg sarat dgn sentimentil "kelompok", ya tetap aja bakal ditentang lagi..:-)
Masih ada kalimat "agitatif" yg lebih maksa :
"Terkesan seolah2 mengkultuskan.,dan menganggap bahwa para habib itu kaum yang derajat keagamaannya lebih tinggi? Padahal mereka belum tentu masuk surga. Di tambahin dalil biar terkesan ho-oh.,"Bukankah Allah tidak memandang seseorang dari pakaian, jabatan dan kekayaan.,tapi dari keimanan dan ketakwaan..."
Dalilnya betul.,kalamullaah yg wajib kita imani..,tapi penempatan dalil dalam menetapkan atau mengukur perkara.,ini yang salah..
Pengkultusan? Justru kalimat pengkultusan ini muncul dari "kaum" yg anti ini.. tidak ada fakta kalau masyarakat mengkultuskan para habib.. ga ada satu orang masyarakat pun yang menghormati para habib, punya anggapan kalau para habib pasti masuk surga.. ga ada.
Juga ga ada kasta para habaib.. sangat banyak para habaib yang menuntut ilmu kepada para ulama2 pribumi.. mereka tetap cium tangan sama gurunya yang merupakan ulama pribumi..
Sesama ulama.,baik dari habib ataupun bukan.,ketika duduk di satu majelis pengajian.,situasi derajat dan penghormatannya sama...

tan nagari mengatakan...

Apaan lagi ya..?
Hmmmm.., oh ya., bagaimana dengan pernikahan sekufu (betul ini kan istilahnya ya?) ?
Kenapa mereka melarang anak2 perempuan mereka nikah dengan bukan yg habib? Bukankah yg wajib adalah sesama islam?

Nah ini bahasan yg lebih seru dan rada ehem...
Apa yg terjadi pada lady diana yg bukan kaum bangsawan?
Lihat., siapa para pengantin2 perempuan kerajaan saudi?
Lihat.,kebanyakan dari para artis., ya pasangannya sesama artis.. sama2 populer.,kaya.,cantik atau ganteng..

Larangannya bukan kewajiban dari agama.,tapi karna tradisi mempertahankan garis keturunan.. apakah salah? Ya ga lah.. itu hak dari suku atau keturunan mereka.. ga ada urusan ama orang lain.. argumentasi lengkapnya udah di bahas di atas..
Mengenai ada beberapa kasus.,syarifah yg ingin nikah dgn pujaan hatinya yg bukan dari habib.,ya sekali lagi itu urusan keluarga mereka om.. jangan di dramatisir dengan pernyataan :
"Susah nikah hanya karena beda nasab.."

Penggunaan pola kalimat seperti ini bahaya.,panjang lagi bahasan kalo kita bedah tata bahasa..
Dalam mainstream liberal atau sjenisnya juga ada kalimat begini :
"Aisyah menderita karena dilarang nikah dengan kekasihnya., hanya karena beda agama.."
Secara umum perhatikan pola kalimat dan penggunaan kata dalam kalimat.. terkesan gimana.,gitu kan?
Kita yg jadi orang islam.,tentu akan bersusahpayah menerangkan hal seperti itu kepada liberalis..

tan nagari mengatakan...

Mari kita tanya pada para perempuan kaum yg mengklaim diri mereka salafi.., atau kepada para lelakinya., apakah mereka mau menikah dengan bukan orang yang salafi? Siapakah orang yang akan di jadikannya pasangan hidup? So pasti jawabannya .,salafi..!!
Dan ketika terjadi di kelompok mereka., ada yg hendak menikah dengan bukan salafi.,ramai2 termasuk ustad2 mereka akan menasehati.,memberikan berbagai masukan., juga larangan.. Orangtuanya yang salafi juga akan berusaha keras mencegah...
Ketika pernikahan itu tetap terjadi., dipastikan muncul komentar seperti.,"si fulan itu lebih mengutamakan hawa nafsunya ketimbang bla bla bla...."
Maka dari sudut pandang yg lain lagi kita bisa buat esai dengan judul :
"Aisyah terasing menderita hanya karena menikah dengan bukan salafi.."

Anonim mengatakan...

Ahlul Bait ada sampai hari kiamat. Mereka dari keturunan Sayyidina 'Ali dan Sayyidina Fatimah. Dan ada hadits, "setiap anak bernasab kepada bapaknya kecuali anak2 fatimah, akulah bapaknya". Eksklusif? Itu syari'at bos. Ahlul bait derajatnya tinggi? Benar. Dijamin masuk surga? Benar. Ngasih syafa'at? Benar. Imani. Ga usah banyak omong. Cinta kepada ahlul bait WAJIB. Kalau ga cinta, dijamin ga akan dapat syafa'at. Jadi, yg non sayyid nikah sama syarifah? Cinta ga tuh disebutnya? Jàwabannya Kagak, karena memutus nasab keturunan nabi saw. Jangan liat ahlul bait yg bandel. Itu mah sebagian kecil. Banyaknya berilmu tinggi n taqwa bos, bahkan punya kelebihan bisa ngebaca apa yg ada di hati ente2 pada tuh. Buktikan saja sendiri. Yg ada ente bakal malu dibukain semua kejelekan ente. Dan ahlul bait yg bandel, insyaallah balik lagi jadi orang2 taqwa. Karena mereka suci, dan akan kembali suci.

Anonim mengatakan...

Yang make hadits dipikir dulu, itu hadits palsu atau hadist shahih.
ga usah dibahas masalah nikah, kan udah dikasih tahu.
jodoh itu Allah yang ngatur.
yang syarifah nikah dengan syahid ya mungkin udah jodoh, yang syahid nikah dengan non-syarifah ya jodoh kalo Allah udah berkehendak. jangan make dalil hadits dan qur'an kalo masih nafsirnya make pemikiran atas dasar hawanafsu. salah nafsir nte sesat. :)

baca Al-Quran dulu baru haditsnya, Kalo baca hadits cari yang sanad dan rawinya shahih.

Anonim mengatakan...

Yang pasti pernikahana syarifah harus dg Sayyid itu adalah sebuah tradisi......karena Islam tidak mengenal kasta...titik...

Deddy Candra mengatakan...

beberapa ilmu yang kudapat ketika akan menemui seorang ulama (Ra Lilur) di Bangkalan - Madura

1. Ada bangkai di air bak kamar mandi, tapi airnya suci untuk berwudhu
2. Ada Bangkai di Sumber Mata Air, tapi aliran airnya najis untuk berwudhu
3. Ada Bangkai di Samudra, tapi airnya juga najis untuk berwudhu

artinya :

1. Terkadang biasanya orang suka melihat luar (fisiknya) aja, tapi sebenarnya tampilan (fisiknya) yang biasa itu mempunyai hati yang suci bersih
2. Terkadang biasanya orang suka melihat dari nasab (keturunan), tapi sebenarnya keturunan (nasab) itu tidak menjamin bahwa hatinya juga suci bersih seperti para leluhurnya
3. terkadang biasanya orang suka melihat orang lain itu dari banyaknya umat, kemegahan, keilmuan atau yang lainnya yang besar dan banyak, tapi sebenarnya itu pun tidak menjamin hatinya juga suci bersih

Mister Bawel mengatakan...

Assalamu'alaikum wr.wb

Perkenalkan sebut saja saya dengan Mister Bawel. Saya keturunan Jawa dan saya berkenalan dengan seorang gadis sebut saja Comel. Pada awalnya saya tidak mengetahui kalau ternyata Comel adalah keturunan Arab (katanya dari marga Syarifah). Abinya sudah meninggal dunia saat dia berusia 16 tahun. Kami berpacaran sudah 2 tahun dan selama kami berpacaran memang ditentang dari pihak keluarga Comel. Tapi karena perjuangan dan ketulusan saya menjalani hubungan ini maka di tahun ke-3 ini dia mengajak untuk menikah. Alhamdulillah, hati saya terasa lega dan saya pun semakin bersemangat dalam bekerja karena akan membangun keluarga kecil bersamanya. Dan saya bertanya kepadanya bagaimana dengan Ibunya, tapi dia bilang akan nekat. Karena dia sudah tau pilihannya. Comel sering cerita seandainya Abinya masih hidup, mungkin akan lebih mudah untuk menikah. Karena alm. Abinya pernah bilang "Carilah suami yang bertanggung jawab dan mendirikan sholatnya. Tidak usah fanatik dengan suku karena kita hidup di lingkungan orang Jawa dan jaman sekarang tidak sedikit keturunan arab yang sombong dan seenaknya sendiri terhadap istrinya." Tapi pada kenyataannya adalah Ibunya berusaha menjauhkan saya dengan Comel. Beberapa hari setelah Comel berkata ingin segera menikah dengan saya, tiba-tiba dia lupa akan semua yang telah diucapkan. Dia berkata kalau dia dijodohkan dengan orang keturunan Arab dengan alasan biar garis keturunannya tidak hilang. Otomatis saya protes dengan hal ini. Yang ingin saya tanyakan adalah : apakah ada do'a - do'a tertentu untuk menjauhkan saya dengan comel ? Karena saya ingat kalau Ibunya pernah cerita kalau beliau sering ke Pak Kyai untuk minta air suci biar Comel tenang.
Hal ini dikarenakan adanya perubahan yang sangat drastis dan sampai Comel tidak mau diajak untuk bertemu.
Saya menyayangi Comel dengan setulus hati dan apa adanya.
Mohon saya diberikan pengarahan apa yang harus saya lakukan?
Terima kasih

rooney mengatakan...

sependapat dg bung Tan Nagari...Ulasannya lugas dan tuntas, untuk mr.Bawel kalo emang jodoh tdk akan kemana....kalo tidak jodoh...ya cari yang lain jg bnyk dan kembalikan kpd Allah swt...ikhtiar dan tawakkal,krn kasus itu bnyk dan umum di jumpai di masyarakat tdk hanya masalah keturunan, masalah jabatan,kekayaan,jg bnyk kita jumpai

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaikum..
saya perempuan jawa yg menjalin hubungan dgn laki2 keturunan arab yg fam nya adalah assegaff..6taun saya menjalin hubungan..dia begitu menyayangi saya,saya tau pacaran itu dosa maka dr itu saya menginginkan sebuah pernikahan..tapi apa daya saya hanya seorang wanita,menangis darahpun tidak akan punya hak untuk menentukan iya atau tidaknya saya dinikahi..
orang tua dan keluarganya tidak setuju tapi saya yakin dia sangat menyayangi saya..saya tau kalau fam keluarganya adalah keturunan nabi,apa benar bagi seorang seperti dia adalah aib besar jika harus menikahi manusia biasa seperti saya..saya ingin sekali memberi pengertian pada org tua nya,tapi apa hak saya..?saya hanya bs menunggu dan berdoa..tapi saya bingung apakah saya harus bertahan dgn perasaan dan impian saya ini yaitu mempunyai seorang suami seperti dia,keturunan dr nabi..dan mempunyai imam dikeluarga saya kelak se sholeh dia atau saya harus melepaskan nya demi keutuhan keluarganya,walaupun saya tau bagaimana perasaannya terhadap saya..tapi dia jg takut jika tidak dapat ridho dr org tua nya..saya pun takut tidak mendapat ridho..apakah salah jika saya berjuang demi impian saya itu?bagaimana cara meyakinkan org tua dan keluarganya supaya tidak memandang saya sebagai aib,sungguh saya sangat ingin memeluk org tuanya,saya ingin berterimakasih karna telah mengenal putranya yg begitu baik..

maulina sari mengatakan...

Ass. Wr. Wb
iseng2 saya baca artikel ini saat saya sedang mengalami kebimbangan hal yg sama.
saya perempuan keturunan jawa, sy menjalin hubungan dgn seorang ahlul bait, blm lama ini hubungan saya denganya harus kandas karena org tua nya memintanya untuk berpasangan dengah keturunan ahlul bait jg.
saya mau bertanya kebenarannya apakah benar begitu adatnya?
saya sbg perempuan hanya bisa berpasrah meskipun keinginan di hati untuk terus memperjuangkannya.
adakah pembelaan yg dapat sy sampaikan agar hubungan sy dengannya dpt bertahan dan terbina kembali.
saya mohon berikan sarannya

Terimakasih
Wassalam

Anonim mengatakan...

Heyaaaa komentar dari 2012 - 2014, sampe 2020 ga yaaa? semoga tidak jadi bahan perpecahan ya. Krn yang paling mudah menghancurkan suatu kaum itu dengan memecah belah sesama bangsanya sendiri.

Hamba Allah mengatakan...

بسم الله الرحمن الرحيم

Saudara-saudara ku sesama "muslim", berikut sedikit pencerahan yang Insya Allah bisa menjadi bahan renungan persengketaan kita, mengenai hujjah keutamaan dan kemuliaan misi baginda Nabi kita Muhammad Rasulullah SAW, yang beliau sampaikan pada Khutbatul Wada', guna menyempurnakan misi beliau sebagai rahmat bagi "semesta alam".

Jadi kalau ada sebagian kita yang merasa memiliki "keutamaan", tanpa didasari adanya bukti keimanan dan amalan yang dicontohkan... lebih baik kita memahami dengan "jernih", mengapa Baginda Nabi kita Muhammad Rasulullah SAW diutus dengan risalah rahmatan lil 'alamin...


Berikut khutbah yang disampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad Rasulullah SAW:



“O People, lend me an attentive ear, for I know not whether after this year, I shall ever be amongst you again. Therefore listen to what I am saying to you very carefully and TAKE THESE WORDS TO THOSE WHO COULD NOT BE PRESENT HERE TODAY.

O People, just as you regard this month, this day, this city as Sacred, so regard the life and property of every Muslim as a sacred trust. Return the goods entrusted to you to their rightful owners. Hurt no one so that no one may hurt you. Remember that you will indeed meet your Lord, and that He will indeed reckon your deeds. ALLAH has forbidden you to take usury (interest), therefore all interest obligation shall henceforth be waived. Your capital, however, is yours to keep. You will neither inflict nor suffer any inequity. Allah has Judged that there shall be no interest and that all the interest due to Abbas ibn Abdul Muttalib (Prophet’s uncle) shall henceforth be waived…

Beware of Satan, for the safety of your religion. He has lost all hope that he will ever be able to lead you astray in big things, so beware of following him in small things.

O People, it is true that you have certain rights with regard to your women, but they also have rights over you. Remember that you have taken them as your wives only under Allah’s trust and with His permission. If they abide by your right then to them belongs the right to be fed and clothed in kindness.

Do treat your women well and be kind to them for they are your partners and committed helpers. And it is your right that they do not make friends with any one of whom you do not approve, as well as never to be unchaste.

O People, listen to me in earnest, worship Allah, say your five daily prayers (Salah), fast during the month of Ramadan, and give your wealth in Zakat. Perform Hajj if you can afford to.




"All mankind is from Adam and Eve, an Arab has no superiority over a non-Arab nor a non-Arab has any superiority over an Arab; also a white has no superiority over black nor a black has any superiority over white except by piety and good action."




Learn that every Muslim is a brother to every Muslim and that the Muslims constitute one brotherhood. Nothing shall be legitimate to a Muslim which belongs to a fellow Muslim unless it was given freely and willingly. Do not, therefore, do injustice to yourselves.

Remember, one day you will appear before Allah and answer your deeds. So beware, do not stray from the path of righteousness after I am gone.

O People, no prophet or apostle will come after me and no new faith will be born. Reason well, therefore, O People, and understand words which I convey to you. I leave behind me two things, the QURAN and my example, the SUNNAH and if you follow these you will never go astray.


All those who listen to me shall pass on my words to others and those to others again; and may the last ones understand my words better than those who listen to me directly. Be my witness, O Allah, that I have conveyed your message to your people”.


- 9 DhulHijjah 10 AH (9 March 632) at Mount Arafat.

Wallahu a’lam

Courtesy of:
http://www.hadithoftheday.com/inspiration/islamic-information/the-last-sermon/

Hery Achmad mengatakan...

Saya sarankan kepada yang tidak memiliki ilmu yg cukup dlm wilayah ini menghindari kalimat-kalimat yg menyudutkan atau menjatuhkan kemuliaan keturunan ahlul bait rasulullah saw diantaranya alawiyin sebagai penerus keturunan al-imam al-muhajirin ilallah ahmad bin isa yang dipopulerkan oleh al-imam al-faqih muqaddam muhammad bin ali Ba'alawi,sebenarnya keturunan rasulullah saw yang sudah dijanjikan oleh allah swt untuk dimuliakan itu banyak bukan saja dari saada ba'alawi (jalur husein bin ali) tapi juga dari jalur hasan bin ali,namun dari jalur husein bin ali yang sangat menonjol di berbagai tempat di seluruh dunia,sedangkan keturunan-keturunan husein bin ali yang lainnya yang juga merupakan keturunan musa al-kazim, zaid bin muhammad al-bagir juga mempunyai peran dalam penyebaran Islam,hanya saja mereka berselisih faham dalam pokok-pokok ajaran Islam yang telah disederhanakan pula dengan perbedaan masalah furu'iyah seperti dalam aliran sunni ada itu disebut sebagai mazhab syafi'i atau sebagai mazhab hanafi, hambali dan maliki, di dalam syi'ah pun demikian, banyak sekali mazhab2nya yang terpecah,kalau kita mau jujur di dalam keluarga ahlul bait sendiri khususnya saada ba'alawi sebenarnya pada zaman dahulu ingin diberantas dan diberangus keberadaannya hingga hilang di muka bumi ini,tapi berkat kearifan dan kepandaianya al-imam al-faqih muqaddam muhammad bin ali ba'alawi jualah memilih bermazhab syafi'i beraliran sufi dengan menempuh thariqat tersendiri yaitu thariqat yang diciptakannya mengikuti thariqat2 para datuk2nya yang lebih dikenal sekarang dengan sebutan thariqat ba'alawi.
Adapun tujuan pemusnahan para keturunan rasulullah saw sejak wafatnya rasulullah saw sudah mulai dilakukan oleh org2 munafiq di sekeliling rasulullah saw yang semasa hidupnya mereka tidak mampu berbuat apa2 karena posisi muhammad bin abdulllah bin abdul muthalib adalah sebagai rasul allah swt yang dilindungi langsung oleh allah swt yang oleh karena itu setiap upaya2 apapun yang dilancarkan untuk menggagalkan misi rasul allah ini akan gagal juga dengan sebab2 yang sudah diatur oleh allah melakukan alamnya sebagai penguasa semesta alam.
Untuk itu saya sarankan kepada yang tidak berhak dalam wilayah ini mohon jangan mendekat,apalagi berbuat walaupun melalui komentar2 baik halus maupun kasar,karena allah maha mengetahui apa2 yang tidak kita ketahui, allah itu maha halus pengaturannya,karena allah pasti mengabulkan do'a kekasih tercintanya muhammad bin abdulllah rasulullah saw,do'a ini tertuang dalam hadis2 ysng mutawatir,silahkan cek kesahahihannya dan kemasyhurannya di dalam seluruh kitab perawi hadis, baik itu bukhori, muslim, dan lain2 seperti musnad abu daud at-turmizi, mutafaq alaih juga memaparkan bahwa dalam pernikahan ali bin abi thalib dan al-batul fathimah az-zahra rasulullah saw mendo'akan agar allah memberkahi pernikahan mereka berdua dan rasulullah saw memohon kepada allah swt agar dari keduanya dikaruniai keturunan yang menjadi pembuka pintu-pintu ilmu dan rahmat bagi semesta alam,shollu alannabiyi wa alihi wasallam,barokallahu li walakum, wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Hamba Allah SWT mengatakan...

Bismillahirrahmanirrahim...

Kebanggaan pada nasab dan suku merupakan kebanggaan yang paling digandrungi di kalangan kaum jahiliyah sedemikian sehingga setiap suku memandang sukunya sebagai suku yang paling hebat dan setiap ras menilai rasnya yang paling unggul.

Kelompok lainnya memandang harta, kekayaan, memiliki istana, pelayan, dan semisalnya sebagai nilai, dan senantiasa berusaha untuk mendapatkannya. Sementara kelompok lainnya menganggap strata sosial dan politik sebagai kriteria kemuliaan. Dengan demikian, setiap kelompok melangkah untuk meraih sebanyak mungkin apa yang dipandangnya sebagai kemuliaan dan menambatkan hati padanya.

Namun mengingat bahwa hal-hal ini bersifat berubah-ubah, material, transient tentu saja ajaran samawi seperti Islam sekali-kali tidak akan menerima hal tersebut; karena itu Islam menarik garis tegas dan menampakkan kebatilan masalah ini. Nilai faktual manusia terletak pada sifat-sifat takwa, beriman, committed, kesucian bahkan untuk hal-hal penting; seperti ilmu dan pengetahuan, apabila tidak berada pada jalan iman, takwa dan nilai-nilai moral maka keduanya tidak dipandang penting dalam Islam.

Menariknya sehubungan dengan sebab-sebab pewahyuan yang disebutkan atas ayat ini yang sejatinya mengisahkan tentang kedalaman ajaran Islam di antaranya bahwa setelah Fathu Mekkah, Rasulullah Saw memerintahkan supaya adzan dikumandangkan. Bilal naik di atas Ka’bah dan mengumandangkan adzan. Ithab bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah Swt karena ayahku telah wafat dan tidak melihat pemandangan seperti ini! Harits bin Hisyam juga menimpali, “Apakah Rasulullah Saw tidak menemukan orang selain “gagak hitam” seperti ini? Ayat di atas turun dan menjelaskan tentang kriteria nilai sejati dan kemuliaan ril.[1]

Dalam sebuah hadis kita membaca, “Suatu hari Rasulullah Saw menyampaikan khutbah kepada penduduk Mekah. Beliau bersabda, “Wahai Manusia! Allah Swt telah mencerabut dari kalian kejahatan jahiliyah dan kebanggaan atas nenek moyang. Manusia terdiri dari dua bagian; Pertama orang-orang budiman dan bertakwa serta bernilai di sisi Allah Swt. Kedua, orang-orang jahat dan rendah di sisi Allah Swt.

Seluruh manusia adalah anak-anak Adam dan Allah Swt menciptakan Adam dari tanah sebagaimana Dia berfirman, “, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.…”[2]

---- Cont .

Hamba Allah SWT mengatakan...

Dalam buku Adab al-Nufus Thabari disebutkan bahwa Rasulullah Saw pada hari-hari tasyriq (hari-hari 11, 12 dan 13 Dzulhijjah) di kota Mina selagi beliau menunggangi seekor unta beliau mengarahkan wajahnya kepada orang-orang di tempat itu dan bersabda,

“Ayyuhannas! Tuhan kalian adalah satu dan nenek moyang kalian adalah satu. Arab tidak lebih ungul atas Ajam dan juga Ajam tidak lebih superior atas Arab. Tidak kulit hitam atas kulit putih juga tidak kulit putih atas kulit hitam kecuali takwa. Apakah saya telah menyapaikan titah Ilahi?” Seluruh orang berkata, “Benar!” (Anda telah menyampaikan) Rasulullah Saw mengimbuhkan, “Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang gaib.”[3]

Dengan memperhatikan masalah ini dan sebab pewahyuan yang telah diuraikan maka menjadi jelas bahwa menghilangkan pelbagai perbedaan, ras, keragaman budaya adalah bersumber dari ajaran Islam dan hal ini dapat dijumpai pada al-Quran dan beberapa riwayat.

Karena itu, ayat di atas tidak berseberangan dengan masalah ini, sebagaimana akhir ayat juga menandaskan masalah ini,

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Adapun masalah bahwa dunia dewasa ini bergerak pada satu titik yang mengarah kepada kesatuan (unity) atau apa yang disebut sebagai desa global (global village), atau sebuah negara dengan adanya beberapa bahasa yang kemudian salah satunya yang diperkenalkan sebagai bahasa resmi, kesemua ini tidak bermakna bahwa pelbagai perbedaan yang terdapat pada umat manusia akan berakhir sehingga tidak sesuai dengan ayat 13 surah al-Hujurat, melainkan perbedaan-perbedaan ini berada dalam bentuk-bentuk yang lain.

Wallahu a’lam :)

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaikum Wa Rahmatulahi' Wa Barakatuh,

Demi masa (waktu, jam, jaman). Bahwa sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shalih, yang saling menasehati/menganjurkan dalam hak, yang saling menasehati/menganjurkan dalam kesabaran.

Alif Lam Mim
Inilah Kitab (Al Qur'an) yang didalamnya tidak ada keraguan ...

Alif = 1
Lam = 23
Mim = 24

24 = 12 malam / 00:00 (kegenapan malam dalam kehidupan, menuju dini hari [mati sa'jeroning urip, meninggalkan gelapnya dunia menuju titian menuju terbitnya nur, meninggalkan keinginan {nafsu dunia} [untuk mencapai ikhlas])
23 = 11 malam (ganjil, jamak, gelap = dunia, analogika)
1 = Yang satu (Allah di hadapan diri yang sadar diri [diri manusia yang mengakui jati dirinya {yang telah bertemu jati dirinya setelah mati sa'jeroning urip})

Untuk mencapai yang 1, maka tinggalkanlah yang ke 23, dan menitilah pada yang ke 24 {0}.

23 adalah keganjilan yang jamak (dunia, dan Anda paham kelak di alam ma'syar bahwa ia berupa perempuan tua yang berupa sesosok yang "aduhai membuat nelangsa", yang mana ia bersuami banyak namun ia telah memenggal/membunuh suaminya). Dunia tidak integral. Ia adalah fraksional. Ia adalah analogika (non-logis) dan bukan pro-logika. Dibagi berapapun ia, maka Anda tidak akan menemukan sisi tepatnya, dan Anda hanya akan menemukan pertanyaan demi pertanyaan. Dibandingkan dengan apapun dia, maka dia hanya akan menipu Anda dengan hasil yang fraksional. Anda membandingkan diri secara analogi terhadap bagian dari dunia ini, maka diri Anda akan tercerai berai. Ketika orang membandingkan dirinya terhadap orang lain, maka sesungguhnya ia sedang dalam keraguan atas dirinya sendiri (tidak tahu jati dirinya sendiri).

24 adalah 0, adalah kegenapan dalam keikhlasan, berlandaskan 6 sisi (rukun iman), dengan sisi atasnya berpilar 4 (4 masab), itulah keikhlasan dalam iman Islam, dan itulah "mati sa'jeroning urip" (mati dalam hidup). Dalam sikap 0 yang integral, menenggelamkan, dan tak terbagikan, maka Anda akan siap menuju ke kesatuan diri Anda sendiri = bertemu jati diri Anda sendiri, sehingga Anda tidak perlu menilai diri orang lain dan tidak perlu membandingkan diri Anda terhadap orang lain. Jujurlah kepada diri sendiri, maka akan dapat dengan yakin jujur kepada orang lain. Bukanlah ikhlas jika disertai kedustaan dan pengingkaran. Bukanlah ikhlas jika masih dapat diperbandingkan.

1 adalah setiap diri al-insan, 1 adalah Ia yang Maha Esa, setiap dari Anda adalah jati diri Anda. Anda bertemu Allah, jika Anda telah bertemu diri Anda sendiri. Adanya Anda, adalah supaya Anda mengetahui adanya Allah, sedangkan adanya Anda adalah karena adanya Allah. Namun Allah Maha Suci, Ia tidak jamak. Anda hanya harus memilih: Jika Anda ingin bertemu Yang Maha Suci dan Maha Esa, maka Anda harus tinggalkan yang ganjil-jamak (dunia), Anda harus menggenapkan hitungan (jujur), sehingga Anda Ikhlas (integral, tidak fraksional). Dan ketika Anda ikhlas, maka Anda dapat menerima "siapa diri Anda yang sejatinya". Jika Anda ikhlas, maka Andapun menerima "siapa Tuhan yang sejatinya (Allah!)". Jika Anda tidak ikhlas, maka dihati Anda mungkin ada "selain daripada-Nya", berhati-hatilah dengan sifat yang suka mendua hati.

Pahami baik-baik tulisan di atas. Tidak perlu Anda bertanya siapa yang menulis, namun tanyakanlah apakah diri Anda sudah ikhlas atau belum terhadap Allah dan qodo'Nya serta qodar'Nya.

Wasalamu'alaikum Wa Rahmatullahi' Wa Barakatuh,

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaikum Wa Rahmatulahi' Wa Barakatuh,

Demi masa (waktu, jam, jaman). Bahwa sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shalih, yang saling menasehati/menganjurkan dalam hak, yang saling menasehati/menganjurkan dalam kesabaran.

Alif Lam Mim
Inilah Kitab (Al Qur'an) yang didalamnya tidak ada keraguan ...

Alif = 1
Lam = 23
Mim = 24

24 = 12 malam / 00:00 (kegenapan malam dalam kehidupan, menuju dini hari [mati sa'jeroning urip, meninggalkan gelapnya dunia menuju titian menuju terbitnya nur, meninggalkan keinginan {nafsu dunia} [untuk mencapai ikhlas])
23 = 11 malam (ganjil, jamak, gelap = dunia, analogika)
1 = Yang satu (Allah di hadapan diri yang sadar diri [diri manusia yang mengakui jati dirinya {yang telah bertemu jati dirinya setelah mati sa'jeroning urip})

Untuk mencapai yang 1, maka tinggalkanlah yang ke 23, dan menitilah pada yang ke 24 {0}.

23 adalah keganjilan yang jamak (dunia, dan Anda paham kelak di alam ma'syar bahwa ia berupa perempuan tua yang berupa sesosok yang "aduhai membuat nelangsa", yang mana ia bersuami banyak namun ia telah memenggal/membunuh suaminya). Dunia tidak integral. Ia adalah fraksional. Ia adalah analogika (non-logis) dan bukan pro-logika. Dibagi berapapun ia, maka Anda tidak akan menemukan sisi tepatnya, dan Anda hanya akan menemukan pertanyaan demi pertanyaan. Dibandingkan dengan apapun dia, maka dia hanya akan menipu Anda dengan hasil yang fraksional. Anda membandingkan diri secara analogi terhadap bagian dari dunia ini, maka diri Anda akan tercerai berai. Ketika orang membandingkan dirinya terhadap orang lain, maka sesungguhnya ia sedang dalam keraguan atas dirinya sendiri (tidak tahu jati dirinya sendiri).

24 adalah 0, adalah kegenapan dalam keikhlasan, berlandaskan 6 sisi (rukun iman), dengan sisi atasnya berpilar 4 (4 masab), itulah keikhlasan dalam iman Islam, dan itulah "mati sa'jeroning urip" (mati dalam hidup). Dalam sikap 0 yang integral, menenggelamkan, dan tak terbagikan, maka Anda akan siap menuju ke kesatuan diri Anda sendiri = bertemu jati diri Anda sendiri, sehingga Anda tidak perlu menilai diri orang lain dan tidak perlu membandingkan diri Anda terhadap orang lain. Jujurlah kepada diri sendiri, maka akan dapat dengan yakin jujur kepada orang lain. Bukanlah ikhlas jika disertai kedustaan dan pengingkaran. Bukanlah ikhlas jika masih dapat diperbandingkan.

1 adalah setiap diri al-insan, 1 adalah Ia yang Maha Esa, setiap dari Anda adalah jati diri Anda. Anda bertemu Allah, jika Anda telah bertemu diri Anda sendiri. Adanya Anda, adalah supaya Anda mengetahui adanya Allah, sedangkan adanya Anda adalah karena adanya Allah. Namun Allah Maha Suci, Ia tidak jamak. Anda hanya harus memilih: Jika Anda ingin bertemu Yang Maha Suci dan Maha Esa, maka Anda harus tinggalkan yang ganjil-jamak (dunia), Anda harus menggenapkan hitungan (jujur), sehingga Anda Ikhlas (integral, tidak fraksional). Dan ketika Anda ikhlas, maka Anda dapat menerima "siapa diri Anda yang sejatinya". Jika Anda ikhlas, maka Andapun menerima "siapa Tuhan yang sejatinya (Allah!)". Jika Anda tidak ikhlas, maka dihati Anda mungkin ada "selain daripada-Nya". Berhati-hatilah dengan sifat yang suka mendua hati, karena sifat ini akan suka membandingkan setiap diri terhadap diri yang lain, bahkan hingga membandingkan Allah dengan selain Allah. Iblis, membandingkan dirinya terhadap Adam, maka iapun tidak mahu melaksanakan perintah Allah untuk berhormat kepada Adam, dan itulah bahwa "membandingkan diri dengan si anu si anu dan si anu, adalah kesombongan, maka waspadailah!".

Pahami baik-baik tulisan di atas. Tidak perlu Anda bertanya siapa yang menulis, namun tanyakanlah apakah diri Anda sudah ikhlas atau belum terhadap Allah dan qodo'Nya serta qodar'Nya.

Mari kita jujur, dan berlogika!
24-23-1=0
0/N = ERROR
0/0 = ERROR
0+N = N
0-N = -N
0 x N = 0

Wasalamu'alaikum Wa Rahmatullahi' Wa Barakatuh,

Anonim mengatakan...

assaalamualaikum
kebetulan saya ada seorang syarifah dan saya mensyukurinya. tapi saya tidak suka dengan pendapat ahlul bait lainnya yang berkometar diatas yang terlalu membanggakan diri dan terkesan merendahkan saudara kita yang merupakan non-arab . semua yang kita lakukan semua yang terjadi dalam hidup kita sudah dituliskan oleh Allah SWT dan itu merupakan misterinya dimana kita sebagai manusia hanya bisa berserah dan berdoa untuk yang terbaik. masalah pernikahan atau jodoh pun ada ditangannya,baik pernikahan antara syarifah dengan sayyid,atau syarifah denan non-sayyid. pernikahan syarifah dengan non-sayyid pun sudah merupakan takdir yang Allah tuliskan dan pasti Allah mempunyai tujuan atas semua itu. alangkah baiknya kita ahlul bait saling mengingatkan satu sama lain untuk tidak terlalu membanggakan diri atas diri kita dan saling mengingatkan untuk menghargai perbedaan yang ada didalam forum ini. mencintai Rasulullah adalah kewajiban dan saya yakin semua umat muslim sepakat akan hal itu baik arab maupun non-arab,serta saudara-saudara kita yang masih kurang sepaham dengan pernikahan ahlul bait bukan berarti mereka berniat untuk menentang apa yang sudah menjadi ketentuan nabi Muhammad SAW atau bukan berarti mereka tidak mencintai Rasulullah tetapi mereka hanya kurang paham atas apa yang telah kita pahami,atas apa yang telah ditanamkan kepada kita sejak kita masih berumur muda. apa kah artinya berstatus ahlul bait jika kita tidak bisa menunjukkan sifat2 Nabi Muhammad SAW,apakah artinya berstatus ahlul bait tapi kita malah merendahkan orang2 yang seharusnya kita beri pengertian tentang golongan kita.

wassalamualaikum:)

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum...
Saya juga seorang ahlul bait dari garis keturunan Nabi ADAM AS, tapi keluarga saya tidak mengenal nasab...

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.