Hasanah, sebut saja nama perempuan ini, mungkin tak pernah membayangkan imbas menjadi bagian dari keturunan Nabi Muhammad, ahlul bait. Pengakuan yang sedemikian disakralkan di tengah keluarga seolah tak boleh dilanggar. Demi kemurnian garis keturunan ke jalur Sang Nabi.
Agar tersambung nasab sebagai ahlul bait, Hasanah diharuskan menikah oleh keluarganya dengan sesama ahlul bait. Tidak boleh dengan orang di luar ahlul bait. Jadi, wacanya bukan soal Islam atau bukan. Bukan pula lelaki itu saleh atau tidak. Bukan pula si calon pelamar itu berpendidikan tinggi atau ala kadarnya.
Persyaratan bagi perempuan keluarga ahlul bait adalah dia diharuskan menikah dengan sesama keturunan Nabi. Sementara bagi kaum lelakinya, diperbolehkan menikahi perempuan di luar ahlul bait. Diskriminatif? Silakan menilai sendiri, yang jelas beginilah logika patriark digunakan oleh kalangan yang mengaku ahlul bait.
Maka, meskipun pintar dan paham bahwa pernikahan itu mestinya dilandasi oleh takwa (bukan keturunan siapa) hanya menjadi teori di Hasanah. Dia bergeming dengan aturan ketat di keluarganya. Aturan yang turun-temurun ingin dilestarikan tanpa peduli keinginan Hasanah yang sudah ingin mendapatkan pendamping. Konon, Fatimah putri Nabi pernah berpesan bahwa anak keturunannya harus menikah yang perempuan dengan sesama ahlul bait. Mitos ini yang dipegang di tengah keluarga Hasanah.
Hasanah, selain berpendidikan, juga rupawan. Tak heran lelaki pun tergerak untuk meminangnya. Sayang, yang datang kalangan biasa-biasa saja, alias bukan keturunan Nabi. Maka, sekalipun si lelaki itu saleh dan bergelar master, orangtua Hasanah mencoretnya sebagai bakal menantu. Tidak hanya orangtua, kakak-kakaknya mayoritas berpemikiran serupa. Maka, nyaris Hasanah terbelenggu dengan aturan yang bagi orang kebanyakan musykil itu.
Bagaimana kita bisa membuktikan jalur nasab seseorang itu terhubung sampai ke Nabi Muhammad? Silsilah yang dipampang di rumah habib-habib yang mengaku ahlul bait sering kali masih perlu ditelusuri keabsahannya. Sayang, yang terjadi sepertinya pemitosan mutlak bahwa mereka tergolong keturunan Nabi. Klaim-klaim yang kadang kala menjadi absurd dan irasional tatkala dikaitkan dengan perilaku keseharian mereka. Seolah menjadi keturunan Nabi pasti jaminan dapat syafaat dan surga di akhirat. Padahal, urusan syafaat dan akhirat adalah terkait ridha Allah dan praktik mengikuti syariat-Nya.
Hasanah bukannya tak ingin melawan. Sayang, kekuatannya seperti tak ada. Ia tak seperti seorang kakak perempuannya yang seperti sudah dicampakkan keluarga lantaran memberontak: menikah dengan kalangan di luar ahlul bait. Sebuah pilihan berdiam dari Hasanah yang kemudian harus diterimanya tatkala keluarganya tak peduli memandang soal kesalehan, kepintaran, atau bahkan harta benda. Pokoknya, asal ahlul bait yang lain masa bodoh.
Sebuah pilihan tanpa pilihan yang amat menyesakkan dada perempuan bernalar mana pun. Kalaulah ahlul bait itu sekumpulan manusia dengan perilaku mendekati Hasan dan Husein, aturan ketat ini tak jadi soal. Tapi bagaimana bila sang ahlul bait itu hanya lulusan SMP, kesalehan tak jelas tapi sudah digadang-gadang punya jalur nasab hingga ke Nabi? Sungguh, bila Nabi kita hadir di tengah kita, beliau akan pedih melihat pilihan perempuan untuk menikah diperosokkan oleh keluarganya dengan parameter yang merampok nama baik beliau.
Hasanah, keluarganya, dan para pengaku ahlul bait, sebenarnya secara fisik tidak tampak lagi Arab. Jauh berbeda dengan beberapa teman akrab atau kenalan saya yang jelas-jelas masih mempertahankan keakraban dan/atau keislaman ala Timur Tengah. Adapun di keluarga Hasanah di daerah Pantura Jawa, sudah secara fisik lebih dominan Indonesia (ayahnya yang mengaku ahlul bait, tak tampak sebagai lelaki Arab; sang ibu Indonesia tulen!), partainya pun ikut Golkar dengan fanatik (bahkan karena Hasanah menjatuhkan pilihan untuk memilih sebuah partai Islam, membuatnya dibenci), namun dengan mantap memasang diri sebagai ahlul bait.
Mencintai Nabi dan keturunannya adalah sunnah. Terlebih ketika mereka menjalankan perintah-perintah Allah yang pernah dipraktikkan Nabi. Bila ada keturunan yang mengaku bernasab ke Nabi tapi perilakunya menyerupai musuh dakwah dan aturan Nabi, sungguh gelar ahlul bait hanyalah pengomoditasan belaka. Ada nilai ekonomi di balik klaim-klaim yang dipampang di ruang tamu mereka yang menyebut diri ahlul bait.
Hari ini, kita lebih butuh mencintai para keluarga Nabi yang meski tak bersilsilah ke beliau namun jelas-jelas menjadi ahli sunnah yang konsisten. Teguh memegang agama ini meski serupa menggenggam bara api di tengah cemoohan banyak orang.
Cukuplah yang dialami Hasanah, hari-hari ini usai pernikahan dengan sesama ahli bait, ia yang dulu ketat menjaga lisan,sikap, hingga busana, mulai membuka terang-terangan kepedihannya.[]




3 komentar:
tentang pembuktian nasab yang bersambung dengan Imam hasan maupun Husain. pemeliharaan nasab dikalangan orang Alawy (sebutan lain komunitas habaib/sayyid)telah dilakukan sejak lama. bahkan ketika kalangan ahlul bait (ahmad ibn Isa al-Muhajir) datang berpindah dari bashrah ke madinah dan terakhir menetap di hadramaut/ulaiti (yaman Selatan), penduduk lokal yaman telah menkonfirmasi kebenaran nasab dari ahmad ibn isa al-muhajir ke madinah. selanjutnya suku yang pertama kali menerima rombongan ahmad ibn isa al-muhajir dikenal dengan klan Bafadhal. Dalam budaya orang Arab tradisi menjaga Nasab (dengan penyebutan nama sampai 3 generasi) tidak hanya dilakukan oleh orang-orang Alawy saja. Sehingga orang yang berusaha memalsukan galur nasabnya akan ketahuan keasliannya. ketika rombongan orang2 hadramaut datang ke Indonesia, merekapun tetap saja memegang galur nasab mereka, baik imigran dari Sayid, masyaikh, maupun qabail.
untuk penjagaan secara formal, didirikan rabithah alawiyyah dengan maktab daimi sebagai bagian penjamin dan pengelola keotentikan nasab warga alawiyyin indonesia. Lembaga ini beberapa kali mengungkap bahwa ada beberapa pihak yang mengaku sebagai habib. kasus terakhir adalah abdurahman assegaf yang beberapa kali muncul di media yang mengeluarkan statement tak berdasar dan memecah belah umat. Habib Riziq meminta secara langsung Rabithah alawiyyah memeriksa keaslian galur nasabnya. dan terbukti memang palsu.. rabithah alawiyyah mengeluarkan surat resmi yang menyatakan kepalsuan nasab dari yang bersangkutan. (saya baca di majalah sabili tahun 2011)
dari awal di keluarga saya (karena keluarga saya juga termasuk dalam qabilah Ba'alawy seperti halnya keluarga syihab, alhabsyi, aljufri, dsb)
penekanan untuk tidak mengadang-gadangkan nasab ditekankan sejak awal, buku nasab yang dikeluarkan resmi oleh maktab addaimi (semacam passport u/ orang Alawy ), tertulis "hendaknya menjadi pendorong begi anda untuk selalu tetap mengikuti kepribadian mereka, berperangai selaras akhlaq mereka, berpegang teguh dengan tuntunan serta ajaran mereka dan mengikuti jejak teladan para imam mereka, sehingga semoga anda menjadi generasi penerus yang baik dari generasi pendahulu yang luhur". tapi memang pada kenyataannya banyak yang tidak mengikuti nasihat tersebut.
tapi tak bisa digeneralisir kalau semua orang alawy tidak baik. buktinya kalau di Tarbiyah ada Ustadz Salim segaf al-Jufri dan ustadz Abu Bakar al-Habsyi. *setidaknya itu yang saya tahu habib yang ada di jama'ah tarbiyah
memang dalam masalah pernikahan sesama orang alawy sudah sejak lama menjadi polemik tidak hanya di Indonesia, tapi memang sejak di Yaman sudah bermasalah, di indonesia puncaknya mungkin dengan kejadian pecahnya Jamiatul-Khair menjadi rabithah alawiyyah dan al-irsyad al-islamiyyah.
saya memandangnya itu sebagai bagian dari sistem tradisi yang menekankan untuk memegang tradisi, baik dari orang alawy maupun masyaikh juga melakukan hal yang sama dalam masalah pernikahan. Mungkin sama halnya juga dengan pernikahan dengan orang-orang satu harokah dakwah. muncul juga penekanan untuk menikah dengan orang yang satu harokah. Wa Allahu A'lam
*numpang curcol
lebih susah lagi saya pak kalau menikah, Umy saya menekankan untuk menikah dengan Syarifah/Sayyidah tapi di sisi lain, saya juga orang Tarbiyah. dan akhwat tarbiyah yang juga syarifah/sayyidah hampir tidak ada. hehe
Saya doakan Fahmi tidak dipersulit, atau mampu mengatasi batasan-batasan kultural tersebut. (Btw, terima kasih informasinya yang cukup detail.)
OK pak... semoga bisa mengatasi batasan-batasan kultural yang muncul..
Poskan Komentar
Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.