Perokok di Pasar Tradisional


godeanbisnis.blogspot.com
Saya dan istri bersepakat soal pentingnya mengenalkan pasar tradisional kepada Emira. Agar Emira tidak beranggapan bahwa pasar itu hanya supermarket atau minimarket yang kian menjamur di Yogyakarta. Kalau diajak ke pasar ‘modern’, Emira sudah beberapa kali dan tidak ada persoalan.

Keinginan kami agar Emira juga tahu dan peduli pada para pedagang pasar tradisional itu diwujudkan dengan mengajaknya berbelanja di pasar pagi yang tak jauh dari tempat tinggal kami. Dalam sepekan paling tidak tiga hari kami ajak Emira ke sana. Melihat lalu lalang pasar, meskipun saya tahu bahwa pasar merupakan tempat yang tidak disukai oleh Nabi menurut sebuah riwayat.


Tentu saya paham, makna ketidaksukaan beliau bukan karena apriori pada profesi pedagang—apalagi kelas kecil di pasar tradisional. Melainkan, karena akan melalaikan dari ibadah. Untuk urusan ini sudah selesai. Yang kemudian jadi persoalan ternyata para lelaki di pasar tradisional. Apa pasal?

Berbeda dengan pasar modern yang memakai penyejuk ruangan sehingga tidak sembarang perokok masuk, di pasar tradisional dekat tempat kami para lelaki perokok seperti mendapatkan tempat yang tepat. Pagi hari nan dingin, entah berbelanja sendiri atau mengantar istri, para lelaki Jawa itu dengan santai dan tanpa dosa menghembuskan rokok. Blus, blus tak peduli ada perempuan hamil, bayi kecil atau bahkan orang asma.

Ini yang sukar saya toleransi tatkala mengajak Emira ke pasar. Agenda menurunkan dia ke jalan dan melihat lapak demi lapak harus diurungkan. Lelaki perokok tak kenal toleransi. Dengan santai tersu bak lokomotif berjalan di kecepatan seratusan km/jam.

Akhirnya, Emira hanya saya gendong atau kadang saya turunkan di tanah, di area sekitar pasar tapi tidak masuk ke bagian dalam. Itu saja masih harus kejar-kejaran dengan para perokok yang menikmati arti demokratisasi dan fatwa makruh rokok.

Bagi saya, ini dilema. Mau meninggalkan pasar tradisional, dengan alasan tak ingin rokok terhirup kami sekeluarga, rasanya saya seperti menanggalkan pemihakan saya kepada kelas bawah selama ini. Kalau tak acuh soal perokok ini, saya juga zalim pada hak anak dan istri. 

Saya sebenarnya berharap, suatu ketika pasar-pasar tradisional pun dibuat bebas rokok. Para perokok dilokalisasi di kawasan tertentu agar tidak mengusik ketenangan warga yang alergi atau antirokok. Semoga saja dengan adanya para perokok tidak menyurutkan kami untuk tidak ke pasar tradisional. Modal masker tidak bisa diabaikan.[]

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.