Mencibir Pencitraan Jokowi


tribunnews.com
Logika publik sepertinya belum bisa menalar minimnya antusiasme Gubernur Jawa Tengah terhadap terobosan yang dilakukan Walikota Solo Joko Widodo (Jokowi) sebagai duta produk Kiat Esemka, mobil buatan para siswa SMK di Solo.

Alih-alih mendukung upaya Jokowi menjadikan Esemka sebagai produk massal, Gubernur bersikap dingin. Senada dengan sikap Gubernur Jateng, beberapa kepala daerah memperlihatkan solidaritas untuk mencibir pemasaran ala Jokowi. Mereka mengait-ngaitkan langkah Jokowi untuk menjadikan Kiat Esemka sebagai mobil dinas sebagai taktik politik dalam pemilihan gubernur. 


Dengki Citra

Kepala daerah hasil pemilihan langsung memang memahami betul apa kegunaan pencitraan di media. Naiknya mereka selaku pejabat di daerah juga salah satunya ditopang oleh pencitraan. Interaksi intensif dengan dunia pencitraan ini membentuk tindakan pencitraan yang spontan. Maka, setiap ada aksi atau tindakan dari pihak lain, dengan segera dilogikakan sebagai pencitraan. Seolah-olah yang dilakukan pihak lain sama dengan caranya.

Pencitraan dijadikan dalil kuat untuk menilai dan mengevaluasi pihak lain. Sebagian kepala daerah menjadi begitu cepat fasih menyebut pencitraan pada tindakan Jokowi karena didasarkan atas mekanisme yang telah mereka kerjakan selama ini. Kerja-kerja mencitrakan dirinya selama ini dianggap identik dengan yang dilakukan Jokowi. Asumsi altruistik dan patriotik ala Jokowi dianggap hanya sebagai penopengan dari misi politiknya.

Inilah era saat citra jadi sumber daya yang diperebutkan. Kendati niat seseorang bertindak adalah untuk kemajuan masyarakat, tetap saja ada dilihat sebagai pencitraan. Citra yang selalu jadi komoditas utama dan unggulkan seorang kepala daerah tidak ingin diambil alih oleh pihak lain, termasuk oleh kepala daerah yang sebetulnya tidak berhubungan dengan pembangunan di daerah pejabat pencibir.

Namun karena meluasnya pemberitaan dan positifnya sambutan publik, ada beberapa kepala daerah yang tampaknya tersaingi dengan pencitraan Jokowi. Dibuatlah pelbagai alasan untuk mengangkat diri mereka. Kepala daerah yang cerdas dalam mempertahankan modal citranya biasanya melakukan dengan perbandingan. “Belum ada yang bisa menandingi kemampuan siswa-siswa SMK kami terkait perakitan mobil siswa,” ujar seorang kepala daerah membanggakan potensi SMK di daerahnya. “Saya juga pakai notebook bikinan siswa SMK,” tandas kepala daerah yang lain. Sementara itu ada sebagian kepala daerah justru reaktif. “(Menggunakan mobil Esemka) hanya bagus untuk tag line untuk pencalonan presiden atau gubernur,” kata seorang kepala daerah.

Di tengah cibiran dari sesama kepala daerah, bersyukur masih ada kepala daerah lain yang ingin meniru langkah Jokowi dan Esmeka sebagai bahan pembelajaran. Walaupun di antara kepala-kepala daerah yang mengaku terinspirasi itu masih perlu dinantikan kiprahnya apakah murni untuk memajukan inovasi rakyatnya ataukah sekadar belajar dari keinginan memperoleh pencitraan positif yang diraih Jokowi saat ini.

Basis Kinerja

Dalam konteks pencitraan produk, yang dilakukan Jokowi dengan memasarkan Esemka bisa dikatakan berhasil. Pembicaraan tentang mobil nasional kembali hadir setelah Esemka mendapat ekspose di mana-mana. Sebagian pihak lantas mengaitkan antusiasme masyarakat untuk menyimak hingga memesan mobil tersebut sebagai ekspresi kebanggaan terhadap daya kreasi anak bangsa yang hari-hari ini banyak ditutupi kasus korupsi, kekerasan, dan diskriminasi hukum.

Antusiasme publik di tanah air perlu dibedakan dengan euforia sesaat (fads). Kehadiran dukungan tinggi publik terhadap Kiat Esemka bisa disejajarkan ketika masyarakat pencinta sepak bola berduyun-duyun mendukung tim nasional bertanding di ajang SEA Games beberapa waktu lalu. Sama-sama sebagai komoditas yang mengidentifikasi merakyat, harga jual mobil murah dan tontonan sepak bola menjadi pemenuh dahaga kebanggaan berbangsa yang telah lama miskin prestasi. Di sepak bola telah lama berpuasa gelar, di bidang otomotif kita hanya jadi konsumen produsen asing. Jadi, ada kerinduan lama untuk hadirnya sebuah ikon kemajuan bangsa.

Berbeda dengan sepak bola yang ajang pertandingannya diagendakan dan jauh-jauh diketahui publik luas, mobil buatan siswa SMK butuh gebrakan lebih untuk mengenalkannya sampai memunculkan kebanggaan. Upaya Jokowi untuk menggunakan Esemka sebagai mobil dinas sekaligus mengawal perkembangan siswa di daerahnya amat sepadan kalau kemudian banyak mendapat pujian. Jadi, citra yang didapatnya tidak serta-merta hadir atau berasal dari membeli suara rakyat dengan uang sebagaimana lazim dilakukan para kepala daerah.

Justru karena citra yang diraih Jokowi dengan kerja keras pula, upaya mencitrakan diri ala kepala daerah seperti mendapat sindiran. Apalagi Jokowi terang-terangan mengecam kegemaran pejabat yang suka memakai mobil dinas mewah, makin membuat mereka yang sadar taktik mencitrakan dirinya terungkap memilih untuk memusuhi kesuksesan pencitraan Jokowi.

Inilah realita sekaligus konsekuensi berdemokrasi dengan pencitraan berbasiskan bukan kinerja. Bila selama ini semua aktivitas sebagai pejabat dipolitiskan demo mencitrakan diri, begitu ada pejabat yang lain melakukan dengan kinerja yang berhasil mengundang dukungan publik justru dicibir sebagai langkah narsis. Memang, susah berharap kejujuran dan keadilan menilai pada kepala daerah yang terbiasa menarsiskan diri.[]

2 komentar:

obat alami untuk usus buntu mengatakan...

Sebaiknya gak usah lahh jadi duta Esemka segala, dia kan pejabat, selaku pejabat tidak boleh menjadi maskot suatu brand. .itu ke arah sifat yang tidak netral. . . .

UKNQ mengatakan...

Jadi pemimpin memang susah, berbuat baik dicibir, menyeleweng dicela

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.