Kapitalis Tanpa Hati

indiadaily.org
Adik saya kedua belum lama ini dipecat dari kantornya, sebuah pabrik garmen di kota kelahiran kami: Cirebon. Pabrik milik warga India ini memiliki bos yang sangat pantas diperbincangkan para pencinta pluralisme dan kebhinekaan negeri ini. Gara-gara dipergoki shalat Ashar, adik saya dikeluarkan. Tidak ada alasan pencurian diam-diam atau melakukan pelanggaran kriminal yang lain.

Tapi itulah aturan di sana; setiap karyawan yang didapati mangkir di jam kerja, bahkan sekadar untuk beribadah, bersiap-siap untuk dikeluarkan. Jam kerja adalah hak kantor, shalat itu melanggar kesepakatan kerja. Maka, dari kebijakan ini lahir para karyawan yang sembunyi-sembunyi beribadat. Maklum, di Cirebon bagaimanapun shalat masih dikerjakan bila ia masih beratribut selaku Muslim. Untuk shalat Zuhur masih mending, sempat dikerjakan di sela waktu rehat, meski mestinya ini tidak dihitung rehat.

Entah mengapa di tanah yang banyak pesantren ini ada perilaku melawan kebebasan menjalankan agama mayoritas. Namun entah mengapa pula, belum ada upaya dari pihak terkait untuk menyelesaikan kezaliman ini. Logika masih banyaknya pekerja yang mencari sesuap nasi ketimbang mempertahankan karyawan yang mengorupsi waktu lantaran shalat, tentunya tidak masuk akal.

Iktikad si pemilik untuk antiagama memang bukan dalam hal shalat saja. Saat Ramadhan, pemberian kurma dan minuman penyerta berbuka puasa diberikan kantor tapi belakangan ini diketahui merupakan pemotongan gaji pekerja! Demikian pula dengan bingkisan Lebaran berupa sajadah yang mereka produksi, tidak cuma-cuma ternyata.

Perilaku majikan India ini tiba-tiba terafirmasi saat saya membaca ulasan buku Shehzad Nadeem (2011) terbaru di Kompas (15/1/2012): Dead Ringers: How Outsourcing is Changing the Way Indians Understand Themselves. Perilaku bekas majikan adik saya ternyata mencerminkan kebiasaan (sikap) kapitalis di negeri asalnya dalam memperlakukan tenaga kerja, terlebih tenaga alih daya (outsourcing).

Dalam buku itu diulas bahwa pandangan yang melihat tenaga alih daya India lebih produktif dan lebih murah menjadi alasan berbagai perusahaan memilih mempekerjakan tenaga kerja India. Bagian dari daya tarik lain tenaga kerja India adalah kesediaannya untuk bekerja keras. Namun, dampaknya tenaga kera alih daya India menjadi semakin terasing dari dunianya.

Ya, teman-teman adik saya harus berangkat sebelum subuh agar sampai di kantor tidak terlambat setengah menit pun. Harus membawa sarapan dan makan siang agar semua bisa dikerjakan di jam kerja secara ketat dan kaku. Kedisiplinan bukan lagi bicara menghargai kesepakatan, tetapi sudah bicara: mau melawan sistem kami atau tidak. Hanya karena terlambat semenit akibat ban motor bocor, adik saya tanpa ampun diusir. Senasib dengan karyawan lain yang terlambat dengan alasan rasional tanpa berbohong sekalipun.

Bila Nadeem menyebut soal “keterasingan dari dunia” bagi pekerja alih daya India, demikian pun yang terjadi di tempat adik saya. Mereka seperti berada di dunia lain; dunia yang melewati kedisiplinan kaku ala militer. Bahkan semua main ancaman, ini yang lebih parah. Kecepatan kerja dan efisiensi jadi kiblat menilai, tanpa mau tahu apakah karyawan punya hak menjalankan kepercayaannya ataukah tidak. Pun soal kesejahteraan sudah tercukupi ataukah belum, ini abai diperhatikan sang majikan adik saya.

Tidak heran bila kemudian Nadeem dalam buku tersebut menyimpulkan bahwa penerapan tenaga alih daya, dimotivasi oleh penghematan biaya, ternyata menghadirkan masyarakat pekerja yang stres akibat lelah secara fisik dan psikologis serta hanya memiliki waktu yang sedikit untuk kehidupan sosial.

Rupanya telaah di buku itu tak hanya terjadi di negeri leluhur Nadeem, tapi juga di bumi Pancasila ini. Sungguh sayang, masih ada arogansi dari pendatang.[]

2 komentar:

ayip7miftah mengatakan...

Memang lebih baik mundur begitu, Pak.
Semoga adik panjenengan segera mendapatkan pekerjaan kembali yang lebih baik.

Yusuf Maulana mengatakan...

Betul, Mas Ayip. Doakan ia mendapat pengganti yang lebih baik dalam hal ini. Terima kasih atas kunjungannya.

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.