Emira dan iPad


 bestkidsapps.com
Saya tak berniat mendinikan iPad di rumah untuk dikenali Emira. Bagi saya, pengenalan pada bacaan teks berbasis kertas tidak bisa dikompromikan. Mengenalkan Emira pada buku, koran, majalah dan tentunya Qur`an dari kertas-kertas itu lebih saya fokuskan ketimbang mengenalkannya pada televisi atau internet. Telepon seluler (ponsel) sebisa mungkin tidak dipeganginya lantaran ada faktor risiko bagi anak kecil.

Dari kebiasaan diperlihatkan saat istri saya mengajaknya bermain, lama-kelamaan kebiasaan Emira meniteni pun hadir. Dia yang awalnya cuma ditemani, ingin bermain sendiri. Dari agak tergopoh-gopoh menggeser, sweep Emira akhirnya kian hari kian lancar di tablet Apple itu. Kini, dia tidak perlu kami temani saat ingin bermain dengan iPadnya. Cukup kami temani di sampingnya. Mengingat gadget ini hanya ber-wifi saya tidak begitu mencemaskan. Apalagi isi tablet ini juga semua memang dipenuhi games dan bacaan edukatif.


Terkadang saat orangtuanya mengantuk, Emira dipersilakan bermain sendiri. Aplikasi permainan ke sekolah, dia begitu suka. Video Sesame Street juga dia antusias. Mengenal huruf dia senang ingin memainkannya berulang-ulang. Dan banyak aplikasi yang dia coba-coba sendiri. Ketika kami tengah asyik memainkan bersama dia, begitu tahu yang menikmati adalah orangtuanya, Emira bisanya mengganti aplikasi berbada. “Ini bukan kesukaan saya!” Mungkin begitu pikirnya.

Apakah saya terobsesi menjadikan iPad sebagai media edukasi Emira? Bisa ya, bisa tidak. Biasa saja meski tentu saja saya bersyukur atas nikmat hadirnya iPad pemberian sebuah perusahaan bisnis IT di Jakarta ini. Toh, ada beragam hal yang bisa saya belokkan pemanfaatannya ke hal yang amat positif. Kebiasaan Emira mendengar azan maghrib di televisi bisa digantikan dari iPad. Nyanyian mengenal huruf hijaiyah tidak lagi dari laptop tapi cukup putar iPad. Pendek kata, ada peringkasan waktu dari yang semua menggunakan laptop.

Meski memiliki banyak manfaat, iPad tetap harus saya letakkan di pikiran Emira sebatas sebuah produk. Ia bukan benda yang harus dipuja-puja hingga harus fanatik buta. Mengagumi karya Apple ini tak berarti membebaskan diri untuk tidak berani mengkritiknya. Belum lagi, Emira kelak harus memosisikan diri selaku pengguna aktif, alias tidak sekadar menikmati karya dari luar. Ia perlu mempelajari materi di gadget semacam itu untuk kemudian melahirkan karya bagi bangsanya.

Dengan mengenalkan iPad pada Emira, singkatnya, tidak melulu bicara soal edukasi kecerdasan anak, tapi juga membangun mental mandiri. Memuji tak berarti terus-menerus dijerat dalam posisi selaku konsumen. Saya tak ingin Emira dan anak segenerasinya tetap adi konsumen teknologi komputer seperti orangtua mereka.[]

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.