Belajar pada Apriyani


republika.co.id
Apriyani Susanti sebenarnya memberikan pelajaran berharga pada kita. Soal kejujuran. Entah mengapa, dari berkali-kali video yang memutar wajahnya usai membunuh sembilan manusia dan menciderai tiga manusia Ahad lalu, tak ada raut kesedihan. Dingin dan tak ada keterkejutan. Bahkan, santer diberitakan ia sempat memarahi seorang warga yang di lokasi kejadian mempertanyakan perbuatannya.

Sebagai manusia dewasa dan berpendidikan, Apri jelas tidak bisa menanggalkan keibaan pada para korban yang dibunuhnya. Bukti dan saksi sudah jelas memperlihatkan posisinya bersalah. Maka, kali pertama dia tidak memperlihatkan keterkejutan, ini kebohongan pertama. Sedangkan menyalahkan pihak lain, sebagaimana ia perlihatkan kepada warga yang memprotesnya, merupakan kebohongan kedua.

Perempuan tambun ini tampaknya terbiasa hidup dengan kebohongan. Paling tidak ia terbiasa dengan pencitraan. Memoles diri bak artis di panggung sepertinya ditiru dari aktivitasnya di rumah produksi, baik untuk iklan maupun film. Ia tahu kapan berakting untuk memperlihatkan wajah tak sebenarnya yang bopeng.

Maka, tak perlu heran bila ia sering berkelit. Mengaku rem blong, plintat-plintut saat dimintai keterangan. Pun demikian saat segelintir rekannya membela buta Apri dengan dingin saat merespons kemarahan publik di jejaring sosial.

Apri merupakan anak zaman kebohongan. Ia pun ikut andil di dalamnya bahkan sepertinya menikmati. Bagi keluarga, terutama ibunya yang aktivis pengajian, ia figur mandiri dan baik-baik. Mereka seperti berhasil dikelabui dari kesalehan Apri di mata keluarga. Padahal, minuman keras dan narkoba bukan barang asing bagi Apri. Kalau benar isi BBM Apri soal konsumsi narkoba, makin menguatkan kepintaran Apri berdramaturgi di hadapan keluarga.

Bila keluarga saja berhasil dibohongi, apatah lagi warga sekitar yang masih menganggap Apri perempuan baik-baik yang aktif di Karang Taruna.

Apri mungkin sejatinya perempuan baik. Lingkungan sepertinya membuatnya jadi pembohong seperti sekarang. Tak hanya publik yang dikecewakan dengan sikap dustanya, tapi juga sang ibunda. Amat terpukul bahwa kenyataan anaknya tidak seperti yang dibayangkan, ini yang saya rasakan manakala memosisikan sebagai orangtua.

Tampaknya, saya kelak saat jadi orangtua dari anak-anak yang dewasa, tidak boleh puas dengan tampilan luar anak-anak tercinta. Mereka di depan kita menjadi profil santun, mandiri, saleh, atau rajin membantu. Ternyata, di luar sana mereka menjadi begundal kemaksiatan. Kasus Apri membuat saya sadar, kadang anak juga mahir menopengi diri untuk penyaluran keliarannya di luar. Dan bagi orangtua, semua ini cermin untuk lebih baik lagi mengasuh mereka. Bukan dengan paksaan, sejak dini.[]

1 komentar:

obat alami penyakit kanker paru-paru mengatakan...

zaman semakin tidak karuan. . .
seorang pribadi yang menikmati hal maksiat bisa mengelabui orang" yang mengenalnya, keluarganya, bahkan ibunya sendiri yang merupakan orang yang paling dihormati oleh setiap pribadi di dunia ini. . .

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.