“Mengapa belum menulis buku, Pak?”
Pertanyaan tanpa basa-basi tapi disampaikan dengan santun
itu meluncur tenang dari kawan kami, Dwi Suwiknyo. Ia yang baru saja saya
editor untuk karyanya seputar para jagoan teknologi komputer dan internet,
sejenak berbincang soal perbukuan.
Pertanyaan tadi sebenarnya lebih tepat sebagai sebuah
penggenapan dari fenomena yang didapati Dwi: (sebagian besar) para editor di
Yogyakarta malah tidak punya karya berbentuk buku. Dwi sudah mendatangi
beberapa penerbit besar di kota kami, dan hasilnya sama: editor tidak berbuku.
Kalaupun ada bisa dihitung jari. Pengecualian tentunya pada penulis yang
sesekali jadi editor, ini tidak termasuk dalam bahasan kita.
Sebagian editor beralasan tentang sibuknya memelototi kata
demi kata di banyak naskah, baik yang bakal diterbitkan ataupun yang baru saja
di tahap seleksi. Mungkin saja soal waktu di kantor jadi pembenar kuat. Cuma,
mengapa ada editor supersibuk ternyata mampu menghasilkan karya bejibun? Sebut
saja Mas Hernowo dan Bambang Trim. Apakah dua nama besar di perbukuan nasional
ini anomali dari kebiasaan para editor untuk tak berkarya dalam buku solo,
ataukah hakikatnya keduanya seorang penulis yang tersasar adi editor? Persis
seperti Tasaro yang saat adi editor di sebuah penerbit Bandung malah keasyikan
menulis.
Saya tidak mau mengomentari alasan para editor di beragam
penerbit. Bagi saya, produktivitas menulis tidak selalu diukur dengan buku.
Betul, buku penting jadi parameter keintelektualan seseorang. Tentunya isi buku
yang dihasilkan jauh lebih penting daripada bicara soal banyaknya buku yang
berhasil diterbitkan. Dalam hal ini, kecerdasan orang semisal Nurcholis Madjid
atau Amien Rais serasa belum paripurna ketika buku-buku mereka sekadar kumpulan
artikel atau tulisan di koran belaka. Tanpa mengurangi bobot analisis keduanya,
buku yang tidak diniati utuh layaknya sebuah karya tulis formal di kampus,
seperti hanya ‘menjual’ nama sang tokoh.
Menulis buku, memang belum saya tekuni. Kesibukan di kantor?
Bagi saya ini bukan alasan utama. Wong saya tiap hari bisa menulis untuk blog.
Katakanlah satu postingan rata-rata 1-2 lembar kwarto. Kalikan 30, sudah
didapat sekitar 30-50 halaman. Dalam beberapa bulan saja, tanpa harus
mewaktukan khusus di hari libur, sudah terkumpul seratusan buku. Mengapa saya
tidak menempuh cara ini?
Menulis buku, dalam benak saya seperti sebuah pekerjaan
pengabdian dan kecintaan. Amatir, mengerjakan dengan penuh cinta (amor, sebagai
makna dasar amatir). Saya tak mau profesional, alias menjadikan ia sebagai
profesi meraih duit. Karena itu, terus terang ada satu keinginan saya kelak
ketika gagasan di benak saya yang hendak dibukukan terwujud: tidak memikirkan
soal laris atau tidak. Menyedekahkan ide pada orang lain, syukur jadi bahan
diskusi di kalangan tertentu, ini sudah cukup.
Nah, persoalannya, saya sering digoda—sengaja atau tidak
sengaja—dengan upaya menggenapi urusan materi. Demi menghidupi keluarga dan
keperluan ini-itu, saya merasa rentan ketulusan menulis buku bercampur dengan
obsesi mengejar duit. Utopia? Mungkin saja.
Buku mudah saja saya tulis dalam beberapa pekan. Apalagi
kalau asal jadi dan asal tulis. Tapi ini bicara reputasi dan pengabdian.
Saat ini, saya lebih memosisikan sebagai pelatih sepak bola.
Tidak terjun di gelanggang tapi memiliki target mencetak pemain handal dan
memoles bakat terpendam para calon pemain klub asuhan saya. Itu alasan filosofi saya mengapa belum kunjung
menulis (saya tidak memasukkan karya di antologi sebagai buku yang berhak
diklaim sebagai karya buku saya). Kelak kalaupun menulis buku itu seperti
halnya seorang pelatih memberikan sesi training khusus kepada publik. Ukurannya
bukan menang dan kalah, tapi berhasil menginspirasi orang untuk bermain bola
dengan tepat atau tidak.[]



2 komentar:
Alhamdulillah, terima kasih pak atas ilmunya, 'ikatan hikmah' di blog ini juga sudah lebih tebal dari sekadar buku--meski buku juga bukan sekadar kumpulan tulisan. Bagaimanapun, kami tetap merindukan buku-terkonsep dari Pak Yusuf, ya? He..
serasa bercermin pada diri saya sendiri, pak yusuf.. selama jadi editor di sebuah buletin kampus, karya tulis sy di buletin yg sy editori bisa dihitung dgn jari. tak lebih dari 5 tulisan. rasanya lebih asyik mengedit daripada menulis. hehe
*tp sy berharap ada buku jurnalistik yg lahir dr besutan pak yusuf maulana :)
Poskan Komentar
Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.