Pemilik Trans Gemar Ikon Mason?


Sepertinya logo baru untuk perubahan nama dari Para Group menjadi CT Corp bukan hal asing bagi saya. Gambar sederhana visual mirip manusia merentangkan kedua tangan (sayap?) seolah hendak terbang dalam balutan biru mungkin sepadan dengan misi sang pendiri, Chairul Tanjung, yang ingin mengepakkan bisnisnya ke kancah internasional. Justru di sini letak kegundahan saya, dan maaf bila perspektif saya mewakili kalangan tertentu yang dianggap ‘berlebihan dalam mencurigai makna logo atau simbol.’

Tampilan segitiga biru Logo CT Corp dari depan yang membentuk kepala mengingatkan saya pada ikon Masonik dan afiliasinya, yakni kambing mendes atau baphomet. Kalau sayap di dua sisi kita hilangkan, figur mirip manusia pun mengingatkan saya pada tokoh di era Mesir kuno. Perhatikan bentuk kepala manusia di logo CT Corp, mirip bukan dengan mahkota kepala Mesir Kuno—yang dianggap akar gerakan Masonik, Kabbalah, dan okultisme lainnya?


Manusia merentangkan kedua tangan (sayap?) itu pun mengingatkan saya pada Horus; lagi-lagi sosok yang diikonkan di kalangan di atas. Sebuah kebetulan logo, ketidaktahuan pembuat dan perestuan pemilik usaha, atau kesengajaan?

Yang menarik, kelompok bisnis Chairul memang gemar menampilkan ikon-ikon yang identik dengan Mason. Sudah lama dan banyak dibahas di kalangan pencinta konspirasi mengenai logo Trans TV yang memasukkan unsur bintang david. Belum puas, perhatikan logo di bawah ini, masih milik Chairul Tanjung:


Piramida! Ya ini sudah menjadi ikon andalan kelompok Mason dan jajarannya, dan lagi-lagi dipakai di kelompok bisnis Chairul. Sama halnya pemilihan piramida sebagai pengganti huruf A dalam tulisan ‘Dekader’ yang belakangan ini selalu hadir kala kita memilik kanal Trans TV (penandang 10 tahun kiprah mereka siaran).

Sementara itu, beberapa perusahaan di bawah CT Corp yang menggelitik penggunaan logonya tercemari ikon Masonik adalah The Coffe Bean (lingkaran dengan titik di tengah, khas Mason); Bank Mega (logo M yang mendominasi dan di tengah lingkaran), Antatour (ikno bumerang tapi menyamarkan piramida); Vayatour (dua garis disilangkan yang menyerupai menara kembar dalam posisi diagonal; menara  kembar identik dengan Mason; namun logo Vayatour juga mirip jangka dan siku: ikon klasik Mason).


Dengan kegemaran mencantumkan ikon-ikon Mason, saya merasa tidak yakin kalau semua kebetulan. Entah kalau Chairul memfavoriti ikon Mason semata karena faktor estetika atau gengsi di kancah bisnis internasional (agar diterima pebisnis Yahudi, misalnya). Termasuk keberadaan tim desain dan konsultannya patut disigi. Konsistensi penggunaan piramida, jangkar siku, lingkaran bertitik tengah, mata, horus, mendes/baphomet, bintang david, dan menara kembar bukanlah sesuatu yang patut dibiarkan. Apa pasal?

Ambil kasus di Trans TV, di stasiun ini entah mengapa paling doyan menayangkan Steven Seagel, salah satu tokoh Mason di dunia hiburan. Juga gemar mengulang Harry Potter dan beberapa film yang tak segan mengampanyekan pro Mason. Artis yang ditampilkan dan diorbitkan juga penggila bintang david, semisal kelompok musik Dewa dan jajaran di manajemennya. Ikonoklasme ala Dewa di bawah komando Dhani dan orientasi Trans, entah mengapa, bisa sama: toleransi pada ikon-okon Mason dan okultisme.

Maka, jangan kaget ketika ada kasus-kasus yang harus menyita perhatian segenap anak bangsa, semisal derita rakyat Palestina, Trans lebih asyik dengan tayangan hiburan dan menonjolkan perbedaan tayangan. Sebuah bentuk tandingan meski tidak berupa berita.

Logo, dengan demikian, tak semata sebuah ajang citra perusahaan, namun juga cermin isi pikiran dan ideologi. Kalau ini yang terjadi, tak perlu heran bila tayangan rohani sekalipun cuma kamuflase (dai lawak yang lagi diorbitkan misalnya); atau artis sensual dan idola di fasyen terus dimunculkan; atau film-film dengan pemeran mewakili kelompok yang ikonnya dipakai CT Corp.

Pun jangan heran mengapa Chairul begitu getol membeli saham Carrefour, yang notabene tercemar Yahudi zionis. Juga tak perlu sewot kala pengusaha yang dekat dengan Istana ini diam-diam membantu sebuah partai Islam moncer hingga belakangan para elit partai tersebut mengubah haluan dari partai eksklusif menjadi partai inklusif. Logo gunung menyerupai piramida dengan tugu kembar pun hadir, entah ikut-ikutan ataupun kebetulan saja, di partai ini kala menggelar Mukernas di Yogyakarta beberapa waktu lalu.[]
 
Blogger Templates