Menelantarkan Bayi di Penitipan Anak


bisnisukmcom

Orangtua macam apa menitipkan bayi kepada orang lain hingga seminggu keluar kota mengurus bisnis? Kejadian ini bukan terjadi di kota besar, melainkan di tempat penitipan anak (TPA) di salah satu desa yang maju perkembangannya di Godean, Sleman, Yogyakarta.

Saat kembali ke TPA itu, bayi berumur delapan bulan itu menangis tak mengenali ibundanya. Si bayi telanjur akrab dengan pengasuh yang membawanya pulang-pergi ke rumah dan tanpa pemberian ASI eksklusif cadangan si ibu bayi.


TPA itu dimiliki seorang ibu yang memiliki latar belakang aktivis dakwah dan berpendidikan. Semula diniati untuk membantu beberapa pasangan suami istri yang semuanya bekerja. Bisnis penitipan anak memang tengah cerah, tak hanya berlaku di kota besar macam Jakarta, Bandung atau Surabaya.

Keberadaan TPA ternyata mengobati kebingungan ibu-ibu yang sibuk berkarier. dititipkan ke nenek si bayi atau anak, mereka paham, anak akan manja. Takut terkena imbas pergaulan dan cara mengasuh ibu atau mertua mereka. Keterdidikan yang mereka dapat dari buku atau televisi rupanya mencegah untuk berhati-hati mengakrabkan anak dengan neneknya.

Bila dengan sang nenek bayi dijauhkan, terlebih lagi dengan pembantu di rumah. Mereka tahu dan banyak mendengar dari berita bahwa pembantu rumah tangga ancaman bagi perkembangan bayi. Para orangtua pasti tak mau ambil risiko menitipkan si bayi ke pembantunya.

Ironisnya, mereka seperti lebih nyaman dengan TPA. Bekal keilmuan dan kurikulum diasumsikan sudah memadai di pengelola TPA sehingga anak-anak mereka relatif lebih aman dan nyaman dibandingkan dititipkan ke keluarga besar, apalagi kepada pembantu rumah tangga. Jadilah TPA tumpuan para ibu atau ayah karier itu. Pengetahuan parenting mereka meniscayakan untuk percaya penuh pada pengasuh TPA. Sebatas itu keterdidikan merek, kendati banyak yang bergelar akademis tinggi.

Yang menyedihkan, sang pemilik TPA di atas seakan bergeming. Tak membuat batasan bagaimana seorang ayah atau ibu menitipkan anak. Tidak seharian penuh apalagi sepekan. Bisnis ini tampaknya lebih mendapat perhatian inovasi si pemilik. Terbukti, kelas malam belakangan dibuka di TPA itu. Sebuah kejelian menangkap makin banyaknya para ibu muda tetangga kami di kecamatan yang bekerja di malam hari atau bekerja sampai larut sampai anak pun harus dititipkan ke TPA.

Nasihat teman pengajian si ibu tadi sepertinya tidak begitu diindahkan. Teman pengajiannya, yang juga dokter, masygul betapa kegiatan kelas malam bagi bayi yang dititipkan itu sudah tidak bisa disebut sebagai bentuk membantu rumah tangga teman atau orang lain. 

Si ibu justru membantu para ibu dan ayah bayi terjerumus dalam kekeliruan kepengasuhan. Mengejar nafkah dan membayar ke TPA tak sampai satu juta sepertinya sudah menjadi langkah bijak dan tepat. Padahal, di balik itu ada musibah besar bernama kerapuhan mental bayi-bayi kita nantinya.[] 
 
Blogger Templates