Amplop Penggoda Hati (1)


thankscarddesign.com
Dengan berdebar-debar, saya mencoba mengintip isi amplop yang diberikan panitia. Hanya seorang diri saya di tempat wudhu. Panitia yang mengatar saya ke musala kampus sudah beranjak kembali ke aula.

Namun, bisikan untuk tidak membuka kembali datang. “Jangan dibuka, pasrahkan saja. Nanti saja. Sekarang shalat zuhur dulu.”

“Kalau tidak dibuka, malah salatmu tidak khusyuk. Jadi, dibuka saja, minimal melihat berapa pemberian mereka!” usul batin saya, hasil bisikan setan.


Untuk kedua kalinya saya mencoba untuk membiarkan amplop itu bersemayam di saku kemeja saya. Sejak di perjalanan menuju musala, pikiran saya tidak terfokus. Akhirnya suara terakhir itu yang memenangi pertarungan.

“Ya, daripada tidak tenang gara-gara memikirkan jumlahnya berapa; sesuai tidak dengan kebutuhanmu sepekan atau dua pekan ke depan,” suara membujuk untuk membuka amplop kian menguatkan.

Sebelum tangan kanan membuka keran, sekejap amplop saya keluarkan dan disobek bagian atasnya. Dalam hati berharap paling tidak seratus ribu, memadai untuk mengepuli kamar kos.

Selembar uang kertas warna biru menyelip malu-malu di balik amplop; cuma itu!

“Aduh... dikira....” keluh di hati saya. Tapi tak lama saya harus memikirkan itu. Ditekan keinginan tidak puas dengan mencoba belajar ikhlas menerima pemberian panitia.

SEPEKAN SEBELUMNYA di ruang sekretariat organisasi ekstrakampus.

“Saya dan Mu’tamar yang mengisi ke kampus A,” ujar Imron, ketua umum tempat saya berkiprah sepuluh tahun lalu. “Yusuf yang bertugas di kampus B.”

Saat masih aktif berorganisasi, setiap orientasi pengenalan kampus (ospek) merupakan masa-masa panen undangan mengisi diskusi gerakan mahasiswa. Biasanya sepanjang Juli hingga Oktober, kampus-kampus mengundang organisasi kami untuk membagikan ilmu atau pengalaman soal dunia aktivis. Pihak penyelenggara sengaja mengundang gerakan ekstrakampus untuk membuka mata mahasiswa baru bahwa kampus tidak melulu bicara sukses di karier akademis dan lulus cepat.

Setidaknya sampai 2003, perguruan-perguruan tinggi di Yogyakarta masih antusiasi bicara gerakan mahasiswa. Setelah itu, era komersialisasi kampus menyurutkan aktivisme mahasiswa, termasuk membicarakan soal gerakan bagi mahasiswa baru. Yang laku adalah mengundang mahasiswa berprestasi secara akademis atau dalam penelitian ilmiah.

Ketika menikmati masa diunduh kampus-kampus, undangan ke sekretariat kami begitu banyak. Maklum saja, di Kota Pelajar jumlah kampus kala itu masih banyak yang eksis, dengan mahasiswa baru yang antusiasi berkuliah di Yogyakarta pula. Karena kerap berbenturan jadwal, para pengurus harus membagi tugas; mana yang ke kampus A, B, C, dan seterusnya. Tidak jarang beberapa kampus memiliki jadwal hampir bersamaan pelaksanaannya.

Namanya mahasiswa, sekalipun berpredikat aktivis yang getol mengusung idealisme, memenuhi undangan tidaklah steril dari pretensi mendapatkan amplop. Memang, sepantaran saya kawan-kawan tidak pernah mematok tarif bak motivator berjam tinggi. Diberi amplop syukur, kalaupun sekadar ucapan terima kasih juga tak masalah. Hanya saja, mendapatkan amplop yang didamba sebagai tambahan buat membeli buku atau amunisi di kos atau kadang menyumbang dana demonstrasi.

Kampus A yang dipilih ketua umum dan ketua departemen kajian strategis tadi merupakan perguruan tinggi swasta terbesar di Yogyakarta. Logis mereka memilih kampus A ketimbang kampus B yang akhirnya dipercayakan pada saya. Meski kampus teknologi yang akan saya isi itu juga relatif terpandang, tetapi tetap saja kampus A sudah menawarkan aura adanya amplop tebal.

Optimisme dua teman saya untuk mendapatkan amplop tebal kian besar melihat beban tugasnya. Sementara saya berdiskusi panel dengan kawan aktivis lintas organisasi, dua teman saya mengampu dua kelas mahasiswa baru di kampus A yang satu kelas berjumlah ratusan. Saya cukup bicara 15 menit ditambah beberapa menit menjawab pertanyaan, mereka berdua jauh lebih berpeluh ria di kampus A.

MESKI TIDAK sesuai harapan, uang 50 ribu saya kantongi di dompet. Lumayanlah daripada tidak ada sama sekali, di tengah penantian menunggu honorarium tulisan yang dimuat koran.

Esok hari, saya dan dua kawan yang mengisi ospek di kampus A bertemu di sekretariat. Bayangan saya, dua kawan ini bakal mentraktir kami. Maklumlah, dapat order mengisi ospek di kampus kaya.

“Apaan? Kita tidak diberi amplop, walau mengisi dua kelas sampai sore. Paling dikasih makan siang dan snack,” ujar salah satunya sambil tertawa getir. Kawannya mengamini.
“Kalau begitu masih mending saya ya, dapat 50 ribu!”

Saya akhirnya menuding soal kepamrihan kami sebelum berangkat pergi ke lokasi.

“Sampai di forum, saya masih tidak terpikirkan soal amplop. Nah, pas disalami panitia barulah godaan untuk berharap ada. Lha ente? Sejak awal sudah mem-plot saya di kampus B yang dikira ngasih sedikit atau justru tidak memberikan amplop. Eh, di kampus A malah tidak diberi amplop tapi diberikan beban berceramah di dua kelas pula!”

Dua kawan saya tersenyum, mungkin menyesali. Tentu tak bermaksud menyesali ilmu yang telah mereka bagikan ke mahasiswa baru di kampus A.

“Saya juga menyesal,” sambung saya bersimpati dengan keduanya, “andaikan waktu itu tidak memikirkan sama sekali amplop, mungkin hasilnya bisa lebih. Semakin dipikirkan malah semakin kecil hasilnya atau malah tidak mendapat sama sekali. Mirip kalian berdua!”[]

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.