Integritas dalam Memenuhi Undangan

http://simplifythis.com
Saya juga tampaknya harus belajar ada keluarga berikut. Sang suami, yang ketika itu belum pernah tetapi amat berkeinginan ke Malaysia, mendapatkan telepon tiba-tiba dari negeri jiran. 

Singkatnya, pihak kedutaan memintanya menjadi pembicara di sana. Tercapailah peluang menggapai impian selama ini. Tetapi, dia tidak oportunis hanya karena ada kesempatan di depan mata yang mungkin belum tentu berulang kedua kalinya. Dia tidak langsung mengiyakan permintaan itu bukan karena menjaga wibawa atau demi menaikkan tarif honorarium, melainkan karena ingin memastikan dengan jadwal undangan lainnya yang ketika itu dia lupa. 


Dan benar, saat diingat-ingat lalu memastikan, hari ketika undangan dari Malaysia saja bertepatan dengan sebuah acara pengajian di sebuah desa pelosok di Klaten, Jawa Tengah. Senyampang, sahabat kita ini bisa saja membatalkan dengan mengganti waktu pengajian untuk acara di Klaten ini. Apa pasal? Karena, saat meminta mengisi pengajian, panitia baru sekali menghubungi dan setelah itu tidak ada kepastian apakah acaranya tetap berlangsung ataukah tidak. 

Dalam posisi ketidakmenentuan itulah, pikiran normal bila dia membatalkan. Atau paling tidak menunda ke waktu lain. Ada alasan pembenar di sini; panitia tidak memastikan apakah acara pengajian terus berjalan ataukah tidak. Sejak dihubungi sampai berpekan-pekan tak ada konfirmasi, galibnya mudah diprasangkai sebagai pembatalan. Sekadar pemakluman dari pembicara sudah baik ketimbang sampai memboikot diundang di tempat yang sama.

Nah, dalam pengalaman sahabat kita ini, dia berupaya memastikan ke panitia. Nomor yang terteta di undangan rupanya tidak dapat dihubungi. Lagi-lagi, ada celah untuk menyalahkan panitian pengajian itu lantas berpaling ke acara yang lebih wah.

“Tapi di situlah ujiannya.” Katanya dalam sebuah kesempatan. “Integritas saya dipertaruhkan di sana.”

Teringatlah dia pada pesan sang istri yang setia menemani. “Mas, kalau ada undangan bersamaan antara acara yang wah dengan acara pengajian biasa-biasa di pelosok, pilihlah yang kedua,” istri tercintanya mengingatkan.

Dengan perjuangan sedemikian rupa, sahabat kita ini mengikuti saran istrinya. Maka, diputuskan untuk mengosongkan waktu yang sudah telanjur dipesan panitia pengajian di Klaten ketimbang terbang ke negeri jiran.

Saya ragu, saya bisa seperti itu. Manakala selaku pemimpin saja saya mengalami keraguan, maka saya tak aneh bila istri saya pun berbeda sikap dalam kasus ini dibandingkan istri sahabat kita di depan. Membuang kesempatan, bukan? Padahal, kita beralasan kuat untuk membatalkan atau menunda undangan yang memiliki kelemahan atau cacat.

Ujian integritas, kata ini mungkin berkesan ilmiah. Padahal ada kata lain serupa: ujian keikhlasan. Memenuhi undangan berarti bersiap menguji keikhlasan kita. Apakah memenuhi satu pihak dan menolak hadir di undangan pihak lain berdasarkan alasan kuat ataukah cuma pilihan hawa nafsu?

Saya dan keluarga perlu belajar pada sahabat yang diceritakan di sini. Termasuk belajar keikhlasan pada keluarga itu. Bagaimanapun juga balasan Allah akan selalu hadir tanpa disangka-sangka sehingga kecemasan untuk menjaga keikhlasan dan integritas terus bisa dilakukan. 

Benar saja, sahabat kita ini di waktu lain tanpa direncanakan mendapatkan undangan ke Malaysia. Namun, kali ini pengundangnya berbeda. Keikhlasan dan integritas bisa dicapai (insya Allah), cita-cita untuk ke Malaysia—dalam rangka belajar meski sesaat—bisa tergapai pula.[]

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.