TKI, dan Arab Jahil

Manakala berita penyiksaan tenaga kerja Indonesia (TKI), khususnya pekerja perempuan, pikiran saya segera melintas ketika Bilal disiksa begitu berat oleh majikannya. Sepele persoalannya: karena Bilal sudah berujar dua kalimat persaksian pada tuhan sejati (menurutnya) dan Muhammad sebagai sang nabi.

Pun demikian ketika berita TKI (perempuan) dianiaya dan dilecehkan kehormatannya sudah seperti menjadi berita regular di media-media kita, lintasan saya tertuju pada seorang majikan bernama Hindun, yang ketika itu bersikap pongah lagi bengis amat di luar nalar dengan memamah isi perut paman sang Nabi, Hamzah, lantaran kesumat terbunuhnya orang terkasih di medan peperangan.

Sungguh ketika berita-berita penyiksaan, pemerkosaan dan gaji yang tidak dibayarkan dialami para TKI kita, saya seperti merasakan bagaimana beratnya perjuangan Nabi Muhammad di masanya itu. Bahwa dakwah yang digerakkannya berhasil mengubah tataran sosiologi dari gelap menuju terang di naungan Islam, di abad-abad berikutnya tidak berarti para pemeluknya bersikap serupa. Lakon-lakon Abu Lahab, Abu Jahal, Hindun dan banyak majikan penyiksa lainnya yang notabene berdarah Arab masih dijumpai hingga kini. Celakanya, kalau boleh disebut demikian, mereka beridentitas Muslim sekarang.

Ini problematisnya. Ketika Islam banyak disudutkan, stereotip yang kerap direproduksi adalah wajah-wajah karikatural ala pemeluknya di Arab. Seolah-olah Arab adalah representasi Islam seluruhnya. Dan ketika hanya segelintir atau sebagian oknum saja dari orang Arab yang bertindak culas di luar Islam, semua seperti memandangnya aksiomatik bahwa itu didukung dalil agama (Islam).

Sejatinya saya mencoba untuk terus bersikap dingin dengan setiap berita soal penyiksaan dan pemerkosaan tenaga kerja kita di jazirah Arab. Karena saya tahu, perilaku orang Arab dan perilaku islami tidak selalu sejalan. Tidak mesti yang Arab pastilah berislam. Namun, posisi banyaknya TKI yang ditempatkan di negara yang mayoritas Islam, dan lebih-lebih berhukum Islam (semacam Arab Saudi), menjadikan pelabelan perilaku patologi oknum Arab semacam pembenar menyudutkan perilaku setiap Muslim.

Orang-orang Arab kiwari sejatinya tak berbeda jauh dengan perilaku saat Nabi Muhammad diutus. Bedanya, kini tak ada lagi yang berstatus selaku penyembah patung. Semua memeluk Islam. Tapi apakah ini berarti mereka berislam secara Islam, kendati mereka lahir di negeri tempat persebaran Islam awal kali?

Hati saya, sungguh, amat teriris begitu setiap koran atau televisi mewartakan soal negatif perlakukan orang Arab pada TKI kita. Sepertinya mereka tak malu untuk bertindak layaknya majikan pada budak. Dengan memandang para TKI selaku budak, mereka bias memperlakukan apa pun termasuk menyetubuhinya! Sayangnya, mereka lupa bahwa ajaran yang benar (tanpa petik!) adalah perbudakan sudah dihapuskan sejak syariat Islam paripurna diwahyukan pada Nabi Muhammad. Lantas, mengapa perilaku-perilaku yang memelihara status quo perbudakan itu masih ada?

Ini tak ada kaitan dengan doktrin Islam! Ini semata kebodohan dan warisan jahiliah yang masih melekat. Masih banyak perilaku abnormal lainnya dari orang-orang Arab tertentu yang tidak segan-segan membelakangi syariat.

Saya malu dengan berita bocoran dari Wikileaks seputar kehidupan para pangeran di Arab Saudi. Saya mencoba tak percaya sepenuhnya, kendati saya tetap merasionalkan bahwa hedonisme di tubuh keluarga kerajaan Arab Saudi sekalipun bukanlah sebuah mimpi atau tudingan tak berdasar. Saat yang sama, saya getir melihat Qatar terpilih menjadi tuan rumah ajang perhelatan sepak bola dunia pada 2022. Saya juga malu dengan perilaku para triliuner Arab yang begitu antusias membeli klub-klub sepak bola di Eropa, sementara saat yang sama saudara seakidahnya diteror tak jauh dari pandangan matanya: Palestina!

Menambahkan banyak perilaku-perilaku patologi dari sebagian orang Arab itu, saya tersentuh betul dengan beratnya dakwah Nabi Muhammad. Mengubah orang Arab menjadi Islam tidak semata soal konversi tuhan, tetapi juga soal paradigma relasi dengan sesama insan di Bumi. Egalitarian yang ditanamkan Nabi, solidaritas yang dipupuk Nabi, hari-hari ini tengah terkikis oleh hedonisme. Itu terjadi bukan di jazirah Islam pinggiran semacam Indonesia, melainkan di jantung peradaban Islam berawal: jazirah Arab.

Teringat hijrah dan tahun baru Islam 1432, saya merindukan sosok pemimpin dan rakyat di jazirah Arab yang berteladan kepada Nabi. Tidak sekadar formalitas tapi juga praktik yang tidak mengorupsi dalil semacam memandang perbudakan masih eksis hingga kini tadi. Bila di jantung peradabannya saja mengindikasikan sakit yang akut, bagaimana di tepian jazirah? Dari sini kita bisa memandang optimisme kebangkitan Islam betul-betul sebuah fakta ataukah wujud melankolia kita.[]




Pos-skrip:

Saya tak berniat menyimpulkan secara keseluruhan bahwa orang Arab pastilah buruk. Sama sekali tidak. Saya hanya ingin mengatakan bahwa ada orang Arab yang juga perilakunya jauh dari akhlak ideal menurut agama mayoritas di sana (Islam). Di sisi lain, perilaku tenaga kerja kita juga patut disaksamai. Maafkan saya tidak mengulasnya di sini.  Untuk itu, kiranya  tulisan seorang rekan, Izzati Syahidah, dengan arif dan komprehensif menjelaskan persoalan sebenarnya seputar isu kekerasan dan pelecehan seksual pada tenaga kerja perempuan kita. Laporan pengalamannya demikian menarik.

Ilustrasi: Artzmania 7.

2 komentar:

Wildan Taufiq mengatakan...

Mudah2an Allah mengkaruniai kelembutan hati pada saya dan keluarga yang notabene keturunan arab ini. Karena sekeras apa pun usaha yg dilakukan untuk menyatakan keindonesiaan dan keadaban kami, orang2 tetap memandang sebagai sekadar arab. Sementara stigma terlanjur ter-cap sedemikian rupa: bengis, bodoh, teroris, maniak seks, hedonis dst. Sementara para pengamat menerapkan standar ganda. Di satu sisi arab sbagai identitas diabsolutkan, di lain sisi identitas direlatifkan.

Yusuf Maulana mengatakan...

Stereotip memang selalu ada dan sulit dihapus dari ingatan kolektif. Arab termasuk yang juga menanggungnya. Lebih-lebih ketika Arab dan Islam sukar dipisahkan, dan di pihak lain ada yang mencoba memanfaatkan itu sebagai lahan basah pengais dollar demi menarik simpati foundationnya. Tak heran, Arab dicerca tanpa standar yang jelas pula.

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.