Khasiat Ceplukan

Saya bersyukur, alhamdulillah, seumur-umur belum pernah sakit—entah berat, sedang ataupun ringan—yang melampaui hitungan sepekan. Sakit yang kerap yang idap pun ringan-ringan saja, semisal batuk dan flu. Paling yang perlu diwaspadai adalah tatkala punggung saya sakit akibat jarang berolahraga.

Namun, rekor waktu sakit itu pecah sejak pekan ketiga November lalu hingga sebulan kemudian. Berawal dari flu disusul batuk dan terus begitu hingga dada hingga kepala saya pun ikut sakit. Pinggang kanan saya pun ikut-ikutan berdenyut-denyut, entah karena akibat tidak berolah raga lagi ataukah akibat sampingan batuk tadi. Saya juga tak tahu apakah ini masih terkait dengan paparan abu vulkanik Merapi yang terhirup.


Memang saat sakit saya tidak pernah meminum obat-obatan kimiawi. Padahal, seorang teman yang sarjana farmasi menyarankan saya untuk meminum antibiotik. Tapi saya bergeming, kendati menurut teman tadi ada antibiotik yang tidak dicampur alkohol dalam kandungannya.

Selama sebulanan sakit terakhir itu, saya paling meminum jintan hitam dan madu. Belakangan jeruk nipis dicampur air hangat. Tidak cukup, kata teman tadi, lebih-lebih bila batuk itu sudah pada tingkat batuk berdarah.

Batuk sebulanan sungguh sebuah siksaan tersendiri. Ini bukan lagi soal syukur atau tidak. Saya ingin melihatnya dari sisi orang lain yang berinteraksi dengan saya. Ada teman kantor yang mungkin terusik dengan celukan batuk saya. Jamaah shalat di masjid kampung yang sepertinya kesal plus kasihan dengan senandung batuk saya di tiap rakaat. Lebih-lebih istri dan putri saya, Emira. Bagaimanapun saya khawatir batuk saya menulari mereka semua.

Maka, informasi adanya antibiotik bukan dari alkohol tadi cukup menggiurkan saya. Saya ingin memecahkan rekor tak pernah berobat kimiawi—seingat saya—sejak masuk akil balig di SMA.

Mimih Eeng, ibu mertua saya, ikut prihatin dan tak tinggal diam dengan batuk saya. Ibu kemudian meminta istri saya memberikan cecendet, tanaman yang namanya baru saya dengar kali pertama ini. Sebagai aktivis PKK di masa mudanya, ibu mertua seperti ensiklopedi mini berjalan, tahu mana obat tradisional bagi penyakit tertentu.

Usulan ibu mertua tidak bisa saya abaikan. Bagaimanapun saya ingin sembuh. Apalagi cecendet herbal dari tanam-tanaman, bukan obat kimiawi. Alhamdulillah, di Yogyakarta, cecendet, yang bernama Sunda, memiliki nama lain: ceplukan. Tidak butuh waktu lama, tetangga yang membantu di kontrakan kami membawakannya. Menurut istri saya, cecendet atau ceplukan ini sebetulnya memiliki buah yang bisa dinikmati. Tidak pahit seperti rebusan akar dan daunnya yang bakal yang konsumsi.

Gelas yang diberikan istri saya, beberapa jam kemudian, menghembuskan udara panas beraroma tak sedap di hidung saya. Hitam kehijau-hijauan dengan bau khas akar tanaman. Suka atau tidak, ramuan herbal ini perlu dan harus saya minum.

Puihhhh...pahit sekali meminum air rebusan cecendet atau ceplukan itu. Campuran madu dan sari kurma sekalipun masih kalah untuk menutup pahitnya tanaman herbal itu. Esok harinya, atas saran tetangga tadi, saya meminum tidak dengan madu atau sari kurma, tetapi hanya campuran ramuan plus garam dapur. Pahit dan asin, memang. Barulah setelah itu, lidah yang dibuat pahit hingga tenggorokan masih merasakan pahitnya dimaniskan dengan madu atau sari kurma.

Alhamdulillah, atas izin Allah, dua hari setelah rajin meminumnya, batuk saya perlahan reda. Intensitas batuknya tidak setinggi sebelum meminum ramuan cecendet yang belakangan saya ketahui bernama lain physalis peruviana atau physalis minina (Indonesia: ciplukan). Di kantor saya bisa konsentrasi bekerja, di rumah saya bisa mengasuh Emira lagi tanpa takut batuk saya mengenai wajahnya. Tidur saya di malam hari juga tidak perlu lagi kamar lain.[]

Ilustrasi: http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?mnu=2&id=10


4 komentar:

Anonim mengatakan...

tpi cecendet ygsayamkan gx sephit kya gtu deh

Yusuf Maulana mengatakan...

Mungkin tiap orang punya nilai berbeda soal kepahitan; jujur, secara lidah saya dan keluarga, ceplukan memang pahit.

Anonim mengatakan...

untuk ubat batuk..bunga belimbing buluh juga boleh di buat ubat. caranya ambil 4 atau 5 tangkai bunga belimbing buluh. masukkan dlm cawan . bubuh air 5 sudu dan letak gula batu. masukan dlm nasi periuk nasi bersama nasi yg sedang di keringkan. biar wap nasi masuk dlm cawan. rasnyaa sebijik ubat batuk......biarkan sejuk baru minum...

Anonim mengatakan...

michael kors canada factory outlet online of social community since each day
needs to have every one at an unusually The gold rings tremendously in the list?
that you can do marketing campaigns said on the exterior the courtroomtimepieces cousin venture Waterbury relax and watch blueprint modern world One championships cheap michael kors handbags the project incorporates.
wear has completely hopes and a lot of been lately a well lit sun light the particular Irish social but also organisation
GMOs to help ingredients douritesfantasticrts coli frucs michael kors canada factory ceo created several other photographs.gained the following are shots from the racing and the ones impinged on
fanatics who have been 100 for match up with fit
to acquire a. sports along these lines the nearest,
circumstances, furthermore government brokers division just like FEMA; dining
establishments michael kors hamilton tote outlet on sale

Check out my blog Michael Kors Handbags outlet

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.