Telur Busuk, dan Rentenir


Pernahkah Anda membeli rutin telur ayam dari penjual langganan, dan di antara telur yang kita beli itu belakangan diketahui ada saja yang busuk atau tidak layak makan?

Sebuah fakta: keluarga kami mengalaminya. Tidak satu atau dua kali. Tapi nyaris setiap kali!

Kejujuran pedagang sayur di rumah kami tidak perlu diragukan. Semua orang di lingkungan kampung kami menyukainya; lebih-lebih dia juga bagian dari tetangga kami. Jadi, rasanya musykil bila dia bertindak curang, dengan menyelipkan saut atau dua butir telur busuk di barang pesanan konsumennya.

Memang, saya dan istri termasuk pengonsumsi telur ayam yang 'rakus'. Telur ayam yang kami buru secara setia adalah telur ayam kampung. Postingan ini tidak akan membahas apa sebabnya secara rinci; ringkasnya saja, kami ingin asupan buat kami dan turunan kami yang lebih sehat dan aman dari bahan kimiawi, titik.

Nah, setiap si Mbak sayur itu datang, kami kerap memesan telur ayam kampung padanya. Kalaupun tidak memesan dan ia membawanya, langsung tanpa berpikir panjang kami akan memborongnya. Sesekali kami berbagi dengan tetangga yang juga ingin membeli. 

Bukan karena kami tidak menyaksamai butir demi butir itu yang bisa disyak-wasangkai hadirnya telur-telur tak layak itu. Saya yakin bukan, karena bagaimanapun juga istri saya mahir dalam soal ini. Maklum saja, di rumah orangtuanya ada belasan ayam petelur yang subur sebagai bahan latihan dia soal skill ini. 

Bila faktor istri teledor saya kesampingkan, lantas dari mana? Pedagang di pasar tempat si Mbak sayur membeli? Saya juga ragu. Masak sih, setiap ada yang kulakan dia selalu dan selalu menaruh telur ayam kampung yang busuk?

Ah, tahulah saya akhirnya muasal hadirnya telur-telur busuk itu. Istri saya bercerita begini: telur ayam kampung di pasar desa kami itu sebetulnya terbilang sukar didapat. Tidak selalu ada seperti telur ayam negeri. Nah, si Mbak sayur sering merasa kesulitan, dan ini pernah diungkapkan sebelumnya pada istri saya. Untuk menjadi pemburu pertama saat ada pedagang di pasar yang memiliki stok telur ayam kampung, si Mbak ini meminta bantuan bibinya yang seorang rentenir di pasar desa kami.

Akses si bibi memungkinkan dia belusukan ke pedagang-pedagang kecil, baik di pasar maupun di luar pasar. Nah, dari si bibi inilah telur ayam kampung ini kemudian dijajakan oleh ponakannya ke kami-kami di lingkungan kampung. 

Telur ayam itu memang didapat dari membeli. Dan kami membeli dengan harga sewajarnya di pasaran. Tidak ada yang aneh. Kecuali, tangan orang yang mendapatkannya; ya si rentenir itu! 

Si Mbak sayur dalam kasus ini tidak tahu bahwa tangan bibinya itulah yang membawa ketidakberkahan telur yang diterima konsumennya. Mungkin karena si bibi mendapatkannya dari seorang pedagang yang pernah atau masih berutang padanya, sehingga harga yang didapat di bawah harga pasar. Mungkin juga karena si bibi mendapatkannya karena si pedagang telur terpaksa karena takut adanya ancaman bila sewaktu-waktu dia meminjam uang. Dari keterpaksaan hingga ketidaknormalan harga, bisa saja lahir doa-doa orang yang terlalimi haknya.

Atau, kalaupun proses mengulak telur itu dari proses wajar, tetap saja tangan si bibi Mbak sayur masih menyisakan dosa. Ya, tangan yang sering melalimi banyak pedagang kecil itu rupanya yang menjadi perantara hadirnya telur-telur kesukaan kami. Pantas saja, ketidakberkahan sering kami dapati. Ada saja telur yang rusak. Ini, sungguh, tidak kami dapati tatkala kami mencari sendiri.

Saya kemudian berdiskusi dengan istri; memintanya untuk tidak lagi membeli telur ke si Mbak itu bila sumber perantaranya adalah bibinya. Namun jika si Mbak sendiri yang mencarinya, sungguh kami sayang meninggalkan penjual langganan kami selama ini. Kami tak bermaksud memboikot dia; kami hanya ingin menepikan pelaku riba, yakni sang bibi. Bahwa si ponakan terkena imbas, ini kami niati sebagai bentuk pendidikan. 

Ketika kami ditawari oleh si Mbak akan adanya telut-telur ayam kampung, saya sudah meminta istri saya untuk bertanya apa adanya: apakah si bibi terlibat dalam pembelian telut tersebut. Bila ya, maaf, kami biarlah membeli tempe dan sayur-mayur saja. 

Kami, saya dan istri, sudah sering mendapati kekejian para rentenir. Kami tak bisa menolong banyak para korbanya, para tetangga kami jua. Yang kami lakukan di atas sekadar protes atas andil seorang rentenir dalam makanan kami. Kami tak mau mengucap terima kasih pada telur-telur yang kami bayar dengan uang halal kami![]

Foto: http://javara.co.id/product.php%3Fid_pr...ct%3D120

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.