Muslim Tanpa Masjid


Judul tulisan ini memang persis saya ambil dari judul karya salah satu penulis kesukaan saya: Kuntowijoyo. Bila Pak Kunto menukik lebih jauh ke arah sosio-reliji-politik, saya hanya menghembuskan amatan yang selama ini terekam di kepala.

Muslim tanpa masjid, ini bukanlah tentang cerita kepapaan yakni ketika komunitas Muslim tidak memiliki rumah untuk beribadah pada Allah. Muslim tanpa masjid, ini bukanlah soal adanya boikot dari kalangan di luar Muslim terhadap upaya pendirian masjid. Singkatnya, tidak ada kekurangan atau keterbatasan.

Muslim tanpa masjid adalah saat masjid-masjid yang didirikan oleh tangan-tangan terampil, peluh keringat para pekerja, atau kejelian administrator panitia pembangunan, serta kelihaian matematis sang arsitek masjid, namun semua ini tidak berujung pada pemakmuran masjid. Masjid hiruk-pikuk selama pembangunannya saja. Setelah itu, masjid seperti tak bertuan.

Muslim tanpa masjid, ini berarti masjid sekadar komoditas untuk mendapatkan rupiah. Dia bisa sang arsitek, bisa sang pemborong hingga para mandor dan buruh tukang. Atau bilapun bukan meraih rupiah, ia hanya sebagai ajang ririungan warga setempat. Gotong-royong begitu menggebu ketika tiang masjid belum tegak berdiri; namun, setelah bangunan masjid berdiri, bangunan ibadah di dalamnya tidak ada sama sekali.

Muslim tanpa masjid pada gilirannya hanya menjadi arena memberikan bakti; bakti yang seremonial tapi tidak ada refleksi atau perenungan apa hikmah di baliknya. Membangun masjid, mendesain masjid, merancang masjid, membantu gotong-royong masjid, semua ini tak lebih sebagai ajang sosialisasi dan membuang waktu.

Maka, jangan engkau herankan tatkala masjid-masjid telah berdiri tapi tak kunjung kita dapati para panitia, pekerja, dan pihak donatur yang sebelum masjid ada, tak menampakkan batang hidung. Tugas seolah selesai begitu masjid berdiri. Gotong-royong seperti tuntas, tak perlu gotong-royong mendirikan shalat berjamaah setiap hari.

Di mana panitia-panitia yang selama ini getol mencari dana? Dimana engkau yang selama ini giat mengajak dan membujuk para donatur untuk bisa merasakan indahnya berjamaah di masjid? Dan di mana engkau para donatur, yang sudah membayangkan indahnya surga dengan seratus ribuan uang 'recehmu' menginfakkan ke panitia pembangunan?

Muslim tanpa masjid, bukanlah karena kita tidak ada modal atau kekuatan untuk mendirikan sebuah bangunan tempat menghadap Sang Khalik. Justru sebaliknya, karena kita tersibukkan dengan seremoni-seremoni dan capaian di luar hal transenden dalam membangun masjid, masjid akhirnyasepi seusai gagah menatap birunya langit.

Seandainya panitia pembangunan tidak hanya getol berburu donasi. Semisal para donatur tak hanya berpuas dengan infak lantas meninggalkan jamaah masjid hanya karena yakni keberterimaan amal pahalanya. Seumpama para buruh tak sibuk belaka dengan capaian dari mandor, tapi juga konsisten menepati waktu shalat. Semua ini akan terasa indah; bangunan kokoh bernama masjid tidak hanya dari sisi fisik dan kegunaan, tapi juga keberkahan.

Nah, soal keberkahan ini yang kian sulit kita cari di masjid-masjid betebaran di sekeliling Anda. Keberkahan masjid sepertinya tak berbeda jauh dari keberkahan niat para pembangunna. Bila demikian, mengapa harus hadir lagi Muslim Tanpa Masjid?[]

Foto: http://almakassari.com/

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.