‘Yongle’ Pertamina: Belajar Transformasi dari Laksamana Cheng Ho



The greatest danger in times of turbulence is not the turbulence..., it is to act with yesterday’s logic
— Peter F. Drucker

Kerja Keras Adalah Energi Kita. Kalimat heroik penyemangat setiap insan yang tergabung dalam PT Pertamina (Persero) ini seolah ingin melanjutkan motto yang dikenalkan pemimpin pertamanya, Ibnu Sutowo (almarhum): “bekerja sambil belajar, belajar sambil bekerja.” Bekerja dan belajar menjadi dua aktivitas yang tidak terpisahkan dan tidak terkotak-kotakkan, menyuratkan sebuah kerja keras yang gigih. Inilah energi perubahan bagi Pertamina ketika meniati dirinya untuk berubah. Berubah cara pandang, cara kerja, cara mengatur diri, hingga cara menyikapi kompetisi di bisnis minyak dan gas (migas) yang kian ketat. Dengan kata lain, sebuah transformasi diri coba dikomitmeni.
Bukan kebetulan bila proses melahirkan, menjalankan dan (semoga) kesuksesan Pertamina dalam mentransformasi korporasinya itu amat dinanti-nanti oleh setiap insan di negeri ini; tak pandang pejabat pemerintah ataukah rakyat biasa. Di satu pihak pemerintah bisa dikatakan “menggantungkan” asa pada produksi dan performa Pertamina; di sisi lain, masyarakat juga berharap kontribusi Pertamina untuk menjaga hajat hidup mereka tetap berjalan normal dan ekonomis. Betapa tidak, produktivitas yang dihasilkan dalam kinerja Pertamina merupakan kontributor terbesar pemasukan bagi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) kita. Lebih jauh lagi, kelak ketika telah diraih, kesuksesan Pertamina lewat transformasinya itu memberikan inspirasi dan semangat, baik bagi korporasi yang masuk dalam BUMN maupun korporasi swasta nasional kita.
Lantas, akan berhasilkah transformasi Pertamina untuk memenuhi harapan bangsa sementara dalam kondisi faktual hari ini, tidak sedikit tantangan di depan mata menghadang? Produksi migas di dalam negeri masih di bawah perusahaan migas lain, sementara cadangan migas yang terbilang giant field sejauh ini belum dimiliki seperti dua dekade silam.
Sementara di dalam negeri Pertamina masih harus berjuang keras bersaing dengan Chevron (untuk minyak) dan Total (untuk gas) menjadi nomor wahid, saat yang sama perusahaan migas di regional ASEAN (Petronas, PTT, Petro Vietnam dan SPC) kian mengokohkan keberadaan kilangnya. Muncul pertanyaan spontan: bagaimana Pertamina menjadi perusahaan minyak terbaik di kawasan?
Kerja Keras Adalah Energi Kita. Ini tampaknya kredo para punggawa di atas hingga bawah Pertamina dalam menjawab harapan atau mungkin keraguan rakyat di negerinya. Kerja keras nan gigih di tengah persaingan hari ini dan esok, ditambah lagi kebesaran masa lalu, mengingatkan kita pada upaya China di era Kaisar Zhu De pada paruh pertama abad XV, ketika ingin meraih kebesaran di tengah kemunculan bangsa-bangsa alit Eropa yang kala itu tengah bergeliat memajukan diri. Upaya Zhu De meraih kebesaran, Yongle, tak ubahnya transformasi yang dicanangkan Pertamina. Bila Zhu De memiliki Laksamana Cheng Ho (Sam Po Kong) sebagai pewujud amanahnya, Pertamina memiliki direktur utama yang menjaga dan melanjutkan proses transformasi sejak digulirkan pertama kali pada 10 Agustus 2006.
Pertamina bisa berkaca dari manajemen Cheng Ho—sang bahariwan kebanggaan Zhu De—yang mengarungi samudra demi mengeratkan persahabatan negerinya dengan negeri yang didatangi (antara lain kerajaan-kerajaan di Nusantara). Cheng Ho disebut-sebut telah berhasil menghubungkan dunia bagian timur dengan bagian barat (bandingkan dengan capaian yang ingin dituju dalam Road Map 15 tahun Pertamina menjadi perusahaan kelas dunia pada 2023). Kerja keras dan keberanian Cheng Ho di kemudian hari berhasil mewujudkan impian Kaisar. Kerja keras inilah yang bisa menginspirasi Pertamina untuk belajar dari Cheng Ho guna merumuskan formulasi “pelayaran” Pertamina di tengah situasi dan keadaan migas yang tengah dan akan terus menghadapi pelbagai tantangan.

Manajemen Sang Laksamana
Hembing Wijayakusuma, dalam “Kata Pengantar” untuk buku Kong Yuanzi, Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara (2005), menyimpulkan bahwa banyak orang yang tidak mengenal Cheng Ho daripada yang mengenal Cheng Ho. Walau namanya tidak sepopuler bahariwan Eropa (seperti Cristoforus Columbus, Vasco de Gama dan Ferdinand Magellan), para sejarawan tidak meragukan kebesaran prestasi Cheng Ho. Dalam karyanya itu, Kong Yuanzi membuat perbandingan antara Cheng Ho dan para bahariwan Eropa, ditinjau dari waktu memulai dan lama berlayar, skala dan susunan armada, bahkan penerimaan penduduk yang disinggahi ketika mendarat. Dalam semua segi ini, dapat diringkas bahwa pelayaran Cheng Ho lebih awal puluhan tahun (paling dekat jaraknya adalah dengan Columbus, yakni 87 tahun), lebih lama berada di lautan (tujuh kali ekspedisi berturut-turut selama 28 tahun). Adapun dari segi armada, jumlah kapal Cheng Ho lebih dari 200 (bahariwan Eropa maksimal 5); kapasitas kapal terbesar sekitar 2500 ton (armada bahariwan Eropa maksimal 100-130 ton); jumlah awak kapal 27.800 (bahariwan Eropa maksimal tidak sampai 300 orang).
Menurut Frank Viviano, dalam reportasenya untuk National Geographic Indonesia (edisi Juli 2005), Cheng Ho bukanlah orang China. Ia keturunan Muslim dari Asia Tengah. Ketika lahir, Cheng Ho bernama Ma He. Ia anak pejabat desa di Yunan, salah satu provinsi Mongol. Ia ditawan ketika tentara China menyerang Mongol pada 1382, lalu dikebiri secara ritual. Cheng lalu dilatih menjadi kasim kerajaan dan ditugaskan di istana raja Zhu De, yang dikenal juga sebagai Pangeran Yan.
Setelah menjadi ajudan pangeran, Ma He diangkat sebagai pengatur utama siasat perang dalam pemberontakan yang membuat Zhu De naik menjadi kaisar. Saat itu pemerintahan baru mencanangkan era Yongle (Kegembiraan Abadi) yang dimulai pada 1402. karena kegagahan dan keberaniannya dalam peperangan di Chenglumba dekat Beijing, nama Ma berganti menjadi Cheng. Ia kemudian dipilih memimpin satu kesatuan angkatan laut terkuat saat itu. Di situlah awal pelayaran legendaris yang dikomandoi Cheng Ho.
Alasan sebenarnya di balik pelayaran Cheng Ho sendiri masih menjadi perdebatan para pakar. Para sejarawan berpendapat, alasannya adalah perdagangan, penggunaan kekuasaan untuk mengancam negara-negara lain, pertahanan militer, dan bahkan rasa tidak aman dalam diri Zhu De—yang khawatir kemenakannya, yaitu kaisar yang digulingkannya, telah melarikan ke luar negeri. Cheng Ho, menurut teori ini, dikirim untuk memburu pendahulu Zhu itu.
Berangkat pada Juli 1405, armada Cheng Ho—yang dijuluki sebagai Kota Terapung—melakukan ekspedisi pertama. Ekspedisi menciptakan relasi dagang dan politik antara Dinasti Ming dengan negara-negara yang disinggahi. Pada ekspedisi ketujuh (1431-14330) armada Cheng Ho berlayar ke Pantai Swahili Afrika, dengan perjalanan tambahan ke Mekah. Inilah akhir zaman emas eksplorasi China. Cheng Ho diperkirakan meninggal di perjalanan pulang, dan dimakamkan di laut.
Apa kunci di balik keberhasilan Cheng Ho dalam memimpin armadanya di setiap ekspedisinya yang fenomenal itu?
Dengan jumlah armada dan awak kapal yang besar serta waktu perjalanan yang lama, Cheng Ho tentu memiliki manajemen tersendiri untuk mengatasinya. Menurut Hembing Wijayakusuma, dalam setiap pelayarannya, Cheng Ho melakukan manajemen strategi Nabi Muhammad, manajemen Tao Zhugong, manajemen Confusiusme, dan manajemen Lautze yang luar biasa sempurnanya. Dengan menerapkan empat manajemen tersebut, Cheng Ho dapat mengatur apik sistem kerja dari awak kapalnya sesuai tugas masing-masing.
Sistem kerja awak kapalnya terbagi dalam beberapa bagian, yaitu bagian komando, bagian teknik, bagian navigasi, bagian kemiliteran, bagian sipil, bagian kesehatan, bagian kebersihan, bagian logistik, bagian konsumsi, dan sebagainya. Bagian konsumsi merupakan bagian yang sangat penting, karena bagian ini mengatur makanan yang bergizi untuk awak kapal selama ± 2 tahun berlayar.
Hal tersebut menunjukkan bagaimana Cheng Ho telah mengimplementasikan job description sesuai dengan kompetensi dari para awak kapalnya, sekaligus telah menata manajemen staff function dengan baik. Dengan demikian, para awak kapalnya secara langsung memberikan kontribusi dan bantuan sebagai pelaksana teknis puncak dari perencanaan, pengorganisasian, dan pengontrolan tetaplah berada di tangan Cheng Ho selaku pucuk pimpinan. Selain itu, sistem manajemen modern berupa job description terwujud dari adanya pembagian tugas yang mampu menunjang kelangsungan hidup para awak kapal dan kesinambungan kerja kapal, sehingga semua dapat terlaksana dan terkendali dengan baik sepanjang pelayaran.
Cheng Ho memerhatikan pula manajemen sumber daya manusia (SDM) dengan mempertimbangkan dan menyesuaikan kemampuan para awak kapalnya. Manajemen SDM ini terbagi dua jenis, yaitu SDM intelek dan SDM fisik. Dalam hal ini Cheng Ho menerapkan SDM intelek untuk tugas yang bersifat spesifik dan rumit, seperti mengatur gizi, mengatur kapal secara teknis, dan sebagainya. Adapun SDM fisik dapat diarahkan pada tugas yang bersifat umum, seperti menjaga kebersihan, mengurus logistik, dan sebagainya. Selain itu, Cheng Ho pun menerapkan ajaran Nabi Muhammad yang mengatakan, makanlah yang baik-baik dan bersih-bersih, sehingga para awak kapalnya selalu sehat selama dalam pelayaran.
Jadi, ekspedisi Cheng Ho dilakukan dengan sebuah perencanaan yang matang, terbukti dari kombinasi dari empat manajemen yang melekat atau Cheng Ho kuasai. Bila diformulasikan sebaai refleksi manajemen, Cheng Ho mengajarkan kepada kita, setidak-tidaknya, delapan hal yang selalu diterapkannya ketika berlayar:
1.      armada kuat dengan perangkat terbaik;
2.      kepemimpinan dengan visi yang jelas;
3.      dukungan pemerintah;
4.      loyalitas dan dedikasi;
5.      filantropi yang altruistis;
6.      apresiatif pada budaya (pengetahuan lokal);
7.       kerelasian (relationship);
8.      manajemen pengetahuan (knowledge management).
Delapan hal di atas bersifat refleksi subjektif penulis dalam menelaah literatur yang terkait dengan Cheng Ho. Karena itu, amat mungkin adanya penambahan atau pengurangan item oleh penelaah lain.

Armada Pertamina
Hal pertama yang perlu ada agar Pertamina eksis adalah adanya armada yang kuat. Kita menyaksikan betapa seriusnya Dinasti Ming mempersiapkan armada beserta perangkat pendukung yang akan dipergunakan Cheng Ho beserta anak buahnya. Bukan sekadar masa pelayaran yang berbilang tahunan, namun juga prediksi dari target yang menyertai dengan isi dan ragam muatan kapal. Karena ingin lebih mempererat persahabatan dengan negeri-negeri seberang, pemerintahan Ming mempersiapkan sedemikian rupa hadiah bagi negeri-negeri itu; antara hadiah yang disiapkan dan kemungkinan hadiah balik dari negeri dikunjunginya sedemikian rupa diperhitungkan. Terlebih lagi kebutuhan bagi para pelaut, sudah tentu dipenuhi.
Armada Cheng Ho bukanlah armada yang setengah hati. Dia dipersiapkan seserius mungkin. Tidak hanya logistik, namun juga keamanan. Maka, adanya pembagian kapal logistik, kapal harta, dan kapal pemasok memperlihatkan manajemen armada modern. Penampakan armada Cheng Ho sebagai Kota Terapung sendiri selain menyuratkan kemegahan Dinasti Ming, juga menyuratkan keseriusan untuk mencapai target pelayaran itu sendiri.
Dalam konteks inilah, pembangunan dan perbaikan infrastruktur Pertamina dalam perspektif manajemen Cheng Ho tidak bisa setengah-setengah. Manajemen armada dalam konteks Pertamina adalah dibangunnya infrastruktur yang adaptif dengan zaman dan bernilai ekonomis tinggi. Modernisasi kilang, teori eksplorasi hingga manajemen produksi peduli lingkungan merupakan keniscayaan ketika sebuah armada perminyakan ingin eksis. Pembenahan dalam lini-lini ini menjadi modal Pertamina agar berwibawa (baca: serius) di hadapan stakeholder, terlebih lagi ketika hendak menjalin aliansi strategis dengan perusahaan minyak internasinal (IOC).
Infrastruktur sendiri tidak sekadar sisi peranti keras (hardware) seperti perkilangan, pergudangan, dan lokasi industri. Infrastruktur juga meliputi peranti lunak seperti manajemen karyawan. Cheng Ho bukannya tidak pernah berkonflik dengan para bawahannya, namun mereka memiliki peranti manajemen yang bisa memberikan sanksi kepada pembangkang, dan memberikan penghargaan bagi yang berprestasi. Mekanisme People Review dan Sistem Manajemen Kerja (SMK) yang berlaku di Pertamina saat ini, merupakan peranti yang bisa disejajarkan dengan penyiapan infrastruktur awak ekspedisi Cheng Ho. Evaluasi terhadap karyawan dilakukan secara transparan, adil, dan objektif, berdasarkan bukti-bukti (evidence) yang diperlukan untuk mendukung nilai yang diberikan.

Melabuhkan Visi
Posisi Cheng Ho sebagai pemimpin beragama Islam bukannya tanpa persoalan. Mungkinkah sebuah ekspedisi akbar dari bangsa besar dipimpin oleh seorang etnis minoritas di negerinya jika tidak ada visi yang menyatukan keragaman itu? Bukan tidak mungkin pengangkatan Cheng Ho mengundang polemik di awalnya. Akan tetapi, sejarah menuliskan bahwa di bawah kepemimpinan Cheng Ho, pemberontakan dari dalam Kota Terapung bisa dikatakan tidak ada. Faktor penyatu menuju kebesaran negeri (China) dalam hal ini mengalahkan primordialisme.
Visi dalam armada Cheng Ho jika dibawa dalam konteks Pertamina adalah keinginan pribadi masing-masing; mulai dari pendiri hingga karyawan dalam tingkatan terendah. Manakala visi ini tidak terkristalkan dan dimiliki tiap individu, perpecahanlah yang akan muncul. Visi sebagai perusahaan minyak nasional kelas dunia bukan hanya akan menyetir arah armada untuk berlayar, namun juga mempererat soliditas antarkaryawan. Visi pulalah yang “memaksa” setiap karyawan Pertamina tanpa terkecuali untuk mengubah orientasi produksi menjadi orientasi bisnis. Dengan kalimat berbeda, Rhenald Kasali (dalam Mutasi DNA Powerhouse; Pertamina on The Move, 2008: 45). menyebutnya perubahan “dari pegawai model birokrat profesional menjadi entrepreneurial executive, dari perilaku yang menghindari risiko menjadi perilaku yang berani mengambil dan menghitung risiko.”

Dukungan Pemerintah
Sama halnya dengan Cheng Ho, industri perminyakan nasional membutuhkan dukungan serius pemerintah. Dukungan ini bukan berarti untuk memanjakan pelaku industri ini, melainkan untuk menempatkan persoalan Pertamina selama ini secara proporsional. Dukungan pemerintah bukan berarti seluruh dividen dan pungutan resmi (pajak, bea impor crude oil) yang terkait dengan Pertamina dihilangkan atau dicabut. Pasalnya, mustahil menghapus seluruh pungutan tersebut, sementara pendapatan utama APBN kita masih bergantung pada sektor migas.
Karena itu, sebuah kebijakan yang mempermudah sekaligus adil manakala pemerintah memihak pelaku industri migas nasional secara bijak tanpa harus khawatir ada kesan terlampau memproteksi. Penentuan besaran Alpha yang seragam (fix)—dan kurang memerhatikan tingkat kesulitan dan keekonomian antardaerah—dalam rumusan MOPS plus Alpha untuk PSO (public services obligation) BBM subsidi, berpotensi hanya menguntungkan pesaing Pertamina. Masih soal Alpha, pemerintah (termasuk DPR) juga kurang tanggap ketika asumsi harga minyak mentah yang digunakan di pasaran dunia ternyata sudah melampaui asumsi yang dibuat untuk dalam negeri. Seperti ditulis dalam laporan Warta Pertamina edisi Desember 2009, lonjakan harga minyak mentah serta kenaikan biaya produksi dan sewa kapal mengakibatkan Pertamina berpotensi merugi sebesar Rp 240 miliar pada 2010 ini.
Bentuk dukungan pemerintah dan DPR pula, manakala keduanya mendorong Pertamina untuk berinvestasi dalam ekspansi bisnisnya. Tidak lagi seperti yang terjadi saat ini: memperketat setoran dividen untuk kebutuhan investasi Pertamina. Simak bagaimana perubahan sikap Zheng Du terhadap musuh yang mengancam kedudukannya: sang kemenakan. Awalnya Zheng Du panik manakala kemenakannya melarikan diri, karena sewaktu-waktu bisa mengudeta dirinya. Maka, diutuslah Cheng Ho untuk menangkap kerabatnya itu. Akan tetapi, misi politik itu tetap dilakukan dengan akal sehat bahkan dengan memasukkan tujuan lain. Melanggengkan kekuasaan ditempuh tidak hanya dengan melenyapkan sang kemenakan, namun kini menjadi penguatan dukungan secara politik, sosial, ekonomi dan budaya dari negeri-negeri seberang China. Jika emosi Kaisar Zheng yang dominan untuk mengenyahkan sang kemenakan, boleh jadi, kisah legendaris armada Cheng Ho tidak ditulis harum oleh para sejarawan.
Demikian pula bila pemerintah dan wakil rakyat menghendaki hadirnya powerhouse yang mengharumkan Indonesia, sepatutnya aliran dividen diproporsionalkan dengan komitmen Pertamina berekspansi. Dengan pemikiran yang sama, semestinya tidak perlu lagi ada keluhan tertunda-tundanya pembayaran piutang Pertamina di BUMN strategis (PLN, Garuda) dan TNI, atau belum dibayarnya beban subsidi konversi energi dari minyak tanah ke elpiji.
Karena itu, dukungan pemerintah terhadap Yongle Pertamina semestinya bukan sekadar retorika, melainkan berlandaskan pemikiran visioner dan kalkulasi strategis. Tidak semata menguntungkan satu pihak namun di pihak lain ada yang dirugikan. Semisal tidak ada yang diuntungkan, setidaknya kebijakan yang ditempuh meminimalkan beban keuangan Pertamina. Dengan demikian, armada Pertamina mampu memenuhi target proyeksi laba pemerintah di satu sisi, sekaligus memunculkan kebanggaan nasional dengan hadirnya maskapai minyak yang disegani dunia.

Loyalitas dan dedikasi
Loyalitas dan dedikasi adalah pelumas dari armada Cheng Ho dalam arti harfiah. Keduanya merupakan faktor pemersatu perbedaan yang ada dan kasat di antara para bawahan sang Laksamana. Ada visi yang mengikat mereka, dan ada pemicu untuk mewujudkan visi itu: loyalitas dan dedikasi. Dengan loyalitas dan dedikasi pula, banyak anak buah Cheng Ho memilih bermukim selamanya di negeri yang dikunjunginya (karena menikah dengan penduduk setempat atau jatuh sakit sehingga tidak memungkinkan melanjutkan pelayaran). Bukan untuk melarikan diri dari tanggung jawab, melainkan membangun kemesraan negerinya dengan negeri seberang dengan jalan berbeda.
Dalam posisi sebagai pelaku industri vital, Pertamina tentu menghajatkan hadirnya loyalitas dan dedikasi para karyawannya, mulai dari tingkat pimpinan hingga karyawan bawah. Dengan posisi sebagai peringkat kedua produksi migas di tanah air, adanya loyalitas dan dedikasi menjadikan mesin produksi Pertamina akan tetap berjalan menuju visi yang hendak dicapai. Jadi, bukan lagi berpandangan narsis sebagai pegawai birokrasi, karena tokh para awak kapal Cheng Ho pun mengejar visi tidak dengan membanggakan statusnya sebagai abdi Kaisar.
Loyalitas dan dedikasi tidak saja bersifat horizontal berlaku di dalam lingkungan Pertamina sendiri. Loyalitas dan dedikasi juga berlangsung antara Pertamina dengan konsumen (customer focused). Pengadaan dan peningkatan sebaran SPBU Pasti Pas! dalam konteks ini merupakan langkah tepat untuk mendekatkan ke konsumen, sekaligus mengikis persepsi publik tentang ketidaktransparanan Pertamina di masa lalu. Wujud lain yang juga sering ditampilkan Pertamina adalah kepedulian sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), semisal Program Kemitraan dan Bina Lingkungan yang telah berjalan lama. CSR dalam kaitan ini tidak lain pengorbanan Pertamina kepada konsumen menuju visi perusahaan—lebih-lebih setelah Road Map menuju perusahaan minyak kelas dunia dicanangkan.

Filantropi yang Altruistis
Selain sebagai artikulasi loyalitas dan dedikasi, CSR dikenal jamak sebagai wajah sosial perusahaan. Melampaui pengertian umum yang lazim dikenal, CSR perusahaan migas seperti Pertamina semestinya bisa mencontoh gerakan filantropi armada Cheng Ho. Secara horizontal, armada Cheng Ho tidak berupaya untuk menaklukkan daerah yang disinggahinya (bandingkan dengan pelayaran di era dinasti sebelumnya, atau bahariwan Eropa pada puluhan tahun berikutnya). Seperti diutlis Frank Viviano, armada Cheng Ho justru kerap mengamankan sebuah kawasan dari keberadaan para bajak laut (yang terkenal adalah penaklukan bajak laut terkemuka di Selat Malaka: Chen Zuyi), atau mendamaikan dua pihak di sebuah negeri yang berkonflik (seperti di Sri Lanka, antara orang Tamil yang beragama Hindu dengan dua kerajaan Budha Sinhala). Demikian pula, peran armada Cheng Ho dalam meredam agresivitas sebuah kerajaan besar terhadap kerajaan yang lebih kecil dan lemah, seperti yang dilakukan tatkala Siam hendak menduduki Malaka (Yuanzi, 135-137).
Jadi, secara vertikal Cheng Ho telah memelopori wajah sosial secara komprehensif. Dia berupaya memahami dan mendekati ranah budaya dari negeri yang dikunjunginya. Tidak cukup itu, jalinan diplomatik digelar. Pernikahan anak buahnya dengan penduduk setempat diperkenankan dalam rangka mengikat persaudaraan dua negeri. Asimilasi budaya China dengan budaya lokal inilah yang menjadikan armada Cheng Ho selalu diterima baik, sehingga pada masa sekarang pun negeri-negeri yang pernah disinggahi itu memberikan penghormatan.
Dalam filantropi Cheng Ho, altruisme dikedepankan dalam arti sesungguhnya, alih-alih sebagai kamuflase. Altruisme menjadi penting ketika CSR sudah menjadi komoditas branding perusahaan. Dalam konteks ini, filantropi yang tidak disusupi pengomoditasan tidak perlu dicemasi akan merugikan strategi perusahaan. Dengan mendekat pada konsumen lewat CSR, Pertamina bisa menguatkan loyalitas dan dedikasi konsumen sekaligus karyawan.
Seperti halnya penghormatan kuat pada Cheng Ho masih ada di penduduk yang daerahnya pernah disinggahi Cheng Ho, hal serupa amat mungkin dilakukan Pertamina. Ambil contoh dalam bantuan kredit untuk pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Lewat Program Kemitraan, pada 2009 Pertamina telah mengalokasikan Rp 600-700 miliar. Tak salah jika dengan angka penyaluran kredit ini saja Pertamina tak ubahnya “bank kecil” (Warta Pertamina, Juni 2009). Angka ini (belum termasuk tahun-tahun sebelumnya) memang bukan angka kecil. Besaran angka ini perlu dipandang bukan sebagai kesia-siaan, melainkan sebagai investasi Pertamina dalam memihak kemunculan pelaku usaha dari kalangan anak bangsa sendiri—yang imbasnya kelak bermanfaat bagi rakyat negeri ini pula.
Selain itu, pendekatan ke masyarakat juga dilakukan dalam investasi manusia, terutama lewat jalur pendidikan, melalui program beasiswa pendidikan, hingga yang mutakhir berupa pembagian kacamata gratis dan anjungan baca di kalangan pelajar atau mahasiswa. CSR dalam sektor pendidikan ini akan bermakna bila dilihat bukan sebatas seremonia BUMN kaya kepada masyarakat; namun, akan bermakna bila disiapkan sebagai pendukung dan cadangan di masa depan dalam mengawal proses transformasi Pertamina, sebagaimana langkah Zhu De dan Cheng Ho dalam menyiapkan para awak kapal dalam mega-ekspedisinya. Ketahanan di masa depan pulalah yang perlu menjadi bingkai semangat CSR lingkungan, seperti yang dilakukan oleh beberapa unit kerja Pertamina dengan membuat gerakan menanam mangrove.

Apresiatif pada budaya lokal
Kenangan pada Cheng Ho sering kali dihubungkan dengan aspek budaya. Ini tidak bisa dielakkan manakala sebuah budaya ternyata diikutsertakan sebagai bagian dalam sejarah pelayaran Cheng Ho. Strategi budaya armada Cheng Ho mengajarkan tentang perhatian dan responsif pada budaya lokal. Lalu, apa maknanya pada transformasi Pertamina?
Pertamina sejatinya bisa mengambil nilai-nilai kearifan lokal yang telah lama melekat di tengah masyarakat. Ramah dan murah senyum misalnya. Kendati akhir-akhir ini kian terkikis identitas Indonesia sebagai bangsa ramah dan murah senyum, Pertamina tidak boleh tinggal diam membiarkan keadaan ini terus berlanjut. Penerapan sikap ramah dan murah senyum secara tulus dalam program SPBU Pasti Pas! bisa dikatakan adaptasi dari nilai-nilai yang terkikis itu, namun ironisnya telah menjadi standar kerja di hampir seluruh korporasi internasional.
Pertamina bisa memainkan peranan pula dalam mengangkat semangat kolektivitas masyarakat kita pada masa lalu untuk ditawarkan ke masyarakat saat ini. Perhatian pada alam yang kemudian diikuti dengan sikap bersahabat dan merawat baik, bisa ditransformasikan sebagai gerakan hemat energi. Perhatian pada wisdom di tengah masyarakat, dengan demikian, sebetulnya bisa terintegrasi dengan program Pertamina. Konversi minyak tanah ke elpiji pada awalnya mendapatkan tantangan dan resistensi publik. Persoalannya tidak bisa diletakkan sebagai kesalahan atau kebodohan masyarakat. Adanya kulturalisasi alih-alih paksaan program, boleh jadi akan memunculkan akselerasi penerimaan publik lebih besar dibandingkan keadaan yang dijumpai sekarang ini.
Sebagaimana dalam kasus konversi minyak tanah ke elpiji, pengenalan dan pendekatan Pertamina ke masyarakat lewat beragam program, akan menemukan maknanya—seperti dalam armada Cheng Ho—manakala nilai-nilai kelokalan diangkat; atau nilai global dilokalkan. Dari sini niat baik Pertamina atau pemerintah tidak lagi dicurigai sebagai perpanjangan kepentingan asing. Mendekatkan budaya kerja Pertamina ke masyarakat (semisal lewat Pertamina Goes to School/Campus) atau sebaliknya, mendekatkan kearifan nilai lokal Nusantara ke lingkungan Pertamina, menjadikan kebanggaan publik kepada Pertamina benar-benar nyata. Proses semacam inilah yang pada paruh awal abad XV dijalankan Cheng Ho kepada anak buahnya.

Meneguhkan Kerelasian
Bukan kebetulan Dinasti Ming mengangkat duta besar negeri seberang untuk didatangkan ke China. Pertukaran duta politik sekaligus bermakna silang budaya dua negeri. Kerelasian (relationship) di sini dilakukan secara simultan; mulai dari antarnegeri hingga antarpersonal. Tidak hanya dua negara yang menjalin kekariban, namun juga individu anggota pelayaran Cheng Ho dengan individu penduduk setempat. Kerelasian yang terjadi pun berlangsung baik; dibuktikan dengan adanya silang budaya antara China dengan negeri setempat yang pernah disinggahi.
Kerelasian secara tersurat mensyaratkan sebuah kekuatan visi. Tanpa visi yang kuat dan terhayati, kerelasian yang terjadi lebih bercorak inferioritas budaya. Tanpa kepercayaan diri pada nilai kechinaan, sulit dibayangkan para anggota armada Cheng Ho mau berbagi pengetahuan hingga pengalaman dengan penduduk setempat yang ditemuinya.
Oleh karena itu, penguatan jejaring bisnis yang ingin dibangun Pertamina akan mengalami quantum leap ketika visi dijadikan pijakan utamanya. Dedikasi dan loyalitas karyawan Pertamina menjadi agunan tersendiri dalam mewujudkan relasi tersebut. Dengan modal ini, pihak luar akan memandang kredibel Pertamina sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk bergandengan tangan. Persoalannya, seperti diakui Direktur Utama, confidence level SDM Pertamina masih kurang (lihat: Warta Pertamina edisi Maret 2009). Bagaimana akan bisa melesat mengarungi samudera luas bisnis perminyakan, jika confidence level SDM Pertamina hari ini masih kalah dibandingkan awak armada Cheng Ho yang rata-rata bersahaja namun punya mimpi akan Yongle?
Pertanyaan berikutnya, bagaimana mewujudkan relasi yang setara pada saat Pertamina menggandeng (juga digandeng) IOC? Dalam hal ini Cheng Ho mengajarkan tentang kombinasi kemegahan dan keramahan. Kemegahan dalam arti kekuatan armada dan kesolidan pasukan; keramahan dalam arti toleransi dan altruisme alih-alih agresif untuk menganeksasi.
Ada perusahan migas internasional (IOC) yang dari kacamata awam lebih menampilkan kemegahan (baca: dominasi) untuk masuk dan mengeksplorasi kekayaan kita. Yang menarik, sebagian politisi justru menyambut baik kehadiran mereka, dan cenderung memandang sebelah mata kiprah Pertamina. Pertanyaannya, apakah IOC itu mau berbagi kerja sama dengan mitra lokal seperti Pertamina ketika Pertamina overseas di negara lain?
Meskipun bereputasi dan disegani serta berarmada tangguh, armada China pimpinan Cheng Ho tidak memanfaatkan semua kekuatan ini untuk menguasai negeri yang dikunjunginya. Tidak ditampakkan sikap sombong apalagi arogan. Menarik dicermati pengalaman Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan, ketika masih bekerja di service company di Halliburton. Menurut Karen, perusahaan minyak asing memandang “service company are our strategic partner.” Sementara di Pertamina kala itu masih kuat mentalitas sebagai bouwheer atau pemilik (lihat Warta Pertamina edisi Maret 2009). Maka, mentalitas curiga kepada pihak lain begitu kuat, dan ini—lagi-lagi—masih berkaitan dengan kurangnya confidence level dan pemahaman atas visi perusahaan.
Padahal, fakta membuktikan, perluasan dan penjagaan relasi dimaksud telah memantapkan langkah Pertamina menuju tingkat perusahaan minyak kelas dunia. Dengan kerja sama Pertamina bisa merambahi ladang minyak di sejumlah negara (seperti Malaysia, Libya, Sudan, Qatar, Vietnam, Australia), termasuk kesempatan belajar menjadi mumpuni dalam bidang offshore. Upaya pemercepatan transformasi Pertamina juga tidak terpisahkan dari adanya building partnership.

Kemauan belajar
Sumber daya ahli berjumlah 400 orang profesional BP Indonesia (dengan keahlian rata-rata 20 tahun) yang diakuisisi Pertamina pada pertengahan 2009 (Blok ONWJ PSC) merupakan aset luar biasa untuk memuluskan transformasi Pertamina. Keahlian mereka dalam offshore dapat mengubah performa Pertamina yang hanya jago dalam onshore. Syaratnya, keahlian mereka itu bisa disemaikan di lingkungan Pertamina.
Proses yang sama berlaku bagi sumber daya Pertamina yang telah menimba ilmu bersama sumber daya dari perusahaan minyak IOC. Pengalaman pribadi yang dibagikan kepada orang lain itu akan berkombinasi menjadi pengalaman dan pengetahuan baru bagi orang lain dan juga sumber pengalaman atau pengetahuan awal tadi. Bagaimanapun juga, roda bisnis saat ini—dan diprediksi pada masa mendatang—memasuki era pengetahuan. Di sinilah pentingnya pengelolaan pengetahuan (Knowledge Management).
Knowledge management, menurut Bill Gates dan Collins Hemingway (dalam Business @ The Speed of Though, 2001), berarti “mengelola aliran informasi, menyampaikan informasi yang benar kepada orang yang membutuhkannya sehingga mereka dapat bertindak sesegera mungkin.” Secara luas KM diartikan sebagai pengelola atau manajemen dari knowledge organisasi untuk menciptakan nilai bisnis atau membangun daya saing.
Seperti halnya Cheng Ho yang membawa para penulis untuk merekam jejak perjalanan armadanya (antara lain Ma Huan dan Fei Xin), Pertamina hendaknya tidak menyepelekan setiap jejak interaksi (relasi) antara karyawan perusahaan dan stakeholder perusahaan. Untuk itu, dari program Knowledge Management Pertamina (Komet) diharapkan terlahir SDM tangguh Pertamina yang bisa membawa atau melanjutkan transformasi perusahaan. Amat relevan dan tepat pernyataan Wakil Direktur Utama Omar Sjawaldi Anwar, bahwa “Kemampuan kita harus sejajar dengan International Oil Company, di mana melalui para pekerja, kita akan dapat mempertinggi daya saing perusahaan di masa yang akan datang” (Warta Pertamina edisi Desember 2009).
Kekuatan tidak tampak armada Cheng Ho adalah berhimpunnya orang-orang berpengetahuan beragam—mulai dari pelaut, marinir, birokrat, tabib, herbalis, teknisi kapal, akuntan hingga koki. Adanya visi yang kuat mengarahkan ego setiap anggota armada untuk berbagi pengetahuan, baik dengan sesama anggota armada ataupun dengan penduduk lokal yang disinggahi. Di sinilah dibutuhkan toleransi dan apresiasi dalam mengelola KM. Penghargaan dan perhatian tinggi kepada tiap pengalaman perlu dituliskan dan diangkat sebagai pengetahuan bersama perusahaan, tanpa membedakan senioritas atau status jabatan.

Retrospeksi Pertamina
Strategi Cheng Ho didasari pertama-tama bukan oleh sebuah semangat menyerang (agresi), namun membuka persahabatan. Dalam konteks perminyakan nasional, di tengah persaingan yang masih dipimpin perusahaan migas asing, semangat defensif tentu terdengar ganjil. Beroperasi secara monopoli (seperti pada pengalaman masa lalu sebelum UU Migas No 22/2001 lahir) bukan saja akan mengundang antipati, namun juga kesulitan beradaptasi pada iklim persaingan di masa mendatang. Boleh jadi saat ini sebuah perusahaan minyak masih sebagai pemain di urutan pertama, di kemudian hari, karena beberapa faktor, ia menjadi pemain yang kurang diperhitungkan (bandingkan dengan tesis Davis Mosby dan Michael Weissman [2006] dalam The Paradox of Excellence: How Great Performance Can Kill Your Business, tentang performa hebat sebuah perusahaan ternyata bisa membawa petaka dengan mengambil contoh perusahaan pengangkutan barang, Premire Speciality Trucking). Dalam konteks inilah, Pertamina perlu lincah untuk menjalin aliansi strategis dengan perusahaan migas internasional guna menerapkan strategi Cheng Ho.
Penerapan delapan kunci manajemen Cheng Ho di atas harus dilakukan secara simultan dan tidak parsial. Membangun reputasi sekaligus branding Pertamina di tengah turbulensi kenaikan harga dan keterbatasan cadangan minyak bumi, bisa bercermin—salah satunya—dari Cheng Ho dan juga putusan Zhu De. Kebesaran perusahaan pastilah sudah dipancang dan ditekadkan. Perusahaan-perusahaan besar mustahil berjalan tanpa visi. Visi yang dibuat Pertamina dalam hal ini tinggal dikonsisteni. Yongle untuk serius maju bagi Pertamina harus lebih tampak dan terasa di publik dibandingkan keluhan dan rintihan perusahaan menghadapi kendala menuju visi.
Yongle bagi Zhu De adalah ratusan juta warga yang dipimpinnya, yang membutuhkan wibawa. Sedangkan bagi Pertamina, Yongle itu adalah 200-an juta lebih penduduk Indonesia yang membutuhkan pasokan energi strategis. Warga-warga itu bukan semata rakyat jelata, namun juga para pelaku ekonomi dan aparatur kreatif yang kelak mengangkat harkat negeri ini. Karena itu, Pertamina bisa dikatakan memainkan peranan secara politis, dalam arti turut memajukan bangsa; terlebih lagi dilihat dari perspektif menciptakan kestabilan sumber pasokan energi yang berkait erat dengan ketangguhan bangsa.
Kontribusi Pertamina dalam APBN tidak bisa dilihat semata-mata dari sisi ekonomis (sumber pemasukan anggaran pemerintah), sebagaimana sering dibahas selama ini. Dalam Pertamina ada kontribusi sosial (melalui kemitraan dengan konsumen dan warga masyarakat secara umum dengan agenda CSR). Dalam Pertamina ada agenda mencerdaskan bangsa; mencerdaskan yang diawali dari diri Pertamina itu sendiri, sebagaimana Cheng Ho harus mencerdaskan diri terlebih dulu sebelum menjelajahi samudera yang amat luas. Dari sinilah visi Pertamina untuk go international tidak lagi dipandang sebagai janji-janji kosong di atas kertas. Kerja Keras Adalah Energi Kita, dengan demikian betul-betul slogan yang disertai tindakan; mengatasi turbulensi berpikir birokratis yang secara jitu diungkapkan Drucker, seperti di awal tulisan ini.[]

Sumber foto: repro dari Warta Pertamina, kecual ilustrasi Cheng Ho (www.wissenschaft-online.de)

134 komentar:

Galuh Ristyanto mengatakan...

Selamat ya telah menjadi pemenang pertama Pertamina Blog Contest 2009. Artikelnya emang bagus banget. Sangat berbobot.

katakataku mengatakan...

selamat telah menjadi jawara di blog contest pertamina :D

vet-klinik mengatakan...

selamat bro udah jadi pemenang.....

Pro-U Media mengatakan...

Selamat buat Mas Yusuf. Kapan syukurannya?

come n share mengatakan...

Selamat Mas..sukses sll

Anonim mengatakan...

selamat ya mas.
oia, saya izin copy artikelnya sbg pnyemangat tentu dgn mnyertakan url blog ini. makasih mas.

Yusuf Maulana mengatakan...

@Anonim: Sumonggo, asalkan sampeyan sebutkan linknya. Semoga bisa membawa barokah dan hidayah!

Astaga.com Lifestyle On The Net mengatakan...

mau ngucapin selamat juga atas kemenangannya.. :) sukses selalu untuk Anda.

taskertas.com mengatakan...

selamat ya, maju terus

TeamTouring mengatakan...

selamat ya bro

hamka mengatakan...

congrats gan

Technology mengatakan...

selamat ya bro

Travel Tips mengatakan...

wow selamat gan, makan2 :D

riesurya mengatakan...

Selamat Pak Yusuf,
gak salah kalau para Juri PBC dan Jurnalis Pertamina memilih artikel ini sebagai pemenang juara I.

Cara Download Video Youtube Cepat mengatakan...

Selamat juga ya pak. Artikel yang memang pantas menjadi rujukan, dipenuhi dengan gugahan berkualitas dan solusi.

Salam kenal juga dari saya. jangan lupa berkunjung balik ya

Tongkonan mengatakan...

Tulisannya memang keren, pantas untuk jadi pemenang. Selamat ya pak... :)

Ranger mengatakan...

Selamat yaa....Anda memang layak menjadi juara, stay cool...

arif mengatakan...

selamat2 (applause), bagi2 dunk hadiahnya, dapet motor yah :D
tp tulisannya banyak seh, jd seep

Lembaga Pelatihan mengatakan...

Selamat atas kemenangannya dalam Pertamina blog Contest... memang artikelnya keren banget...!!1

gaelby salahuddin mengatakan...

selamat bos ! artikelnya emang mantab n pantas jadi jawara.
salam kenal... :)
http://gaelby.blogspot.com

Gita P Djausal mengatakan...

Analisis yang sangat menarik.

Saya baru belajar untuk membaca buku dan mempelajari seni perang.

Anda menjadikan hal tersebut terdeskripsikan dengan baik dan bagaimana perusahaan harusnya menyikapi keputusan-keputusan strategis yang mampu membawa perusahaan ke arah yang lebih baik.

Salut!

Yusuf Maulana mengatakan...

@All Blogger & Commentator: Terima kasih..terima kasih atas apresiasi, dukungan dan doa kalian semua. Kalian adalah para kreator yg turut menginspirasi saya.
@Gita P. Djausal: saya juga ingin belajar pada Anda, Mbak. Sudi kiranya berbagi pengetahuan soal seni perang, khususnya utk aplikasi di manajemen perusahaan (negara).

koko mengatakan...

mantap tulisannya

eshape mengatakan...

Penyerahan hadiah diundur ya.
Selamat deh.

Salam

http://ekoshp.com/

hmcahyo mengatakan...

selamat-selamat-selamat :D

Astaga.com lifestyle on the net mengatakan...

selamat telah menjadi pemenang, tulisannya emang bagus so layak utk jd pemenang

Anonim mengatakan...

biasa aja...







tapi mantabzzz!!!! hehe

hadi mengatakan...

selamat ya, artikelnya mantab

Blogger Media mengatakan...

Selamat ya, memang pantas jadi juara 1.

faris vio mengatakan...

entuk montor... hehe selamat den...

Lora Amir Husin mengatakan...

Selamat atas kemenangan sahabatku dalam Pertamina Blog Contest, semoga semakin menambah semangat meningkatkan kualitas tulisan dan menjaga keberlanjutan blog ini.

Yusuf Maulana mengatakan...

@All: terima kasih atas apresiasinya
@Lora Amir H: Insya Allah Pak. Mari giatkan menulis untuk sedekah kebajikan.
@Faris Vio: terima kasih. Blog Anda memberikan templates inspiratif. Teruskan berkarya, terlebih tema lokal--asli Nusantara!

kasur angin mengatakan...

dahsyat gan,dapat menghubungkan manajemen baginda Nabi Muhamad SAW,dengan pertamina,sebagai salah satu solusi untuk kemajuan pertamina pada khususnya dan Bangsa ini pada umumnya....selama ya!!!

kasur udara mengatakan...

Berbagi gan Rahasianya,biar sukses seperti agan..Kalau agan puyeng dan lelah setelah berpikir sekian lama,pasti membutuhkan coolingdown,jadi akan membutuhkan kasur udara...
he..iklan dech.
SELAMAT YA GAN..! HADA MINFADLI ROBBI...

Achmad Taher mengatakan...

selamat menjadi pemenang...artikel yg oke

Yusuf Maulana mengatakan...

@Achmad Taher: terima kasih, sahabat.

mengapatidak mengatakan...

wah2.... ternyata pemenangnya ini toh.....
hmmm.... pantes aja. artikelnya keren.
salam kenal mengapatidak.

rusdi mengatakan...

Mas Yusuf,
selamat ya atas penghargaan sebagai pemenang Pertamina blog contest

sekalian mohn ijin pasang link di blog saya
http://ghiselnotes.blogspot.com

terimakasih
rusdi

Yusuf Maulana mengatakan...

@Mengapatidak: Mengapa tidak? Blogging terus!
@Rusi: Monggo, Mas.

Ali | Journal Of Student mengatakan...

Selamat ya Mas.. :D

Yusuf Maulana mengatakan...

@Ali: Sama-sama, terima kasih.

baianoe mengatakan...

Meski telah saya mau ngucapin selamat buat mas yusuf yang udah jadi pemenang... Salam kenal ya mas... keep blogging!!

aan mengatakan...

nice (thumb)

salam kenal :)

Yusuf Maulana mengatakan...

@Baianoe: Terima kasih; slaam blogger pula!
@Aan: Salam kenal balik pula, sobat!

apoy mengatakan...

wah... wah... mantep2... lam kenal mas

Yusuf Maulana mengatakan...

@Apoy: Terima kasih, Mas.

tas kertas murah mengatakan...

selamat ya.. saya salut atas kemenangannya... jadi ikut semangat nih..

Yusuf Maulana mengatakan...

@ Tas Kertas Murah: Terima kasih...ayo semangat menulis di blog yuk; menulis yang menggerakkan orang.

Ahmadsyah mengatakan...

salam kenal,,

Yusuf Maulana mengatakan...

@Ahmadysah: salam kenal juga, Sobat! Terima kasih atas sapanya.

windows gadget mengatakan...

buat pertamina : Selalu berikan terbaik untuk masyarakat dan negara!!!

Yusuf Maulana mengatakan...

@Windows Gadget: Setuju, terlebih sejak 2-3 bulan terakhir ini, banyak persoalan pelik soal permigasan

iphone 4g jailbreak mengatakan...

@windows gadget

bener!! berikan yang terbaik untuk masyarakat, bangsa, dan negara!!!!!!!!!!!

e_susilo mengatakan...

Selamat untuk anda dari Saya

rodes mengatakan...

selamat smg sukses..slam kenal sobat

Yusuf Maulana mengatakan...

@E-Susilo: Terima kasih.
@Rodes: Terima kasih, dan salam sukses juga buat Anda.

Suhari mengatakan...

Selamat ya bro

Yusuf Maulana mengatakan...

@Suhari: Sama-sama, Kawan.

Web Developers USA mengatakan...

Excellent post. very informative article. thanks for sharing with us.

21 De Mayo Dia Del Juicio Final mengatakan...

Selamat anda layak jadi pemenang,...
Salam

Aulia Rahman mengatakan...

Artikel yang menarik. Salam http://fis.uii.ac.id/

Yusuf Maulana mengatakan...

@21 De Mayo: Terima kasih
@ Aulia Rahman: terima kasih atas apresiasinya.

Azzhuramazda mengatakan...

Menarik bgt artikel ny gan..
sukses selalu..
business and motivation

Yusuf Maulana mengatakan...

@Azzhuramazda: terima kasih atas anjangsananya, salam kenal

Lenterak mengatakan...

Meski artikel panjang, tetap meanrik untuk dicermati

Kang Andre mengatakan...

Menarik ulasannya dan buat referensi Cheng Hoo.

988BET Agen Bola Untuk Prediksi Piala Eropa 2012 mengatakan...

selamat ya baang moga sukses slalu, salam kenal

rumahkreatifaja.com, produsen kereta mini, kereta mall, dan komidi putar terbaik di Indonesia mengatakan...

mantap gan ...

Laku.com belanja online grosir eceran murah dan aman mengatakan...

artikel yang menarik bang ..

Info Laku.com belanja online grosir eceran murah dan aman mengatakan...

Memang kita harus banyak belajar dari negara-negara maju lainnya tentang teknologi, terlalu jauh negeri ini tertinggal. Masalah korupsi saja tidak pernah tuntas rasanya. Artikelnya bagus kawan.

Sepeda motor bebek Jupiter Z1 mengatakan...

Kualitas suatu bangsa tergantung dari cara mereka belajar dan kemauan yang tinggi. Semoga Indonesia semakin hari semakin maju dan mempunyai banyak tenaga profesional yang menghasilkan.
Artikelnya siiipp.

berita terbaru mengatakan...

mantabs yah om

agen sbobet mengatakan...

thank bang

Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia mengatakan...

thank mas, sangat bermanfaat sekali .

Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia mengatakan...

mantap gan thanks

Yusuf Maulana mengatakan...

Terima kasih atas kunjungan Anda, sama-sama semoga bermanfaat ya.

Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia mengatakan...

http://cafeiin.blogspot.com/2012/11/commonwealth-life-perusahaan-asuransi.html

bagus artikelnya

Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia mengatakan...

makasih mas infonya sunggu bermanfaat banget.

Software Toko Program Kasir Terbaik mengatakan...

terima kasih info nya , salam sukses selalu

Rakuten.co.id: Toko online murah, serba ada Barang unik Jepang mengatakan...

salam kenal ya mas. info nya menarik

Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia mengatakan...

artikelnya sangat bagus... salam kenal...

Waletbet Promo Bonus 100% Sportsbook dan Casino Online mengatakan...

blog walking here , i am from jonggon

Deprimaterra.com kawasan industri dan pergudangan eksklusif dengan penghijauan mengatakan...

selamat maz....

commonwealth life perusahaan asuransi jiwa terbaik indonesia mengatakan...

wah artikelnya keren banget,,bagus mas,,,,bermanfaat sekali nih

ekiosku.com jual beli online aman menyenangkan mengatakan...

makasih banget deh atas informasinya yg mantap

Harga Blackberry Terbaru mengatakan...

betah baca artikelnya..
update terus blognya mas.. :)

Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia mengatakan...

saya tau Laksamana Cheng Ho gara2 film Pak Prof Yusril Ihza Mahendra yg memainkan peran Laksamana Cheng Ho, dan luar biasanya lagi saya mengetahui bahwa Laksamana Cheng Ho seorang muslim.

Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia mengatakan...

Great SITE, Keep Post. salam kenal yabang Yusuf. hehe...

Yusuf Maulana mengatakan...

Terima kasih Bung atas kesetiaannya mengunjungi blog saya. Betul, Cheng Ho perlu disebarkan gagasan dan kisahnya agar tidak ada klaim sepihak menyesatkan. Sebagai Muslim, Cheng Ho bisa menebarkan manfaat bagi orang lain tanpa pandang status dan predikat.

commonwealth life perusahaan asuransi jiwa terbaik indonesia mengatakan...

keren dan sangat bagus sekali ulasannya semoga bisa bermanfaat, salam kenal dari blogger solo mas

Indonesia Business Directory mengatakan...

semoga sukses selalu dan blog nya bermanfaat

Fortuner SUV Terbaik mengatakan...

uraian yang menarik mas bro..pantas aja keluar sebagai pemenang....artikelnya berbobot dan menarik..

Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia mengatakan...

patut dicontoh niih..dalam pembuatan artikel bener-bener berkualitas mas....sukses selalu mas...

Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia mengatakan...

mantap atrikelnya sobat...thanks...

Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia mengatakan...

jadi betah juga bacanya mas..sukses selalu mas....

Jual beli online aman menyenangkan mengatakan...

Saya hanya menyimak mas, belum bisa komentar banyak

Blog Cafeiin mengatakan...

lanjutkan saja artikelnya nih mas.. menarik

Waletbet promo bonus 100% sportsbook dan casino online mengatakan...

ijin nyimak mas brow... mantape poll pokoke

Walebet Promo Bonus 100% Sporsbook dan Casino Online mengatakan...

manteb kang, nyimak aja ya..

Seragam Kerja Kantor Murah di Surewi mengatakan...

nice info ...

Seragam Kerja Kantor Murah di Surewi mengatakan...

mantap ne infonya.

Seragam Kerja Kantor Murah di Surewi mengatakan...

klo ga salah ini dulu yg dapat sepeda motor dari pertamina ya ? selamat

Mau Bikin Website + Hosting Murah AbizZ? Ke Rajawebhost.com aja! mengatakan...

masi bisa nyimak aja min, komentarnya gabisa banyak -_-

Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia mengatakan...

Wah Mantap Nih Artikelnya, Baru Tau Kalo Pertamina Belajar Dari Laksamana Cheng Ho
Di Tunggu Kunjungan Baliknya :D

lagu terbaru mengatakan...

Kerja keras dan keberanian Cheng Ho di kemudian hari berhasil mewujudkan impian Kaisar.

tips entrik mengatakan...

manteb banget nih kualitas artikelnya.pantes di contoh nih hehehe

cara download youtube mengatakan...

nyimak dulu :D

sms lucu mengatakan...

mantap artikel nya mas, update terus mas.. :) kata lucu

robywakass.blogspot.com mengatakan...

Memang benar, tanpa kerja keras, semuanya tidak akan menjadi lebih baik, salam kerja keras

cara berhijab mengatakan...

Laksamana cheng emang figur yang luar biasa,

teknoku mengatakan...

Seorang figur yang luar biasa, seharusnya tokoh di negeri ini bisa berkaca pada cheng ho yang bijak itu

bbandro.com-berita gadget terbaru mengatakan...

ya om , seorang figur yang luar biasa, cheng ho

Andri mengatakan...

berkacamata dari orang terbaik bisa bikin kta jadi yang terbaik

Yusuf Maulana mengatakan...

Terima kasih pembaca budiman atas tanggapan dan apresiasinya. Cheng Ho sosok yang JAUH lebih besar dibandingkan Colombus yang diagungkan bak hero takbercacat itu. Setuju?

ekiosku.com jual beli online aman menyengkan mengatakan...

Cheng Ho memang penuh inspirator buat kita semua, kita perlu meneladaninya..setuju sekali mas bahwa Cheng Ho lebih punya peran dan jauh lebih besar dibanding Columbus...

Best In Ear Headphones mengatakan...

Keren om websitenya... isinya juga bermanfaat sekali...

hijab mengatakan...

seorang tokoh penjelajah ulung yang luar biasa

Acer Iconia PC Tablet Dengan Windows 8 mengatakan...

dukungan pemerintah adalah salah satu faktor terpenting

Acer Iconia PC Tablet Dengan Windows 8 mengatakan...

"Kerja Keras Adalah Energi Kita" benar2 sebuah kalimat sederhana yang memiliki makna tidak sederhana

Acer Iconia PC Tablet Dengan Windows 8 mengatakan...

sungguh luar biasa bahwa armada Cheng Ho tidak berupaya untuk menaklukkan daerah yang disinggahinya

Promo Bonus 100% Sbobet, Ibcbet dan Casino Online dalam rangka HUT BAVETLINE yang kedua mengatakan...

cheng ho patut untuk dijadikan contoh buat para pemimpin kita

Buy Cheap Furnitures mengatakan...

kerja keras adalah segalanya untuk mencapai keberhasilan..thank's untuk artikel ini

Promo Bonus 100% Sbobet, Ibcbet dan Casino Online dalam rangka HUT BAVETLINE yang kedua mengatakan...

terima kasih atas infonya

ESER Unlimited Power Bank mengatakan...

tq gan :D

Bank Mandiri Bank Terbaik di Indonesia mengatakan...

Bank Mandiri Bank Terbaik di Indonesia

Bank Mandiri Bank Terbaik di Indonesia mengatakan...

artikel bagus gan, ditunggu posting selanjutnya

acer iconia pc tablet dengan windows 8 mengatakan...

good artikel sobat...paparan artikelnya yg memukau dan menginspirasi.."kerja keras adalah energi kita"..

Yusuf Maulana mengatakan...

Terima kasih apresiasi rekan-rekan pebisnis semuanya. Teruskan wirausahanya, semoga barokah!

Anonim mengatakan...

wah bermanfaat sekali ya

Asuransi Jiwa Terbaik mengatakan...

Wah bermanfaat sekali artikelnya ya

Biodata Artis Indonesia mengatakan...

mantap artikelnya.... tunggu kunjungan baliknya..

Mazda Bloggers | Mazda News | Lovers | Dunia Unik | All Of Informations | Harga dan Spisifikasi | Kambuhlagi | Kambuhlagi | zona dewasa | Understikes | Seo Mazda | Files | Tegal Bloggers | Gallery Foto Artis | Cinema38 | Majalah 17 | Gallery Foto Hot | Dunia Lendir | Portal Online | Ptc Terpercaya | Fenomenal| Iklan Gratis | Koleksi Sipnosis Drama

MARGAHAYULAND mengatakan...

terima kasih sob untuk info yang sangat menarik ini

bunda cerdas mengatakan...

Hi there, I found your website via Google while searching for a related topic, your site came up, it looks good. I've bookmarked it in my google bookmarks. Down Forget Visit us at Mazda Bloggers Share Informations About Biodata Artis Indonesia and Gallery Foto Artis Bajumurmer.com Toko Baju Online Jual Baju Grosir Murah Reseller Dress Gamis and Tips Cara Agar Cepat Hamil

SEO Mazda mengatakan...

Nice Article...... Bimbingan Belajar Les Private di Jakarta - Bimbingan Belajar Les Private di Jakarta - Bimbingan Belajar Les Private di Jakarta

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.