Muharaman 1431: Sebuah Refleksi

1 Muharam 1431 Hijriah. Sebuah pergantian tahun, yang (semestinya) menandai perubahan, baik secara parsial maupun total. Galibnya, perayaan tahunan ini semarak, mengingat di sini adaah negeri kaum berpenduduk mayoritas Muslim. Sayang, rupayanya perayaan menyambut tahun masehi lebih meriah. Kendati, dengan pelbagai alasan dan distorsi yang amat jarang ditelusuri seorang perayanya.

Memang, 1 Muharam acapkali dirayakan juga oleh sebagian kalangan Muslim abangan dengan cara gegap gempita. Di tanah Jawa, perayaan Muharaman lebih dikenal dengan Malam 1 Suro. Faktnya, berbanding 180 derajat dengan semangat Muharam. Kesyirikan digelar resmi; difasilitasi dan didorong para seniman hingga cendekiawan. Tak kenal esensi ketika Sultan Agung menyinkretiskan Muharaman dengan tradisi Jawa (khususnya di Jogjakarta).


Maka, yang terjadi kemudian adalah parade kebodohan yang dikomodifikasi. Dimodernisasi atas nama menjaga budaya oleh para pengamat hingga media (tanpa terkecuali Kompas yang intelek pun "terpanggil" untuk melestarikan). Justru, pendangkalan aqidah, sebagai manifestasi keimanan murni seorang Muslim, digeorgoti nyatanya didiamkan. Tak ada autokritik memadai dalam hal ini. Ketika ada pun, sengaja didiamkan begitu saja.


Perayaan Muharam sesungguhnya tidak sekadar sakral dalam arti melampaui nilai transendensi yang diulas seorang liberalis di sebuah harian pada saat aku menulis artikel ini di weblog. Tidak sekadar untuk memberantas korupsi. Hijrah yang dikehendaki dalam Muharaman, sebetulnya, bermakna radikal. Termasuk menolak kehadiran neo-liberalis, penguasaan asing, penghambaan pada tatanan ekonomi yang tidak berpihak pada umat, hingga pemberdayaan umat agar bisa lebih cerdas menatap esok hari.

Permasalahannya, akankah setiap momentum tahunan ini hanya berulang dan berulang, lantas tak ada permaknaan lebih dalam? Bagiku, tahun baru Muharaman kali ini beradi kehadiran keluarga minus bapak, yang hampir sepekan sebelumnya dipanggil Allah. Sebuah pelajaran.

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas tanggapan berharga Anda untuk tulisan ini.