Berjodoh Buku

http://sibukmainbuku.blogspot.com/
Mendapatkan buku yang lama diincar itu seperti menemukan pasangan hidup. Sudah lama diidamkan, bahkan sejak berpuluh tahun silam, tapi apa daya isi kantong belum memungkinkan. Semasa kuliah betapa banyak buku menarik ingin dimiliki. Sebagian memang bersesuaian dengan perkuliahan; sebagian besar lagi sekadar untuk koleksi bacaan pada masa akan datang. Sayangnya, impian untuk memiliki buku-buku idaman itu kandas begitu penerbitnya tidak mencetak ulang.

Buku Aku Bagian Umat, Aku Bagian Bangsa karya Deliar Noer, misalnya, saya abaikan begitu saja meski dijual separuh harga pada 1999. Saya hanya sempat membeli Cahaya Rumah Kita Miranda Risang Ayu dan Paradigma Islam Kuntowijoyo dalam rentang yang nyaris berdekatan. Di kemudian hari, dua buku yang saya beli ternyata amat bernilai, terutama karya Pak Kunto. Walaupun buku legendaris beliau ini dicetak ulang, rasanya tetap berbeda dengan cetakan lamanya.

Ke Mana Tarbawi?


Awalnya dari salah satu grup WhatsApp saya mendapatkan informasi bahwa Tarbawi sudah berhenti terbit. Edisi terakhir yang saya tahu nomor 315 Maret 2014 (foto di atas). Tidak hanya berhenti menyajikan tulisan di majalah, laman penggemarnya di Facebook juga jarang diperbarui. Termutakhir akhir Mei 2014.

"Hilangnya" Tarbawi jelas kabar buruk. Cukup menyesakkan dada walau saya tidak rutin membelinya. Majalah yang konsisten mengulas bahasan seputar manajemen hati dan akhlak ini dikenal memiliki pembaca loyal. Sungguh mengherankan bila tidak terbit lagi. Padahal, oplah Tarbawi sekitar 5000 eksemplar. Sebuah angka yang cukup lumayan untuk terbitan media islamis.

Buku Lama di Toko Buku

“Teman-teman lebih suka ke Toga Mas, Pak, daripada ke Social Agency.” Ujar seorang mahasiswa sekaligus aktivis di Sleman, Yogyakarta. 

Saya masih menganggap preferensi memilih toko A ketimbang B masih wajar. Yang membuat saya menaruh minat adalah alasannya. Termasuk saat mahasiswa itu mengutarakannya. “Buku-buku Social Agency lama-lama.”

Mengunjungi toko buku atau juga perpustakaan karena kebaruan koleksi sebenarnya sah-sah saja. Belum tentu ada korelasinya dengan minat baca meski layak ditimbang sebagai bakal yang mencemaskan. 

Menampilkan Anak

Sabtu akhir pekan lalu saya menghadiri pameran buku yang diadakan sebuah penerbit dan jaringan toko besar nasional di Yogyakarta. Bersama para pengunjung pameran, ada sekumpulan anak-anak kecil yang bersiap meramaikan acara. Anak-anak itu akan menari di atas panggung yang disediakan panitia.

Anak-anak yang didandani cukup menor dalam ukuran saya itu hadir bersama ibu mereka. Sementara sang anak bersiap naik pentas, ibu mereka melihat-lihat buku yang dipamerkan. Bersiap naik pentas, ibu-ibu yang mayoritas berjilbab itu bersigap membantu buah hatinya yang semuanya tanpa penutup kepala.

Berakhirkah Hiperrealitas Politik?

http://www.fubiz.net/
Joko Widodo sudah bertemu Prabowo Subianto. Sementara Jokowi menjadi pendengar yang baik dari masukan mantan pesaingnya dalam pemilihan presiden itu, Prabowo meminta para pendukungnya untuk menjaga persatuan-kesatuan bangsa dengan melupakan konflik yang pernah ada. Menjaga keutuhan bangsa dengan tetap kritis pada jalannya pemerintahab Jokowi kelak.

Publik boleh lega, pemerhati juga kian sumringah, terutama dari kalangan yang mendukung Jokowi. Seolah-olah keberterimaan Prabowo adalah klimaks dari konflik yang mendera publik di negeri ini (seakan) dalam dua kutub. Polarisasi yang berjalan beberapa bulan terakhir diyakini bakal usai sejak bertemunya dua tokok tadi.