35, Buku, dan Titik Temu


Tepat 35 tahun dalam hitungan almanak masehi, saya coba refleksikan pengalaman membaca buku demi buku ketika pekerjaan yang utama adalah membaca. Benar, pekerjaan dalam arti mendapatkan penghasilan. Selepas tidak lagi duduk di organisasi kemahasiswaan (2001), saya kemudian menjadi tukang sibuk. Sibuk cari kesibukan berkumpul dengan anak-anak muda atau sebaya demi menjaga eksistensi.

Sehari-hari saya cukupi kebutuhan primer dari menulis untuk media cetak. Kala itu memang belum ada istri sehingga untuk seorang cukuplah. Sesekali bisa membeli buku dari honorarium menulis. Bahkan dibandingkan teman-teman saya yang merampungkan titel sarjana, ketika itu saya sudah lebih berada. Betapa tidak, mereka masih dibeasiswai orangtua sampai akhirnya pekerjaan mapan diterima.

Mei dan Buku Soeharto


m.bukalapak.com
Pada masa orang yang dibicarakannya berjaya, buku ini menjadi bahan wajib untuk mengetahui sang jenderal yang dikenal tertutup. Saat turun dari tahta kepresidenan, buku yang sama menurun drastis. Orang enggan untuk memilikinya karena bisa disangka simpatisannya. Sampai suatu waktu, tidak sampai lima tahun dari lengsernya, buku tersebut menaik di pasaran.

Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1989), hasil penyusunan G. Dwipayanan dan Ramadhan KH memang belum sefenomenal karya presiden pertama RI, Soekarno. Fenomenal dari sisi perburuan para pencinta buku. Waktu yang masih dekat dengan kematian sang tokoh, dan juga bayang-bayang hitam yang masih melingkupi bila kita bicarakan sekarang ini, diindikasikan sebagai penyebab otobiografi Soeharto seolah ragu-ragu untuk diakses rakyat yang pernah dipimpinnya.

Hadiah Aspal


Karena tidak piawai berbahasa Inggris, butuhlah saya pada Kamus Inggris-Indonesia karya John M. Echols dan Hassan Shadily. Buku terbitan Gramedia ini sudah menjadi legenda, atau bahkan nama generik. Bila menyebut kamus bahasa Inggris-Indonesia (juga Indonesia-Inggris) biasanya merujuk pada karya Echols dan Shadily ini.

Saking banyaknya permintaan pada karya tersebut, bukan hanya penerbitnya yang menikmati hasil. Para pembajak buku pun tidak mau ketinggalam. Saya belum mengetahui angka pastinya dari eksemplar buku bajakan karya Echols dan Shadily. Yang saya perkirakan bukan lagi pada angka ratusan ribu, tapi sudah pada jutaan. Betapa tidak, buku aslinya saya sudah eksis sedekade lebih. Pembajaknya pun tidak berdomisili atau berpusat di satu kota. Tiap kota sepertinya ada pembajak kamus Echols dan Shadily.

Hamka dan Hari Buku


Ketika Jumat ini jatuh sebagai peringatan Hari Buku Nasional, saya baru saja memulai lembaran awal Pribadi dan Martabat Buya Prof Dr Hamka, karya H Rusydi Hamka (1981).  Bukan sebuah kebetulan, dan atas skenario Allah-lah, saya menepatkan refleksi Hari Buku ini dengan sosok yang melahirkan banyak tulisan. Di buku yang tengah saya baca, Buya Hamka disebutkan punya 118  karya. Karya-karya itu ditulisnya sejak 1925 atau saat Buya menginjam 17 tahun!

Hamka punya keistimewaan tersendiri di mata saya. Bukan sebatas alim yang bisa diterima banyak kalangan, tapi juga figur yang tidak menggantungkan pada silat lidah. Penanya menari lincah bak tiada kenal henti. Sejarah Umat Islam, contohnya. Untuk ukuran masa itu dan sekarang, dibutuhkan riset terpadu dan bacaan komprehensif saat menuangkan pikiran, apalagi tentang sejarah. Namun, dengan cara mencicil, Hamka berhasil menuntaskannya menjadi buku setebal 960 versi penerbit Pustaka Nasional Singapura.

Becermin pada Oliver Twist


Pada 2 Mei, saya berada di Bogor ketika teman-teman saya bersibuk ria membicarkaan Hari Pendidikan. Soal Ujian Nasional masih menggelayut di ingatan saya ketika rentetan kalimat ketidakpuasan masyarakat soal pelaksanaan tahun ini yang begitu semrawut.

Sepulang dari Bogor, kemarin bersama hujan deras di Sleman, saya saksamai berita perbudakan di pabrik kuali di Tangerang. Anak-anak remaja menjadi korban pemilik berikut kaki tangannya.

Seketika ingatan saya melayang pada buku berlatar biru dengan ilustrasi yang tidak pernah saya lupakan. Karya Charles Dickens, Oliver Twist, terbitan Pustaka Jaya, adalah memori yang menghubungkan kejadian sepekan terakhir ini. Karya ini saya dapati dari paman saya, sayang tidak dalam keadaan utuh. Karya yang begitu membekas ketika saya duduk di kelas sekolah dasar, seingat saya sekitar kelas 3 atau 4.