Nasihat Emas Berbalas Cerca

Awal Desember 1966, satu kalimat pendek tapi lugas dikemukakan Ahmad Rasyid Sutan Mansur kepada jurnalis Mertju Suar yang mewawancarainya perihal Pemimpin Besar Revolusi, Soekarno, yang tengah terpuruk namanya di mata rakyat kebanyakan.

“Agar Bung Karno kembali ke masjid dan tinggalkan istana,” nasihat St Mansur, mantan Ketua Umum Muhammadiyah kepada Sang Presiden Republik Indonesia.

St Mansur sebenarya bukan sedang bermain politik. Usianya yang uzur kala itu teramat penting bila ditukar dengan kepentingan kekuasaan. Ia pun tidak sedang menepikan Soekarno, apalagi berniat mengusirnya dari tampuk kekuasaan. St Mansur hanya merasa iba selaku sesama Muslim. Kala itu nama Soekarno usai peristiwa pemberontakan PKI pada 30 September 1965, betul-betul berkebalikan semasa awal kemerdekaan negeri ini lahir.

Situasi Zaman

Situasi sering kali memaksa sebagian pejuang dakwah untuk berkompromi dengan keadaan. Tanpa ada penyesuaian, laju dakwah bisa terhenti sama sekali. Meski untuk itu gundah gulana di dada begitu kuat. Betapa tidak, lisan dan tindakan kita di hadapan situasi yang diciptakan rezim kerap berkebalikan.

3 Agustus 1965, Muhammadiyah memberikan doktor honoris causa kepada Presiden Soekarno dalam bidang agama. Tidak main-main, Filsafat Ilmu Tauhid dijadikan ranah yang pantas disematkan pada Soekarno. Promotornya juga profesor kenamaan di organisasi yang sama. Sebelum itu, Muhammadiyah juga memberikan predikat “anggota setia” kepada Soekarno. Sebuah sebutan yang tidak main-main kalau merujuk pada aturan yang berlaku di tubuh persyarikatan ini.

Isa Anshary, dan Subandrio

Tahun 1946, Mohammad Natsir memanggil teman perjuangannya di Masyumi, Isa Anshary, ke Yogyakarta. Natsir kala itu menjabat Menteri Penerangan di kabinet Sjahrir. Natsir dan Isa tidak hanya separtai, tetapi juga dibesarkan dalam satu organisasi: Persatuan Islam (Persis).

Isa Anshary, lelaki berperawakan pendek ini, dikenal sebagai Napoleon-nya Masyumi. Di kemudian hari, Isa adalah tokoh garis keras yang tidak kenal kompromi manakala memperjuangkan Islam sebagai dasar negara RI. Lebih-lebih bila berhadapan dengan kaum komunis, PKI.

Isa sendiri adalah unsur Masyumi yang kuat sosok keulamaannya. Sedikit berbeda dengan tampilan Natsir yang kuat sebagai figur intelektual. Ditambah lagi kesukaan Isa yang berbusana sarung dan berdasi, kesan sebagai ulama karismatik kian takterbantahkan.

Toleransi Tanpa Benci

muslimvoices.org
Ada spanduk partai peserta pemilu 2014 dengan bertuliskan “nasionalis-toleransi”. Sembari membawa-bawa ormas yang menaunginya, partai tersebut ingin menandaskan kenasionalismean dan keislaman yang didakuinya terelevan bagi Indonesia. Tidak masalah, itu pilihan dan sudah terwarisi dari lama.

Yang saya tidak mengerti adalah praktik dari nasionalis dan toleransi itu, khususnya kata “toleransi”. Sudah sering kita dapati para petinggi partai dan ormas yang berdekatan itu menggaungkan hingga berbusa-busa di media. Tidak cukup dalam retorika, mereka pun menerapkan saat—terutama—Natal. Begitu antusias mereka turut membantu penjagaan tanpa harus diminta sekalipun.

Majalah Lama

Saya tergerak untuk menghimpun majalah-majalah lama milik Partai Masyumi. Salah satunya, Hikmah. Menyusul kemudian majalah senafas yang juga dikhidmatkan buat umat dan bangsa (secara resmi bukan berafiliasi ke partai mana pun).

Saya bersyukur mendapatkan majalah-majalah tersebut relatif mudan dan murah. Mudah karena kini dengan hadirnya jejaring sosial kita bisa mendapatkan kebutuhan literasi kita tanpa harus menyita banyak waktu. Mengubek-ubek lapak di Shoping tinggal cerita lama. Sekadar dengan bertanya apakah sebuah lapak memiliki buku atau terbitan yang kita kehendaki, tindakan berikutnya menyertai: membeli atau menunda.

Bagi saya, mengumpulkan terbitan lama semacam majalah memiliki kebahagiaan tersendiri. Satu sisi bisa sebagai hiburan batin di tengah kepenatan aktivitas. Ia juga bisa menjadi bekal warisan bagi saya dan anak cucu nanti. Harus ada yang mau melestarikan pustaka berharga tempat kita mengais hikmah dan wawasan.