Tepat 35 tahun dalam hitungan almanak masehi,
saya coba refleksikan pengalaman membaca buku demi buku ketika pekerjaan yang
utama adalah membaca. Benar, pekerjaan dalam arti mendapatkan penghasilan.
Selepas tidak lagi duduk di organisasi kemahasiswaan (2001), saya kemudian
menjadi tukang sibuk. Sibuk cari kesibukan berkumpul dengan anak-anak muda atau
sebaya demi menjaga eksistensi.
Sehari-hari saya cukupi kebutuhan primer dari
menulis untuk media cetak. Kala itu memang belum ada istri sehingga untuk seorang
cukuplah. Sesekali bisa membeli buku dari honorarium menulis. Bahkan
dibandingkan teman-teman saya yang merampungkan titel sarjana, ketika itu saya
sudah lebih berada. Betapa tidak, mereka masih dibeasiswai orangtua sampai
akhirnya pekerjaan mapan diterima.






