Buku-buku Karta Pustaka

Kemarin, saya melewati Karta Pustaka, lokus intelektual yang pekan pertama Desember mendapat pemberitaan media massa. Ditutupnya Karta Pustaka tersebab “selesainya” tugas lembaga ini sebagai tempat perjalinan budaya Indonesia dan Belanda, biarlah menjadi sumber perbincangan kaum pintar di negeri ini, khususnya di Yogyakarta. Empat motor di parkiran berumput dengan pintu tertutup masih menjadi kenangan tersendiri buat saya.

Pekan pertama Desember, belasan motor hilir mudik seolah takmau berhenti. Awalnya belum banyak sampai kemudian sebuah koran Ibu Kota mengangkatnya. Ribuah buku yang dimiliki Karta Pustaka dijual ke publik. Saya datang di sana pada Kamis 4 Desember, hari keempat penjualan buku koleksi. Sudah banyak koleksi yang dibeli, tepatnya diborong, pihak lain, entah sesama pencinta buku, kampus dan pusat studi, hingga penjual buku bekas. Soal penjualan buku, atau barang bekas berharga, pedagang klithikan di kota kami terbilang trengginas. Saya membayangkan cerita ibu di Karta Pustaka ihwal pasangan suami-istri yang memboyong lengkap National Geographic lengkap dengan harga per edisi ‘cuma’ 5 ribu perak! Atau seseorang yang mengangka sebuah ensiklopedi teramat panjang buat ukuran mahasiswa sekarang ‘hanya’ dengan harga 500 ribu—senilai ponsel baru buatan Tionghoa.

Membuka Lagi Pagi

Desember ini saya tersendat memperbarui isi blog. Ada sekian pekerjaan yang harus diselesaikan. Saat yang sama, terkadang saya harus mengulik judul buku di Facebook. Sebuah kesibukan yang kerap menyita waktu dan pikiran. Tentu pula saya harus memikirkan alokasi uang dari pemasukan dan pengeluaran.

Tanpa terasa, tumpukan buku sudah meninggi. Sekian rupiah sudah dihabiskan untuk keinginan menambah daftar koleksi buku dan bacaan. Ada keinginan mulia, walau terkadang hal sublim untuk bergenit ria secara intelektual hadir. Tapi, godaan untuk memuliakan niat dalam memiliki buku harus diutamakan dan dimenangkan.

Memiliki buku dengan aroma kertas yang tercium setiap pagi saat mengawali kerja di ruangan tercinta, sungguh sebuah keindahan dan kemewahan tersendiri bagi saya. Kertas-kertas dari buku lawas khususnya, seakan menemani sebelum istri dan anak saya terjaga. Sebuah ritme hidup yang tidak dimiliki tiap orang, entah karena alasan apa pun.


Hari-hari ke depan, menambahi koleksi buku sepertinya tidak ingin dihentikan. Tapi, apa daya, saya harus berpikir realistis. Ada tanggungan untuk merawat semua koleksi itu dalam sebuah wadah yang layak. Tempat yang menaungi secara terhormat juga belum ada. Menyusunnya dengan apik lagi memudahkan satu tantangan lain. Betapa repotnya sepekanan ini kala beberapa teman membutuhkan buku berjudul tertentu tapi saya kesulitan mendapatinya di susunan tumpukan buku di ruang kerja. [] 

Perpustakaan Masjid Kampus

Repro Salah satu Lapak Buku di FB.
Bila pembaca ada waktu senggang, berkunjunglah ke masjid Al-Muqtashidin Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Sebuah masjid yang besar untuk ukuran Yogyakarta. Selain untuk shalat fardhu berjamaah, sempatkanlah bersantai sembari membaca buku-buku yang ada di rak perpustakaan masjid. Perpustakaan ini dikelola oleh unit kerohanian setempat yang bernama Jamaah Al-Muqtashidin (JAM).

JAM memiliki sejarah yang panjang dalam menancapkan dakwah Islam di fakultas ini. Jejak inilah yang bisa dilihat dari tema-tema buku yang ditampilkan di rak. Buku-buku berkategori langka tulisan para intelektual Muslim era 1980-1990-an bisa kita temui dengan mudah. Perpustakaan ini salah satu favorit saya untuk meminjam koleksinya. Aturannya tidak ketat, bahkan cenderung belakangan ini diabaikan alias tidak terurus.

Membuang Buku

Buku-buku tertentu yang dianggap tidak sejalan dengan arus pemikiran sebuah kelompok keagamaan pernah mengalami nasib tragis: dibuang. Kalau tidak salah ingat, sumber informasi saya juga menyebut adanya “perobekan”. Saya tidak ingat apakah smapai ada kasus pembakaran. Di manakah lokasi kejadiannya? Di salah satu fakultas bergengsi di Universitas Gadjah Mada.

Buku-buku karya Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, Yusuf al-Qaradhawy tidak boleh berada di rak perpustakaan salah satu unit kerohanian Islam di fakultas tersebut. Ulah oknum yang memegang kendali organisasi ini patut diduga diperbuat tanpa ada musyawarah dengan pengurus dan jamaah. Dibuang dan diperlakukan semena-mena hanya karena berbeda mazhab tapi kadung dianggap “sesat” dan “menyesatkan”.

Dosen Berpose

http://l3.yimg.com
Seorang kawan dosen di salah satu kampus negeri di Kota Pelajar membuat saya masygul. Status di Facebook-nya bukan soal refleksi atau analisis mendalam persoalan krusial yang tengah dihadapi umat ataupun bangsa. Sebaliknya, dia sering memampang pose dirinya—sesekali bersama sang istri—bak anak muda. Dengan jemari berbentuk V, dia acungkan sesungging senyum atau identitas tempat keberadaannya.

Bungah yang diperbuat kawan dosen tersebut sah, dan itu hak asasinya. Hanya, selaku pengampu perkuliahan humaniora, harusnya dia bisa berbuat lebih jauh. Merefleksikan sesuatu dengan teks atau buah pikir orang-orang besar dalam sejarah. Apalagi saya mengenalnya sudah lama selaku aktiis tulen dan pentolan di almamater yang kini tempat mengabdinya.