Membuang Buku

Buku-buku tertentu yang dianggap tidak sejalan dengan arus pemikiran sebuah kelompok keagamaan pernah mengalami nasib tragis: dibuang. Kalau tidak salah ingat, sumber informasi saya juga menyebut adanya “perobekan”. Saya tidak ingat apakah smapai ada kasus pembakaran. Di manakah lokasi kejadiannya? Di salah satu fakultas bergengsi di Universitas Gadjah Mada.

Buku-buku karya Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, Yusuf al-Qaradhawy tidak boleh berada di rak perpustakaan salah satu unit kerohanian Islam di fakultas tersebut. Ulah oknum yang memegang kendali organisasi ini patut diduga diperbuat tanpa ada musyawarah dengan pengurus dan jamaah. Dibuang dan diperlakukan semena-mena hanya karena berbeda mazhab tapi kadung dianggap “sesat” dan “menyesatkan”.

Dosen Berpose

http://l3.yimg.com
Seorang kawan dosen di salah satu kampus negeri di Kota Pelajar membuat saya masygul. Status di Facebook-nya bukan soal refleksi atau analisis mendalam persoalan krusial yang tengah dihadapi umat ataupun bangsa. Sebaliknya, dia sering memampang pose dirinya—sesekali bersama sang istri—bak anak muda. Dengan jemari berbentuk V, dia acungkan sesungging senyum atau identitas tempat keberadaannya.

Bungah yang diperbuat kawan dosen tersebut sah, dan itu hak asasinya. Hanya, selaku pengampu perkuliahan humaniora, harusnya dia bisa berbuat lebih jauh. Merefleksikan sesuatu dengan teks atau buah pikir orang-orang besar dalam sejarah. Apalagi saya mengenalnya sudah lama selaku aktiis tulen dan pentolan di almamater yang kini tempat mengabdinya.

Makassar: Stigma dan Buku

promobukumurah.com
Saat berselancar di Facebook, tanpa sengaja mendapati isi menarik salah satu teman. Tepatnya teman berupa penerbitan. Penerbit ini berasal dari timur Indonesia: Makassar. Terbilang asing di telinga saya namanya. Baru kali pertama saya mendapatinya. Tapi tidak sukar bagi saya memberikan acungan dua jempol melihat produktivitas yang diterakan di laman tersebut. 

Buku-buku sejarah hingga politik diterbitkan. Besar kemungkinan para penulisnya adalah putra daerah Makassar atau sekitarnya. Sebuah negasi tersendiri bagi saya yang selama ini kurang mendengar banyak aktivitas intelektual membanggakan dalam perbukuan. Jelas, ini subjektif saya. Boleh jadi, di sana tumbuh subur geliat membukukan ide-ide. Maka, hadirnya penerbit tersebut kabar positif yang kudu disemai. 

Menghadirkan Kenangan Lama

Semasa kuliah, karya-karya Sardar, Nasr, de Graaf hingga Natsir sudah saya kenal dan baca. Demikian juga tulisan Esposito hingga Kuntowijoyo. Sayangnya, buku-buku saya akses dari membaca sekilas di perpustakaan. Terkadang mengopi. Tapi saya tidak melakukan aktivitas membaca deretan pustaka itu sebagai sebuah paksaan atau perintah dosen. Saya dengan senang hati mendarasinya meski tidak selalu tamat.

Keterbatasan uang di saku membuat saya harus bersikap seperti itu. Sebab lain, kadang tidak selalu setuju dengan gagasan para penulisnya. Ketimbang merutuki kala disimpan di kamar indekosan, lebih baik saya biarkan tenang di rak toko buku atau perpustakaan. Sebuah putusan yang belakangan saya sesali.

Pustaka Komplemen Koleksi Kampus

Berawal dari keperluan mencari buku-buku aktivis Masyumi di perpustakaan di Yogyakarta yang bergabung dalam laman JogjaLibrary, saya banyak mendapati fakta di luar dugaan. Buku-buku Natsir, Prawoto Mangkusasmito, Sukiman Wirosandjojo, Sjafruddin Prawiranegara, Isa Anshary, Jusuf Wibisono, Hamka, Yunan Nasution, dan nama-nama lainnya tidak banyak didapati di banyak perpustakaan di Yogyakarta. Kalau pun ada, judulnya terbatas. Tidak banyak karya yang dicetak 1960-an atau sebelumnya yang masih dipampang di lama JogjaLibrary. Besar kemungkinan dimasukkannya di koleksi rawat yang hanya boleh dibaca di tempat.

Hal menarik berikutnya, kampus-kampus yang menyimpan bahan tokoh Masyumi bukan UGM atau UNY. Kalau UIN Sunan Kalijaga masih menyimpan, memang niscaya, yang sayangnya terbatas judul atau karya yang otentik. Kebanyakan karya tokoh itu yang populer dan biasanya sukar didapatkan saat kita cari. Saya pernah cari karya Sjafruddin Prawiranegara di perpustakaan UIN, hasilnya nihil meski di komputer tercatat ada. Nah, kalau UIN saja begitu kasusnya, apatah lagi di UGM dan UNY, amat miskin. Jangankan mencatatkan, menginformasikan adanya saja tidak dilakukan alias sama sekali tidak disediakan.