Tergelincir

Semalam saya ke Sederhana, rumah makan padang yang beken dan mahal itu. Di kota saya, hanya da satu, terletak di Jalan Kaliurang. Sekitar 5 menit bila naik motor siang hari dari arah UGM. Bila lalu lintas lancar, bisa lebih cepat lagi, tidak sampai 2 menit.

Ini kali kedua saya ke Sederhana. Konon soal rasa jangan ditanya. Kali pertama, saya akur dengan simpulan tersebut. Tapi dalam kunjungan kedua, rendang yang dibeli tidak begitu ‘nendang’. Biasa saja. Mungkin karena nasi yang begitu banyak? Saya pikir tidak juga. Sudah lama lidah saya mengenal mana rendang yang amat enak, enak, standar, biasa saja, atau malah tidak enak. Nah, rendang yang semalam harus saya akui hanya standar. Biasa-biasa saja, dan di bawah rasa saat pertama ke sana.

Tradisi Literasi Mertua

Sepekan ini tepat bapak mertua masuk PKU Muhamamdiyah Unit II di Gamping, Sleman, Yogyakarta. Beliau harus mondok hingga empat hari karena operasi daging tumbuh di jari manis di tangan kiri. Alhasil, masuknya beliau membuat kami, anak dan menantu, bingung. Syukurnya hanya sejenak lantaran Bapak bukan tipe manja.

Di sisi lain, ada yang memusingkan saya pribadi. Yakni Bapak bukan orang yang biasa diam. Benar saja, pascaoperasi mengharuskan beliau harus berbaring. Sungguh tersiksa bagi seorang yang sehari-hari bergerak aktif di sawah. Walau sakit jemarinya hanya sisakan cenut-cenut, pinggan akibat sering tertidurlah yang mengesalkan. 

Buku Pikiran Orang

Memiliki buku dari pemikiran atau pandangan keagamaan (Islam) yang berbeda dengan anutan merupakan sebentuk investasi. Kita bisa menolehi pandangan saudara seiman yang dalam kasus tertentu berbeda cara pengambilan hukumnya. Memiliki buku semacam ini bisa sebagai pengaya pemikiran kita. Bukan untuk mencari-cari kesalahan utamanya. Amat bahaya bila membaca buku pertama-tama ingin menyigi kesalahan.

Berbeda jauh antara mencari kesalahan dan bersikap kritis. Mencari kesalahan berarti niat kita membaca memang sudah dengan asumsi awal pasti ada kesalahan. Apa yang terjadi? Kesalahan sepele pun kita kategorikan kelemahan. Kesilapan tidak disengaja dimasukkan kesalahan serius atau malah mendasar.

Tertunda Belanja

Melihat buku yang disukai, temanya masuk minat, atau malah diincar lama, tapi dibeli orang lain, butuh kesabaran dan kesigapan membangun optimisme. Ya, sedih saja percuma kalau tidak dengan asa bahwa esok akan diraih pula buku tersebut. Pada saat yang tepat, berjodohlah buku tersebut bersama kita, insya Allah.

Pekan-pekan ini saya harus mengebut pembangunan rumah. Dengan dana yang ada, harus ada penghematan di sana sini. Masih belum sempurna gubuk yang dibangun, tetapi mau bagaimana lagi. Tenggat sekian bulan harus ditepati agar lingkungan baru yang lebih kondusif bagi kami sekeluarga bisa dimasuki. Konsekuensi semua ini adalah penghematan membeli buku.

Tersesat Berburu Buku

Ini merek pasta gigi buat Emir dan Emira bulan-bulan terakhir: Upin-Ipin. Produk Malaysia ini memiliki kebutuhan—sekaligus keunggulan—sesuai yang kami cari selama ini. Mengutip liputan peluncurannya Mei 2014 lalu, merek yang menyasar pangsa anak-anak ini “tanpa kandungan fluoride, mengandung Xylitol yang dapat melindungi gigi dari bakteri, 100 persen halal karena tidak ada kandungan alkohol dan hewani, serta aman jika tertelan.”

Sayangnya, pasta gigi ini di tempat saya hanya baru ditemui di salah satu jaringan minimarket yang beken itu. Penetrasinya belum sampai kios-kios kelontong yang ada di desa saya. Entah mengapa, supermarket dan swalayan besar di dekat rumah saya saja tidak menjualnya. Praktis, hanya ada di rak minimarket itu saja. Karena luasnya jaringan minimarket itu, ketiadaan di rak-rak supermarket dan swalayan sedikit terbantu. Nah, bagi yang bergantung belanja pada item di supermarket dan swalayan, tentu saja bakal tidak mendapatinya.