Memiliki Pram Tanpa Gegar

Saya memang berjarak dengan Pramoedya Ananta Toer, sastrawan Lekra yang bukunya masih banyak dicari para pencinta buku. Karya-karya Pram masih sebatas ingatan judul dan sebagian sinopsis. Jarak saya untuk belum bisa mencicipi seduhan kata Pram yang sering dipuja dan puji penikmat sastra masih belum menggoda saya. Kalaupun pada akhirnya saya memiliki sebagian judulnya, ini baru sebatas perkenalan.

Dalam alam pikir saya, Pram tetaplah Pram yang fanatik dengan Kirinya. Manusia Kiri di usia sepuh penandanya kelas: ia yakin dengan pilihan ideologinya. Bijak bestari menolehi ideologi lain, sudah tidak bisa diharapkan. Sementara, saya banyak ditempa dari ideologi Kanan, tepatnya lajur agama kalangan ‘modernis’ alias Masyumi. Sudah jadi pengetahuan jamak, bagaimana perseteruan dan penerimaan Masyumi terhadap kaum Kiri, tepatnya komunis. Pun demikian, bagaimana respons Pram terhadap kalangan agamawan, mungkin bisa ditelisik dari pandangannya dalam karya-karyanya. Pemakaian nama Arab yang kerap jadi antagonis menjadi sebuah tanda tanya.

Karya Murid al-Attas

Bila diberikan usia panjang, buku-buku karya anak didik Tan Syed Naquib al-Attas di Indonesia kudu saya miliki. Kenapa kudu? Mereka adalah pelanjut perjuangan al-Attas di dunia Islam, khususnya di tanah air tercinta. Yang diperbuat mereka di sini jauh lebih berat—hemat saya—dibandingkan kolega sekaligus sesama anak didik al-Attas di Malaysia. 

Hanya sedikit saja saya miliki karya Hamid Fahmi atau Adian Husaini. Karya Anis Malik Thoha, Ugi Sugiharto (walau kiprahnya di Malaysia), dan yang lebih junior, belum terpajang di rek buku perpustakaan saya. Karya Adian masih minor, beberapa gelintir yang tipis. Karya-karya pengurus MUI Pusat yang tebalnya di atas 300 halaman, selama ini kerap saya abaikan. Bukan apa-apa, saya kadang lalai dengan berprasangka baik pada penerbitnya yang sewaktu-waktu mengobral di momentum tertentu.

Moratorium Pembelian Buku

Hampir sepekan ini saya nyaris menghentikan pembelian buku untuk koleksi perpustakaan pribadi. Pembelian yang nyaris dilakukan setiap hari dalam nominal ‘mengerikan sementara ini saya hentikan. Bukan karena saya tidak mencintai buku (lagi). Bukan pula karena judul buku yang ditawarkan para pelapak sudah saya punyai. Singkat saja alasan saya: menghemat.

Klise dan klasik alasan itu. Sudah lama sebetulnya istri saya meminta saya menghentikan lebih dulu pembelian buku. Maklum saja, rumah kami belum selesai dibangun; anak pertama bersiap masuk sekolah semester depan. Kas yang ada di tabungan, saat yang sama, tanpa terasa sering saya habiskan untuk membeli buku. 

Buku Terwaris

Sungguh, sebuah nikmat berharga bagi seseorang yang diwarisi setumpuk buku oleh keluarga atau sanak famili tercinta. Bila buku-buku itu terkelompok langka karya para pemikir, agamawan, filsuf, budayawan, bertambah bungah mestinya para pemilik barunya. Harta warisan sebenarnya tidak melulu soal harta berbentuk tanah, uang, rumah, mobil ataupun emas. Buku-buku lawas dengan terbitan terbatas sejatinya sebuah barang yang kudu dirawat baik. Tidak kalah dengan perhatian menjaga emas perhiasan ataupun tanah yang biasa direbutkan para ahli waris.

Sayangnya, tidak selalu ahli waris punya minat yang sama dengan almarhum atau almarhumah. Saya pernah baca buku-buku yang dikilokan sangat murah di kawasan Menteng, Jakarta. Buku-buku yang berharga dan masuk kategori langka, hanya ‘dilelang’ kepada pengepul tidak lebih mahal dari semangkuk mi jalanan di Kota Yogyakarta. Hanya Rp 5000 per kilo, buku-buku yang umumnya berbahasa Belanda berpindah tangan, alih-alih dipertahankan mati-matian. Si empu terwarisi merasa terbebani karena tumpukan buku di gudang bak sampah yang bikin pening kepala.

Ekstrem Berbalas Ekstrem

Repro Pameran Bentara Budaya 
Beberapa kali berkunjung ke toko buku, mata saya mudah mendapati judul-judul buku yang menuding kekejian tuduhan kalangan yang disebut ‘wahabi’. Para penulis mengupas keabsahan ritual ataupun tradisi yang dianutinya selama ini, yang sering jadi sasaran empuk celaan para pengikut ‘wahabi’. Tidak cukup membela diri, beberapa judul bahkan menyerang balik para ulama ‘wahabi’ sebagai ini dan itu.

‘Wahabi’ di negeri ini sering digunakan untuk merujuk kepada kalangan yang mengikuti gerakan dakwah Muhammad bin Abdul Wahab—seorang ulama dari Hijaz yang berniat melakukan pemurnian keagamaan berlandaskan Quran dan Sunnah. Sejak kemunculannya, gerakan Muhammad bin Abdul Wahab sudah menghadapi banyak penentangan; pun saat gerakan ini berhasil menguasai Tanah Suci bersama Ibnu Suud, yang belakangan kita kenal sebagai negara Arab Saudi.