Siapa yang Isti'jal?


republika.co.id
Sepuluh tahun lalu, lelaki cerdas, muda, dan agamis itu berhasil mematahkan argumentasi panelis semejanya. Gagasan keharusan menjauhi demokrasi dibantah dengan logika yang mahasiswa baru sekalipun memahaminya. Hari-hari selanjutnya, lelaki itu moncer sebagai avant garde intelektualisme di sebuah komunitas dakwahnya.

Satu hal yang saya ingat dari pertemuan ilmiah kala itu, bahwa kita tidak boleh tergesa-gesa (is’tijal) dalam berdakwah. Bahwa untuk mengislamkan masyarakat perlu proses; tidak bisa tiba-tiba. Karena ketidaksabaran sebagian juru dakwah, dakwah itu sendiri berbuah gagal. Maka, menerima demokrasi hanya sekadar cara  alias menjadikannya selaku alat. Bukan tujuan.

Menunggu Wik


http://www.flickr.com/photos/starrhinight/3091353176/lightbox/
Ada orang yang saya tunggu kembali ke Yogyakarta. Menunggu dengan sepenuh cinta karena iman. Menanti dengan asa ia yang ditunggu tetap seperti semula.

Februari setahun lalu ia berpamit untuk masuk di kandang orang-orang alergi syariat Islam. Sebuah keberanian dari seorang perempuan berjilbab lebar dan halus budi. Sebuah pelepasan yang saya harap setahun kemudian berujung manis. Paling tidak, ketidakbetahan yang saya harap tercapai. Bukan saya tak mau mendoakan kemajuannya, tapi saya lebih sayang masa depannya.

Lelaki Tua Penyala Lampu Masjid


Ilustrasi: members.virtualtourist.com
Lelaki tua di usia sekitar kepala delapan puluh tahunan itu selalu berada di shaf pertama di masjid dekat kantor saya. Lelaki sepuh berkulit putih yang tinggal menghitung hari untuk dipanggil oleh-Nya. Lelaki yang selalu menjabat tangan kami, jamaah yang berada di samping kiri dan kanannya setiap selesai shalat—baik fardhu ataupun sunnah.

Lelaki yang sama itu selalu berpenampilan bersih. Tidak kucel galibnya manusia renta yang ditinggalkan anak dan cucu. Pakaian dan kulitnya terjaga. Tak kami dapati kuku panjang nan kotor. Atau telapak bau apak. Bajunya yang sederhana, kadang bermotif jas, tidak tampak abai disetrika.

Akhir Pekan

http://www.sukadi.net/
Akhir pekan, membayangkan Sabtu itu seperti saat di utara Yogyakarta tujuh tahun silam. Disibukkan dengan menyiapkan bacaan agar piawai berdialektika dengan para aktivis. Berpelesiran dengan keluarga di pantai (dulu belum). Makan di tempat yang disukai keluarga. Sabtu malam ahad, bisa rehat tanpa diganggu dengan jadwal ronda kampung. Sehingga, ahad betul-betul hari libur.

PeDe di Mimbar Televisi


http://id-id.facebook.com/pages/TVRI-JOGJA/110993145600001
Semalam, teman saya tampil dalam siaran langsung acara bincang-bincang di TVRI Yogyakarta. Topik yang diangkat tentang jurnalisme damai. Saya tidak tahu kenapa teman saya terpilih selaku narasumber, betapapun ia memang menyukai kajian jurnalisme. Hanya saja, saya sedikit ragu ia menguasai topik ini dan secara bicara mampu bebas sebagaimana kala berhadapan dengan saya.

Yang menjadi kekhawatiran saya ternyata betul-betul terjadi. Ia tidak lepas berbicara mengungkapkan gagasannya. Mungkin antara inferior di antara para narasumber yang lebih mumpuni, penampilan perdana, materi yang belum begitu terhayati, ataupun sebatas demam panggung biasa. Padahal, teman saya ini lumayan pembelajar yang baik dan kritis pula.

Detektor Halal


emajmagazine.com
Saya berimajinasi bahwa kita tak perlu repot-repot mengecek di berkas laptop dengan nama Daftar Belanja Halal MUI. Tidak perlu pula melihat di lembar kertas hasil kopian versi pdf berkas yang sama. Tak perlu tanya sana ke mari, terutama ke LPPOM MUI soal kehalalan makanan, minuman, dan kosmetika. Lalu adakah cara paling cepat mengetahuinya, tanpa harus melibatkan lembaga berotoritas?

Rasanya akan hadirnya alat portabel untuk mengetahui kehalalan atau tidaknya kandungan makanan atau minuman, bukan angan-angan utopia. Kita cukup menghemat waktu dalam memeriksa kandungan zat yang ada pada makanan atau minuman, dan tak butuh waktu lama keluarlah hasilnya.

Vulgar Ber-HTS

isabellasnow.hubpages.com
Kalau ada dua orang berbeda kelamin, pernah mengenal agama, dan aktif di lembaga dakwah pula, ditegur agar tak terlalu berdekatan dan begini jawabannya: “Biarkan kami memilih perbedaan pemahaman”, maka bagaimana reaksi Anda? 

Seorang teman begitu sewot saat mendapati teman-temannya begitu vulgar memperlihatkan hubungan tanpa status (HTS) di jejaring sosial.

“Kalau dilakukan diam-diam sih saya bisa maklum, lha ini dilakukan terbuka di internet,” protesnya pada saya.