Makna Dua Ribu

sarahwayland.com.au
Saya tergolong ‘pelit’ untuk sekadar memberikan seribu rupiah ke para pengemis. Apalagi kepada anak jalanan. Iba saya sengaja dialihkan ke lembaga sosial yang bersifat memberdayakan. Ketika si ‘tangan di bawah’ lebih memilih mengais nafkah di jalanan, hukum meminta-mintanya bukan lagi karena terpaksa, melainkan sudah sebagai profesi. Celakanya, di Kota Yogyakarta, para pengemis memanfaatkan keramahan penduduk asli dan pendatang di sini.

Tidak ingin membiasakan mereka mengemis, kendati aslinya mereka mampu. Begitu dasar pemikiran saya. Bahkan yang sedikit saya tahu, tidak jarang di antara para ‘pendatang’ dari luar kota itu sengaja memanfaatkan ketidakkerasan penindakan di Kota Budaya. Jadilah mereka asyik menikmati ‘profesi’ mengemis.

Afifah Brownies: (Bukan) Sebuah Nostalgia

Nyaris enam tahun saya tidak bertemu dan mencicipinya. Rasa yang begitu bersahabat di lidah selaku orang Indonesia tulen. Sebuah alternatif yang memadai setelah jemu dan enggan mengonsumsi lagi pionir produk serupa dari Bandung.

Sayang, mendapatkannya butuh perjuangan. Pertama, teman yang dulu menghadiahi penganan itu hanya bilang ada di jalan ini dan dekat itu. Saat saya susuri, rukonya sudah beralih pemilik. Tangan kosong. Tutup usahanya?

Saya berpikir demikian sampai akhirnya mendapati sebuah acara pengajian bersponsor penganan itu. Kalau mau bersponsor berarti masih ada, pikir saya. Tapi di mana tempat penjualannya, atau pusat pembuatannya? Celakanya, seingat saya, di kardus penganan itu tidak ada tulisan alamat.

Hari Buku

Saya lupa, ternyata Sabtu 17 Mei adalah Hari Buku Nasional. Seorang teman penjual bukulah yang mengingatkan saya secara tidak langsung pada momen ini. Sebenarnya tidak ada yang spesial bagi saya dari perayaan Hari Buku. Mungkin sama nasibnya dengan hari-hari lainnya yang sekadar seremoni.

Ada atau tidaknya Hari Buku tetap saja saya bekerja dengan buku. Saya mendampingi orang membuat buku. Menyunting teks agar lincah dibaca pembaca. Mengais nafkah dari perbukuan.

Juga masih demen memborong buku kendati mengempiskan isi dompet atau mengurangi nominal di rekening bank. Sekali demen pada satu tema atau bahasan, sudahlah buku itu dibeli. Sekali lagi, buat apa Hari Buku?

Yang Terpenting buat Anak

sundayeveningspost.com
Ada yang lebih penting dari sekadar anak pintar otak. Anak-anak kita bisa tumbuh dengan pada lingkungan sehat. Menghadirkan anak pintar otak relatif mudah, dan ini juga tidak harus berbanding lurus dengan biaya mahal. Menghadirkan anak yang sehat jasmani dan rohani hari ini? Saya hanya bisa berkata, “Entahlah.”

Menyimak isi pemberitaan di koran langganan saya, nyaris tiap hari sebulan ini tidak pernah absen dari soal kekerasaan seksual pada anak. Baik anak jadi korban pemerkosaan, pencabulan hingga kejahatan pedofil. Ini belum melibatkan potensi ancaman lain semisal dampak paparan pornografi dari penggunaan peranti mbil yang di tangannya.

Nasihat Emas Berbalas Cerca

Awal Desember 1966, satu kalimat pendek tapi lugas dikemukakan Ahmad Rasyid Sutan Mansur kepada jurnalis Mertju Suar yang mewawancarainya perihal Pemimpin Besar Revolusi, Soekarno, yang tengah terpuruk namanya di mata rakyat kebanyakan.

“Agar Bung Karno kembali ke masjid dan tinggalkan istana,” nasihat St Mansur, mantan Ketua Umum Muhammadiyah kepada Sang Presiden Republik Indonesia.

St Mansur sebenarya bukan sedang bermain politik. Usianya yang uzur kala itu teramat penting bila ditukar dengan kepentingan kekuasaan. Ia pun tidak sedang menepikan Soekarno, apalagi berniat mengusirnya dari tampuk kekuasaan. St Mansur hanya merasa iba selaku sesama Muslim. Kala itu nama Soekarno usai peristiwa pemberontakan PKI pada 30 September 1965, betul-betul berkebalikan semasa awal kemerdekaan negeri ini lahir.