Belajar pada Apriyani


republika.co.id
Apriyani Susanti sebenarnya memberikan pelajaran berharga pada kita. Soal kejujuran. Entah mengapa, dari berkali-kali video yang memutar wajahnya usai membunuh sembilan manusia dan menciderai tiga manusia Ahad lalu, tak ada raut kesedihan. Dingin dan tak ada keterkejutan. Bahkan, santer diberitakan ia sempat memarahi seorang warga yang di lokasi kejadian mempertanyakan perbuatannya.

Sebagai manusia dewasa dan berpendidikan, Apri jelas tidak bisa menanggalkan keibaan pada para korban yang dibunuhnya. Bukti dan saksi sudah jelas memperlihatkan posisinya bersalah. Maka, kali pertama dia tidak memperlihatkan keterkejutan, ini kebohongan pertama. Sedangkan menyalahkan pihak lain, sebagaimana ia perlihatkan kepada warga yang memprotesnya, merupakan kebohongan kedua.

Bangsa Korup


tribunnews.com
Menyimak ratusan miliar rupiah uang rakyat dihambur-hamburkan oleh wakil rakyat dan pemerintah, rasanya kita logis untuk bertanya: masihkah ada kepekaan sosial mereka? Saat yang sama, sering di antara mereka berslogan dan beretorika di mana-mana soal kepedulian sosial, tak terkecuali di mimbar keagamaan. Nyatanya, penjarahan uang rakyat seperti tak kuasa menahan keimanan tersisa mereka.

Renovasi gedung hingga anggaran pengadaan yang tidak masuk akal besarannya, seperti berjalan tak terkendali. Kiranya banyak gedung SD roboh, atau jembatan putus, atau fasilitas publik rusak, tak jadi soal. Sengaja dibiarkan dan lebih memikirkan bagaimana mempercantik diri. Bahkan, atas nama kebaikan, penjarahan kemudian ditudingkan kepada pihak lain. Saling melempar tanggung jawab. Tidak ada sikap terbuka dan jujur untuk mengakui perbuatannya.

Alasan Belum Menulis Buku


“Mengapa belum menulis buku, Pak?”

Pertanyaan tanpa basa-basi tapi disampaikan dengan santun itu meluncur tenang dari kawan kami, Dwi Suwiknyo. Ia yang baru saja saya editor untuk karyanya seputar para jagoan teknologi komputer dan internet, sejenak berbincang soal perbukuan.

Pertanyaan tadi sebenarnya lebih tepat sebagai sebuah penggenapan dari fenomena yang didapati Dwi: (sebagian besar) para editor di Yogyakarta malah tidak punya karya berbentuk buku. Dwi sudah mendatangi beberapa penerbit besar di kota kami, dan hasilnya sama: editor tidak berbuku. Kalaupun ada bisa dihitung jari. Pengecualian tentunya pada penulis yang sesekali jadi editor, ini tidak termasuk dalam bahasan kita.

Tabloid Lama


kitchencraft-shop.blog.com
Saya lupa pernah membeli tabloid tumbuh kembang anak dan bacaan para ibu yang bertemakan pengasuhan anak. Yang sempat saya kerjakan adalah menyimpannya di rak kamar tidur dengan harapan saya atau istri membacanya.

Koleksi Nakita dan Nova saya beli ketika masih indekos dan belum menikah. Edisinya pun berkisar 7-11 tahun lalu. Lebih tua dari usia pernikahan saya apalagi umur Emira. Ternyata, saat saya buka-buka lagi (karena istri saya membaca kembali), saya bersyukur tidak salah memilihkan bacaan. Bacaan yang diniati untuk kelak saat saya berkeluarga, hari ini baru diakses dengan intensif. Meski berumur lama, bacaan-bacaan ini masih bermanfaat. Mulai dari soal mitos kehamilan hingga tren melatih kecerdasan anak dengan bantuan musik.

Emira dan iPad


 bestkidsapps.com
Saya tak berniat mendinikan iPad di rumah untuk dikenali Emira. Bagi saya, pengenalan pada bacaan teks berbasis kertas tidak bisa dikompromikan. Mengenalkan Emira pada buku, koran, majalah dan tentunya Qur`an dari kertas-kertas itu lebih saya fokuskan ketimbang mengenalkannya pada televisi atau internet. Telepon seluler (ponsel) sebisa mungkin tidak dipeganginya lantaran ada faktor risiko bagi anak kecil.

Dari kebiasaan diperlihatkan saat istri saya mengajaknya bermain, lama-kelamaan kebiasaan Emira meniteni pun hadir. Dia yang awalnya cuma ditemani, ingin bermain sendiri. Dari agak tergopoh-gopoh menggeser, sweep Emira akhirnya kian hari kian lancar di tablet Apple itu. Kini, dia tidak perlu kami temani saat ingin bermain dengan iPadnya. Cukup kami temani di sampingnya. Mengingat gadget ini hanya ber-wifi saya tidak begitu mencemaskan. Apalagi isi tablet ini juga semua memang dipenuhi games dan bacaan edukatif.

Susah Nikah karena Nasab Ahlul Bait

Hasanah, sebut saja nama perempuan ini, mungkin tak pernah membayangkan imbas menjadi bagian dari keturunan Nabi Muhammad, ahlul bait. Pengakuan yang sedemikian disakralkan di tengah keluarga seolah tak boleh dilanggar. Demi kemurnian garis keturunan ke jalur Sang Nabi.


Agar tersambung nasab sebagai ahlul bait, Hasanah diharuskan menikah oleh keluarganya dengan sesama ahlul bait. Tidak boleh dengan orang di luar ahlul bait. Jadi, wacanya bukan soal Islam atau bukan. Bukan pula lelaki itu saleh atau tidak. Bukan pula si calon pelamar itu berpendidikan tinggi atau ala kadarnya.

Bangunan Baru Mertua Anas


rakyatmerdekaonline.com
Tanah mengangan dalam sekitar sepuluh meter itu masih belum terproses. Bakal fondasi untuk rumah Pak Kyai mertua Anas Urbaningrum, di area Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Para pekerja setiap pagi berjibaku menyelesaikan satu bangunan lagi di depannya, peruntukan bagi pondok. Setelah bangunan pondok tampaknya rumah Pak Kyai segera berdiri.

Lelaki tetangga Pak Kyai yang bertutur pada saya sepertinya tak begitu antusias, untuk tidak mengatakan bersimpati. Entah, mungkin ini perasaan saya saja. Ramainya nama Anas disebut-sebut di media, terkait kasus dugaan korupsi Wisma Atlet SEA Games, segera saja menghubungkan jawaban dingin si bapak dengan kejadian yang menimpa Anas sekarang.