Terbujuk Sampul Buku

Salah satu bujukan yang sukar ditepiskan adalah sampul buku. Begitu mendapati eloknya desain, tergeraklah hati untuk memegang buku tersebut. Membaca judul, penulis/pengarang, lalu tulisan di belakang sampul. Bila masih penasaran atau kadung jatuh hati, daftar isi dan beberapa sampel halaman pun dibuka. Tidak butuh waktu lama, putusan membawanya ke kasir toko buku pun terjadi. Di tas punggung, buku bersampul memikat itu bersemayam tenang.

Buku itu kemudian dikeluarkan dari tas. Masih dipandangi sesekali dengan penuh takjub. Lantas, diletakkan di antara tumpukan buku yang sudah mengantre untuk dibaca. Dan buku bersampul elok itu menambah daftar antrean dibaca. Entah kapan giliran waktunya tiba.

Jinak-jinak Buku

Kalau merpati jinak-jinaknya mengundang kekaguman sekaligus keluhan orang, adakah hal serupa berlaku dengan buku? Saat didekati, judul tersebut terbang tinggi alias tidak mampu kita miliki, entah karena belum ada uang ataupun buku habis stoknya. Eh, saat kita tidak begitu selera memilikinya mala buku tersebut berjibun di rak toko buku. Seakan menantang kita untuk memilikinya.

Beberapa kali saya harus menunda untuk membeli buku-buku tertentu. Pikir saya, toh buku tersebut kurang begitu diminati pengunjung toko buku sehingga bakal ada 2-4 bulan ke depan. Dugaan saya meleset, buku memang tidak sampai masuk kategori best seller, tapi fakta di lapangan buku tersebut sudah tidak lagi dipampang. Naasnya, buku itu pun tidak pernah lagi dioreder pihak toko buku atau malah penerbitnya belum mencetak ulang dalam waktu dekat. Jadilah sesal yang hadir gara-gara prediksi keliru.    

Buku-buku Biografi

Seorang politisi muda sekitar sedekade lalu berbicara semangat seputar hobinya. Salah satu yang disukainya adalah membaca buku biografi. Sebuah kebiasaan yang dilakoninya sejak remaja. Baginya, membaca biografi takubahnya mempelajari pelajaran hidup orang-orang besar

Ketika itu, saya hanya menyimak dan belum tergerak mengikuti ucapan sang politisi. Saya masih terpaku dengan bacaan lain. Membaca sejarah memang saya suka. Namun, membaca perjalanan hidup seseorang, apalagi tokoh Indonesia, saya masih sungkan dan malas. Kesannya biasa-biasa mereka itu. Kalaupun ada yang hebat seperti dilebih-lebihkan.

Berjodoh Buku

http://sibukmainbuku.blogspot.com/
Mendapatkan buku yang lama diincar itu seperti menemukan pasangan hidup. Sudah lama diidamkan, bahkan sejak berpuluh tahun silam, tapi apa daya isi kantong belum memungkinkan. Semasa kuliah betapa banyak buku menarik ingin dimiliki. Sebagian memang bersesuaian dengan perkuliahan; sebagian besar lagi sekadar untuk koleksi bacaan pada masa akan datang. Sayangnya, impian untuk memiliki buku-buku idaman itu kandas begitu penerbitnya tidak mencetak ulang.

Buku Aku Bagian Umat, Aku Bagian Bangsa karya Deliar Noer, misalnya, saya abaikan begitu saja meski dijual separuh harga pada 1999. Saya hanya sempat membeli Cahaya Rumah Kita Miranda Risang Ayu dan Paradigma Islam Kuntowijoyo dalam rentang yang nyaris berdekatan. Di kemudian hari, dua buku yang saya beli ternyata amat bernilai, terutama karya Pak Kunto. Walaupun buku legendaris beliau ini dicetak ulang, rasanya tetap berbeda dengan cetakan lamanya.

Ke Mana Tarbawi?


Awalnya dari salah satu grup WhatsApp saya mendapatkan informasi bahwa Tarbawi sudah berhenti terbit. Edisi terakhir yang saya tahu nomor 315 Maret 2014 (foto di atas). Tidak hanya berhenti menyajikan tulisan di majalah, laman penggemarnya di Facebook juga jarang diperbarui. Termutakhir akhir Mei 2014.

"Hilangnya" Tarbawi jelas kabar buruk. Cukup menyesakkan dada walau saya tidak rutin membelinya. Majalah yang konsisten mengulas bahasan seputar manajemen hati dan akhlak ini dikenal memiliki pembaca loyal. Sungguh mengherankan bila tidak terbit lagi. Padahal, oplah Tarbawi sekitar 5000 eksemplar. Sebuah angka yang cukup lumayan untuk terbitan media islamis.