![]() |
| republika.co.id |
Sepuluh tahun lalu, lelaki cerdas, muda, dan agamis itu
berhasil mematahkan argumentasi panelis semejanya. Gagasan keharusan menjauhi
demokrasi dibantah dengan logika yang mahasiswa baru sekalipun memahaminya. Hari-hari
selanjutnya, lelaki itu moncer sebagai avant garde intelektualisme di sebuah
komunitas dakwahnya.
Satu hal yang saya ingat dari pertemuan ilmiah kala itu,
bahwa kita tidak boleh tergesa-gesa (is’tijal)
dalam berdakwah. Bahwa untuk mengislamkan masyarakat perlu proses; tidak bisa
tiba-tiba. Karena ketidaksabaran sebagian juru dakwah, dakwah itu sendiri berbuah
gagal. Maka, menerima demokrasi hanya sekadar cara alias menjadikannya selaku alat. Bukan tujuan.








