Berakhirkah Hiperrealitas Politik?

http://www.fubiz.net/
Joko Widodo sudah bertemu Prabowo Subianto. Sementara Jokowi menjadi pendengar yang baik dari masukan mantan pesaingnya dalam pemilihan presiden itu, Prabowo meminta para pendukungnya untuk menjaga persatuan-kesatuan bangsa dengan melupakan konflik yang pernah ada. Menjaga keutuhan bangsa dengan tetap kritis pada jalannya pemerintahab Jokowi kelak.

Publik boleh lega, pemerhati juga kian sumringah, terutama dari kalangan yang mendukung Jokowi. Seolah-olah keberterimaan Prabowo adalah klimaks dari konflik yang mendera publik di negeri ini (seakan) dalam dua kutub. Polarisasi yang berjalan beberapa bulan terakhir diyakini bakal usai sejak bertemunya dua tokok tadi.

Era Realitas Palsu

Goodreads.com
Saya seperti kembali muda sepuluh tahun begitu mendedah pemalsuan simbol dan citra yang didiamkan oleh banyak media-media arus utama dan disegani di negeri ini. Realitas semu yang seolah-olah nyata dan eksis, pernah saya kaji intensif bersama buku-buku terbitan Jalasutra. Sejujurnya, setiap mendatangi Toga Mas atau pameran buku lalu mendapati buku terbitan Jalastura, saya seperti bertemu cinta masa muda.

Saya tidak pernah mengubur minat dan disiplin kajian semiotika, studi budaya, budaya pop, dan posmodernisme yang banyak dikenalkan Jalasutra. Meski dalam beberapa segi tidak sependapat dengan isi bukunya, saya masih bisa menyeleksi mana yang relevan untuk diterapkan. Pun ketika menggunakannya sebagai praksis sosial bersama pandangan eksistensi saya. Kalaupun saya berehat membacai buku-buku Jalastura, ini hanya jeda.

Mainan Mahal atau Buku?

Teman saya seorang ilustrator animasi. Minatnya pada mainan anak sebagai sumber inspirasi sampai terbawa ketika dia membelikan untuk buah hatinya. Referensi mainan anaknya adalah dirinya. Pikirnya, mainan untuk sang anak juga berguna bagi dirinya. Tidak mubazir. Satu mainan bisa untuk anak dan ayah.

Masalahnya, mainan yang dibelikan itu cenderung seragam, yakni orang-orangan. Padahal, anak-anak cenderung mengeksplorasi banyak hal, termasuk dalam bermain. Bila dilihatnya ada mainan yang dirasa menunjang pekerjaannya, teman saya akan membelinya walaupun untuk ukuran mereka terbilang mahal.

Kegigihan Waluyo

Berhenti sejenak saat jam Shalat Zuhur, masjid di area Budi Mulia, Sleman, saya singgahi.  Di halaman masjid terparkir rapi motor yang didesain untuk pengguna berkebutuhan khusus. Yang bikin saya terkejut bukan motornya, melainkan muatan yang ada di dalamnya. Motor bagi pengguna difabel itu mengangkut madu-madu dalam kemasan botol. Saya bersyukur bisa bersua dengan motor yang biasa saya lewati di utara Fakultas Kedokteran Gigi UGM ini.

Si penjual madu, Waluyo Sitiadi, memang belum pernah sekalipun saya temu. Berjabat tangan pun belum. Saya hanya melewati dia ketika berkeperluan ke utara. Teman saya, Ardiansyah, yang mengenalkan lelaki pantang menyerah ini lewat tulisan menggugah beberapa bulan silam.

Yang Memercayakan Bukunya

Tetangga saya semasa indekosan, Syarif, begitu baik menawarkan buku-buku ‘berat’ yang dimilikinya buat saya. Mahasiswa asal Borneo yang tidak sempat menamatkan kuliahnya di dua kampus negeri di Kota Pelajar memang tengah berhijrah. Hijrah menuju terangnya keislaman yang menyejukkan jiwa. Awalnya dia gandrung dengan tema pemikiran ala IAIN (sebelum bernama UIN) Sunan Kalijaga. Temannya adalah seorang petinggi LKiS.

Bagi saya, kebaikan Syarif—yang secara usia jauh di atas saya—merupakan berkah tersendiri. Kompensasinya ringan, saya sekadar mengganti dengan biaya yang lebih murah. Ini alasan kedua: dia butuh uang. Jadi, ketimbang buku-bukunya yang sudah diemohi hanya memenuhi kamar indekosnya, dia pun menjualnya. Menjual karena kesadaran, bukan karena keterpaksaan butuh uang.