Penulis Ugahari

Mencari penulis berbakat itu mudah. Banyak manusia Indonesia berpikir kreatif, inovatif, dan terbuka untuk menerima gagasan baru. Faktor ekonomi kadang membuat penulis pemula jadi pemberani. Berani untuk berkorban hingga menghadirkan karya emas.

Namun urusan menulis bukan melulu soal teknis. Membuat karya yang enak dibaca dan menjual, juga masih mudah. Adanya bantuan editor dan pemasar buku, turut membentuk sebuah buku dari penulis mula jadi permata. Di luar urusan teknis, ada sebetulnya yang lebih penting: karakter. Ya, penulis yang berkarakter. Ini yang kudu anteng, senyap, dan berdarah-dara bila perlu. Tidak bisa pihak penerbit memungut begitu saja. Walau seringnya penerbit sudah ingin dapat yang “jadi” setelah penulis tersebut besar di tempat lain.

Mencari penulis berbakat, bukan perkara berat dalam pengalaman saya. Mencari penulis yang siap diatur sana dan sini, juga banyak. Yang sukar adalah menemukan permata sejati di antara emas-emas tak sampai 10 karat itu. Mereka yang tidak hanya mengejar popularitas. Mereka yang tidak semata ingin namanya tedongkrak akibat karyanya menengkreng berbulan-bulan di Gramedia. Atau muncul dalam acara Andy Noya hingga bukunya pun viral dibahas.


Penulis berkarakter yang karyanya tidak harus melangit seketika, mampu memegang prinsip si empu karya, inilah yang tidak mudah membentuknya. Mereka mau diajak berpikir dam berenung. Bukan soal bagaimana meningkatkan omzet penerbit. Tapi juga bagaimana mencerahkan pembaca. Sayangnya, kesukaran ini setali dengan sulitnya mendapati penerbit yang mau ugahari dalam menjalankan bisnisnya. Bahwa berbisnis tidak semata laba sebesar-besarnya, tapi juga tentang meningkatkan kapasitas pembaca dalam merevolusi diri. []   

Buku Pre-Order

Seingat saya setahun ini kata ‘pre-order’ sudah jadi kosakata yang melekat dengan perbukuan. Buku belum hadir secara fisik tapi sudah boleh dipesan jauh-jauh hari. Ia semacam promosi untuk mengikat, terutama, pencinta setia sang penulis atau pengarang. Bagi penerbit, pre-order menjadi penanda bahwa jualannya punya kelas tersendiri.

Pre-order juga berarti siasat penerbit mereguk uang pembaca meski buku belum berada di tangan mereka. Kalau beruntung bahkan penerbit bisa tidak keluar uang sama sekali. Usahanya dibayari dari dana pre-order. Sudah tentu, laba yang masuk juga sudah bersih. Seorang teman lakukan ini karena penulis andalannya berhasil menarik dan memungkasi 3000 cetakan awal.

Pre-order tampaknya bentuk pengikat di era ketergesaan sekarang. Ketika semua informasi ingin segera dihadirkan, demikian pula dengan niat buku yang hendak terbit. Buku yang baru dalam proses produksi, sudah diperjualbelikan. Bahkan, buku yang masih dalam penyuntingan atau pracetak juga sudah diperkenankan dipesan. Sungguh bagi pembaca setia bahkan fanatik, mereka tak rugi. Syukur jadi pembeli awal di kala penulis masih berpikir menuangkan gagasan!

Bagi pembaca, ada baiknya ketergesaan jadi pertama di gelombang pre-order bisa direm. Memang ada serangkaian bonus ini dan itu. Mulai dari diskon hingga aksesori dari penerbit. Jika penulis/pengarangnya bonafide, tidak masalah. Namun mawaslah jika penulis/pengarangnya berkebalika dari itu. Atau penerbitnya tidak begitu beken dan baru beberapa karya hadir.


Saat ini, selain soal promosi dan era kecepatan jadi barometer, pre-order sudah semacam alat marketing penerbit. Selain untuk menggengsikan produknya, juga menarik dana konsumen—ini berlaku bagi penerbit kecil-menengah. Saya sih percaya, uang konsumen itu bakal dijaga penuh amanah. Lebih banyak yang saya perhatikan, memang penerbit ingin menaikkan prestise. Bahkan sekelas penerbit besar saja ada pre-order. Sudah tentu mereka bukan memikirkan uang, melainkan keloyalan pembaca. [] 

Salim Era Lawas Akhirnya Tiba!

Siapa tidak kenal Salim A Fillah, penulis dan dai muda berbakat dengan tuturan memikat lembut dan kaya data sejarah? Televisi nasional boleh saja kerap membujuk ia tampil, tapi lelaki tanpa lulus kuliah formal ini bergeming. Memilih dakwah dari mimbar ke mimbar; majelis demi majelis luring hingga melintasi benua. 

Semasa jadi editor di penerbit yang memproduksi bukunya, transformasi Salim dari penulis soal motivasi menikah dini menjadi penulis soal sirah dan berbau sejarah, meninggalkan cemas. Cemas lantaran transformasi ini bakal tinggalkan ceruk tema pernikahan yang sudah datangkan banyak laba bagi penerbit. Siapa penerus Salim andai ia eksis di ranah barunya?

Dan putusan mencari sosok serupa Salim ditempuh saat penulis "Saksiskan Bahwa Aku Seorang Muslim" ini total beralih tema kepenulisan. Lantas mencari hingga membekali talenta baru bergegas diperbuat. 

Ada nama yang dicoba agar mengisi ruang yang ditinggalkan Salim. Penulis ini masih satu penerbitan. Lebih mudah mengarahkan. Apalagi ia juga banyak lahirkan soal tema serupa Salim merintis kepenulisan. Sayang, beberapa kali dicoba hasilnya belum memuaskan. Beda dengan bayangan. Walau sebetulnya sudah saya perkirakan karena tema serupa bahkan bahasa dibuat sama, ketika tangan dan otak yang mengerjakan berbeda pastilah hasilnya beda jua. Ada kimia yang berbeda. 

Setelah tidak berkantor di penerbit tersebut, saya seperti tergerak menunjuk jari pada satu nama. Dia penulis muda. Memberanikan mengupas soal jodoh dan pernikahan. Walau tidak sekuat Salim dalam berdakwah, ia bukan terlepas dari pesan islami. Dia juga, seperti Salim, jebolan pesantren. 

Bekal mengolah kata juga saya amati sudah kuat. Mungkin beda yang kuat adalah adaptasi zaman dan pilihan tampil. Lelaki ini memiliki parlente gaul. Jauh dari kesan berceramah saat mengulas bukunya. 

Respons banyak anak muda, terutama wanita, pada si paras tampan ini segera ingatkan alam bawah sadar saya; Hei ini kan dulu model yang bisa diproyeksi bisa melanjutkan ceruk Salim!

Meski keyakinan itu ada dan cukup buat saya, seyakinnya saya si lelaki ini enggan dipersamakan. Ini logis dan wajar. 
 
Blogger Templates